Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Jika takdir pasti akan bertemu


__ADS_3

Hari ini resmi sudah Daniel menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang pemimpin di perusahaan milik ayahnya itu, entahlah harus senang atau bagaimana rasanya ia enggan menanggung tanggung jawab yang menurutnya amat berat itu.


Meskipun ia sudah di gembleng langsung oleh kakak sepupu nya yang hebat itu ia masih saja belum 100% yakin menjadi pemimpin.


Sudah 1 Minggu ia tidak datang ke cafe favoritnya untuk melihat gadis yang entah mengapa semenjak kejadian di mall otaknya di penuhi gadis itu. Kini ia sedang duduk termenung di kursi kebesarannya, bersamaan dengan Zidan yang di tunjuk langsung oleh ayahnya untuk menjadi sekretaris utama untuk Daniel.


Ayah Daniel begitu percaya pada Zidan yang selalu mendampingi Daniel, apalagi sikap Zidan yang begitu dewasa di Mata ayahnya Daniel. Bahkan ia sudah memastikan sendiri kalau Zidan memang pantas menempati sebagai sekretaris nomor satu di perusahaan miliknya.


"Mikirin apa lagi ?." Tanya Zidan menyodorkan teh hangat yang di bawakan sekretaris perempuan untuknya dan Daniel.


"Kau pikir apalagi ?." Bukannya menjawab justru memberikan pertanyaan lagi.


"Minumlah! kau butuh kehangatan."


Daniel menurut, ia menghembuskan nafasnya perlahan. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Aku harus bagaimana ?."


"Bagaimana apanya ? biarkan saja, terakhir kau menemuinya bukankah dia sangat marah padamu ?."


Daniel mengangguk pelan, tatapannya ke depan namun kosong.


"Ayolah! kau ini sekarang bukan lagi seseorang yang hanya bisa bermain-main. Kau ini pemimpin perusahaan, cobalah untuk mengesampingkan hal itu. Jika ada waktu aku akan menemanimu untuk menemuinya."


"Bahkan kau tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini, huff."


"Ayolah Daniel!!!."


"Bahkan ayah tidak memikirkan tentang hati anaknya." Ucapnya lagi sekarang dengan wajah memelas


Zidan memutar bola matanya pertanda frustasi dengan sikap sahabat sekaligus bos besarnya itu.


"Kau mau kemana ?." Zidan berhenti saat Daniel bertanya


"Aku mau buang sial." Ucapnya ketus.


"Sekretaris sialan, kalau bukan kamu sudah ku pecat hari ini juga."


Bukannya gemetar mendengar ucapan Daniel justru Zidan terkekeh sambil menutup pintu meninggalkan bos nya yang sedang galau itu.


"Benar-benar si Zidan itu!!." Daniel mengerang kesal


--


Kalya sedang berkemas, pekerjaan nya hari ini selesai. Cafe tidak terlalu ramai membuatnya pulang tepat waktu.


"Pulang, mandi, makan, tidur. Aahhh bahkan baru rencana saja sudah membuat mood ku bagus." Gumam Kalya kegirangan


"Kalya."


Kalya menoleh ke sumber suara


"Kenapa Lula ?."


"Kau langsung pulang ?."


"Iya, aku lelah sekali hari ini. Sepertinya tubuhku butuh istirahat lebih."


"Oke, hati-hati ya!."

__ADS_1


"Iya, bye Lula."


"Bye-bye."


Saat Kalya hendak keluar dari cafe ia pun terkejut melihat Bara yang baru saja menarik tangannya.


"Ada apa kak ?."


"Sudah mau pulang ?."


"Iya, kenapa kak ?."


"Padahal aku buru-buru kesini ingin bertemu denganmu."


"Kenapa dia berbicara langsung pada intinya sih, membuat ku bingung harus menjawab apa."


"Ah, oh ya ? Memang ada apa kak ?."


"Tidak apa-apa, mau ngobrol saja sama kamu."


"Oh hehe begitu ya, tapi aku akan segera pulang."


"Naik apa ?."


"Rumahku, eh maksudnya rumah sewaan aku di dekat sini kak. Aku jalan kaki."


"Oh ya, menyenangkan sekali. Boleh aku antar ?."


"Ah apa tidak apa-apa ?."


Bukannya menjawab justru Bara menarik paksa tangan Kalya agar segera keluar dari cafe.


"Ini rumah sewaan ku kak, tidak besar."


"Tapi sepertinya terlihat nyaman, boleh aku masuk ?."


"TIDAK!!!." Ucap Kalya reflek berteriak


Bara membeku melihat reaksi Kalya yang menurutnya berlebihan itu.


"Ma,maaf kak. Ma, maksud ku mungkin lain kali saja. Hari ini aku sangat lelah, maaf kak."


"Woah kau ini kenapa Kalya, kenapa berlebihan begitu ? Tidak apa-apa santai saja, lagi pula tadi aku hanya bercanda."


"Ohh hehee." Kalya tertawa dan menahan rasa malunya.


"Yasudah kalau begitu, aku pamit ya."


Kalya berdesir saat bara kembali mengusap kepalanya dengan lembut.


"Kenapa dia melakukannya lagi sih."


Bara tersenyum lalu pergi dengan melambaikan tangannya. Kalya hanya mengangguk kepala lalu masuk ke dalam rumahnya yang sederhana itu.


.


.


Kalya sudah menggunakan piyamanya bersiap untuk tidur namun saat ia melewati meja makan tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dalam kepalanya. Adegan makan malam bersama Daniel tiba-tiba terekam jelas tanpa seizinnya.

__ADS_1


Pandangan Kalya seketika buram karna genangan air kini mulai memenuhi bola matanya. Buru-buru ia mengusapnya dengan kasar, ia sedikit bingung kenapa harus menangis ?.


"Seandainya anda tulus, saya tidak akan seberani ini kurang ajar pada anda. Maafkan saya." Gumamnya lirih


Kalya masuk ke dalam kamarnya lalu meraih ponselnya yang bergetar, entah siapa yang mengirim pesan padanya.


"Kalya apa kabar ? bagaimana keadaan mu ? Maaf, hanya itu yang dapat aku katakan. semoga kamu bahagia selalu, semoga takdir akan mempermudah segalanya."


Kalya menatap layar ponselnya kembali berulang membaca pesan dari Daniel, sebenarnya ia sudah memaafkan Daniel tapi jika untuk bertemu bahkan dekat seperti dulu ia tidak sanggup. Semenjak kejadian itu Kalya bertekad untuk melindungi dirinya sendiri, melindungi hatinya agar tidak mudah di sakiti.


"Semoga." Gumam Kalya.


Tanpa membalas pesan Kalya pun memblokir nomor Daniel tanpa ragu, lalu merebahkan dirinya untuk tidur. karena esok harus melakukan aktivitas kembali.


Di lain tempat Daniel masih menatap pesan yang ia kirim, melihat kontak masuk pesan berkali-kali berharap Kalya membalas pesannya. Nihil tidak ada pesan masuk dari Kalya.


Ia menelpon Kalya namun bukannya suara Kalya justru suara operator yang menjawabnya.


"Ternyata Dia memblokir nomor ku." Daniel tersenyum kecut.


Kalya meletakkan ponselnya ke sembarang tempat ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Mungkin dengan memblokir nomor Daniel ia akan lepas dari rasa kecewanya pada Daniel.


Dan malam pun semakin larut...


Sudah hampir 1 bulan Daniel tidak pernah memunculkan batang hidungnya, ia selalu sibuk menjalankan aktifitas nya sebagai pemimpin perusahaan milik ayahnya.


Zidan selalu mengingatkan Daniel jika ia berusaha untuk melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya bahkan untuk menemui Kalya pun Zidan melarangnya.


"Jika kalian berjodoh takdir akan mempertemukan kalian kembali di manapun tanpa di sengaja." Ucapan itu yang selalu Daniel dengar dari Zidan


Daniel pasrah, mungkin memang sampai di sini kisahnya dengan Kalya. Dari awal memang Daniel hanya iseng mendekati nya sampai ia sadar dari sebuah keisengan itu sepertinya muncul sesuatu yang mengganjal di hatinya, entahlah ia belum bisa memastikannya dengan benar. Karna yang ada di otaknya masih sering memikirkan shenna, istri kakak sepupu nya.


Hari ini Daniel pulang lebih awal, sang bibi tercinta begitu semringah melihat nya.


"Tumben pulang cepat ?."


"Iya bi, kebetulan tidak terlalu banyak pekerjaan. kenapa kelihatan senang sekali ? Tumben juga kakak sudah pulang."


"Bibi memang sangat senang hari ini. Kakak mu sudah pulang dari 2 jam yang lalu."


Daniel mengerutkan keningnya saat ia melihat shenna yang tersenyum ceria. Ia semakin merasa ada yang tidak beres.


"Lalu di mana kakak ?".


"Sedang mandi." Ucap Shenna


Bibi Hanum kembali duduk dan mengusap puncak kepala Shenna dengan sayang.


"Ada apa sih, kalian seperti mendapat kan hadiah besar saja ?."


"Bahkan lebih besar." Ucap bibi Hanum antusias


Daniel menatap shenna mencari sebuah jawaban di sana, namun bukannya menjawab justru shenna terlihat malu-malu kucing.


"Kalian bikin aku penasaran saja, ada apa sih ?."


"Shenna hamil."


Deg

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2