
...Mohon bijak dalam membaca yaaa .....
"Aku hanya mengkhawatirkan mu, aku tidak akan memecat mu."
Ucap Dyoza lirih.
Shenna membeku, ia tidak membalas pelukan Dyoza namun tidak pula menolak perlakuan Dyoza. Ia hanya memejamkan matanya, menangis mengeluarkan air matanya dengan terisak.
Tanpa mereka sadari ada pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. Dengan kepala menunduk Arkan kembali ke dalam kamar Dyoza, ia duduk kembali sambil menunggu dokter Yang akan memeriksa nya.
Wajahnya melemah, memegang detak jantungnya. Ia menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.
"Apa kau cemburu ?."
Arkan tersenyum lirih.
"Apa kau baik-baik saja shenna ?."
Dyoza melepaskan pelukannya.
"A,aku baik-baik saja, aku sungguh baik."
gugup.
Dyoza merapihkan rambut shenna yang sedikit berantakan, ia menangkup wajah shenna dengan kedua tangannya.
"Ada apa dengan Dyoza ?."
shenna terkejut dengan tindakan tiba-tiba Dyoza.
Shenna memejamkan matanya sambil melepaskan tangan Dyoza dari wajahnya dengan perlahan.
"Tuan, bukankah seharusnya yang paling kau khawatir kan adalah Tuan Arkan ?."
ucap shenna dalam.
"Tentu saja! ayo kita lihat keadaan Arkan."
Dyoza menarik tangan shenna, namun dengan perlahan shenna menghindar dari genggaman tangan Dyoza.
Arkan sedang di periksa oleh dokter Tirta selaku dokter pribadi keluarga Dyoza dan teman semasa kuliah Dyoza.
"Dyoza."
"Bagaimana keadaan Arkan Tirta ?."
Ucap nya khawatir.
"Lumayan namun tidak terlalu parah, tapi Arkan harus cukup istirahat karna tertimpa tangga yang cukup berat punggungnya tidak boleh terlalu banyak bergerak. karna punggungnya sudah terlihat lumayan membengkak."
Jelas dokter Tirta.
"Apa perlu di rawat ?."
"Tuan Dyoza saya baik-baik saja."
ucap Arkan
"Diam Ar! kau tidak dengar Tirta bilang apa ?."
Dyoza kesal, namun Arkan tahu Dyoza sangat mengkhawatirkannya.
"Tidak perlu Dyo, aku sudah menuliskan resep obat anti nyeri dan salep untuk di oleskan di punggungnya."
Jelas dokter Tirta lagi.
"Hmmmm syukur lah, dengar Ar kau harus istirahat jangan kerja begitu berat."
Tunjuk Dyoza
"Ta,tapi tuan."
"Apa sekarang hobby mu membantah ku ?."
"Maaf Tuan."
Tirta hanya menggeleng melihat kelakuan temannya itu, ia memang mengenal Dyoza selalu khawatir seperti itu jika orang yang penting baginya mengalami hal yang membuatnya khawatir.
"Baiklah kalau begitu aku permisi ya Dyo, ini resep obatnya."
"Terimakasih ya Tirta."
menerima resep dari tangan Tirta.
"Jangan sungkan! ini sudah menjadi tugasku. Kalau ada apa-apa dengan Arkan hubungi aku segera ya, kapanpun."
"Tentu."
"Arkan lekas sembuh ya, ingat jangan membantah perintah Tuan Raja!."
mengedipkan matanya.
"Baik Tuan Tirta, terimakasih."
Arkan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu aku permisi."
Dyoza menatap Arkan, masih ada kekhawatiran di benaknya.
"Saya baik-baik saja Tuan."
Arkan meyakinkan.
"Iya, iya maaf aku membuat mu tidak nyaman."
"Tidak sama sekali Tuan."
"Shenna."
"Ya tuan".
"Berikan ini pada kepala pelayan, suruh supir menebusnya."
memberikan resep obat.
"Baik Tuan."
"Kau mau kemana Ar ?."
__ADS_1
Arkan hendak meninggalkan tempat tidur.
"Saya akan beristirahat di apartemen Tuan."
"Kau yakin bisa berjalan ?."
Mendekati Arkan.
"Yang sakit hanya punggung saya tuan, kaki saya masih bisa saya gunakan."
senyum kikuk.
"Ah baiklah, kau istirahat lah! maaf tidak bisa menemanimu di apartemen, aku ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan."
"Tidak apa-apa tuan, tuan tidak perlu khawatir saya benar-benar baik-baik saja, sungguh."
"Baiklah, istirahat lah! aku tidak akan mengganggumu sampai lukamu pulih."
"Kalau ada yang tuan butuhkan saya selalu ada untuk tuan."
Dyoza menarik nafas panjang.
"Baiklah!."
"Permisi Tuan."
Arkan membungkuk hormat dan pergi meninggalkan rumah Dyoza.
Tok..tok..tok
Arkan terkejut melihat shenna mengetuk kaca mobil.
"Shenna ?."
"Aku boleh ikut ?."
senyum lebar
"Untuk apa ?." Arkan bingung kenapa tiba-tiba shenna ingin ikut.
"Kau lupa hari ini kita makan malam bersama ?."
Arkan tersenyum manis, tragedi tadi membuat ia melupakan hal penting hari ini.
"Ta,tapi...
"Aku sudah meminta izin kepala pelayan, kau tenang saja!."
"Masuklah!."
Shenna senang bukan main, ia sungguh ingin menghirup udara segar di luar rumah majikannya.
Hanya butuh waktu 20 menit mereka sampai di apartemen milik Arkan.
"Di mana dapur nya ?."
Mata shenna berkeliling.
"Disana, memang kau mau memasak apa ?."
Ucap Arkan seraya mendudukkan dirinya di sofa.
"Kau suka sup ayam ?."
"Itu salah satu menu favorit ku, aku suka makanan berkuah."
sambil memegang punggung dan meringis.
Shenna yang sedang membuka bungkusan berisi bahan untuk membuat sup ayam pun menghentikan pergerakan nya, ia menghampiri arkan.
"Tuan".
Sudah berada di hadapan Arkan.
"Ya ?." Arkan
Mengerutkan keningnya.
Tanpa menunggu aba-aba, shenna memeluk arkan tiba-tiba.
"She,shenna kau kenapa ?."
Arkan gelagapan.
"Aku mengkhawatirkan mu Tuan."
ucapnya lirih, shenna sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya lagi kali ini.
Arkan membalas pelukan shenna dengan erat, sungguh ia pun sangat mengkhawatirkan Shenna. Terlebih lagi kejadian yang ia lihat di ruang kerja, rasa khawatirnya semakin bertambah.
"Maafkan aku sudah membuat mu celaka."
Raut wajah menyesal terlukis di wajah shenna.
Arkan melepaskan pelukannya dan menatap wajah shenna yang sudah basah karena menangis.
Ia mengusap wajah shenna dengan kedua tangannya dengan lembut.
"Kau menangis untukku ?."
Ucap Arkan masih menatap dalam mata shenna.
Shenna mengangguk pelan.
"Kenapa kau harus menangis ?."
"Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."
Shenna berkata dengan suara berat menahan Isak tangisnya.
"Kau lihat kan aku masih baik-baik saja ?."
meyakinkan shenna.
Shenna memeluk Arkan kembali, dan sekarang semakin erat.
Arkan semakin gila sendiri, detak jantung semakin berdesir hebat mendapatkan perlakuan ini dari shenna. Shenna seperti takut kehilangannya, semoga Arkan tidak salah menilai perlakuan shenna saat ini.
"Maafkan aku!."
Ucap shenna kembali menyesal.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, aku senang bisa melindungi mu dari tangga itu. kalau kau yang tertimpa aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
mengusap punggung shenna lembut.
Shenna menatap wajah tampan Arkan, ada kebahagiaan tersendiri di hati shenna mendengar ucapan Arkan.
Mereka saling menatap satu sama lain dengan dalam, cukup lama mereka saling bertukar pandang sampai mereka terbawa suasana.
Arkan semakin mendekatkan wajahnya pada shenna, saat ini tatapannya tertuju pada bibir merah shenna.
Shenna memejamkan matanya saat ia yakin Arkan akan mencium nya.
Sesuatu yang kenyal mendarat di bibir shenna dengan lembut, shenna masih memejamkan mata. Tidak ada pergerakan dari kedua bibir itu, Arkan benar-benar hanya menempelkan bibirnya.
Mereka saling melepas dengan pelan dan lembut, Arkan mengusap wajah shenna dengan jarinya. ia tersenyum lembut dan dalam, shenna pun begitu. mereka saling beradu pandang.
"Apa kau gugup ?."
Ucap Arkan berbisik.
Shenna menggeleng pelan matanya tidak lepas dari Arkan.
Arkan kembali melakukan aksinya, kali ini ciuman mereka sedikit membara dan tidak sabaran. Bibir Arkan turun ke leher dan shenna hanya bisa menikmati itu dengan perasaan campur aduk. Arkan masih bisa mengontrol dirinya, bibirnya hanya berpacu pada leher dan bibir shenna saja. Ia tidak mau melakukan hal yang lebih dari itu, ia takut shenna akan menganggapnya seperti laki-laki kurang ajar yang mengambil mahkota nya.
Sejujurnya shenna dan Arkan ingin melakukan hal lebih dari ini, tapi mereka masih berfikir jernih. Dan saat Arkan masih mencumbu leher shenna, ia mengerang kesakitan karna tanpa sengaja shenna meremas punggung Arkan yang terluka akibat tertimpa tangga.
"Ah tuan, maafkan aku!."
Panik
"Awwww, sakit."
Meringis kesakitan.
Kini posisi mereka sama-sama duduk berhadapan, shenna bingung harus melakukan apa.
"Kau mau kemana ?."
menarik tangan shenna yang hendak menuju dapur.
"Aku akan mengompres luka mu tuan."
Arkan melepaskan tangan shenna dan membiarkan shenna melakukan niatnya.
Shenna menyuruh Arkan membuka bajunya dengan ragu. Arkan pun tidak enggan membukanya.
"Awww, pelanlah sedikit! sakit."
Ucap Arkan lembut.
"Ini sudah pelan, tahan ya!."
Shenna mengompres dengan sangat hati-hati.
Krukuk....
Arkan menyentuh perutnya, sedangkan yang di belakang menahan senyumnya.
"Setelah ini aku akan memasak, jangan menganggu ku ya!."
Arkan mengernyit.
"Apa maksudnya ?."
Menoleh pada shenna.
Shenna hanya tersenyum dan membenahi kompres yang ia gunakan.
"Hei, kau belum menjawab pertanyaan ku!."
menahan lengan Shenna.
Shenna meletakkan kembali kompres nya dan duduk.
"Kau sudah dewasa, jangan berpura-pura polos!."
melengos
"Eh, tuan kau mau apa ?."
Shenna panik, kini posisinya menindih Arkan.
Arkan menahan tubuh shenna agar tidak bisa lari darinya.
"Nanti punggung mu sakit".
"Aku bisa menahannya."
"Tuan."
shenna memberontak.
"Semakin sakit jika kau memberontak seperti ini, diamlah!."
Shenna terdiam, seketika kata-kata Arkan adalah perintah untuknya.
"Aku tidak sepolos itu, aku hanya ingin meminta jawaban langsung dari bibir mu yang manis ini."
Arkan mengusap bibir shenna dengan jarinya.
Shenna hanya terpaku.
"Shenna".
"Ya ?."
"Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku sudah tidak tahan."
"A,apa maksud mu Tuan ?."
Arkan tersenyum Licik, membuat shenna sedikit takut. Apa Arkan akan melakukan hal di luar batas fikirnya.
"Ka,kau mau apa ?."
Shenna panik sendiri.
Arkan menekan leher shenna, sedikit memaksa shenna mendekati wajahnya pada arkan.
Detak jantung shenna semakin bergemuruh hebat, fikiran shenna sudah kemana-mana.
__ADS_1
Hayooooo Arkan mau berbuat apa yaaa pada shenna ???????