
Setelah drama saling memeluk dan menangis kini shenna dan Dyoza duduk bersandar di sofa, mereka saling melepas beban satu sama lain.
Shenna baru menyadari Dyoza masih bertelanjang dada, detak jantung nya tidak karuan melihat tubuh sang suami yang atletis.
"Kenapa wajahmu merah ?." Tanyanya khawatir. "Kau demam ?." Sambung nya menyentuh kening shenna
"Tidak, a,aku baik-baik saja!."
"Kau yakin ?."
"Iyaa aku baik-baik saja."
"Syukurlah." Dyoza kembali memeluk shenna
Sepertinya hari ini akan benar-benar menghabiskan waktu untuk saling memeluk, bahkan untuk mandi pun rasanya enggan.
"Dyoza apa kamu tidak mau memakai baju ?."
Dyoza melepas pelukannya dan menatap shenna, ia pun melirik tubuh nya.
"Sepertinya lebih nyaman seperti ini." Dyoza tersenyum. "Shenna boleh aku minta sesuatu dari mu ?."
"Apa ?."
"Jangan pernah sembunyikan hal apapun dariku, termasuk sesuatu yang menggangu hati dan pikiran mu." Dyoza menyentuh dada dan kening shenna bergantian.
Shenna tersenyum dan mengangguk.
"Katakanlah tentang hal apapun yang kau rasakan, aku bukan laki-laki yang bisa membaca pikiran seseorang."
Shenna mengangguk kembali
"Kau berjanji ?."
"Tidak! jangan menyuruhku untuk berjanji, karna aku takut akan mengingkari nya, tapi aku akan selalu ingat ucapan mu. Aku akan melakukan nya setiap aku ingat ucapan mu."
"Hmmm Baiklah! aku berharap kau selalu ingat dengan ucapan ku."
"Iyaa kau tenang saja. Eh eh mau apa ?."
"Aku ngantuk, aku akan tidur lagi."
"Lalu kenapa kau mengajakku tidur, aku mau mandi."
"Sebentar saja! aku ingin bermalas-malasan hari ini, di saat aku libur aku tidak pernah bermalas-malasan."
"Mau aku pijat ?."
Dyoza tersenyum kegirangan dan mengangguk cepat.
"Yasudah sini aku pijat!."
"Oh senangnya, terimakasih istri ku sayang."
"Ih jangan bicara begitu!." Shenna menepuk punggung sang suami
"Loh kenapa ?."
"Aku.... aku malu."
"Kenapa malu, kau kan memang istri ku."
Dyoza mencium kening shenna dengan lembut.
"Lanjutkan pijatannya!."
"Iya iya baik."
--
Tok.. tok..
Shenna membuka pintu dengan mata memicing, ia baru saja bangun dari tidurnya.
"Nona shenna sudah waktunya makan siang." Ucap salah satu pelayan
"Ah iya, terimakasih ya. Sebentar lagi akan turun."
"Baik nona, saya permisi."
Shenna tersenyum lalu menutup pintu.
"Astaga semua karena Dyoza, aku jadi tidur lagi."
"Dyoza bangun, bibi memanggil kita. Sudah waktunya makan siang. Kau ini benar-benar menyebalkan, kenapa harus mengajakku tidur lagi sih ? mau di taruh mana wajahku nanti, aku seperti pemalas tahu tidak ?."
Dyoza yang merasa terganggu menarik shenna kembali ke dalam pelukannya.
"Dyoza lepas!! aku lapar, ayo bangun!."
"Kenapa kau masih cerewet seperti dulu sih ? aku pikir kamu sudah sedikit lebih kalem."
"DYOZA!! Mskbdrhuensnkskjdhdbrbnk."
Dyoza membekap mulut shenna hingga ia berbicara tidak jelas.
"Kau gila ya, ingin aku mati. Hah ?." Shenna kembali memarahi sang suami setelah Dyoza melepas tangannya.
"Tidak, jangan mati!!."
Dyoza kembali memeluk shenna dengan erat, ia seperti takut dengan kata-kata shenna.
"Maaf, aku hanya bercanda."
"Dyoza, kau kenapa sih ?."
"Tidak apa-apa, jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau kehilangan mu."
Shenna menatap mata Dyoza, ia benar-benar merasa aneh dengan sikap Dyoza saat ini.
"Aku baik-baik aja, tadi aku cuma bercanda kenapa kau begitu serius ?."
Dyoza mengecup kening shenna dengan lembut dan sedikit lama, seperti menyalurkan rasa cintanya pada shenna.
"Karna aku begitu mencintaimu shenna, percayalah! Aku sangat mencintaimu."
Shenna membeku, ia merasa di hadapannya ini seperti bukan Dyoza yang ia kenal. Dyoza begitu hangat dan penuh kelembutan saat ini, sebenarnya shenna juga memiliki perasaan yang sama hanya karna rasa ketakutannya lah ia mencoba untuk memungkiri semuanya.
Shenna memeluk Dyoza sangat erat, ia mencoba menenangkan sang suami yang entah kenapa.
"Aku... aku juga mencintaimu Dyoza."
Dyoza menjauhi tubuh shenna dan menatap matanya, memastikan apa yang shenna ucapkan bukan sebuah kebohongan.
Ia tersenyum setelah menemukan jawaban melalui mata shenna yang begitu tulus.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah memberikan aku kesempatan."
--
__ADS_1
Kini shenna dan Dyoza serta bibi Hanum sudah berada di meja makan, di tambah Daniel dengan sejuta kebisuannya.
"Daniel kenapa kamu diam saja ?."
Daniel menatap sang kakak sepupu dengan malas.
"Tidak apa-apa kak!."
"Ada masalah dengan pekerjaan ?."
"Tidak kok kak, aku baik-baik saja."
"Daniel kenapa kamu makannya sedikit ?." Ucap shenna menyambar
"Aku sedang diet."
"Jangan aneh-aneh sayang, nanti kamu sakit." bibi Hanum ikut serta
"Kalian kenapa sih ? peduli apa kalian sama aku ? biasanya juga tidak bawel seperti ini."
Mendengar ucapan Daniel, Dyoza mengeram kesal.
"Jaga ucapan mu! yang sopan kalau bicara!!!." Ucap Dyoza ketus
Daniel semakin malas dan berlalu meninggalkan meja makan dengan makanan yang masih tersisa banyak di piringnya.
"Daniel!!." Teriak Dyoza marah
"Dyoza jangan!." Ucap shenna melarang Dyoza saat hendak menyusul Daniel.
"Sudahlah! biar bibi yang membujuknya, kalian lanjutkan saja makannya."
"Tidak bibi, biar aku saja! sepertinya Daniel butuh teman. Aku sudah selesai makan, Dyoza aku izin menemui Daniel sebentar ya!."
Dyoza mengangguk pelan menahan rasa kesalnya pada adik sepupunya itu. Shenna pun bergegas menemui Daniel.
"Bergaul dengan siapa anak itu ? Sikapnya akhir-akhir ini benar-benar tidak sopan."
"Sudahlah Dyoza, Mungkin Daniel hanya butuh ketenangan saja."
"Dia itu sudah dewasa bi, bagaimana jika orang tua nya tau sikapnya semakin lama semakin kurang ajar seperti itu ?".
"Sudah sayang, jangan marah-marah! lanjutkan makannya."
--
Tok..tok...
"Daniel boleh aku masuk ?." Teriak shenna
Daniel hanya menoleh pada pintu kamarnya dan kembali memainkan ponselnya.
Tok..tok..
"Aaaiiihh bahkan sekarang shenna bertanya dulu, padahal sebelumnya tinggal masuk tanpa meminta izin." Gumam Daniel kesal
"Aku masuk ya Daniel."
Ceklek
Pintu terbuka lalu shenna tidak menutupnya dengan rapat.
"Daniel."
"Kenapa ? kenapa kau kemari ? kakak yang menyuruhmu ?."
"Tidak, aku yang ingin kesini menemui mu."
Shenna tersenyum dan mendekatkan dirinya pada Daniel.
"Kau marah ya ?."
"Kau pikir ?."
"Coba jelaskan padaku! apa yang membuat mu marah ?."
"Itu bukan urusanmu! pergi sana! aku tidak mau di ganggu siapapun." ucapnya ketus
"Kau mengusir ku ?."
"Sudah jelas bukan ?."
Shenna menggenggam tangan Daniel dengan erat.
"Kau tahu tidak ? Aku sangat merindukanmu Daniel. Merindukan kamu yang selalu membuat ku tertawa, melepas semua kesedihanku, tidak pernah membuat ku merasa sendiri. Tapi sekarang, aku tidak merasakan itu semua karna perubahan mu ini."
"Apa peduli mu ?."
"Justru aku peduli, karna aku sayang padamu."
Daniel terkejut menatap shenna dengan rasa bahagia.
"Kau sungguh menyayangi ku ?."
"Tentu!!."
Daniel memeluk shenna dengan erat, rasa bahagia menyelimuti dirinya.
"Bagaimana bisa kau menyayangiku dan baru bilang sekarang shenna."
Shenna menepuk punggung Daniel dengan lembut.
"Tentu aku menyayangimu, aku kan sudah bilang padamu bahwa aku menemukan sosok adik laki-laki pada dirimu."
Senyum Daniel berubah seketika saat ia mendengar ucapan shenna. Ia pun segera melepas pelukannya
"Jadi, kau menyayangiku sebagai seorang adik ?."
Shenna mengangguk pelan dan mengusap kepala Daniel.
"Kau tahu tidak aku sangat menginginkan seorang adik, dan itu ada pada dirimu. Jadi aku mohon, jangan pernah berubah tetaplah menjadi Daniel yang aku kenal."
Daniel meneteskan air matanya, pupus sudah harapan nya mendapatkan shenna. Ia benar-benar putus cinta, apalagi yang menikahi shenna adalah kakak sepupu nya sendiri. Bisa apa dia selain marah pada keadaan.
"Aku mencintaimu shenna , sejak awal kita bertemu. Tapi, kenapa semuanya begini ?."
"Daniel."
"Ya ?."
"Jika kau butuh teman curhat aku akan selalu ada, bukankah seharusnya kau melepas semua masalahmu ?."
"Iya, tapi aku hanya sedang lelah saja. Aku butuh sendiri, boleh kau keluar sekarang ?." ucapnya lirih
Shenna mengangguk, ia kembali mengusap kepala Daniel layaknya seorang kakak.
Dyoza berdiri di depan pintu kamar Daniel yang sedikit terbuka, ia mendengar semua obrolan antara istri dan adik sepupunya itu. Ia mematung dengan tatapan kosong, otaknya berpikir keras. Tentu Dyoza bisa menebak tentang perasaan adik sepupunya itu, Daniel menaruh harapan pada shenna. Daniel mencintai shenna, Isti nya sendiri.
Shenna keluar dari kamar Daniel sedikit terkejut melihat Dyoza berdiri disana.
__ADS_1
"Kau mau menemui Daniel ?."
Dyoza menggeleng dan segera menarik tangan shenna.
"Mau kemana ?."
"Ke kamar, ada yang mau aku bicarakan padamu."
"Baiklah!."
--
Dyoza mengajak shenna duduk di sofa dan saling berhadapan. Shenna menunggu Dyoza membuka suara.
"Selama kalian dekat apa Daniel bersikap aneh padamu ?."
"Aneh ? aneh bagaimana maksudnya ?."
"Ya apa ada sesuatu yang mencurigakan ?."
"Mencurigakan bagaimana sih ? aku tidak paham, maksudnya apa ?."
"Ya selama ini kalian bagaimana saat dekat ?".
"Ya biasa saja, mengobrol layaknya seorang teman, jalan-jalan, makan bersama, nonton, sudah itu saja. Bahkan selama ini kan kamu tahu setiap aku libur Daniel selalu mengajakku keluar rumah."
Dyoza menarik nafas dan memeluk shenna.
"Apa kau tidak bisa merasakan bahwa Daniel menyukai mu ?."
Shenna tersenyum dan menangkup wajah sang suami.
"Aku tahu dyoza, aku tahu itu."
"Jadi, kau tahu ?."
shenna mengangguk.
"Lalu kenapa kau berpura-pura bodoh seperti itu ?."
"Aku tidak ingin ia semakin sakit, saat aku tahu tapi aku mengabaikannya. Daniel terlalu baik tapi aku menyayanginya sebagai seorang adik. Maka itu aku berpura-pura tidak peka dan selalu bilang aku menyayangi nya seperti adikku sendiri, aku tahu itu juga akan membuatnya sakit. Tapi setidaknya aku dan Daniel masih bisa berteman. Daniel sebenarnya lebih menghargai perasaan ku, makanya ia tidak berani bilang bahwa menyukaiku."
"Kenapa kau bersikap begitu ?."
"Karna aku tidak mencintai nya, aku hanya ingin dia menjadi adikku."
"Lalu saat itu kau mencintai siapa ?."
"Untuk apa menanyakan hal itu, tidak penting sekali."
"Jawab shenna!."
"Tidak mau!!."
"Kenapa ?."
"Itu tidak penting, yang penting sekarang kau tahu aku mencintaimu."
Dyoza tersenyum bahagia mendengar ucapan shenna, seperti ada kupu-kupu bertebaran dimana-mana.
"Kau mau menggodaku ya ?."
"Siapa yang menggodaku, dasar narsis."
Dyoza menatap shenna dengan tatapan yang tak biasa. Ia melihat bibir shenna yang selalu menjadi candu baginya.
Cup
Dyoza mencium bibir shenna, ia memagutnya dengan lembut. Shenna yang terlena dengan aksi Dyoza pun mengikuti permainan Dyoza.
Kini ciuman itu berubah sedikit panas, Dyoza semakin menekan tubuhnya pada shenna. Ia merebahkan shenna dan kini posisi mereka sangat intim.
Ciuman Dyoza turun ke leher, ia bermain di sana dengan lembut namun menuntut.
"Hemmmm". Lenguhan dari mulut shenna terdengar.
Dyoza tersenyum seperti mendapat kan angin segar dari lenguhan itu. Ia segera memanfaatkan keadaan, ia semakin membuat shenna merasa nikmat apa yang ia lakukan.
Dyoza membuka kancing baju shenna, pelan namun pasti. Shenna hanya pasrah, kini tubuhnya tidak bisa menolak permainan Dyoza.
Shenna begitu menikmati setiap sentuhan yang di lakukan Dyoza, hanya terdengar suara lenguhan dari bibir mereka. Kini shenna berada di atas tubuh Dyoza, ia mencium leher Dyoza seperti yang Dyoza lakukan padanya.
"Uhhhhhh." Dyoza melenguh ketika shenna mencium tepat di bawah pusar nya.
Dyoza mengangkat shenna untuk pindah ke ranjang, agar mereka bergerak lebih leluasa.
Ia membuka bajunya dan melempar ke sembarang arah, melanjutkan aktivitas nya untuk saling memuaskan.
Dyoza bermain di gunung kembar sang istri. Mencium nya, menghisapnya seperti seorang bayi yang sedang melepas dahaga.
"Ahhhh." Lenguhan shenna terdengar seksi di telinga Dyoza, ia semakin bergairah di buat nya.
Saat Dyoza hendak melepas kain terakhir milik shenna tiba-tiba...
Tok..tok..
"****." Ucap Dyoza mengumpat
Shenna memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Dyoza ini bibi, ada Arkan di bawah."
"Astagaaaaaaa." Dyoza frustasi sendiri, ia menatap shenna dengan wajah memelas.
"Kenapa ? cepat temui tuan Arkan." Shenna tertawa melihat sang suami memasang wajah yang baginya menggemaskan itu.
"Kau tega ?."
"Kenapa aku ? Tuan Arkan yang tega hahah."
"Sial, kalau ini tidak penting aku pecat dia sekarang juga." Ucap Dyoza sambil memakai pakaiannya.
"Kau jangan kemana-mana, kita akan lanjutkan setelah ini."
Shenna hanya menyengir kuda.
"Aku serius. Dan kau tahu ?? ini sangat sesak." Dyoza menunjuk sang junior
Shenna hanya melotot kan matanya dan menutup wajahnya dengan selimut.
Saat Dyoza keluar dari kamar shenna baru sadar tubuhnya hanya berbalut ****** ***** yang menutupi bagian intimnya.
"Astaga ini sangat memalukan."
Shenna beranjak masuk ke dalam kamar mandi, ia membersihkan diri dan segera memakai pakaian nya kembali. Ia tidak menghiraukan kata-kata Dyoza barusan.
-
-
__ADS_1
-