Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Bibi Hanum


__ADS_3

"Bibi". Merengek lagi.


"Sudah ku bilang jangan merengek seperti bayi".


"Makanya jawablah dengan jujur".


"Iyaa iyaa aku merindukan mu".


"Nahh begitu kan enak di dengar".


Bibi hanum tersenyum melihat dua keponakan nya yang saling menyayangi satu sama lain, sungguh bahagia melihat nya. Andai saja...


Ah sudahlah, melihat dua keponakan nya saja ia sudah sangat bahagia.


--


Bibi hanum adalah sosok wanita yang sangat menyayangi keponakannya, bahkan ia menganggap mereka sebagai anak kandungnya sendiri. Bahkan bibi Hanum rela tidak memikirkan dirinya sendiri karna sibuk mengatur kebutuhan keponakannya.


Umur yang sudah memasuki kepala tiga tidak membuat nya merasa dirinya juga butuh kasih sayang seorang laki-laki, rasa sakit hati yang mendalam membuat dirinya tidak peduli tentang percintaan. Baginya hidup seperti ini sudah membuat nya bahagia. Perhatikan dan kasih sayang dari para keponakannya sudah cukup bagi dirinya.


Ya! bibi Hanum adalah seorang wanita yang sudah pernah menikah, namun ia gagal mempertahankan laki-laki yang dulu pernah sangat ia cintai dalam hidupnya setelah ayahnya. Saat ia hamil mengalami keguguran akibat ulah sahabatnya yang rela melakukan segala cara demi merebut suami bibi Hanum.


Karna kejadian itu bibi Hanum mengalami setres berat hingga ia tidak pernah melayani suami nya, bahkan untuk melayani kewajiban sebagai istri pun tidak sama sekali.


Akhirnya suaminya memutuskan untuk mengirim Hanum pulang ke rumah orang tua nya dengan alasan untuk menenangkan dirinya. Hampir 2 bulan bibi hanum dirumah orang tuanya, di saat libur suaminya selalu mengunjungi nya. Tidak ada yang berubah dari sikap suaminya itu, hingga Hanum pulih dan lepas dari keterpurukannya.


Bibi Hanum memutuskan untuk pulang tanpa memberitahu suaminya karna ia berfikir akan memberikan kejutan pada suami tercintanya itu, tapi di saat ia membuka pintu ia melihat ada tas wanita yang pasti nya bukanlah miliknya.


Ia mengerutkan keningnya seperti mendengar suara samar-samar dari dalam kamar milik ia dan suaminya, bibi Hanum semakin mendekatkan dirinya. Suara semakin jelas, suara desahan nikmat semakin menusuk telinganya. Bibi Hanum menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya sudah berkaca-kaca, dadanya sesak, detak jantung nya berdebar lebih cepat.


Ia memegang handle pintu, menarik nafas panjang, memberanikan diri untuk membukanya dengan perlahan.


Deg... bibi Hanum melebarkan matanya, melihat laki-laki yang ia cintai tanpa sehelai benangpun sedang bergumul dengan seorang wanita dengan posisi di bawah. Dan bahkan ia mengenal wanita itu, wanita yang sudah ia anggap sebagai saudaranya, wanita yang selalu ia anggap baik, bahkan apapun Hanum lakukan untuk wanita itu. Tapi, bukan untuk ini.


Hanum melebarkan pintu, ia berdiri menatap kedua manusia yang sudah membuat dirinya hancur. Yang di sana terlihat terkejut dan saling menarik selimut untuk menutupi diri mereka.


"Memalukan". Ucap Hanum geram.


"Ha,Hanum ka,kau sudah pulang ?". Reno gelapan.


Sedangkan Lusi tertunduk menahan malu bahkan kini wajahnya sangat pucat. Hanum mendekati Lusi, menjambak rambutnya dengan geram serta memberikan sebuah tamparan keras untuknya.


"Hanum hentikan!". Teriak Reno

__ADS_1


"Diam!!!!!!". Suara Hanum menggema di ruang kamar.


Reno tercengang melihat seorang gadis yang selama ini lemah lembut di depannya berubah bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsanya.


"Apa selama ini kau hanya berpura-pura baik di depan ku Lusi ?". Suara Hanum terdengar begitu dingin di telinga Lusi .


"Ma,maafkan aku han, a,aku aku khilaf, hiks."


"Simpan omong kosong mu! dasar wanita jalang!." Hanum kembali menjambak rambut Lusi, membuat Lusi meringis kesakitan. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mu."


"Hentikan Hanum". Reno menahan tangan Hanum.


"Lepas sialan! Kita bercerai. Aku tidak akan mau di sentuh oleh sampah seperti mu." Reno melepas tangan Hanum dengan perasaan campur aduk, ia tidak menyangka Hanum yang di hadapan nya begitu mengerikan.


"Prakkkkkkkk."


Satu lagi tamparan keras melayang di pipi Reno. Hanum meninggal kan kamar yang menurut nya hanya membuat nya murka.


"Lanjutkan apa yang kalian lakukan hari ini". Hanum pun berlalu dan tidak lupa membanting semua guci yang ada di dekatnya sambil berjalan.


Dan sekarang disinilah bibi Hanum, berdiri sendiri tanpa laki-laki yang dulu pernah membuat hatinya selalu merasakan cinta. Namun dengan sekejap pula rasa cinta itu berubah menjadi murka.


Bibi Hanum tidak pernah melupakan kejadian itu tidak akan pernah ia lupakan, ia hanya bisa menjadi kan masa lalu nya sebagai pelajaran hidupnya. Bahwa, tidak semua wanita bisa mengerti perasaan sesama wanita lain. Bahkan lebih banyak pula wanita tersakiti karna wanita lain pula, bibi Hanum tidak menyalahkan sepenuhnya pada Lusi tapi bukankah jika sahabat nya itu menolak laki-laki tidak akan bertindak lebih jauh, dan bisa juga sebaliknya jika laki-laki menolak wanita lain pun tidak akan bertindak lebih jauh.


Sebuah pernikahan yang gagal membuat nya tidak dapat berfikir untuk melangkah ke arah sana lagi, ia ingin selalu mengambil jalan lain.


Jangankan untuk memikirkan tentang cinta, berkenalan dengan laki-laki pun rasanya sudah tidak ada di daftar hidup nya lagi.


Air matanya sampai saat ini sudah tidak pernah menetes, seakan-akan sudah habis karna dulu terlalu sering menangisi nasibnya. Bibi Hanum tumbuh menjadi wanita kuat dan bijak, hidupnya sekarang ia pasrahkan pada sang pencipta. Ia ingin hidup mengalir seperti air, mengikuti takdir yang ia hadapi saat ini.


Reno, Lusi. Ia berharap tidak akan pernah bertemu lagi saat ini dan seterusnya. Hanum memilih mengalah dan pergi meninggalkan semua kenangan yang ia pupuk dengan cinta yang di hancurkan oleh orang yang ia percaya akan menjaganya.


--


Pagi ini mentari seakan malu-malu untuk menampakkan dirinya, cuaca pagi ini cukup dingin. Tempat tidur seperti berubah menjadi posesif jika di tinggalkan, Seperti Dyoza saat ini yang enggan bangun dari tidurnya. Entah lah tidak seperti biasanya kasur yang memang sudah menjadi tempat nya tidur berubah menjadi lebih nyaman dari sebelumnya, Matanya sangat berat untuk membuka. Beberapa Minggu ini pekerjaan di kantor sangat melelahkan baginya.


Shenna sudah tidak mempedulikan Arkan, tidak mempedulikan keinginan aneh Dyoza. Baginya bekerja adalah hal paling penting dari semua itu, rasa sedihnya akan ia telan sendiri. Ia berusaha tidak akan pernah menunjukkan kesedihan nya pada siapapun.


"Shenna kau mau ikut kami tidak ? kami ingin menonton film". Ucap Mila salah satu teman sesama pelayan.


"Sepertinya tidak mil, badan ku seperti tidak bertenaga. Aku benar-benar lemas sekali." Ucapnya tidak bersemangat.


"Kau sakit ?". Mila menghampiri. "Kau sedikit demam shenn". menempelkan punggung tangan di kening shenna. "Sebentar aku ambilkan obat untukmu ya".

__ADS_1


Shenna hanya mengangguk pelan.


"Ini kau minumlah, ini airnya."


"Terimakasih ya Mila, kau sangat baik".


"Tidak perlu sungkan, kita kan disini semua Saudara. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal ?".


"Tidak apa-apa, kalian pergi lah!".


"Baiklah kalau begitu teman yang lain sudah menunggu di luar, aku pergi ya! jangan lupa obat nya di minum! bye shenna".


"Hati-hati!".


Shenna menghembuskan nafasnya, sebenarnya ia ingin sekali ikut dengan yang lain tapi, entahlah saat bangun dari tidur tubuhnya gemetar. Bahkan saat tadi ia membereskan kamar Dyoza berat sekali untuk berjalan.


"Apa aku benar-benar sakit ya ? bahkan aku lupa terakhir sakit itu kapan". Shenna tersenyum miris.


Semenjak jadwal kerjanya berubah, shenna benar-benar kurang tidur. Bahkan setiap malam shenna mengalami insomnia akibat gelisah karna takut telat bangun.


"Aku benar-benar ingin tidur lagi".


Shenna Merebahkan tubuhnya setelah minum obat. Matanya terpejam dan lelap dalam waktu singkat.


--


"Selain pagi bi." Ucap Daniel mencium pipi bibi Hanum.


"Selamat pagi juga".


"Kakak kemana ?". Sambil Menarik kursi


"Sepertinya belum bangun".


"Apa sekarang kakak menjadi pemalas ?".


"Mungkin Dyoza lelah, karna beberapa Minggu ini dia sibuk sekali. Biarkan dia istirahat lebih banyak, jangan ganggu kakak mu!".


"Siapa juga yang mau menganggu singa sedang tidur". Ucapnya cuek


--


like komen

__ADS_1


Nuhun πŸ™πŸ™


__ADS_2