
Dyoza sudah bersiap untuk pergi ke pesta reuni , ia mengajak Arkan sebagai partner nya.
"Bukankah seharusnya kau pergi bersama nona Shenna Tuan ?."
Dyoza terdiam mencerna pertanyaan Arkan.
"Apa kau keberatan menemaniku Ar ?."
"Tidak Tuan, hanya saja lebih pantas kau berangkat dengannya."
"Kau mau menjodohkan ku dengan seorang pelayan ? kalau kau suka padanya silahkan kau pacari dia!."
Dyoza sedikit kesal.
"Boleh Tuan ?."
Dyoza menatap rumit Arkan , bibirnya seperti kaku untuk mengatakan sesuatu.
"Kenapa Tuan diam ?."
Dyoza membuang muka ke arah lain.
"Ya, ya kalau kau mau memacari pelayan ya silahkan saja!."
Senyum manis terlihat di wajah Arkan.
"Bukankah Nona Shenna mantan kekasih mu, apa kau.....
"Kenapa kau jadi banyak bicara seperti ini Ar, mau ku bungkam mulut mu dengan sepatu ku ?."
Arkan menutup mulutnya seketika.
.
.
Di rumah belakang..
"Loh Bukannya nona shenna ada pesta reuni malam ini ?."
Shenna terkejut mendengar suara kepala pelayan.
"Iya kepala pelayan, tapi saya tidak pergi."
"Kenapa ?."
Shenna hanya tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa ?."
"Saya tidak punya gaun."
"Ayo ikut aku!."
"Kemana kepala pelayan ?."
Panik
"Memilih gaun untuk mu, kenapa kau tidak bilang sedari tadi!."
"Ti,tidak kepala pelayan bukan begitu, lagi pula saya memang tidak berminat untuk datang."
"Kenapa begitu ?."
"Tidak apa-apa, saya hanya mengantuk."
Kepala pelayan terdiam menatap dalam pada shenna.
"Duduklah!."
Shenna menurut.
"Apa kau tidak percaya diri karna sekarang kau seorang pelayan ?."
Shenna menunduk terdiam.
"Nona, meskipun kau seorang pelayan kau tetap lah seorang wanita yang pantas untuk kemanapun termasuk datang ke pesta reuni SMA."
"Bukankah kau bisa lebih mengenal mana seseorang yang tulus dan tidak padamu ?."
Shenna tersenyum miris.
"Justru saya sudah mengenal beberapa diantara mereka kepala pelayan, di saat saya terjatuh tidak ada sahabat saya yang mau menerima saya bahkan sekedar memberi saya semangat untuk menjalani hidup saya yang sekarang. Bahkan baru saya sadari selama ini saya memang tidak punya sahabat."
Kepala pelayan mengusap lembut kepala shenna.
"kau tau nona, terkadang ada kalanya seseorang membuka topeng untuk menunjukkan siapa dirinya yang sesungguhnya. Karna kau tahu, seseorang yang selalu berpura-pura akan lelah sendiri pada sesuatu yang memang bukan dirinya. Kejadian dalam hidupmu adalah kesempatan bagi mereka untuk terpaksa membuka topeng mereka, kau justru harus bersyukur kau jadi tahu seperti apa mereka yang selama ini kau anggap sahabat."
"Kau bersembunyi mereka tetap menjalani hidup mereka dengan baik tanpa mu. Dan begitu pun sebaliknya, kau bisa tanpa mereka."
Shenna tersenyum manis dan memeluk kepala pelayan.
.
.
.
.
"Tuan Dyoza."
Dyoza dan Arkan melihat kepala pelayan hanum memanggil nya.
"Ada apa bi ?."
"Kalian meninggal kan satu penumpang lagi."
"Maksud bibi ?."
Dyoza dan Arkan merasa heran.
"Nona shenna kemari lah!."
Shenna menunjukkan dirinya dari balik pintu dengan tertunduk.
Dress berwarna peach selutut tanpa lengan begitu indah di tubuhnya, menunjukkan bentuk tubuh shenna yang langsing dan warna kulit yang putih membuat shenna semakin memancarkan aura kecantikan alaminya.
Dyoza dan Arkan tidak berkedip melihat gadis di hadapannya saat ini, shenna sangat cantik .
Kepala pelayan tersenyum melihat dua keponakan nya terpaku akan kecantikan serta penampilan shenna malam ini.
__ADS_1
Prok..Prok..Prok...
Sebuah tepukan tangan menyadarkan mereka.
"Jangan sampai bola mata kalian copot."
"Ehhem."
mereka berdehem bersamaan.
"Tuan Dyoza dan Tuan Arkan bolehkah shenna menumpang di mobil kalian ?."
"Boleh Bi."
"Hei Ar siapa yang mengizinkan, jangan sembarang menerima penumpang."
"Tuan Dyoza penumpang seperti apa yang kau maksud ?."
Kepala pelayan bertanya penuh selidik.
"Tuan, nona shenna kan teman sekolah kau juga tidak ada salahnya kan nona shenna menumpang pada kita ?".
"Kau berisik sekali Ar, aku hanya tidak mau mereka berfikir aku yang membawa nya dan bisa-bisa mereka berfikir aku dan shenna kembali menjalin hubungan."
Bisik Dyoza namun masih terdengar oleh kepala pelayan.
Kepala pelayan melipat kedua tangan di dadanya.
"Kau malu ?."
Dyoza terdiam dan memasang wajah datar pada shenna.
"Begini saja Tuan, setelah sampai di area parkir kau turunlah lebih dulu. saya dan Nona shenna akan keluar bersamaan, anggap saja nona shenna membawa saya untuk menjadi partner nya."
Dyoza menatap sengit pada Arkan.
"Kau gila!! aku yang membawa mu kenapa kau mengkhianati ku."
"Hei hei hei kenapa kalian jadi seperti sepasang kekasih begini."
Suara kepala pelayan menggelar.
"Bi bisa tidak kau tidak membuat telinga ku sakit ?."
Dyoza berdecak.
"sudahi pembicaraan yang menggelikan itu!! aku setuju dengan ide mu Ar, dampingi lah shenna lindungi dia dari orang-orang yang berniat buruk padanya di sana!."
"Baik bi."
Arkan melirik shenna dan tersenyum lembut padanya.
"Kenapa Arkan seperti bodyguard nya ?."
"Ah, terserah lah."
Dyoza menuju mobil lebih dulu dengan perasaan jengkel.
Kepala pelayan hanum Hanya mengangkat bahunya tidak peduli pada Dyoza.
"Mari Nona."
Shenna menunduk dan tersenyum malu.
"Kepala pelayan terimakasih."
"Bersenang-senang lah! Ar aku titip Nona shenna ya!."
"Tentu bi, kau bisa mempercayai ku."
Kepala pelayan mencium lembut pipi Arkan dengan gemas.
"Bye-bye."
"Bye bibi."
Arkan membukakan pintu mobil untuk Shenna, sedangkan Dyoza sudah duduk manis di samping kursi pengemudi.
"Jalan sekarang tuan ?."
"Tidak! nanti saja setelah acara reuni selesai, Kenapa bertanya ? cepat jalan!."
ucapnya ketus.
"Baik Tuan Dyoza."
Shenna hanya membisu, sebenarnya ia malas sekali pergi bersama Dyoza karna permintaan kepala pelayan lah yang membuat nya mau pergi bersama meski pun karna terpaksa.
Arkan melirik shenna dari kaca depan, saat mata mereka tidak sengaja bertemu, shenna membuang wajah ke arah jendela.
Arkan hanya tersenyum, entahlah rasanya begitu lega setelah mendengar Dyoza mempersilahkan Arkan boleh mendekati shenna, walaupun Arkan masih yakin Dyoza masih menyimpan rasa tapi Arkan ingin bersikap egois pada dirinya untuk tidak peduli dengan perasaan Dyoza yang sebenarnya itu masih ada atau tidak.
"Shenna nanti kau jangan mencoba untuk menegur ku, anggap saja kita tidak saling mengenal. Kau tetaplah di samping Arkan dia akan menemani mu malam ini."
"Baik tuan."
Hanya kata itu yang dapat shenna ucapkan, ia tidak perlu bertanya apa alasan Dyoza berkata seperti itu, karna memang tidak seharusnya shenna bertanya dan bahkan tidak peduli apa yang di ucapkan Dyoza.
"Satu lagi, keluar lah dari dalam mobil saat di luar tidak ada siapapun!."
"Saya yang akan memastikan tidak ada seorang pun yang melihat nona shenna keluar dari mobil Tuan."
sambar Arkan masih fokus mengemudi.
"Bagus."
Sudah menjadi hal biasa bagi shenna mendapat perlakuan seperti itu dari Dyoza, dulu mungkin ia akan menangis tapi sekarang rasanya hati nya jauh lebih kuat. Ia selalu menganggap kata-kata Dyoza layaknya majikan yang memberi perintah pada pelayan, ya! itu jauh lebih baik.
Acara reuni SMA di laksanakan di salah satu hotel mewah di kota XX, para tamu undangan berdatangan dengan penampilan terbaik mereka. Mereka semua saling bertegur sapa satu sama lain, saling memeluk, bertanya kabar . Bertahun-tahun mereka tidak bertemu rasa rindu masa-masa SMA selalu jadi bahan obrolan mereka.
"Tunggulah dulu, aku akan masuk."
"Baik Tuan."
Dyoza keluar dari mobil dan merapikan pakaian nya sebelum masuk ke dalam hotel.
Shenna hanya bisa memandang punggung Dyoza hingga tak terlihat lagi. Ia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
"Kau baik-baik saja Nona ?."
"Ah, i,iya tuan saya baik-baik saja."
__ADS_1
"Mmmmhhh syukur lah kalau begitu, kau tidak apa-apa menunggu beberapa menit untuk masuk ?."
"Tidak masalah."
Hening kembali.
beberapa menit kemudian Arkan keluar dari mobil, ia membuka pintu penumpang. Namun bukannya mempersilahkan shenna keluar justru Arkan kembali masuk ke dalam dan menutup kembali pintu mobilnya.
Arkan menatap dalam wajah shenna dan tersenyum lembut.
"A,ada apa tuan ?."
"Nona shenna, aku mau minta maaf dan sungguh aku meminta maaf padamu."
"Mi,minta maaf untuk apa ?."
"Untuk liburan kita yang aku batalkan."
Shenna tersenyum.
"Sudahlah tuan, tidak perlu membahas itu lagi. Saya mengerti posisi Tuan."
Arkan terdiam dan memejamkan matanya sejenak seperti sedang mengumpulkan keberanian.
"Nona apa kau keberatan jika aku ingin mendekati mu ?."
Deg
"Ma,maksud Tuan ?."
Shenna memberanikan diri menatap Arkan.
"Sepertinya aku menyukai mu nona."
"Hah ?."
shenna begitu terkejut.
"Apa Tuan Arkan salah makan ?."
"Apa boleh aku mendekati mu ? aku tahu ini terlalu cepat dan terlihat terburu-buru, tapi aku hanya tidak mau menunda hal apapun. tapi, bolehkan nona ?
yaaa setidaknya sampai kau mau menerima ku menjadi kekasih mu."
"Astagaaaaaa."
Shenna menyentuh dadanya, rasanya detak jantung nya begitu cepat. Ia menarik nafas panjang dan mengeluarkan begitu cepat seakan kehabisan oksigen.
Arkan panik melihat shenna yang seperti terkena serangan jantung.
"No,nona kau kenapa ?."
Arkan memegang kedua bahu shenna.
Shenna mundur menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan dirinya.
"Nona."
"Tuan Arkan, kenapa Tuan selalu membuat saya seakan terkena serangan jantung."
Arkan menatap lurus dan tersenyum.
"Maafkan saya nona."
"Kenapa Tuan tiba-tiba berkata seperti itu ? Apa Tuan lupa Saya hanya seorang pelayan."
"Apa bedanya dengan saya nona ?."
"Tapi, kau berbeda Tuan. Kau seseorang yang Tuan Dyoza percaya untuk....* ah lupakan! tuan tidak mengerti."
"Aku mengerti, tapi bolehkan saya mendekati nona ?."
Shenna terdiam dan memicingkan matanya.
"Apa Tuan akan menjatuhkan saya lagi ketika saya sedang mengepakkan sayap ?."
Arkan terdiam mencerna perkataan shenna.
"Tidak! aku akan selalu membuat nona mengepakkan sayap apapun yang terjadi."
"Benarkah ?."
"Nona bisa memegang janji saya."
"Tidak perlu berjanji Tuan, hanya bukti yang saya butuhkan."
"Tentu!! saya akan membuktikannya."
Shenna tersipu malu mendengar kata-kata Arkan.
"Boleh saya meminta sesuatu pada Tuan ?."
"Semoga saya bisa mewujudkan nya."
"Panggil saya Shenna saja!."
"Kenapa ?."
"Tidak perlu bertanya Tuan!."
"Baiklah! kalau begitu kau panggil aku Arkan."
"Tidak bisa!."
"Kenapa ?."
"Tidak perlu bertanya, saya hanya minta tuan panggil saya Shenna."
"Oke baiklah, dan aku tidak akan bertanya."
Arkan menyerah.
.
.
.
komen banyakin🤭
like banyakin 🤭
__ADS_1