
"Bagaimana bisa seperti itu, kenapa tuan Daniel tega sekali ?." Lula geram mendengar cerita panjang x lebar dari sahabat nya itu.
Hiks..
"Apa salah ku Lula ? bahkan aku tidak pernah sekalipun mendekati nya, memang beberapakali dia menolong ku dan aku hanya membalas kebaikannya saja. Tidak lebih dari itu, kau percaya padaku kan ?."
"Ya ampun Kalya, aku ini sahabat mu tentu aku sangat percaya padamu. Aku tahu kau ini gadis seperti apa. Kalau memang dia malu kenapa harus mendekati mu segala hanya untuk pelampiasan hatinya itu. Dia kan bisa mendekati gadis kaya, bahkan artis pun bisa. Memang menyebalkan, aku kira dia memang baik ternyata semua itu palsu."
"Aku boleh kan menginap dirumah mu ?."
"Boleh dong, justru aku sangat senang. Sudah ya jangan menangis lagi, sekarang jauhi saja tuan Daniel. Jangan terlibat apapun lagi padanya!."
Kalya mengangguk menyetujui ucapan Lula.
Daniel menunggu di depan pintu rumah Kalya, ia duduk bersandar di sana. Kakinya sudah lelah menunggu selama beberapa jam. Namun yang di tunggu tak kunjung datang.
"Kemana dia ? tidak mungkin kan tidak pulang ?."
"Maafkan aku Kalya. Bahkan telpon dari ku tidak kau angkat. Dan sekarang tidak aktif." Daniel berdecak
Pukul 23.40 Daniel masih setia menunggu disana, sampai ia lelah sendiri dan dengan berat hati ia meninggalkan tempat.
Keesokan harinya..
"Mau apa lagi dia ?." Gumam Lula kesal
"Permisi tuan mau pesan apa ?." Tanya Lula memberikan menu
"Nona Lula aku ingin bertanya boleh ?."
"Maaf tuan, selain menanyakan tentang menu tidak boleh." Ucap Lula dingin
Daniel hanya mengernyit, ia menebak kalau Lula sudah tahu tentang masalahnya dengan Kalya.
"Aku ini pelanggan tetap loh, masa kamu jutek begitu ?."
"Maaf tuan Daniel, saya hanya menjalankan tugas sebagai pelayan cafe." Lula menekan kata terakhir. "Jika memang belum ingin memesan silahkan di lihat terlebih dulu menunya. Permisi."
Daniel tercengang melihat Lula yang sangat tidak ramah. Ia hanya tersenyum kecut.
"Bahkan sekarang dia sangat jutek padaku, Pasti Kalya sudah menceritakan semua yang terjadi. bagaimana ini, aku harus bertanya pada siapa tentang Kalya ?."
"Sebenarnya Kemana dia, apa sekarang juga tidak berkerja ?."
Daniel pergi dari sana dan menyelipkan tips di bawah tissue. Tujuannya memang untuk bertemu dengan Kalya tapi yang ingin di temui justru tidak ada.
--
Daniel pulang dengan raut wajah masam, ia melihat shenna dan bibi Hanum serta pelayan lain yang sedang menyiapkan makan malam.
Shenna melirik Daniel lalu menghampiri nya.
"Hei kenapa ?."
Daniel menggeleng.
"Ada masalah apa, wajahmu tidak enak di lihat ?." Shenna menuangkan air untuk Daniel lalu menyodorkan nya.
"Terimakasih." Ucap Daniel lalu meminum nya
"Apa kau sedang putus cinta ?."
__ADS_1
Sontak saja Daniel menyemburkan sedikit airnya.
"Kenapa terkejut begitu, aku kan hanya bertanya ?."
"Bisa tidak sih diam sebentar ? aku baru pulang dan lelah tahu."
"Hehehe baiklah, aku tinggal ya!."
Daniel melirik shenna, ia benar-benar sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi hatinya sendiri. Apa sesulit itu melupakan perasaannya pada shenna.
Daniel memilih untuk masuk ke dalam kamar, ia berniat untuk membersihkan diri. Sepertinya hari ini sangat melelahkan baginya, bukan secara fisik tapi otaknya yang terlalu berpikir keras hingga ia merasa lelah.
Sudah 3 hari Daniel tidak menyempatkan diri datang ke cafe, sudah 3 hari juga ia selalu di sibukkan oleh pekerjaan yang di berikan oleh kakak sepupu nya itu. Bahkan sebentar lagi ia akan menyandang sebagai pemimpin perusahaan milik ayahnya.
"Jika hari ini tidak selesai tuan Daniel tidak di perbolehkan pulang. Itu yang tuan Dyoza katakan pada saya." Ucap Arkan
"Bahkan kau sekarang sama menyebalkan nya seperti kakak, huh!!." Daniel mendengus kesal.
--
Akhirnya Daniel bisa bernafas lega setelah selesai menyelesaikan pekerjaan yang di berikan Dyoza. Ia mencoba menghubungi seseorang disana, tanpa berpikir apakah seseorang yang ia hubungi akan menerima panggilan telepon nya.
"Masih marah padaku rupanya." Gumam Daniel
Ia memutuskan untuk ke cafe Story untuk menemui Kalya, entahlah ada yang aneh semenjak kejadian itu Daniel selalu gelisah.
"Lula aku duluan ya." Teriak Kalya
"Eh, kau sudah selesai ?."
"Sudah, aku mau belanja bulanan dulu untuk stok dirumah. Persediaan makanan ku sudah mulai habis."
"Oke, hati-hati ya!."
Tidak lama Lula keluar dari cafe, Daniel masuk dengan langkah santai lalu duduk sambil memainkan ponselnya. Pelayan laki-laki pun datang menghampiri Daniel dengan ramah.
"Selamat malam tuan Daniel, mau pesan apa ?."
"Oh iya, seperti biasa saja ya."
"Baik tuan, permisi."
"Eh tunggu!." Ucap Daniel
"Ya tuan ada yang bisa saya bantu ?."
"Apa hari ini Kalya ada ?."
"Oohh Kalya sudah pulang barusan tuan, tidak lama tuan datang. Tadi sih saya dengar dia mau belanja untuk keperluan nya."
"Oh begitu, yasudah terimakasih ya! pesanannya di cancel saja. Ini buat kamu."
Daniel menyodorkan selembar uang ke tangan pelayan laki-laki itu, lalu bergegas keluar.
"Baru kali ini Kalya menarik perhatian laki-laki seperti tuan Daniel yang selalu terlihat dingin. Pernah melakukan kebaikan apa si Kalya itu ?." Gumam nya, lalu melihat tips yang sudah mendarat di tangan nya. Ia pun tersenyum kegirangan.
Kalya sudah berada di supermarket langganan nya, ia sedang memilah buah yang akan ia beli. Satu persatu ia hirup aroma buah mangga kesukaannya dengan semangat.
Kemudian ia mendorong lagi trolinya menuju mie instan lalu mengambil beberapa jenis rasa di sana.
Saat ia hendak menarik trolinya ia sedikit heran tiba-tiba begitu berat, ia menoleh dan matanya membulat melihat siapa yang sedang menahan trolinya itu.
__ADS_1
Wajahnya yang tadi terlihat cerah dalam hitungan detik berubah seketika, ia menatap datar Daniel yang kini sudah ada di sampingnya.
"Kalya."
Kalya memutar matanya pertanda malas, ia memilih menarik paksa trolinya lalu berjalan meninggalkan Daniel.
Daniel mengikuti Kalya dari belakang mengamati setiap gerak-gerik sang empu.
Kalya berusaha sekuat tenaga untuk tidak merasa risih, ia ingin menunjukkan pada Daniel bahwa ia baik-baik saja meskipun jujur hatinya masih sangat terluka.
Daniel masih setia membuntuti Kalya hingga di kasir, Kalya tetap tidak peduli. Bahkan beberapa kali Daniel memanggilnya pun ia tetap seolah-olah Daniel tidak ada.
"Totalnya Rp.257.500-, Kak." Ucap sang kasir
Kalya menyerahkan uang cash dari dompetnya saat itu juga ia melihat Daniel sudah menyerahkan kartu debit dari tangannya.
Saat sang kasir menerima Kalya segera menolak mentah-mentah.
"Maaf mbak ini kan belanjaan saya, jadi tolong jangan sembarang menerima apapun dari orang lain. Ini uangnya." Ucap Kalya tersenyum
"Maaf nona saya pikir ini kekasih anda."
Kalya hanya menggeleng tanpa melihat Daniel yang sudah tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Terimakasih nona, silahkan datang kembali." Ucap sang kasir seraya memberikan kembalian serta struk belanja.
Kalya hanya tersenyum dan mengangguk.
Sedangkan di belakang masih setia mengikuti Kalya sambil memanggil namanya, Kalya benar-benar tidak menghiraukan sama sekali. sampai ia geram sendiri di buatnya.
"Tuan, apa anda kurang kerjaan ?." Ucap Kalya kesal
"Kalya ayolah biarkan aku menjelaskan semuanya." Daniel memohon
"Bukankah semua sudah jelas, lalu apalagi yang harus di jelaskan ?."
"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Justru apa yang saya tidak pikirkan ternyata terjadi kan tuan ?."
Daniel terdiam
"Tuan, saya tidak mengharapkan apapun. Saya hanya berharap ketulusan dari tuan, saya sadar saya siapa. Bahkan saya sudah mengaca diri sebelum tuan menyuruh saya, saya hanya butuh orang yang tulus berteman dengan saya. Tidak memandang latar belakang saya, tidak malu dengan penampilan saya yang serba apa adanya." Ucap Kalya gemetar
Daniel membeku ia seperti mendapat sebuah tamparan telak dari kata-kata Kalya.
"Maka dari itu mulai sekarang bersikaplah seolah-olah kita tidak saling mengenal, karna saya rasa itu lebih baik. Untuk masalah ini saya anggap sudah selesai, saya sudah memaafkan tuan dan saya juga minta maaf jika selama ini sudah lancang terhadap Tuan." Sambung Kalya menegaskan
Mata Kalya berkeliling saat banyak orang yang lalu lalang memperhatikan mereka.
"Saya rasa saya harus pergi, Tuan tidak mau kan malu karena dekat dengan saya dengan penampilan saya yang bukan selera Tuan ? Permisi."
Kalya bergegas tanpa menunggu jawaban dari Daniel, sedangkan Daniel hanya menatap punggung Kalya yang semakin lama semakin menjauh lalu hilang hingga Kalya naik angkutan umum.
"Apa aku begitu jahat ?." Gumam Daniel
--
--
--
__ADS_1
Bersambung