
Dyoza melenguh panjang matahari menerpa wajah tampannya, terasa hangat. Matanya masih enggan membuka.
"Dyoza bangun, Ayo sarapan!." Ucap shenna
Dyoza membuka matanya perlahan dan memijat pelipisnya.
"Pusing sekali." Gumam Dyoza
"Kau pasti banyak minum semalam."
"Tidak, aku hanya minum 1 gelas."
"Kalau aku sampai mabuk, bisa gawat."
"Cepat bangun, sarapan sudah siap."
"Kau meminta pelayan membawa sarapan ke kamar ?."
"Iya, menunggu mu bangun bisa mati kelaparan."
"Hehe maaf, yasudah aku cuci muka dulu."
Kini pasangan pengantin baru itu sedang menikmati sarapan paginya yang hampir kesiangan, mereka saling mengobrol layaknya pasangan pada umumnya.
Bahkan shenna dan Dyoza tidak merasa canggung sedikit pun. Rasa kesal, kecewa, marah di dalam diri shenna pada Dyoza ia pendam sementara waktu.
"Shenna kau mau bulan madu kemana ?."
Shenna tersedak.
"Eh ma,maksud ku setelah ini kau mau liburan kemana ?."
"Apa kita akan liburan ?."
"Tentu jika kamu mau."
Shenna mengangguk begitu antusias.
"Baiklah, nanti kita akan berlibur. Untuk sementara waktu aku sibuk bekerja, lalu aku akan ambil cuti panjang."
"Oke."
"Shenna sangat baik, seperti nya ia sudah tidak marah padaku. Apa ini tandanya shenna sudah membuka hatinya untukku ?."
--
--
--
"Shenna sini sayang." Panggil ibu mertua
"Ada apa Bu ?."
"Lihatlah kalung ini sangat bagus bukan ?."
"Wahhh pasti ini hadiah dari ayah."
"Bukan nak, ini untukmu!."
"Hah ? untuk Shenna Bu ?".
"Iya sayang, sebentar lagi ibu kan harus balik lagi keluar negri. Cuma ada sisa beberapa Minggu disini, huh padahal ibu ingin sekali tinggal disini tapi apa boleh buat."
"Ibu kenapa repot-repot sih, shenna sudah dapat semuanya. Ayah dan ibu mertua yang menyayangi shenna dengan tulus bahkan Dyoza sangat baik pada shenna."
"Ini hanya hadiah kecil sayang. Sini ibu pakaikan."
Air mata shenna menetes.
__ADS_1
"Wah cantik sekali. Loh kenapa kamu menangis sayang ?."
"Maafkan shenna Bu."
"Kenapa minta maaf ?."
Shenna hanya menggeleng pelan, lalu mereka saling memeluk satu sama lain.
"Sudah jangan menangis lagi!."
"Maafin shenna Bu belum bisa menjadi istri yang baik untuk Dyoza, anak ibu."
"Dyoza kamu mau kemana ?." Tanya sang ibu
"Mau ke taman Bu, kenapa ?."
"Sini sebentar nak!
"Shenna kau menangis ?." Dyoza terkejut
"Tidak, siapa yang menangis."
"Shenna kenapa Bu ?."
"Ibu hanya memberikan ia hadiah, eh malah menangis."
"Hufffff aku kira kenapa. Kenapa menangis ? kau bahagia bukan ?." Tanya Dyoza mengelus kepala shenna dengan lembut
Shenna membeku mendapati hal tersebut ia hanya tersenyum malu.
"Ada apa Bu ?." Dyoza duduk tepat di samping shenna
"Sudah 4 hari kalian menjadi suami Istri apa kalian tidak mau berbulan madu ?."
Dyoza dan shenna saling melirik satu sama lain.
"Iya Bu mau, aku juga sudah bertanya pada shenna tapi nunggu aku cuti panjang."
"Ibu tenang saja, kita juga tidak sabar. Iya kan sayang ?". Dyoza merangkul shenna dengan mesra
"Hah ? i,iyaa Bu."
"Kalian benar-benar pasangan serasi, yasudah ibu tinggal sebentar ya!."
"Baik Bu." Ucapnya kompak
"Awwww sakit, kenapa kau menginjak kaki ku ?."
"Kenapa harus bertanya ?."
"Hehe ya setidaknya biar ibu percaya kalau kita ini pengantin baru yang sangat bahagia dan romantis, bukankah kau harus bersikap baik padaku shenna ?."
"Tapi jangan memanfaatkan kebaikan ku Dyoza!." Shenna meninggalkan Dyoza dengan perasaan kesal.
"Hufffff sabar Dyoza, ini baru awal." Gumam Dyoza
✨
✨
Shenna menatap foto pernikahan nya dengan Dyoza yang terpajang di dalam kamar, ia menghembuskan nafas perlahan. Entahlah apa dia harus senang atau sedih, rasanya berat untuk memastikan hal itu.
Mungkin jika ia tidak mendengar pembicaraan Dyoza dan Arkan saat ini ia akan merasa wanita yang paling bahagia dan beruntung telah menikah dengan Dyoza, laki-laki yang di gilai wanita-wanita cantik dan banyak pula yang ingin menjadi pendampingnya.
"Bahkan untuk mempertahankan perasaan ku padamu saja aku ragu, bagaimana mungkin aku berani kembali membuka hati untukmu Dyoza."
Shenna menitihkan air matanya, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Bahkan kasih sayang sang mertua dan harapan kedua orangtuanya saja membuat nya tidak berani untuk melakukan hal yang akan mengecewakan mereka.
Ia menoleh ke Arah tempat tidur, dimana setiap malam ia selalu membatasi tidurnya dengan guling. Meskipun terkadang setiap pagi ia terkejut Dyoza memeluknya dan selalu membuat nya heran kemana pembatas tidurnya.
__ADS_1
Shenna tersenyum pahit, apa hanya dia saja yang melakukan hal ini pada suaminya sendiri ? Entahlah, rasa kecewanya membuat ia melakukan hal yang menurutnya tidak wajar.
Ia sadar tapi, mau bagaimana lagi ?
Suara pintu kamar mandi terdengar, shenna dengan cepat menghapus air matanya.
"Shenna hari ini aku akan pulang terlambat, kau tidak apa-apa kan ?."
"Tidak apa-apa."
"Kau... tidak bertanya kenapa aku pulang terlambat ?". Ucap Dyoza ragu
"Tentu saja, memang ada acara apa ?."
Dyoza menarik nafas panjang ada rasa sedih dalam hatinya.
"Aku akan makan malam dengan rekan kerja baruku. Perempuan, tapi kau tenang saja Arkan selalu bersama ku."
"Baiklah! kau hati-hati, jangan banyak minum."
Berharap shenna akan cemburu tapi nyatanya... ah sudahlah.
"Tidak akan, aku berangkat!."
"Kau tidak sarapan dulu ?."
"Aku sarapan di kantor."
"Oh baiklah!."
Dyoza keluar begitu saja tanpa menoleh lagi setelah selesai berpakaian, shenna menyusul dengan membawa tas untuk sang suami. Saat sampai di mobil shenna memberikan tas itu pada Arkan, lalu menunggu nya hingga mobil tak terlihat.
"Kenapa dia, biasanya juga mencium kening ? Ah mungkin karna ayah dan ibu sudah kembali ke luar negri jadi tidak perlu berpura-pura lagi, hmm baguslah."
Di dalam perjalanan....
"Ada yang anda pikirkan tuan ?."
Dyoza hanya membuang nafas dengan kasar.
"Kau tahu Ar, mungkin hanya aku yang sampai saat ini belum mendapatkan hak ku sebagai seorang suami."
Ciiiiitttttttt.....
Suara rem mendadak membuat Dyoza terkejut.
"Kau mau kita mati ?." Teriaknya kesal
"Ma,maaf tuan. Saya rasa saya salah dengar barusan."
"Hah, Tentu saja kau tidak salah dengar. Telinga mu masih berfungsi dengan baik bukan ?."
"Masih tuan."
"Ar aku harus bagaimana, setelah kejadian waktu itu shenna benar-benar marah padaku bahkan sampai sekarang dia juga tidak bertanya apapun padamu kan ?".
"Iya Tuan, bahkan jika saya bertanya seolah-olah tidak ada siapapun di hadapannya."
"Kau tahu Ar, bahkan tidur pun dia selalu membatasi dengan guling. Dan tadi pagi aku bilang kita akan meeting dengan rekan wanita, aku berharap dia cemburu seperti istri-istri temanku yang selalu bilang jangan genit, jangan lama-lama pulangnya, jangan makan di luar, tapi sepertinya hanya shenna yang membiarkan ku bebas melakukan hal apapun."
"Tuan harus tetap berusaha meluluhkan hatinya, saya selalu berdoa yang terbaik untuk tuan."
"Hmmm terimakasih Ar."
"Sama-sama tuan."
Dyoza menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata, sepertinya sedikit lega sudah curhat dengan orang kepercayaan nya itu.
"Sudah 1 bulan pernikahan ini berjalan, mau sampai kapan seperti ini terus ?."
__ADS_1
..
...