
Shenna membuka matanya, ia meraba ke sebelah nya. Sepertinya sudah menjadi kebiasaannya mencari sosok suami yang sudah 1 bulan tidak tidur seranjang dengan nya, dan sudah menjadi kebiasaannya juga menjadi pelupa bahwa Dyoza sudah 1 bulan tidur di sofa.
Ia beranjak dari tidurnya, menyiapkan sarapan untuk sang suami. Setelah berpikir semalam ia akan menjadi istri yang akan melayani sang suami, bukan hanya makan, minum, menyiapkan pakaian, tapi memberi hak sang suami juga. Ya! shenna akan memberikannya.
Ia sadar sikap Dyoza selalu membuatnya gelisah selama ini, bahkan semalam ia benar-benar merasa tertampar dengan ucapan dyoza.
Ia sadar ia mencintai Dyoza hanya saja rasa takutnya mengalahkan rasa cintanya pada Dyoza.
Setelah membantu bibi Hanum menyiapkan sarapan, shenna kembali ke kamar untuk membangun kan sang suami yang masih nyenyak dalam tidurnya.
"Dyoza, bangun!." Bisik shenna
"Dyoza ayo bangun, waktunya sarapan!."
Tidak kunjung mendapat Jawaban, shenna menatap wajah tampan yang tenang saat tidur.
"Dyoza, mau bangun tidak ?."
"Hmmmmmm."
Dyoza hanya menyaut dengan malas, sungguh ia sangat mengantuk.
"Mau ku bawakan sarapan ke kamar ?."
"Tidak perlu, aku akan bangun." Ucap dengan suara serak.
"Yasudah ayo, aku tunggu di bawah ya."
"He'em."
--
-
Dyoza kembali ke dalam kamar setelah sarapan pagi, hari ini ia ingin bermalas-malasan di dalam kamar. Tubuhnya sangat lelah, ia ingin merebahkan tubuh nya seharian.
"Dyoza kau sakit ?."
"Tidak!."
"Lalu kenapa kau kembali ke dalam kamar ?."
"Memangnya kenapa ? Masalah ?."
"Kenapa kau selalu ketus padaku ?."
"Kenapa ? masalah ?."
"Dyoza, aku serius! Jangan bersikap seperti itu."
"Kau siapa mengatur ku ?."
"AKU ISTRI MU!!!." Ucap shenna menekan
"kenapa berteriak ? aku tidak tuli."
"Dyoza kenapa kau benar-benar menyebalkan ?."
Shenna menarik baju Dyoza dengan kasar, tanpa sengaja piyama tipis milik Dyoza sobek.
"Ah Dyoza, a,aku... maaf."
"Kau!!!!!!! Kau itu monster ya ? bajuku sampai sobek begini." Teriak Dyoza frustasi
"Aku tidak sengaja, maafkan aku!."
__ADS_1
"Ini piyama kesayangan ku, Oh Tuhan apa dosaku terlalu banyak ?."
"Hah piyama kesayangan, sejak kapan Dyoza semanis ini ?".
"Aku benar-benar tidak sengaja, maaf! jangan marah."
"Ini pemberian nenek ku sewaktu aku masih SMA, cuma ini satu-satunya barang yang aku miliki darinya."
"Pantas saja sudah kekecilan begitu, tapi masih saja di pakai "
"Dyoza aku mohon jangan marah, aku sungguh tidak sengaja."
"Keluar kau! aku tidak ingin melihat wajahmu hari ini."
Shenna membulatkan matanya, ia begitu terkejut dengan apa yang Dyoza katakan barusan.
"Ka,kau mengusir ku hanya karena aku merobek piyama mu ? ma, maksud ku itu karena aku tidak sengaja."
"Mau sengaja atau tidak piyama ini sudah robek."
Dyoza masuk ke dalam ruang pakaian entah apa yang akan ia lakukan, shenna hanya menatap punggung sang suami. Ia tidak menyangka Dyoza akan semarah itu padanya.
Ia menghampiri Dyoza dengan ragu, ia akan membujuk Dyoza untuk memaafkannya.
"Dyoza."
"Kenapa masih di sini, pergi sana!."
"Dyoza maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud merobek piyama kesayangan mu itu. Percayalah padaku!."
"Aku sudah bosan dengan kata maaf mu itu shenna."
"Aku benar-benar minta maaf, lagi pula sejak kapan kau punya benda kesayangan ?."
Dyoza keluar hanya memakai celana piyamanya dengan wajah kesal.
Shenna terdiam, seolah kata-kata Dyoza begitu membungkam mulutnya. Dyoza benar, selama menikah shenna tidak pernah menanyakan apa kesukaan Dyoza dan apa yang Dyoza tidak suka, bahkan shenna tidak tahu apa yang Dyoza rasakan saat ini.
"Apa kau sekali saja perhatikan kebiasaan ku ? Apa sekarang kau tahu saat ini aku kelelahan ? Shenna aku tahu kesalahanku begitu besar padamu, tapi apa kau sedikit saja memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya ?."
"Aku menikahi mu karna aku mencintaimu, bukan hanya untuk menebus semua kesalahanku padamu."
Dyoza duduk bersandar di dinding, ia menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. Sepertinya Dyoza sudah tidak sanggup menghadapi shenna, sebenarnya bukan karna masalah piyama nya robek Dyoza semarah ini. Tapi, memang ia sudah lama memendam kekesalan pada shenna karna sikapnya terutama untuk tidak menyentuhnya.
Siapa yang sanggup tidak menyentuh seorang istri, apalagi mereka bisa di bilang masih pengantin baru. Dyoza laki-laki normal, meskipun ia berjanji tidak akan menyentuh tanpa seizin sang istri tapi sampai kapan shenna tidak mengizinkannya."
"Dyoza." Shenna berjongkok tepat di samping Dyoza. "Aku minta maaf, aku tidak sengaja merobek piyama mu."
"Jadi kau pikir aku semarah ini hanya karna sebuah piyama ?." Ucap Dyoza lirih, ia menatap lurus ke depan tanpa menoleh.
"Aku...
"Shenna, kau anggap aku ini apa sebenarnya ?."
"Dyoza."
"JAWAB!!!!." Bentak Dyoza
Shenna terlonjak, baru kali ini Dyoza membentaknya. Kaki shenna terasa lemas, akhirnya ia ikut duduk dengan wajah menunduk.
Lalu ia mulai berkata dengan lirih menahan sakit yang ia pendam selama ini.
"Kau tahu Dyoza, semasa SMA saat aku mulai mencintaimu, mulai menginginkan mu, mulai mencoba untuk percaya pada laki-laki tapi justru kau meruntuhkan semuanya. Kau tahu kenapa aku selalu tidak meladeni mereka yang mencoba mendekati ku ? Karna aku tidak mau memberi celah sedikitpun pada mereka untuk mendapatkan kesempatan."
"Kau yang selalu perhatian, memberikan ku cokelat, tahu semua tentangku, saat itu aku sangat bahagia. Aku benar-benar merasa di cintai, bukan karna aku cantik dan kaya. Tapi, aku merasa kau lebih seperti hanya ingin mendapat perhatian dariku tanpa kau minta.
__ADS_1
"Bahkan setiap kau ingin mengantar ku pulang dan aku menolaknya kau tidak marah, kau hanya tersenyum dan berkata "Aku akan menunggu sampai kau mau". Kau tahu Dyoza ? Butuh waktu lama aku membuka pintu hati untuk meyakinkan diri menerima mu. Di dunia ini hanya ayah yang aku percaya dan itu selalu aku tanam sejak kecil."
"Di saat aku mulai percaya padamu di saat itu juga aku kecewa, kau hanya menjadikan ku bahan taruhan. Kau mempermainkan aku, bahkan kau dengan bangganya mengakui hal itu di depan semua orang, bahkan yang ku lihat kau merasa kau hebat sekali saat itu."
"Kau tahu saat itu aku benar-benar menutup hatiku, aku tidak akan percaya pada siapapun. Bahkan aku berharap tidak akan pernah bertemu lagi denganmu."
"Aku tidak ingin membenci tapi aku hanya seorang manusia, ayah selalu bilang hidup akan damai jika kita tidak membenci. Aku selalu berusaha untuk menjadi seorang yang selalu menerima apa yang aku alami, contohnya menjadi pelayan dirumah mu, melayani seorang laki-laki yang pernah mempermainkan ku, apa kau pikir aku kuat ? Tidak Dyoza! aku lemah, aku hanya seorang wanita yang pernah kecewa."
"Jadi, apa aku salah untuk ragu padamu saat ini ?".
Dyoza menoleh dan menatap sendu mata shenna, ia benar-benar egois. Ternyata selama ini perlakuan nya yang dulu begitu membekas di hati shenna, bahkan ia hidup dengan damai tanpa beban apapun.
"Apa kau belum memaafkan semua perlakuan bodoh ku padamu Shenna ?."
"Aku sudah memaafkan mu. Namun paku yang menancap di dinding jika di cabut apa tidak meninggalnya bekas ?."
Dyoza menarik nafas panjang, ia benar-benar merasa tertampar dengan semua penjelasan shenna.Selama ini ia selalu memikirkan dirinya, ia tidak pernah menanyakan tentang shenna walaupun hanya sekedar kata "Kau baik-baik saja ?" Ya! itu kata-kata sederhana tapi akan bermakna bagi seseorang yang sedang butuh perhatian.
Dyoza menarik shenna dan memeluknya dengan erat, ia menghirup aroma tubuh shenna yang sangat menenangkan baginya.
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Selama ini aku hanya melihat keadaan mu dari luar, aku tidak peka akan hatimu. Aku mohon shenna maafkanlah aku."
Pertahanan yang selama ini shenna bangun akhirnya runtuh, ia menangis sesenggukan di pelukan sang suami. Ia benar-benar mengeluarkan semua kesedihannya yang selama bertahun-tahun ia coba untuk berdamai. Ia ingin bebas dari rasa kekhawatiran, ia ingin bebas dari sebuah rasa takut, ia ingin menjadi wanita yang akan percaya pada laki-laki yang saat ini telah menjadi suaminya.
Dyoza semakin mengeratkan pelukannya, ia mencium puncak kepala shenna lalu membelai lembut rambut shenna. Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan shenna dengan buruk.
Ia membiarkan shenna menangis dalam pelukannya sampai puas, Dyoza benar-benar hanya ingin shenna merasa lega.
Cukup lama shenna menangis sampai akhirnya shenna sedikit tenang, Dyoza merenggangkan pelukannya dan menatap shenna. Ia merapikan rambut shenna yang berantakan.
"Sudah tenang ?." Ucap nya lembut
Shenna mengangguk dan menunduk, jelas terlihat matanya bengkak.
"Shenna demi tuhan aku minta maaf padamu, maafkan semua kesalahanmu, bahkan maafkan semua kejadian hari ini. Mari berdamai, mari kita mulai segalanya dari awal, izinkan aku mencintaimu, menyayangimu, memperlakukan mu dengan baik, menjadikan mu satu-satunya wanita yang akan selalu aku bahagiakan. Aku mohon terimalah aku menjadi suami yang akan bertanggung jawab dalam hal apapun."
Shenna menatap Dyoza dan diam sedikit lama, Dyoza hanya menunggu jawaban apa yang akan shenna berikan padanya, ia siap menerima apapun jawaban shenna.
Dyoza tersenyum bahagia saat shenna mengangguk dengan sangat yakin. Akhirnya Dyoza kembali memeluk shenna dengan erat, ia mencium kening shenna dan ini untuk pertama kalinya saat mereka menjadi suami istri.
Perasaan lega, haru, bahagia kini mereka rasakan. Sepertinya pertahanan yang shenna bangun yang telah membuat shenna gelisah hilang begitu saja. Ya! seharusnya ia benar-benar bisa berdamai dengan masa lalu bukan hanya di bibir saja, dan sekarang ia harus memberikan kesempatan untuk Dyoza.
"Dyoza."
"Ya ?." Dyoza melepas pelukannya menatap shenna
"Maafkan aku, aku tidak sengaja merobek piyama kesayangan mu itu."
Dyoza tersenyum dan menarik kembali shenna ke dalam pelukannya.
"Dasar bodoh, masih saja memikirkan itu."
"Itukan piyama kesayangan mu." Ucap shenna sedikit tertawa
"Jangan mengejekku!!!."
"Kau kan yang bilang tadi."
"Diam atau aku gigit."
"Hehehe iya iya aku diam."
-
-
__ADS_1
-
-