
Pagi hari 2 pasang manusia masih memejamkan matanya sambil memeluk satu sama lain. Cuaca mendung di iringi rintik hujan menyempurnakan suasana.
Shenna perlahan membuka matanya, ia meringis lalu merapatkan selimut ke tubuhnya.
"Kenapa dingin sekali." Gumamnya kembali menutup mata
"Sayang." Ucap Dyoza serak
"Hemmmm." Gumam shenna
"Dingin."
"Aku juga."
"Peluk aku!!."
Shenna semakin merapatkan pelukannya, padahal posisi mereka sudah saling memeluk. Mata shenna seketika membulat merasakan sesuatu menegang di bawah sana.
Plakkk
"Awww sakit sayang, kenapa memukul punggung ku ?."
"Aku lelah, jangan biarkan itu mengganggu pagi ku." Rajuk Shenna
Dyoza terkekeh mendengar ucapan shenna, tentu saja ia sudah tidak tahan untuk melakukan nya di pagi hari. Belum cukup dan tidak akan cukup baginya bermain-main dengan sang istri yang selalu menjadi candu baginya. Bahkan semenjak pernikahannya dengan shenna membaik setiap pulang kerja ia selalu tepat waktu, setiap detik rasa rindu pada sang istri selalu membuat nya gelisah ingin bersama istrinya. Bahkan ia pernah mengajak shenna ke kantor untuk menemani nya bekerja, justru bukannya bekerja Dyoza malah tidak pernah sedikitpun melepaskan shenna dari pelukannya. Sampai Arkan yang kerepotan sendiri Karna perkejaan yang harusnya selesai justru malah menumpuk.
Setelah itu shenna selalu ngomel-ngomel agar Dyoza tidak memaksanya lagi untuk menemaninya bekerja.
"Sudah aku mau bangun." Ucap shenna kesal
"Sebentar sayang, aku masih ingin memelukmu." Rajuk Dyoza
"Ayolah sayang kamu kan harus bekerja."
"Iya iya aku bangun, kau ini menyebalkan sekali sih."
Dyoza pun bangun dari tempat tidur nya lalu menuju kamar mandi, sedangkan shenna menyiapkan segala keperluan sang suami.
Akhirnya Shenna dan Dyoza turun menuju ruang makan setelah selesai, mereka sudah melihat di sana ada bibi Hanum yang duduk sambil menunggu keponakannya itu.
Selang beberapa menit Daniel keluar dari kamarnya dan ikut sarapan bersama. Tidak ada obrolan serius antara mereka, hanya menanyakan beberapa urusan pekerjaan saja lalu setelah itu fokus menyantap kembali sarapan mereka masing-masing.
"Bi aku berangkat ya." Ucap Dyoza
"Aku juga bi." Sambung Daniel
"Iya hati-hati ya kalian." Sahut bibi Hanum tersenyum
Setelah berpamitan mereka pun menuju mobilnya masing-masing.
"Sayang hari ini aku akan pulang telat, jangan menunggu ku ya. Makan malam nanti duluan saja." Ucap Dyoza mengecup kening shenna
"Iya sayang, hati-hati. Hati-hati juga tuan Arkan." Ucap shenna tersenyum
Dyoza melirik Arkan yang sedikit terkejut dengan sapaan shenna pagi ini, dengan segera ia menyadarkan dirinya dari keterkejutan nya itu lalu tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Terimakasih nona." Ucapnya formal
Mobil melaju keluar gerbang.
--
Cafe Story..
"Bagiamana masalah mu dengan Tuan raja itu ?." Ucap Lula meledek
"Maksudmu Tuan Daniel ?." Ucap Kalya bingung
"Memangnya siapa lagi ?."
Kalya memutar bola matanya pertanda malas.
"Hahahaa bahkan sekarang kau begitu kejam menanggapinya." Lula terkekeh
"Aku hanya tidak mau membuat hari-hari ku tidak ceria jika membahasnya."
"Baiklah aku tidak akan membahasnya lagi, tidak akan pernah. Tapi tidak untuk hari ini hahaha."
__ADS_1
"Dasar kau ini."
"Lalu bagaimana ?." Sambung Lula penasaran
"Akhirnya selesai, aku dan Tuan Daniel. Aku akan menganggap dia seperti orang yang sangat aku takuti artinya antara pelayan dan tamu, aku rasa itu lebih baik. Anggap saja yang lalu itu sebuah kesalahan."
"Memang bisa seperti itu, setelah lama dekat bahkan dia main kerumah mu setiap hari untuk menyantap masakan buatan mu ?."
"Entahlah Lula, aku hanya ingin membatasi diri. Kau tahu kan bagaimana Dulu aku pernah di kecewakan ? Sekarang aku merasakan lagi hal yang hampir mirip dengan kisah ku dulu. Bahkan sekarang membahasnya aku merasa malu."
"Kalya." Lula mengusap punggung Kalya. "Kau tahu tidak, aku sangat bersyukur bisa menjadi sahabatmu. Apapun masalah mu aku akan selalu ada untukmu, hanya laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan gadis seperti mu."
"Lula." ucap Kalya lirih
"Kalya." ucap Lula membalas
Mereka tertawa bersama dan saling menguatkan satu sama lain.
Jam istirahat pun tiba....
"Kalya Lula hari ini kalian lembur sebentar ya, soalnya nanti sore akan ada pemilik cafe datang kemari." Ucap sang manager
"Ah tumben sekali pak." Ucap Lula sambil mengunyah
"Iya barusan dia telpon saya, mau mampir sebentar."
Kalya dan Lula saling menatap dan mengedikkan bahunya.
"Kira-kira seperti apa ya pemilik cafe ini ?." Ucap Lula penasaran
"Gendut, berkumis, berwibawa mungkin." Ucap Kalya asal
"Akan aku jadikan dia ayah angkat, biar bisa makan gratis hahaha." Lula kembali menyuap santapannya
Kalya hanya terkekeh mendengar ucapan sahabat nya itu.
Setelah menghabiskan santapan siang dan kembali bekerja kini jam menunjukkan pukul 18.20
Kalya masih sibuk melayani para pelanggan begitu pun dengan rekannya yang lain, mereka tidak sempat berbicara satu sama lain karna saat ini cafe sangat ramai.
"Selamat malam Tuan mau pesan apa ?." Ucap Kalya menyerahkan menu setelah tamu itu duduk.
"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya." Ucapnya mengerutkan kening
"Astaga kak Bara." Ucap Kalya setelah berpikir keras mengingat seseorang di hadapannya.
"Kalya ?." Tunjuk bara
"Iya kak saya kalya."
"Pantas saja aku tidak asing saat melihat wajahmu, kau bekerja disini rupanya ?."
"Iya kak, oh iya mau pesan apa ? maaf ya saya tidak bisa lama-lama, lagi ramai soalnya."
"Ah iya tidak apa-apa, aku mau pesan jus melon saja. Nanti untuk makanannya aku lihat-lihat menu dulu, tidak apa-apa kan ?."
"Tidak apa-apa kak, kalau begitu permisi ya kak."
"Terimakasih Kalya."
"Sama-sama kak."
Tidak lama kemudian Daniel datang bersama Zidan, matanya berkeliling mencari tempat kosong.
Lula yang melihat nya pun hanya menghembuskan nafasnya, kesal.
"Semoga tidak ada masalah hari ini." Ucap Lula lirih
Lula mengambil menu lalu menyerahkan pada Daniel dan Zidan.
"Selamat malam tuan Daniel dan temannya, mau pesan apa ?." Ucap Lula tersenyum paksa
"Eh Nona Lula, saya mau pesan ini, ini, ini dan ini." Ucap Daniel menunjuk menu tanpa menyebut nama menunya
"Baik tuan, di tunggu." Ucap Lula setelah selesai mencatat
"Itu sahabat nya Kalya ?." Zidan melirik
__ADS_1
"Iya, dia sangat kesal padaku."
"Tentu aku bisa melihatnya, senyumannya palsu." Ucap Zidan memainkan ponselnya
Daniel hanya tersenyum getir mendengar nya, ia pun mencari sosok yang ingin ia lihat. Daniel mendapatkan seseorang itu sedang tersenyum ramah pada salah satu pengunjung resto lalu memberikan pesanan yang ia bawa.
Entahlah rasanya Daniel ingin sekali menghampiri Kalya, namun pikirannya masih jernih melihat cafe begitu ramai saat ini.
"Terimakasih ya Kalya, oh iya boleh minta nomor ponsel mu ?."
Kalya mengangguk pelan lalu menulis nomor ponsel di kertas.
"Terimakasih ya Kalya."
"Sama-sama kak, saya permisi ya."
"Silahkan."
Daniel mengepalkan tangannya melihat laki-laki itu yang meminta nomor ponsel Kalya dan lebih kesal nya lagi Kalya dengan mudah memberikannya.
"Jangan macam-macam Daniel." Ucap Zidan mengingatkan
"Kau pikir aku bodoh ?."
"Biasanya kan begitu."
"Sialan!."
Zidan terkekeh.
Setelah cafe sudah mulai sepi Kalya masih sibuk membersihkan meja dan mengangkat piring kotor. Begitu pun dengan rekannya yang lain.
Bara yang sudah habis santapannya hanya menatap setiap gerak-gerik Kalya.
"Kenapa begitu kebetulan ?". Gumam bara
Saat manager sekaligus sahabatnya itu hendak menghampiri bara, bara pun memberikan titah Dari sorot matanya agar sahabatnya itu tidak menghampiri nya.
Manager cafe yang bernama Rian hanya menggeleng, ia tahu apa maksud dari sahabat nya itu.
"Kalya."
Kalya menoleh mendapati Daniel yang sedang berdiri tepat di belakangnya.
"Jangan ganggu saya, saya sedang sibuk." Ucap Kalya cuek
"Sebentar saja, aku ingin meluruskan masalah kita."
"Maaf tuan, masalah kita sudah selesai."
"Belum menurutku."
"Apalagi tuan ?." Ucap Kalya menahan kesal
"Jangan seperti ini, bersikap lah seperti biasanya."
"Sepertinya tuan salah, sikap saya memang seperti ini biasanya."
"Ma, maksud ku seperti seorang teman. Anggap aku begitu."
"Saya sudah menganggap tuan seperti seorang teman tapi nyatanya tuan tidak menganggap saya seperti itu."
"Kalya." Daniel memegang lengan Kalya
"Lepas tuan, saya sedang bekerja."
"Tidak."
"Saya mohon, jangan mengacaukan pekerjaan saya."
"Tidak akan, jika kau mau mendengarkan ku."
"Lepaskan!!!. Prankkkk " Bentak Kalya Berbarengan dengan suara gelas pecah.
-
-
__ADS_1
-
Bersambung