Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Tahu diri


__ADS_3

Shenna menunggu kedatangan Arkan untuk menjemput nya, ia sudah mengirim pesan pada arkan bahwa ia sudah bersiap.


Satu jam berlalu Arkan tak kunjung membalas pesan, shenna sedikit gelisah karna arkan tiba-tiba seperti mengabaikannya.


"Shenna, mungkin tuan Arkan masih tidur."


"Tidak mungkin kak, ini sudah hampir siang. Beberapa hari yang lalu tuan Arkan pernah bilang tunggu dirumah belakang Karna ia sendiri yang akan menjemput ku disini."


"Mmmhhh yasudah kau tunggu lah sebentar lagi, mungkin tuan Arkan sedang membeli bunga untukmu."


"Kak, kau jangan membuat ku semakin deg-degan."


"Hehe maaf, biasanya kan di cerita romantis seperti itu. Laki-laki telat menjemput ternyata karna membeli bunga."


Shenna memegang dadanya, detak jantung nya selalu melompat-lompat jika berhubungan dengan tuan Arkan.


"apa aku hubungi saja ya kak ?."


"Iya, cepatlah hubungi tuan Arkan."


Saat shenna mencari nama kontak Arkan sebuah pesan masuk.


"Nona shenna maafkan aku, hari ini aku tidak bisa menjemput mu. Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggal."


Shenna terdiam pikirannya melayang, tatapan nya begitu kosong.


"Shenna kenapa kau melamun ? cepat hubungi Tuan Arkan!."


Shenna masih terdiam membisu.


"Shenna."


"Kak ?."


"Ya kenapa shenna ?."


"Tuan Arkan membatalkan rencana hari ini."


Sinta terkejut dan mengambil ponsel yang shenna letakkan di atas kasur dan segera membaca pesan dari tuan Arkan.


"Astaga, yang benar saja. kenapa seperti ini ?."


Air mata shenna menetes begitu saja, entah lah seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Rasa sesak yang ia rasa tidak dapat membendung air matanya saat ini.


Sinta memeluk shenna dengan erat, air mata shenna semakin membanjiri pipi mulusnya. Ia menangis sesegukkan.


"Shenna tenang lah."


"Harusnya aku tahu diri kak."


"Sssstt shenna kau jangan berkata seperti itu, mungkin Tuan Arkan memang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal."


"Jangan membelanya kak!."


Sinta mengusap kepala shenna berusaha menenangkan nya. Hati shenna seperti di tusuk-tusuk.


.


.


Di tempat lain.


"Maafkan aku nona, aku terpaksa membatalkan rencana kita. Gadis yang pernah tuan Dyoza ceritakan padaku ternyata kau."


Arkan mengacak rambutnya merasa frustasi. Rasanya sangat membingungkan baginya.


"Kenapa di saat aku menyukai seseorang justru gadis itu adalah mantan kekasih tuan dyo."


"Aku harap kau mengerti, mengerti akan posisi ku saat ini."


Dering ponsel membuyarkan lamunan Arkan.


"Hallo tuan"


"Kau dimana ?."


"Masih dirumah."


"Kau bisa kesini ?."


"Tunggulah aku segera kesana!."


Tanpa bertanya apapun Arkan segera meluncur menemui Dyoza.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama Arkan sudah sampai di rumah Dyoza.


"Tuan Arkan kau sudah dari tadi ?."


"Baru saja kepala pelayan, Ada apa ?."


"Ah, tidak. aku kira kau tidak kesini."


"Tuan Dyoza memanggil ku."


"Yasudah naiklah, dia pasti sedang menunggumu. Nanti akan aku siapkan teh dan cemilan untuk kalian."


"Terimakasih bibi".


Ucap Arkan berbisik.


Kepala pelayan hanya tersenyum melihat tingkah Arkan yang memang ia anggap sebagai keponakannya itu.


..


"Tok..tok..tok..


"Ceklek"


Arkan membuka pintu sedikit terkejut melihat shenna yang membawakan cemilan.


Mereka saling menatap namun shenna segera menyudahi dengan menundukkan wajahnya.


"Permisi Tuan saya membawakan teh dan cemilan untuk Tuan Dyoza dan Tuan Arkan."


Arkan terdiam sejenak.


"Masuklah!."


Shenna meletakkan teh dan cemilan di atas meja dengan hati-hati.


"Silahkan Tuan."


"Terimakasih Nona."


Shenna tidak menjawab ucapan Arkan ia segera keluar tanpa meliriknya.


Hembusan nafas Arkan begitu berat.


"Maafkan aku, kau pasti sangat marah padaku."


Arkan tidak fokus sama sekali dengan apapun yang ada di hadapannya saat ini.


Padahal Dyoza bisa mengerjakannya sendiri, namun selalu saja Arkan yang jadi tumbal hanya untuk meminta nya menemani Dyoza.


Dyoza memang sangat nyaman saat bicara dengan Arkan, begitupun dengan Arkan. terutama obrolan yang berhubungan dengan pekerjaan, mereka sangat bersemangat.


Dyoza memang sudah menganggap Arkan seperti kakaknya, begitupun dengan Arkan sudah menganggap Dyoza seperti adiknya.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.15 malam, Dyoza mempersilahkan Arkan untuk beristirahat.


"Kau menginap saja! besok kan kau kesini lagi."


"Baik Tuan, selamat istirahat."


Dyoza mengangguk.


Arkan menuju dapur berniat untuk mengambil sesuatu yang bisa ia makan, rasanya perutnya sedikit lapar.


Saat hendak menuju kamar, Arkan berniat mencari udara segar dan melihat shenna sedang duduk sendiri memainkan ponselnya di taman belakang.


Arkan memperhatikan shenna, dan segera menghampiri nya.


"Nona."


Shenna terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia terdiam dan memasang wajah seolah-olah baik-baik saja sebelum menatap Arkan .


"Tuan Arkan , kau belum pulang ?."


Arkan menatap mata shenna dalam-dalam, seperti ingin memastikan sesuatu.


"Tuan".


"Ah, i,iya aku tidak pulang nona. aku menginap malam ini."


"Ohh begitu, ada yang bisa saya bantu Tuan ?."


"Aku...

__ADS_1


"Mau saya buatkan air jahe ?."


"Jika tidak merepotkan mu."


"Tunggulah di sini, saya akan kembali."


Shenna berjalan cepat meninggalkan Arkan saat ia ingin mengatakan sesuatu. Shenna berusaha bersikap normal padahal ia sedikit kecewa dengan Arkan hari ini, ia merasa seperti di permainankan.


"Silahkan Tuan."


"Terimakasih."


"Yasudah saya permisi ya tuan."


"Nona shenna."


Shenna berhenti saat hendak meninggalkan Arkan.


"Ya tuan ?."


"Duduklah."


Dengan ragu shenna menurut.


Arkan menarik nafas kasar dan mengeluarkan nya perlahan.


"Nona, aku ingin minta maaf."


"Maaf untuk apa Tuan ?."


"Untuk hari ini, untuk acara yang ku batalkan secara sepihak."


"Tidak apa-apa tuan, saya mengerti posisi mu."


"Aku...


"Saya tahu alasan tuan Arkan membatalkan liburan kita hari ini, saya tahu bukan karna pekerjaan tapi karna saya mantan kekasih tuan Dyoza kan ?."


"Nona, aku....


"Tuan Arkan tidak perlu meminta maaf, sebelumnya saya lah yang harusnya meminta maaf. Maafkan saya yang lancang karna berharap Tuan benar-benar ingin mengajak saya berlibur di luar. Harusnya saya tahu diri Tuan, saya hanya seorang pelayan dan Tuan.... ah, sudahlah. Tapi, terimakasih sebelumnya karna sudah berniat baik ingin mengajak saya jalan-jalan."


Senyum luka terlukis di wajah shenna, Arkan terdiam kata-kata shenna membuat ia tercekat bahkan seperti ada batu yang mengganjal di hatinya.


Arkan melihat ada genangan air di mata Shenna, dengan susah payah shenna menahan agar tidak meneteskan air matanya.


"Saya permisi Tuan."


Shenna pergi tanpa menoleh, air matanya menetes dan segera ia usap menggunakan bahunya secara kasar.


Arkan hanya menatap lemah punggung shenna semakin menjauh darinya dan menghilang, ia benar-benar tidak bermaksud untuk menyakiti shenna seperti ini. Ia benar-benar menyukai shenna atau bahkan tanpa dirinya sadari ia mencintai shenna.


Shenna berfikir sudah sewajarnya ia di perlakukan seperti ini, saat masih menjadi kaya raya saja ia sudah di sakiti oleh Dyoza yang menjadikannya sebagai bahan taruhan apalagi sekarang ? sudah miskin, seorang pelayan, jadi semakin pantas ia di sakiti fikirnya.


"Nona shenna maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini sebelum aku benar-benar yakin kalau Tuan Dyoza sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padamu."


Arkan memukul tembok dengan keras, ingin sekali rasanya ia mengejar shenna dan memeluknya. Saat awal bertemu dengan shenna jantung nya berdetak tidak seperti biasanya. Shenna membuat Arkan selalu tersenyum meskipun hanya dengan melihat shenna. Sikapnya yang dingin seperti mencair jika shenna tersenyum manis meskipun bukan untuk nya.


.


.


.


Di dalam kamar Dyoza sedang mencari alasan untuk mengajak shenna pergi ke pesta reuni SMA, ia berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku nya .


"Shenna kau di undang reuni SMA kan , berangkat lah dengan ku."


"Bodoh, tentu dia di undang kenapa harus bertanya."


"Shenna apa kau mau ke pesta reuni bersama ku ?."


"Kenapa aku jadi seperti mengungkapkan perasaan."


"Aaarrgghhhh".


Dyoza merasa frustasi sendiri, ia mengacak kasar rambutnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Nahhh kisah mereka akan aku buat lebih greget lagi, yukkkk jangan lupa like komen dan vote yaaaa , aku butuh komen positif kalian 🥰 .


__ADS_2