Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Berteman..


__ADS_3

Dyoza memutuskan untuk mendekati shenna kembali, perasaan nya tidak bisa ia sembunyikan lagi. Bahkan Arkan bisa melihatnya tanpa ia berbicara sepatah kata pun.


Akan tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal di hati nya, mungkin kah shenna mau membuka hati untuk nya.


Entahlah, rasanya sudah ingin mundur saja memikirkan hal itu. Tapi, Dyoza akan berusaha semampu mungkin untuk membuat shenna kembali menerima hatinya.


Dyoza pulang dengan perasaan campur aduk, ia merasa seperti akan menghadapi sesuatu yang membahayakan.


"Pulang dan istirahat lah Ar, terimakasih untuk kerja keras mu hari ini".


"Baik tuan, permisi". Arkan menunduk hormat dan segera berlalu.


Saat hendak menaiki anak tangga, Dyoza mendengar suara cekikikan dari dalam kamar Daniel. Dyoza mendekat dan menempelkan telinganya pada pintu.


"Coba kau tebak, Orang-orang apa yang di tembak tidak mati ?". Ucap shenna menahan tawa.


"Mana ada orang di tembak tidak mati, apa dia punya nyawa tujuh seperti kucing ?".


"Jawab saja pertanyaan ku, kenapa kau protes ?".


"Baiklah baiklah, sebentar". Daniel mengusap dagunya dan berpikir. "Ahh yang benar saja, aku tidak menemukan jawaban nya". ia frustasi sendiri. Sedangkan shenna masih menahan tawanya.


"Ayo apa jawabannya begitu saja lama sekali". Shenna tidak sabaran.


"Ah, aku menyerah".


"Orang-orang apa yang di tembak tidak mati jawabannya adalah orang gak kena ahahahahahaha". Shenna terpingkal-pingkal sendiri. Sedangkan Daniel gemas melihat shenna yang tertawa begitu girangnya.


"Ya ampun perut ku sakit sekali". Shenna mengusap matanya yang menangis Akibat tertawa terbahak-bahak.


"Ah sudah aku tidak mau main lagi, wajahku sudah penuh dengan lipstik mu ini. Aku menyerah, aku kalah". Shenna berbinar mendengar ucapan Daniel.


"Jadi kau akan membawa jalan-jalan ?". Shenna begitu antusias.


"Tentu aku kan sudah kalah". Jawab Daniel memasang wajah sedih.


"Padahal aku sengaja menyerah agar aku bisa berduaan dengan shenna akhir pekan". Gumam Daniel cengengesan.


Melihat Daniel yang senyum-senyum sendiri membuat shenna mengernyit heran.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, kau tidak sedang mengerjai ku kan ?".


"Mengerjai apa ?".


"Kau tidak berbohong kan dengan ucapan mu kalau aku Menang, kau akan mengajakku jalan-jalan". Ujar shenna menuduh.


"Hahaha yang benar saja, aku laki-laki sejati yang menepati janji. Kau tenang saja". Jawab Daniel membusungkan dada bangga.


"Ahh baguslah, yasudah kalau begitu aku permisi yaaa." Daniel menahan lengan shenna.


"Ada apa ?".


"Kenapa kau terburu-buru sekali, kau kan baru beberapa menit disini."


"Aku sudah satu jam di dalam kamar mu". Shenna menunjuk jam dinding di kamar Daniel. "aku akan menyiapkan makanan untukmu dan tuan Dyoza kalau aku tidak melakukan nya Kepala pelayan akan memberiku peringatan bagaimana ?".


"Baiklah, aku tunggu di meja makan."


Shenna keluar dari dalam kamar Daniel, saat menoleh ia melihat Dyoza sedang duduk di ruang keluarga dan sedang menatap ke arahnya. Shenna tersenyum canggung dan sedikit menundukkan kepalanya, menyapa dalam bahasa tubuh.


"Sebahagia itu dia melayani Daniel ? selama melayani ku jangankan tertawa begitu, tersenyum padaku saja jarang sekali". Gumam Dyoza menatap punggung shenna. Dyoza menghentakkan kakinya dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.


Suara tawa shenna masih terngiang-ngiang di telinga nya, apalagi dengan pertanyaan konyol yang shenna lemparkan ke Daniel. Ia bahkan sempat tertawa namun ia menahan gelak tawanya agar yang di dalam kamar tidak mendengar.


"Dasar gadis bodoh". Dyoza tersenyum manis.


Makan malam bersama di hiasi keheningan antara Dyoza dan Daniel, Bibi Hanum hanya melirik melihat dua keponakan nya itu.


Daniel makan dengan senyum manisnya sedangkan Dyoza makan dengan wajah datar.


"Aku tidak salah menyetujui keinginan shenna, bahkan baru beberapa hari shenna sudah sangat akrab dengan Daniel. Lihat lah si wajah kaku ini, benar-benar tidak berubah". Gumam bibi Hanum menilai dua keponakannya itu.


"Bi akhir pekan aku mau minta izin ingin mengajak shenna keluar rumah". Ucap Daniel membuyarkan keheningan.


"Memang mau kemana ?." ucap bibi Hanum seraya tersenyum.


"Mengajak nya jalan-jalan bi, aku kalah taruhan darinya". Ujar Daniel pura-pura kesal.


Bibi Hanum melirik Dyoza dengan ekor matanya ingin melihat ekspresi Dyoza, namun bukan Dyoza namanya jika tidak pandai menutupi ekspresi nya dengan menunjukkan wajah datarnya itu.


"Baiklah tapi ingat jangan sampai pulang larut malam". Ancam bibi hanum.

__ADS_1


"Tenang saja bi, aku akan mengajaknya pulang tepat waktu". Daniel begitu senang.


Ting Ting Ting Ting Ting...


"Apa kalian sudah selesai berbicara ?". Dyoza sedikit memukul piringnya dengan sendok yang ia gunakan untuk makan. "Kita sedang makan, jangan ada pembicaraan apapun!".


Daniel terdiam dan melirik bibi Hanum dengan menaikkan alisnya, seolah bertanya pada bibi Hanum ada apa dengan kakak sepupu nya itu.


Bibi Hanum hanya menaikkan bahunya tanda tidak tahu ada apa dengan Dyoza.


Makan malam berlalu, Dyoza memilih untuk masuk ke dalam kamar Sedangkan Daniel memilih mengobrol dengan bibi Hanum di taman belakang sambil menikmati angin malam.


Shenna melewati bibi Hanum dan Daniel yang sedang mengobrol membawa pakaian yang sudah di setrika rapih oleh pelayan lain menuju kamar Daniel.


"Shenn kau mau kemana ?". Ucap Daniel mengejutkannya.


"Saya mau ke kamar tuan Daniel". Menunjukkan apa yang ia bawa di tangannya. Lalu menunduk hormat pada kepala pelayan.


"Nona shenna boleh aku minta tolong padamu ?". Ucap kepala pelayan.


"Tentu saja kepala pelayan". Ucap shenna mantap


"Tolong kau sekalian antar pakaian yang sudah rapih untuk tuan Dyoza ya!". Shenna mematung mendengar perintah dari kepala pelayan.


"Kenapa, apa kau keberatan ?". Sambung kepala pelayan.


"Bu,bukan begitu kepala pelayan. Ta,tapi apa tidak apa-apa saya yang mengantarnya ? Saya takut tuan Dyoza akan marah pada saya". Shenna sedikit gemetar mengucapkan.


"Kau tenang saja, dia tidak akan marah. kau bilang saja aku yang menyuruh mu dan katakan padanya aku sedang mengobrol serius dengan tuan Daniel. Ujar kepala pelayan.


"Baik kepala pelayan". Shenna pun bergegas mengantarkan pakaian ke kamar Daniel lebih dulu.


"Memang kita akan membicarakan hal serius apa bi ?". Tanya Daniel bingung.


"Anggap saja kita sedang berbicara serius." jawab kepala pelayan santai.


Daniel hanya mengernyit kan dahinya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


--


Di lantai atas shenna sedang mondar-mandir di depan pintu kamar Dyoza, ia ragu untuk mengetuk pintu.


"Kenapa aku jadi deg-degan begini ?". Gumam shenna.


Tok tok tok...


"Masuk". Ucap Dyoza terdengar dari dalam kamar.


Shenna membuka pintu dan segera masuk.


"Pe,permisi tuan saya di tugaskan mengantar pakaian ini untuk tuan". Ucap shenna gugup.


Dyoza terdiam memandangi shenna, ada sedikit kerinduan di hatinya melihat gadis yang tanpa ia sadari sudah mengisi hatinya entah sejak kapan.


"Tu,tuan ?". Shenna membuyarkan lamunan Dyoza.


"Ehhem, iyaa silahkan!". Ujar Dyoza seraya menatap layar ponselnya.


Shenna pun masuk ke ruang pakaian dan meletakkannya dengan sangat hati-hati. Sedangkan Dyoza mengikuti setiap gerak-gerik shenna di dalam sana.


Cukup lama shenna di dalam sana, lalu Dyoza menghampiri nya.


"Kenapa kau yang mengantarkan pakaian ku, kemana bibi Hanum ?". Tanyanya dengan wajah datar.


"Maaf tuan, tadi kepala pelayan berpesan kalau ia sedang bicara serius dengan tuan Daniel." Jawab shenna masih fokus memindahkan baju dari troli ke lemari pakaian.


"Berbicara apa ?".


"Maaf tuan saya tidak tahu".


"Bukankah kau harusnya mengantar pakaian untuk Daniel ?".


"Kebetulan saya sudah menyelesaikan tugas saya tuan". Shenna masih fokus memindahkan pakaian.


Dyoza hanya mengangguk pelan, dan masih setia berdiri di ambang pintu. Ketika shenna menatap Dyoza.


"Apa ada yang bisa saya bantu tuan ?". Shenna menggantung tangan nya memegang pakaian yang hendak ia letakkan di lemari.


Tanpa menjawab pertanyaan shenna, Dyoza mengambil salah satu pakaian nya dan meletakkannya di dalam lemari miliknya.


Shenna terbelalak melihat tindakan Dyoza dan reflek menyentuh tangan Dyoza.

__ADS_1


"Apa yang tuan lakukan ?". Shenna membulatkan matanya terkejut.


Dyoza melihat tangannya yang di Sentuh oleh shenna dengan perasaan senang, shenna yang sadar pun segera melepas tangannya itu.


"Ma,maaf tuan saya tidak sengaja."


"Kenapa kau berteriak ? aku hanya membantu mu saja." Ucap Dyoza santai.


"Sa,saya bisa sendiri tuan." Shenna merinding mendengar ucapan dyoza.


"Ini bukan tugas mu lagi, ini tugas bibi jadi aku tidak mau memberatkan mu". Dyoza dengan sejuta alasan nya.


"Saya tidak merasa keberatan tuan, karna perintah dari kepala pelayan akan menjadi tugas saya". Shenna melanjutkan kembali pekerjaan nya.


Dyoza menggeser lebih dekat dengan shenna hingga pundak shenna menyentuh tangan Dyoza, shenna terdiam membeku. Entah seperti ada sesuatu yang membuat ia sulit bernafas.


"Kenapa ruangan ini tiba-tiba terasa panas ?". Gumam shenna.


"Shenna boleh aku bertanya sesuatu padamu ?". Dyoza menghadap shenna lurus.


Shenna hanya mengangguk pelan dan melepas pekerjaan nya.


"Apa kau marah padaku ?".


"Saya tidak berani marah pada Tuan". Ucap Shenna.


"Lalu kenapa kau pindah Tugas melayani Daniel ?".


"Saya tidak meminta untuk melayani tuan Daniel tuan, kepala pelayan yang memberikan tugas itu pada saya." Shenna menunduk.


Dyoza menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku... aku mau minta maaf padamu".


Shenna menatap Dyoza dengan terkejut, dan memastikan apa ia salah dengar.


"Tuan barusan bilang apa ?". Tanyanya memastikan.


"Aku minta maaf". Shenna mengernyit, ternyata ia tidak Salah dengar.


"Tapi kenapa anda minta maaf pada saya ?". Bingung sendiri.


"Karna kau sampai sakit karna jam kerja yang membuat mu berat, sampai kau meminta pindah tugas. "Shenna aku sungguh meminta maaf, mungkin selama ini sikap ku tidak baik padamu".


Shenna mematung mencerna setiap ucapan dyoza.


"Apa kau mau memaafkan ku ? kau mau berteman dengan ku ?".


Shenna masih mematung.


"Shenna". Dyoza membuyarkan shenna dari lamunannya.


"Bagaimana ?". sambung Dyoza. "Apa kau memaafkan ku ?".


"Te,tentu saja tuan. sebenarnya saya tidak mempermasalahkan hal itu, saya juga tidak marah pada tuan. saya yang seharusnya minta maaf karna tidak bisa menjalankan tugas dengan benar".


"Tidak shenna, kinerja mu sangat bagus. Tapi apa kau mau menerima ku menjadi temanmu ?".


Shenna terdiam matanya menatap lekat pada Dyoza. Ia memastikan bahwa Dyoza benar-benar tulus mengajaknya berteman.


"Dari matanya terpancar ketulusan, aku bisa melihatnya". Gumam shenna.


"Shenna, bagaimana ?".


"i,iya tuan. Tentu!."


Dyoza tersenyum dan mengelus puncak kepala shenna. "Terimakasih ya".


Shenna semakin membeku di buatnya, Dyoza menyentuh puncak kepala shenna membuat jantung shenna berdesir.


"Ada apa dengan nya, kenapa dia jadi lembut begini ?".


Shenna melanjutkan kembali pekerjaan nya dan segera berlalu.


--


--


--


Like, komen....

__ADS_1


terimakasih 🥰🥰


__ADS_2