Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Seperti barang


__ADS_3

Pagi menjelang, suara kicauan burung terdengar begitu indah di telinga Shenna. Ia tersenyum saat matanya terbuka, cahaya matahari hangat yang menerpa wajahnya membuat nya begitu semangat.


Ia selalu berdoa semoga ayahnya cepat pulih dan akan menikahkannya dengan Dyoza, ia benar-benar merindukan ayah serta ibunya padahal baru kemarin ia menjenguk kedua orangtuanya bersama Dyoza.


Entahlah, rasanya enggan berpisah seperti ini. Ayah dan ibunya pun menolak secara halus untuk tinggal bersama, padahal ayah Dyoza sudah membujuknya dengan berbagai macam cara. Tapi, ia tahu sekeras apa sahabatnya itu kalau sudah bilang tidak yaa jawabannya tentu tidak.


--


2 Bulan telah berlalu, kini shenna dan Dyoza semakin dekat dan terbiasa menjalani hari-harinya bersama. Ayah shenna pun keadaan nya semakin membaik, namun tetap harus dalam pantauan dokter.


Shenna membawa nampan berisi 2 gelas jus dan cemilan untuk Dyoza serta Arkan, ia menuju ruang kerja.


Langkah shenna terhenti saat mendengar obrolan dari ruangan itu, ia mematung di balik pintu yang sedikit terbuka.


"Terimakasih ya Ar kau sudah memberikan shenna padaku". Ucap Dyoza menepuk pundak Arkan.


"Nona Shenna akan lebih bahagia dengan tuan. Sudah seharusnya shenna bersama tuan".


"Tapi, aku tidak akan bisa mendapatkan shenna kalau kau tidak meninggalnya".


"Sudahlah Tuan jangan di bahas lagi, sebentar lagi tuan akan menikah dengan nona shenna".


"Ya, aku sangat bahagia shenna mau menerima ku kembali. Aku tidak percaya aku akan hidup bahagia bersama nya, dan menebus semua kesalahanku padanya selama ini."


"Tuan pantas mendapatkan nya!".


"Terimakasih Ar, kau mau membagi shenna untukku".


"Tuan jangan bicara seperti itu! saya tidak membagi apapun karna sudah sepantasnya Nona shenna bahagia dengan tuan".


"Iya Ar tapi aku tidak bisa melupakan semua pengorbanan mu untukku, aku sangat berterima kasih sekali".

__ADS_1


"Tuan sudahlah ja.....


Prank....


Ucapan Arkan terpotong saat mendengar suara dari luar ruangan.


Dyoza dan Arkan saling menatap satu sama lain dan bergegas ke sumber suara.


Mereka terkejut saat mendapati shenna yang sedang memungut pecahan gelas dan piring yang berserakan dengan tangan gemetar.


"She,Shena". Dyoza berjongkok hendak membantu shenna, namun shenna segera menepisnya.


"Shenna tanganmu berdarah".


"Jangan sentuh aku!!!". Teriak shenna marah


"Shenna kau...


"Cukup!! aku mendengar semuanya".


"Sudah puas kalian, Hah ?". Air mata shenna mengalir begitu saja.


"Shena aku bisa jelaskan".


"Aku bilang cukup!!! Dan kau tuan Arkan yang terhormat, terimakasih sudah menyerahkan saya seperti barang murahan pada tuan mu ini. Terimakasih sudah menjadi pahlawan untuknya".


"Nona saya tidak bermak...


"DIAM!!! AKU TIDAK MAU MENDENGAR NYA LAGI!!!!".


"Kau tahu, setiap malam aku selalu bertanya-tanya tentang apa kesalahan ku, karena kau memilih meninggalkan ku tanpa sebuah alasan ? Semenjak Dyoza menyakiti ku, aku menutup hatiku dan kau yang membuka nya, lalu kau masuk dan aku memercayai mu untuk menempatkan dirimu di sini". Dengan kesal shenna memukuli dadanya dengan keras. Dyoza menahan shenna dan memeluknya erat namun shenna yang sedang di landa emosi pun mendorong kuat tubuh Dyoza hingga punggung nya membentur dinding cukup keras.

__ADS_1


"Tuan". Arkan membantu Dyoza berdiri


"Shenna aku bisa jelaskan, ini bukan seperti yang kau pikirkan!".


"Aku kira kau benar-benar mencintai ku dyo, ternyata aku terlalu terlena dengan sikap baik mu selama ini. Ternyata kau hanya mau menebus semua kesalahanmu saja".


"Shenna aku mencintaimu".


"AKU BILANG CUKUP!!!! dan kau tuan Arkan, sudah cukup kau berbuat semaunya tentang saya!!! jangan pernah ikut campur tentang saya. Jangan merasa kau adalah pahlawan".


Shenna berlari meninggalkan dua laki-laki yang kini menatapnya nanar, shenna tidak habis pikir bahwa dirinya seperti barang yang mudah di berikan pada orang lain.


Sebenarnya ia tidak perlu semarah ini bukan ? harusnya ia benar-benar mengerti posisi Arkan yang serba salah, karna sejujurnya Arkan melakukan ini pun karna terpaksa. Tuntutan dari ayahnya yang mengetahui perjanjian perjodohan antara shenna dan Dyoza sejak dulu.


"Tuan maafkan saya!".


"Bukan salah mu Ar, harusnya aku menjelaskan pada shenna tentang semua ini sejak awal".


"Mari tuan saya antar ke kamar".


Dyoza mengangguk pelan. Ia menyandarkan punggungnya saat sudah menaiki ranjang nya.


"Apa punggung tuan terasa sakit ?".


"Tidak apa-apa, kau pulanglah dulu! aku akan bicara pada shenna setelah ia sudah tenang".


"Baik tuan, saya permisi. selamat beristirahat".


Dyoza menarik nafas panjang, akhir-akhir ini perasaan senangnya hilang begitu saja dengan kejadian hari ini.


"Kau pasti sedang menangis sekarang". Ucap Dyoza lesu

__ADS_1


"Dari mana aku mulai menjelaskan nya, huffff. Maafkan aku shenna".


Dyoza meringis menahan sakit di punggung nya, ia pun memejamkan mata berharap besok shenna sudah bisa menghadapinya dengan kepala dingin.


__ADS_2