
Untuk pertama kalinya Dyoza melihat shenna meskipun hanya sebentar, ada perasaan berbeda di hatinya. Entahlah rasanya ia begitu bahagia melihat shenna, karna rasa kecemburuan nya pada Arkan ia memilih untuk menghindari Shenna.
Dyoza belum tahu tentang hubungan Arkan dan shenna yang sudah berakhir, walaupun Arkan belum menganggap hal itu.
Jauh di lubuk hati yang paling dalam Arkan benar-benar sedih, meskipun ia menutupinya dengan kepura-puraan tapi masih bisa terlihat di mata Dyoza.
"Ar apa kau ada masalah ?". Tegur Dyoza.
"Tidak Tuan, memang kenapa ?". Jawab Arkan mengalihkan pandangannya.
"Sepertinya ada yang kau sembunyikan akhir-akhir ini padaku." Dyoza menatap Arkan lekat.
"Saya baik-baik saja tuan."
Dyoza terdiam ia merasakan ada yang aneh dengan orang kepercayaan nya itu.
"Kau dan shenna ada masalah ?".
Arkan tersendak udara, ia terbatuk-batuk.
"Kenapa kau tegang sekali ? minumlah!". Dyoza menyodorkan air putih di atas meja kerjanya.
"Terimakasih kasih tuan". Arkan meminumnya hingga kosong tak tersisa.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku." Dyoza mulai mendesak.
Arkan menarik nafas dalam, ia mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Atasannya itu.
"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu pada anda ?". Ucap nya ragu.
"Ya, silahkan". Jawab Dyo yakin.
"Apa tuan mencintai shenna ?".
Seperti bergantian, kini Dyoza yang tersendak udara hingga terbatuk-batuk. Dan Arkan pun menuangkan air untuk Dyoza.
Setelah menghabiskan Air minum nya Dyoza pun menarik nafas berat.
"Apa aku harus menjawab pertanyaan konyol mu itu ?".
Arkan mengangguk cepat.
"Aku... aku ... kau yang benar saja Ar, shenna itu hanya seorang pelayan. Tidak mungkin aku mencintai nya". Mulai berdalih.
"Bukankah dulu nona shenna seorang putri dari seorang pengusaha ? Dia menjadi pelayan karna ingin membantu orangtuanya mencari nafkah."
Dyoza terdiam.
"Tuan, saya bisa merelakan shenna untukmu asal Tuan mau mengakui perasaan tuan itu".
"Kau jangan Kurang ajar Ar!." Dyoza menatap tajam pada Arkan, sepertinya ia tersinggung dengan ucapan Arkan.
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi jujur saya sangat sedih tuan selalu mabuk-mabukan, pekerjaan tuan tidak pernah selesai, tuan selalu tidak berselera makan, sekarang apa tuan tidak lihat kantung mata tuan itu terlihat jelas. Maafkan saya jika tuan tersinggung tapi kebahagiaan tuan adalah hal yang paling penting dalam hidup saya."
Brakkk
"Lalu kau pikir kebahagiaan mu tidak penting bagiku, hah ?". Dyoza menggebrak meja dengan keras tidak terima dengan ucapan Arkan.
Arkan terdiam, ia akan terima jika dyoza memukul atau melakukan hal apapun padanya saat ini untuk melampiaskan amarahnya.
"Saya sudah memutuskan hubungan pada shenna Tuan". Arkan menunduk
DUUAAARRRR
Seperti tersambar petir, Dyoza menatap Arkan dengan perasaan terkejut.
"Kenapa ?". Ucap Dyoza datar.
"Saya akan merelakan shenna untuk anda."
Dyoza tersenyum getir.
"Aku tidak semenyedihkan itu Ar, aku bisa mengatasi masalah percintaan ku sendiri." Ucap Dyoza datar.
"Maafkan saya tuan, mungkin saya lancang tapi saya tidak bisa jika melihat tuan seperti itu. Hati saya teriris. Saya akan melakukan hal apapun untuk membuat tuan bahagia, karna itu janji saya."
Dyoza menatap sedih pada arkan, ia jadi merasa bersalah pada orang kepercayaan nya itu. Seharusnya ia sedikit bersikap dewasa dan menerima semuanya, tentunya tidak melakukan hal bodoh yang tidak biasa ia lakukan selama ini, apalagi ia melakukan nya terang-terangan di depan semua orang.
Entahlah shenna membuat ia seperti tidak bisa berfikir, terutama rasa bersalah nya yang dulu pernah ia lakukan pada shenna membuat Dyoza selalu ingin membahagiakan shenna saat ini.
"Berjanjilah pada saya tuan, bahagiakanlah shenna." Mata Arkan berkaca-kaca.
"Dia mencintai mu Ar". Dyoza menatap Arkan dengan sendu.
"Percayalah cinta tuan akan mengalahkan cinta saya pada shenna".
"Kau bisa membahagiakan nya Ar". Ucap Dyoza meyakinkan Arkan.
"Kebahagiaan tuan hal yang paling penting untuk saya". Jawab Arkan lirih.
"Kau bodoh Ar".
"Ya, saya memang bodoh. Seharusnya saya tidak menjalin hubungan pada shenna, seharusnya saya bisa mengerti perasaan tuan". Arkan seakan menyesal karna tidak bisa membaca gerak-gerik Dyoza selama ini pada shenna. Ia terlalu buta karna mencintai shenna.
"Apa kau tidak memikirkan perasaan shenna Ar, dia pasti sakit hati untuk kedua kalinya. Aku sudah menyakiti nya, kenapa kau juga menyakiti nya ?". Mata Dyoza mulai berkaca-kaca.
"Maafkan saya tuan, saya terlalu memikirkan perasaan tuan." Arkan menunduk, sejujurnya ia pun merasakan sakit saat melihat shenna menangis. "Maka dari itu berjanjilah pada saya untuk menghapus lukanya". Arkan berharap pada Dyoza.
"Kau ikhlas melepas shenna Ar ?". Dyoza masih meyakinkan Arkan. "Aku tidak mau kau menyesal nantinya".
"Saya akan menyesal karna tidak melihat tuan bahagia".
"Aku sudah bilang, aku bisa mengatasi masalah ini". Dyoza sedikit membentak.
__ADS_1
"Tapi saya tidak yakin".
"Shenna itu bukan barang yang bisa kau lempar kesana kesini Ar".
"Shenna terlalu berharga jika di bandingkan dengan barang tuan".
Dyoza merasa frustasi dengan Arkan, entahlah apa yang ada di dalam pikiran orang kepercayaan nya itu sampai ia rela memberikan gadis yang ia cintai.
Jika memang karna janjinya akan selalu melindungi dan membahagiakan Dyoza ia akan membebaskan Arkan.
"Aku akan bebaskan kau dari janji mu Ar, berbahagialah dengan shenna. Aku tidak pantas untuknya".
Arkan menarik nafas dalam-dalam. "Saya mohon Tuan jangan berkata seperti itu, tugas saya masih panjang. Biarkan saya membahagiakan tuan! jangan pikirkan tentang perasaan saya." Masih dengan keras kepala Arkan terus meyakinkan Dyoza bahwa dirinya akan baik-baik saja.
"Ini masalah hati Ar, bukan bisnis". Ucap Dyoza menekan perkataannya.
"Saya tahu tuan, tapi tidak ada sedikit pun di hati saya menjadikan shenna sebagai bahan bisnis". Jawab Arkan menegaskan. "Percayalah tuan akan membuat shenna bahagia". Ucapnya memohon.
"Kau sudah tahu Ar bagaimana dulu aku menyakitinya, bahkan aku rasa jangan kan menatap, membuka hatinya untukku itu tidak akan pernah ia lakukan". Ucapnya pesimis.
"Saya yakin tuan punya cara sendiri untuk menaklukkan hatinya". Dyoza tersenyum mengangguk.
"Terimakasih Ar, aku tidak tahu harus bagaimana lagi berterima kasih padamu." Dyoza menepuk pundak Arkan pelan.
"Saya akan sangat bahagia melihat tuan dyoza bahagia".
Tanpa mereka sadari ada sosok di balik pintu yang mendengar pembicaraan mereka, Daniel. Daniel begitu terpaku mendengar nya sampai ia lupa tujuannya menemui kakak sepupu nya itu.
"Bagaimana bisa shenna terjebak di antara mereka". Gumam Daniel.
Daniel yang merupakan adik sepupu Dyoza sedang magang di perusahaan milik kakak sepupu nya itu, ia ingi memberikan map berisi laporan yang sudah ia kerjakan. Namun, tak di sangka saat hendak mengetuk ia mendengar pembicaraan yang menurutnya sangat konyol.
"Tidak akan aku biarkan shenna bersama kakak, aku yakin shenna akan menolak jika kakak mendekati nya. *Ya walaupun aku tidak berhak, tapi bukankah aku dan shenna sudah berteman ?".
"Aku akan melindungi shenna dari dua lelaki konyol itu, dasar! apa-apaan mereka itu.
"Kak Arkan juga kenapa jadi seperti itu, janji janji kepala mu! apa semudah itu dia menyerahkan wanita yang ia cintai ? Bodoh*!!".
Daniel tidak berhenti mengumpat untuk Dyoza dan Arkan, ia pun segera mengetuk pintu dan menyerahkan map yang harus di periksa oleh Dyoza.
--
--
--
--
--
Bersambung
__ADS_1
IG : intanpermata0606