
"Ka,kau mau apa ?."
Shenna panik sendiri.
Arkan menekan leher shenna, sedikit memaksa shenna mendekati wajahnya pada arkan.
Detak jantung shenna semakin bergemuruh hebat, fikiran shenna sudah kemana-mana.
Arkan sedikit mengangkat kepalanya, mendekati wajah shenna dan berbisik.
"Apa boleh aku masuk ke dalam hati mu mulai sekarang ?."
Ucapnya lembut.
Shenna terkejut dan menatap mata Arkan.
"Ja, jadi, kau mau bilang itu ?."
wajah shenna berubah merah.
"Tentu, memangnya apa yang kau pikirkan ?."
Mengubah posisi. Kini mereka duduk dan saling berhadapan.
"A,kau kira kau....
Malu sendiri.
"Kau sedang berpikir mesum ya ?."
menunjuk kening Shenna.
Shenna tidak menjawab ia hanya merasakan panas dingin menahan malu.
"Hei gadis mesum, jawab!."
Shenna melebar kan matanya.
"A,apa kau bilang barusan ?."
Tidak terima.
"Memang benar kan ? kau gadis mesum."
"Ah Tuan."
Menutup wajahnya, malu.
"Buahahaahahahaha kau ini benar-benar ya!."
Arkan begitu terhibur melihat wajah shenna yang seperti kepiting rebus.
"Hei, bagaimana ?."
memaksa shenna menurunkan tangannya.
"Apa ?."
"Kau belum menjawab pertanyaan ku barusan ?."
Suasana menjadi hening kembali, detak jantung shenna berdesir lagi akibat gugup.
Arkan menggenggam kedua tangan shenna dengan erat.
"Kenapa diam ? shenna aku sungguh-sungguh ingin menempatkan hati mu."
Arkan meyakinkan shenna dengan wajah yang serius.
Shenna berfikir dalam dan sejujurnya perasaannya pada Arkan pun begitu cepat, entahlah ia hanya merasakan setiap dekat dengan Arkan rasanya begitu nyaman dan bahagia.
Arkan menatap wajah shenna masih setia menunggu jawaban, Arkan pun deg-degan menunggu jawaban itu.
Saat ia yakin shenna mengangguk dan berkata iya, Arkan memeluk shenna dengan erat dan perasaan bahagia.
"Terimakasih shenna."
Ucapnya bersyukur.
shenna tersenyum dan mengangguk, ia benar-benar bahagia seperti yang di rasakan Arkan saat ini.
Dua pasang manusia sedang saling berbagi kebahagiaan di satu atap, berbeda dengan Dyoza yang sedang mondar-mandir menggigit kuku jarinya.
"Sedang apa shenna di apartemen Arkan ?."
Ucapnya seraya menggaruk kepalanya. "Apa Mereke ? aahhhh tidak, aku kenal Arkan dia tidak seperti itu." Mengusir pikiran nya yang kotor.
"Kenapa shenna hanya meminta izin pada bibi, kenapa tidak denganku ?." Dyoza menjambak rambut nya frustasi.
Tanpa berpikir lagi Dyoza mengambil kunci mobilnya di atas nakas, dan berlalu mengendarai mobilnya.
Β
Dyoza berhenti tepat di depan apartemen Arkan, entah apa yang merasuki dirinya ia datang kesini. Ia masih duduk memandang apartemen Arkan, ia ragu untuk masuk. Tapi, sejujurnya jika ia masuk ia akan bingung sendiri mau apa dia kesana, ia takut shenna dan Arkan sedang..... ahh tidak mungkin mereka melakukan hal di luar batas, kata-kata itu yang selalu Dyoza ucapkan agar menepis pikiran buruk tentang shenna dan Arkan.
Saat Dyoza hendak keluar, ternyata shenna keluar sendiri dari lobby apartemen. ia seperti menunggu seseorang, cukup lama Dyoza memperhatikan shenna dari dalam mobil.
Sebuah taksi online menghampiri shenna, tanpa ragu shenna pun masuk ke dalam. Dyoza mengikuti taksi itu dan saat jalanan lengang Dyo menghalangi supir taksi itu.
"Aww pak kenapa berhenti tiba-tiba ?."
Mengusap kening shenna yang terbentur karna supir taksi mendadak menginjak rem.
"Maaf non, ada mobil yang menghalangi jalan kita." Tunjuk pak supir
Shenna mengernyit, seperti mengenal mobil yang menghalangi taksi yang ia tumpangi.
Tak lama sosok laki-laki tampan keluar dari mobil dan menghampiri taksi.
"Ah benar itu Tuan Dyoza, ada apa ini ?."
Shenna masih setia di dalam mobil.
Tok..tok..tok
"Permisi Tuan ada hal apa yang membuat tuan menghalangi jalan saya ?." Ucap sopir sopan namun waspada.
__ADS_1
"Saya ada perlu dengan penumpang mu."
Sopir menoleh kebelakang memastikan penumpang nya mengenal sosok laki-laki di hadapannya.
"Nona mengenal nya ?."
Tanyanya meyakinkan.
"Iya pak, kalau begitu saya turun sebentar ya pak. Tunggu saya!."
Ucap shenna membuka pintu mobil.
"Tidak perlu di tunggu, silahkan bapak teruskan perjalanan tanpa penumpang ini. saya Yang akan mengantarnya pulang, ini bayarannya dan tips buat bapak."
Ucap Dyoza dengan santai.
"Terimakasih Tuan, semoga selalu di mudahkan segala urusannya."
Sopir taksi sangat bersyukur menerima jumlah uang yang sangat banyak dari Dyoza.
"Terimakasih pak."
Shenna hanya diam dan sedikit kesal dengan tindakan Dyoza yang sesukanya tanpa bertanya.
"Shenna masuk!."
Dyoza masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu jawaban dari shenna.
"Hufff."
Shenna kesal namun ia bisa apa.
.
.
.
Di dalam perjalanan shenna dan Dyoza hanya diam berkutat dengan pikirannya masing-masing.
"Tuan boleh saya bertanya ?". Memecah keheningan.
"Hmmmm."
"Apa maksudnya dengan jawaban ambigu seperti itu ?."
"Kenapa Tuan bisa tahu kalau didalam taksi tadi ada saya ?."
Mata shenna menatap jalan.
"Bagaimana aku harus menjawab."
Dyoza terdiam sesaat berpikir tentang jawaban apa yang akan ia lontarkan.
"Ehhemm, aku kebetulan sedang mencari angin, tidak sengaja melihat mu menaiki taksi. ya, aku berpikir dari pada kau menghabiskan uangmu dengan membayar taksi lebih baik aku hentikan saja."
"Kau pintar Dyoza, itu jawaban yang sangat masuk akal".
"Oohhh."
"Hei memang apa yang kau pikirkan ?."
Dyoza berkata dengan tidak sabaran.
"Memangnya saya berani berpikir apa tentang Tuan ?."
Shenna menjawab cuek.
"Kenapa shenna begitu menyebalkan akhir-akhir ini." Dyoza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung sendiri dengan ucapan shenna.
Tring...
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan shenna.
Raut wajah shenna berubah, senyum manis seketika menghiasi wajah cantik shenna.
Kau sudah sampai ? Arkan
Aku masih di jalan, kenapa belum tidur ? Shenna
Aku menunggu mu sampai rumah baru aku akan tidur. Arkan
Seharusnya tidak perlu begitu! kau sedang sakit, nanti aku akan mengabarimu jika sudah sampai. Shenna
Aku tunggu, hati-hati sayang. Arkan
Shenna memegang detak jantung nya, dan mengulang kembali pesan terakhir yang Arkan kirimkan untuk nya. Kata sayang yang Arkan berikan pada shenna membuat senyum shenna tak berhenti melengkungkan bibir mungilnya.
Dyoza yang memperhatikan sikap shenna pun hanya mengerutkan dahinya, ia merasa ada yang tidak beres pada shenna.
"Sedang mengirim pesan dengan siapa sih ? kenapa dia senyum sendiri seperti itu ?."
Dyoza benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya kali ini, ia berhenti tepat di depan halaman rumahnya dengan wajah yang tidak bisa di tebak oleh shenna.
"Tuan terimakasih sudah memberi tumpangan, saya permisi." Kata-kata shenna begitu sopan namun justru membuat Dyoza geram.
"Shenna tunggu!."
Dyoza menahan lengan shenna yang hendak membuka pintu.
"Ya tuan ada apa ?."
Shenna menatap lengan yang di tahan oleh Dyoza.
"Aku ingin bicara denganmu, bisakah kau ke kamar ku sekarang ?."
"Apa harus di dalam kamar ? Tuan ini bukan jam kerja saya, tuan bisa bicara sekarang di sini!". Shenna tersenyum dengan perasaan bingung.
"Ada apa dengan Dyoza ?."
"Kenapa dia malah diam ?."
"Sudahlah, lupakan! Turunlah!."
Kata-kata Dyoza membuat shenna bergegas turun dari mobil, shenna masuk sendirian tanpa menoleh lagi pada Dyoza.
__ADS_1
Di dalam mobil Dyoza membuka seat belt dan mengusap wajahnya kasar, sepertinya belum tepat untuk Dyoza bertanya tujuan shenna ke apartemen Arkan malam ini.
"Tidak mungkinkan aku bertanya langsung pada Arkan ?."
Shenna sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia pun sudah memberi kabar pada Arkan. ia tersenyum di depan kaca, sepertinya akhir-akhir ini senyuman tidak mau lepas dari bibirnya. Ya, semua berkat Arkan yang selalu membuatnya bahagia.
"Terimakasih."
Mimpi indah sudah menghampiri shenna, ia tertidur dengan nyenyak tanpa memikirkan apa yang akan terjadi esok hari.
--
Arkan tersenyum manis pada shenna saat mereka berpapasan di bawah tangga.
"Selamat pagi."
Sapa Arkan pada shenna.
"Selamat pagi juga, aku kira Tuan libur hari ini ?."
"Tuan Dyoza menyuruh ku, tapi aku masih bisa berjalan lalu alasan apa untuk libur ?."
"Baiklah kau memang tidak bisa jauh dari tuan Dyoza, itulah alasanmu yang sesungguhnya."
Arkan terkekeh.
"Yasudah aku ke atas dulu ya!."
Shenna mengangguk dan terkejut saat Arkan mengusap kepalanya lembut dan berlalu dengan cepat.
"Ya Tuhan, kenapa harus mengusap kepalaku sih. Jantung ku jadi tidak karuan begini."
Shenna menggeleng dengan senyuman manisnya pagi ini.
Tok..tok..tok
"Permisi Tuan Dyoza."
Dyoza mengernyit mendengar suara Arkan.
"Kenapa Arkan datang, bukankah aku menyuruh nya beristirahat ?.".
"Masuklah Ar."
Titahnya
"Ar kenapa kau datang ? aku menyuruh mu untuk istirahat apa kau tidak membaca pesanku ?." Dyoza masih merapikan dasinya.
"Saya sudah sehat Tuan, tentu saya sudah membaca pesan Tuan."
"Ar, aku menyuruh mu istirahat karna aku melihat sendiri luka mu. Meskipun kau bisa berjalan tapi kau merasakan nyeri di punggung mu itu." Dyoza sedikit menekan setiap kata-kata nya.
"Maafkan saya tuan, tapi saya tidak bisa membiarkan tuan bekerja sendirian hari ini."
"Huffffff." Dyoza mendesah kasar.
"Aku tahu kau setia padaku, tapi bukan berarti aku memanfaatkan kesetiaan mu itu." Kesal yang Dyoza rasakan sudah tidak terbendung lagi, ia sedikit emosi pada Arkan.
"Kenapa Tuan Dyoza semarah itu ya ?."
"Kenapa kau diam ?." frustasi sendiri.
"Baik Tuan."
"Kau...
"Aaarrgghhhh kenapa Arkan jadi menyebalkan begini ?."
Dyoza tidak bisa mencegah Arkan untuk beristirahat, akhirnya memutuskan untuk tetap ikut ke perusahaan hari ini. Sebenarnya Dyoza benar-benar khawatir dengan Arkan tapi, karna Arkan sedikit menyebalkan Dyoza jadi ingin mengerjai Arkan dengan memberikan segudang pekerjaan untuknya.
Arkan membacakan semua kegiatan Dyoza hari ini, dari pukul 10.00 hingga menjelang pulang jadwal Dyoza sangat padat.
"Jadi hari ini kita makan di luar ?."
seru Dyoza menatap Ipad-nya menuju restoran ternama untuk bertemu dengan salah satu Ceo yang hendak bekerja sama dengannya.
"Iya Tuan, setelah bertemu dengan para pemegang saham kita akan makan malam bersama." Ucap Arkan fokus mengemudi.
"Baiklah!."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Dyoza hanya menatap kosong pada setiap jalan yang ia lalui. Arkan melirik dari kaca spion dan kembali fokus pada jalan.
"Ar".
"Ya tuan ?."
"Shenna semalam kerumah mu untuk apa ?." Dyoza bersandar dan matanya terpejam.
"Kami hanya makan malam bersama tuan."
Menjawab setenang mungkin.
"Apa kalian berkencan ?."
Arkan terdiam sesaat, memilih kata terbaik untuk jawabannya.
Nihil, tidak ada kata-kata yang tepat untuk jawaban nya saat ini. Dyoza terlalu cepat menyerangnya dengan sebuah pertanyaan yang sebenarnya Arkan hindari.
"Apa Tuan keberatan ?." bertanya dengan hati-hati
"Kenapa kau menjawab dengan sebuah pertanyaan ?." serunya datar
Arkan kembali melirik Dyoza, posisi Tuan nya itu masih sama.
"Kenapa pertanyaan Tuan Dyoza begitu mematikan untuk ku ?."
"Saya hanya memanfaatkan sebaik mungkin atas izin yang sudah tuan berikan pada saya."
"Ah, sepertinya kata-kata ini cukup keren kan?."
Dyoza tersenyum mendengar kata-kata cantik yang terlontar dari mulut Arkan.
"Ternyata ucapan mu waktu itu benar sungguhan."
Β
__ADS_1
Deg-deg serrrrr di tanya langsung sama mantan kekasih π π π