
"Kakak kemana ?". Sambil Menarik kursi
"Sepertinya belum bangun".
"Apa sekarang kakak menjadi pemalas ?".
"Mungkin Dyoza lelah, karna beberapa Minggu ini dia sibuk sekali. Biarkan dia istirahat lebih banyak, jangan ganggu kakak mu!".
"Siapa juga yang mau menganggu singa sedang tidur". Ucapnya cuek
--
"Ahh akhirnya pekerjaan ku selesai, Aku akan melanjutkan tidurku". Shenna meluruskan kedua kakinya di atas ranjang sambil memijat kaki nya yang terasa pegal.
"Shenna kau kenapa ?". Ucap Shinta membawa potongan buah.
"Tidak apa-apa kak, aku hanya lelah saja."
"Makan buah ini, aku sengaja membawa nya untuk mu." Shinta menyodorkan potongan buah. "Aku dengar kau sakit."
"Aku hanya sedikit kurang tidur kak".
"Pasti karna tuan Dyo mengubah jam kerja mu ya ?".
"Ya begitulah, aku jadi sangat takut telat bangun kak. Setiap malam aku mengalami insomnia. Tidurku pun gelisah kak, aku rasa kalau terus begini aku tidak sanggup".
"Bicaralah pada kepala pelayan, mungkin dia bisa membantu mu."
"Apa boleh seperti itu kak ?".
"Tentu saja boleh, kau coba bicara dengannya. Aku tidak tega melihat mu bangun sebelum aku dan yang lain bangun. Lagi pula alasan tuan Dyoza itu menurut ku tidak masuk akal, kalau dia tidak mau melihat mu untuk apa kau yang melayani. lebih baik dia minta ganti pelayan saja simple kan ?."
"Kau benar kak, aku pun berfikir seperti itu". Shenna mengangguk-angguk.
"Ngomong-ngomong apa kau sudah minum obat ?".
"Sudah kak."
"Syukurlah. Yasudah kau lanjutkan makan buahnya, aku tinggal dulu ya."
"Terimakasih ya kak".
"Jangan sungkan."
Shenna berfikir sambil sesekali memakan buahnya, ia akan mengikuti saran dari Senior nya itu.
"Baiklah setelah ini aku akan menemui kepala pelayan".
--
Tok tok tok...
"Masuk". Ucap kepala pelayan
"Permisi kepala pelayan."
"Shenna kenapa kau kemari, bukankah kau sedang sakit ? Baru saja aku akan menemui mu setelah selesai mengerjakan pekerjaan."
"Ah, saya sudah sedikit membaik kepala pelayan."
__ADS_1
"Kemari dan duduklah! Apa ada yang bisa ku bantu ?".
"Mmmmm ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
Kepala pelayan mengernyit.
"Katakanlah! sepertinya sangat serius".
"Sebelumnya saya minta maaf kalau permintaan saya sedikit berlebihan." Shenna menarik nafas panjang. "Apa kepala pelayan bisa memindahkan saya di tugas yang lain ?".
"Kau kenapa ?." Kepala pelayan semakin bingung.
"Sa,saya sudah mencoba untuk bertahan dengan jam kerja saya, tapi ternyata saya tidak sanggup kepala pelayan." Shenna menunduk.
"Hufff." Kepala pelayan membuang nafas kasar. "Sebenarnya aku sudah menduga kau sakit pasti karna jam kerja mu ini, Dyoza memang keterlaluan."
"Ti,tidak kepala pelayan. Ini semua salah saya, saya yang payah karna tidak sanggup." Ucap shenna lirih.
"Aku akan memindahkan tugas mu melayani keponakan ku yang satunya lagi, apa kau bersedia ?".
Shenna menatap kepala pelayan dengan terkejut.
"A,apa maksud kepala pelayan Tuan Daniel ?".
Kepala pelayan mengangguk.
"Setidaknya Daniel tidak akan merepotkan mu seperti Dyoza". Kepala pelayan mengedipkan matanya. "Apa kamu bersedia ?". sambungnya.
"Baik, saya bersedia kepala pelayan." Shenna tersenyum bersemangat. "Tapi". lalu tiba-tiba senyum nya meredup seketika.
"Ada apa ?". Ucap kepala pelayan
"Kalau Tuan Dyoza tidak mengizinkan bagaimana?". Wajah shenna di landa ke khawatiran.
Senyum secerah mentari menghiasi wajah cantik shenna ketika mendengar ucapan kepala pelayan.
"Terimakasih atas bantuan mu kepala pelayan, saya benar-benar berterimakasih."
"Senang bisa membantu mu nona shenna".
"Kalau begitu saya permisi kepala pelayan".
"Silahkan".
Shenna membungkuk hormat dan segera berlalu.
"Aku benar-benar bersemangat sekali, setelah ini aku tidak akan melihat Tuan Dyoza dan Tuan Arkan lagi kan ?". Shenna berjalan begitu riang, tidak sadar sepasang mata sedang memperhatikannya.
"Kenapa dia senyum-senyum sendiri ?". Gumam Arkan
"Sepertinya duduk di taman menyenangkan, aku akan menelpon ibu". Semangat shenna kembali seperti sebelumnya.
Shenna menelpon ibu nya yang sedang menjaga toko kue nya , ia menanyakan kabar ibu dan ayahnya.
"Kau kapan pulang sayang ? ibu dan ayah sangat merindukan mu nak". ibu
"Aku juga merindukan Ibu dan Ayah, aku akan menemui mu Bu dan itu pasti." Shenna
"Baiklah nak, kamu baik-baik disana ya. jangan terlalu memikirkan ibu dan ayah, kami disini baik-baik saja. Jaga kesehatan mu nak! jangan sampai sakit ya!". ibu
__ADS_1
"Aku akan selalu mengingatnya Bu". Shenna
Shenna berbicara banyak dengan ibu nya tanpa menyadari ada seseorang yang memperhatikan nya dari jarak yang cukup dekat.
Setelah memutus sambungan telepon air mata shenna mengalir begitu saja.
"Maaf Bu bukannya aku tidak mau pulang, tapi apa aku sanggup meninggalkan ibu dan ayah lagi untuk kembali kesini, hiks". Gumam Shenna menatap layar ponselnya melihat foto ibu, ayah serta dirinya yang sedang tersenyum bahagia. Ia mengusap layar ponselnya dengan lembut dan tetesan air matanya jatuh tepat di layar ponsel itu.
Arkan duduk tepat di samping shenna tanpa di ketahui oleh shenna yang masih fokus dengan layar ponselnya.
"Kau menangis ?." Ucap Arkan mengagetkan shenna.
"Astaga." Shenna mengusap dadanya.
"Kau terkejut ?".
"Kau pikir ?". Ucapnya dingin.
"Apa yang kau lakukan di ruangan kepala pelayan ?".
"Aku rasa tuan tidak perlu tahu." Shenna berdiri dan hendak meninggalkan Arkan.
"Apa kau meminta sesuatu padanya ?". Arkan menatap shenna.
"Maaf tuan bukankah kita sudah tidak ada hubungan apapun ? seharusnya anda tidak perlu repot-repot menanyakan hal yang tidak penting bagi Tuan". Shenna tersenyum manis.
"Aku tidak pernah mengakhiri hubungan kita".
"Tapi tuan lebih memilih tuan Dyoza, apa yang saya harapkan dari sebuah hubungan yang salah satu di antara kita menyerah sebelum berjuang ?."
Arkan terdiam mendengar ucapan shenna yang terasa menusuk jantung nya.
"Kenapa tuan diam ?".
"Shenna kau tidak mengerti". Ucap Arkan lirih.
"Maka dari itu anggap saja hubungan kita berakhir, karna percuma tuan jika kita lanjutkan mungkin di sini saya yang akan paling merasa tersakiti. Karna di saat saya berharap lebih, saya akan di kecewakan." Mata shenna mulai berkaca-kaca.
Shenna menarik nafas panjang menahan rasa sesak di dadanya.
"Tapi, aku mencintaimu shenna". Arkan menatap dalam mata shenna.
"Cinta itu bukan cuma sekedar ucapan Tuan Arkan. Saya tahu kenapa sikap tuan berubah pada saya, pasti karna Tuan Dyoza kan ?".
Arkan terdiam.
"Sudahlah lupakan saja! Saya akan bersikap profesional pada Tuan Arkan." Shenna bergegas meninggalkan Arkan.
Arkan berdiri dari duduknya. "Shenna apa kau masih mencintaiku ?". Arkan menatap punggung shenna.
Shenna berhenti tanpa menoleh. "Sampai saat ini perasaan saya belum berubah, tapi saya tidak akan membuat nya bertahan lama". Shenna kembali berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh pada Arkan.
Arkan menarik nafas panjang, ia menunduk menyesal telah membuat shenna kecewa.
"Seharusnya aku tidak menjadi pengecut, maafkan aku shenna". Gumam Arkan lirih.
--
Maaf yaa sedikit, yang penting up yaa sayang sayang ku.....
__ADS_1
Nanti kita lanjutkan,. happy reading 🥰🥰
IG : intanpermata0606 jangan lupa di follow yaaa