
Arkan terdiam cukup lama menunggu sekaligus menenangkan shenna, sungguh Arkan bingung melihat gadis di hadapannya ini menangis begitu lama. Sepertinya shenna begitu lama memendam kesedihan di hatinya, itu yang Arkan rasakan saat ini.
"Maafkan saya Tuan"
"kenapa kau meminta maaf ?"
"Saya lancang menangis di depan tuan, saya benar-benar minta maaf"
"Sudahlah tidak perlu berlebihan seperti itu"
Shenna menatap sebentar wajah Arkan sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi lalu menunduk malu.
"Kenapa tuan sangat berbeda dengan tuan Dyoza ?"
"Maksud mu ?"
"Maksud saya, tuan Arkan terlihat lebih hangat dan bertutur kata lembut terhadap saya serta pelayan lainnya"
"Apa kau fikir aku sehangat itu ?"
Shenna mengangguk pelan
"Justru penilaian mu salah"
"Benarkah ?"
"Ya!"
"Terkadang seseorang yang merasa dirinya kejam dialah orang yang sangat hangat di mata orang lain, tapi orang yang merasa dirinya hangat justru sebaliknya"
"Apa kau sedang membicarakan Tuan dyoza ?"
"Hah! Bu,bukan Tuan! kenapa tuan berfikiran ke arah sana. Saya mana berani membicarakan Tuan dyoza"
Arkan hanya terdiam melihat shenna yang panik sendiri, ia sedikit menyunggingkan senyuman tanpa shenna ketahui.
"Apa kau belum mengantuk ?"
Shenna menggeleng
"Belum Tuan, apa tuan Arkan sudah mengantuk ?"
"Belum"
"Mau saya buatkan kopi atau teh ?"
"Istirahat lah! Aku bisa buat sendiri"
"Tidak apa-apa! setelah saya membuatkannya saya bisa langsung beristirahat"
"Baiklah jika kau memaksa, buatkan saja teh hangat untukku"
"Baik Tuan"
Tidak butuh waktu lama shenna membuatkan teh hangat untuk Arkan.
"Silahkan Tuan"
"Terimakasih Nona shenna"
"Tuan bolehkah saya bertanya ?"
"Tentu"
"Kenapa tuan memanggil saya Nona ?"
"Lalu apakah aku harus memanggil mu dengan sebutan tuan ?"
Shenna tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Arkan, namun shenna berhenti saat melihat wajah Arkan tanpa ekspresi.
"ma,maaf tuan saya reflek"
"Istirahatlah! kau tahukan jika besok terlambat bangun hukumannya apa ?"
"Memangnya apa ?"
Arkan hanya menatap tajam
"Hoooaaahhh saya sudah mengantuk Tuan, terimakasih untuk malam ini. Selamat malam tuan Arkan"
Arkan hanya terdiam dan menganggukkan kepala pelan.
Shenna pun terburu-buru berjalan agak berlari tanpa melihat arah depan.
"Brukkkkkkkkk"
"Awwww"
"Kau buta ya ?"
Shenna membulatkan matanya dan menutup mulutnya terkejut siapa orang yang ia tabrak.
"Tu,tuan dyoza"
"sedang apa kau tengah malam begini masih keluyuran ?"
"Sa,saya"
"Tuan Dyoza, ada yang bisa saya bantu"
Arkan muncul di waktu yang tepat.
"kau belum tidur ?"
__ADS_1
"Belum Tuan"
"Apa kalian ?"
"Apa maksudmu tuan ?"
"Ah lupakan! Aku akan kembali ke kamar"
"Baik Tuan, Saya akan mengantarkan"
"Tidak perlu! kau berisitirahat lah"
"Baik Tuan"
"Sedang apa kau di situ ? apa kau masih ingin bekerja di malam hari Hah ??"
"Ti,tidak tuan. Saya permisi"
Shenna pun terburu-buru menuju kamarnya, mulutnya kumat-kamit merasa beruntung karna Arkan hadir disaat yang tepat.
"Ya Tuhan, kenapa tuan Arkan selalu hadir disaat yang tepat ? untunglah"
shenna mengusap dadanya berkali-kali merasa lega dengan kehadiran Arkan.
**
Di dalam kamar, Arkan masih belum terpejam ia memikirkan shenna yang menangis begitu sedih. Rasa sedihnya itu seperti mengalir dalam dirinya, Arkan seperti merasakan apa yang shenna rasakan saat ini.
Arkan menggelengkan kepalanya sadar akan lamunannya, ia sedikit tersenyum lalu terbaring miring dan memejamkan matanya.
Sedangkan di kamar atas, dyoza begitu gelisah. Ia merasa curiga sendiri saat ia melihat shenna dari arah luar dan kemunculan Arkan dari arah yang sama.
"Tidak, tidak! apa yang kau fikir kan dyoza. itu bukan urusanmu"
Dyoza memaki dirinya sendiri lalu ia berusaha memejamkan matanya secara paksa. Namun usahanya sia-sia.
"Aaarrggghhhh"
Dyoza mengacak rambutnya, ia merasa dirinya tidak baik-baik saja.
.
.
"Kenapa hatiku jadi terasa begitu tenang saat dekat dengan tuan Arkan ya ? hmmmm".
Tidak butuh waktu lama , shenna pun tertidur pulas membawa lamunan dalam mimpinya.
**
Akhir pekan telah tiba , dyoza , Arkan serta shenna sudah sampai di kota A dan sudah memesan 3 kamar yang saling berdekatan .
"Panggil shenna kesini Ar!"
"Baik Tuan"
"Nona shenna!"
Masih belum ada Jawaban
"Nona apa kau....*
"Aaaaaaaaaaaa"
Arkan segera membalikkan badan membelakangi shenna.
"Astaga tuan Arkan kenapa kau bisa masuk ?"
shenna kembali ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.
"ma,maafkan saya Nona saya tidak tahu kalau kau sedang mandi. saya kesini di perintah oleh tuan Dyoza untuk memanggil mu"
"pergilah! saya akan segera kesana tuan"
Tanpa basa-basi Arkan meninggalkan kamar shenna, ia sedikit tergesa-gesa.
Arkan kembali ke dalam kamar dyoza dan memberitahu kalau shenna akan segera menemui nya .
"Baiklah kau boleh pergi! mandi dan istirahatlah! jangan lupa cek kembali dan siapkan untuk meeting besok"
"Baik Tuan"
Shenna menggeleng cepat memikirkan kejadian barusan .
"kenapa tuan Arkan bisa masuk ? bukankah kuncinya ada padaku ?"
Shenna berfikir keras sambil memakai pakaian yg hendak ia kenakan.
"AAAPPPAAAA ? tidak mungkin! apa tuan Arkan punya kunci cadangan ? ahh tidak mungkin, kalau memang benar untuk apa aku memiliki kunci sendiri kalau dia saja bisa seenaknya keluar masuk kamar ku, aku harus beri dia pelajaran setelah aku menemui tuan Dyoz"
Shenna merasa geram dengan kelakuan Arkan yang seenaknya memiliki kunci cadangan kamar nya. Ia pun segera bersiap untuk menemui dyoza.
Shenna sudah berada di depan pintu kamar dyoza, saat ia hendak mengetuk ternyata dyoza sudah membuka pintu lebih dulu.
"Astaga"
Dyoza menatap nya geram.
"Kenapa lama sekali ? sedang apa di dalam kamar mu hah ?"
"Maaf tuan Dyoza saya baru saja selesai membersihkan tubuh saya, saya kan juga butuh penyegaran"
"Pintar sekali bicara mu sekarang"
__ADS_1
Shenna hanya memasang wajah tersenyum manis.
"Cepat masuk tubuhku sangat pegal"
Shenna mengikuti majikannya itu dengan rasa kesal karna ia ingin sekali menemui Arkan saat ini.
"Apa kau bisa memijat ?"
"Apa Tuan memanggil saya untuk meminta pijat ?"
"Emmmm"
"Bukankah di hotel mewah ini ada tempat khusus untuk pijat ? kenapa Tuan tidak ke tempat itu saja ? atau perlu saya panggilkan langsung ke kamar Tuan ?"
"Kenapa kau cerewet sekali, kau itu ku ajak bukan untuk berceramah tapi untuk melayaniku di sini, lagi pula aku sudah punya pelayan yang langsung ku bawa dari rumah. Untuk apa aku panggil pelayan lain ?"
Shenna hanya menarik nafas dan membuang nya pelan, menahan kesal di dadanya.
"Kenapa diam ? Kau sudah bosan bekerja ?"
Shenna menggeleng cepat.
"Cepat pijat kaki dan tangan ku, semuanya terasa pegal"
Tanpa basa-basi shenna pun melakukan nya dengan hati-hati.
"Lumayan juga, Apa sebenarnya kau ini tukang pijat ?"
Shenna tidak menjawab ia hanya fokus memijat kaki Dyoza.
"Hei aku sedang bertanya, apa sekarang kau mendadak tuli hah ?"
"Kenapa harus berteriak ?."
Suara shenna begitu keras, membuat Dyoza terkejut.
"ke,kenapa kau yang berteriak ? aku kan tidak tuli"
"Ma,maaf kan saya tuan"
Dyoza begitu kesal dan menarik kakinya dari pangkuan shenna.
"Sudahlah kau keluar saja! aku tidak suka dengan orang yang melakukan pekerjaan dengan terpaksa"
"Hei aku tidak terpaksa, kenapa kau jadi bawa perasaan begitu ?"
Shenna menarik kaki Dyoza dan memijatnya kembali. Dyoza hanya terdiam memasang wajah kesalnya, sesekali melirik shenna yang sedang fokus memijat nya.
"Shenna apa aku boleh tanya sesuatu padamu ?"
"Ya, tentu"
"Ehm, maaf jika ini menyangkut masa lalu kita apa kau keberatan ?"
Shenna masih fokus memijat
"Tidak masalah"
"Saat kejadian itu, saat kita putus apa kau pernah punya kekasih ?"
Shenna menghentikan kegiatannya, ia sedikit termenung dan tersenyum.
"Apa kau fikir aku sangat cinta mati padamu ?"
Dyoza terdiam menatap mata shenna yang menatapnya tajam.
"Bisakah kita bersikap santai layaknya teman, seperti yang aku perintah kan padamu ?"
"Hmmmm baiklah dyoza, selama kita putus aku pernah berpacaran dengan seseorang"
"Siapa itu ?"
"Aku rasa kau tidak perlu tahu itu"
"Aku kan hanya ingin tahu saja"
"Kesini kan kaki mu, sebelah kiri sudah selesai"
Dyoza menurut dengan ucapan shenna.
"Lalu bagaimana dengan mu ? pasti kau banyak sekali menyakiti hati wanita"
"He,hei apa maksud mu ? jangan sembarang bicara!"
"Itu kan menurut pengalaman ku saja, kenapa marah ?"
"A,aku tidak seburuk itu"
"Baiklah kau yang selalu baik"
"ka,kau! Awwwww.. kau mau mematahkan kaki ku ya ?"
"Kenapa kau berisik sekali, aku jadi tidak konsen memijat nya. Ah sudahlah! kau ini dari dulu tidak pernah berubah selalu saja membuat ku kesal".
Shenna menghempaskan kaki dyoza dan berdiri segera meninggalkan kamar. Namun dyoza menarik shenna hingga shenna kehilangan keseimbangan dan terjatuh dalam pelukan dyoza.
Mereka saling menatap satu sama lain, posisi mereka kini sangat intim.
"ka,kau apa yang kamu lakukan ?"
shenna segera menarik dirinya menjauh dari tubuh dyoza, kini mereka berdua sangat gugup dan shenna berlari keluar menuju kamarnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
HAII KETEMU LAGI 🤩 SILAHKAN DI LANJUT MEMBACANYA!!! INSHA ALLAH SETIAP AUTHOR PUNYA WAKTU SENGGANG PASTI UPDATE 1 EPISODE .
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE NYA YAAAA ❤️❤️