Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Ungkapan yang tidak ditanggapi


__ADS_3

Shenna mendapat tugas melayani Dyoza untuk sementara sampai Daniel sembuh, karna kepala pelayan lah yang akan menjaga dan melayani Daniel. Ia sangat khawatir pada ponakannya yang satu ini.


"Bi harusnya shenna saja yang melayani ku, lagi pula aku baik-baik saja". Ucap Daniel protes.


"Kau tidak senang bibi yang menjagamu ?". ujar nya sedih


"Duhhh bagaimana ini ?".


"Bukan begitu Bi". Daniel gelagapan melihat bibi kesayangannya nampak sedih karna ucapannya itu. "Aku hanya tidak mau bibi lelah".


"Ah alasan yang bagus."


"Justru bibi dengan senang hati mengurusmu, sudah jangan banyak tingkah. Sekarang makan dan minumlah obatmu, bibi tinggal dulu."


"Hufffff". Daniel benar-benar tidak bersemangat.


Sedangkan di dalam kamar Dyoza, shenna sedang merapikan pakaian yang sudah ia bawa dari ruang laundry.


"Apa masih banyak ?". Ucap Dyoza


"Kenapa ?". Jawab shenna tanpa mengalihkan pandangannya. "Kenapa kau belum mandi ?".


"Maaf ya aku membuat mu repot lagi, karna Daniel sakit kau jadi melayani ku". Dyoza memasang wajah sedihnya, padahal sumpah demi apapun Dyoza sangat senang shenna kembali melayaninya walaupun hanya sementara.


"Kau ini bicara apa ? ini sudah menjadi tugas ku. jadi, jangan pasang wajah sedih seperti itu". Shenna mendekati Dyoza dan meyakinkan nya.


"Apa kau nyaman melayani ku ?".


"Asal kau bersikap baik aku akan sangat nyaman". Shenna tersenyum manis membuat Dyoza terpaku menatap nya.


"Sudah sana mandi, kau bau keringat". Shenna menutup hidung nya dan berjalan ke ruang pakaian.


Dyoza mendengus tubuhnya sendiri memastikan apa yang di katakan shenna itu benar.


"Hehe sedikit". Dyoza pun masuk ke dalam kamar mandi dan ia keluar lagi. "Tolong bawa makan malam ke kamar ya shenn, aku malas turun". Titahnya.


"Baiklah". Teriak shenna.


20 menit kemudian shenna kembali masuk dengan membawa nampan berisi makanan, ia meletakkan di atas meja. Tidak lama kemudian Dyoza muncul dengan keadaan sudah memakai pakaian yang shenna siapkan.


"Makanlah!". Shenna mendekati pintu.


"Kau mau kemana ?".


"Aku akan keluar, aku sudah selesai".


"Kemarilah temani aku makan". Ucapnya memegang sendok.


Shenna mengerutkan alisnya, ia heran dengan sikap Dyoza akhir-akhir ini.


Melihat shenna terdiam, Dyoza pun kembali memerintah.


"Kenapa diam, kemari!".


"Baik, yasudah cepat makan." Shenna duduk dan mengambil buku yang tergeletak di atas meja di depan nya untuk ia baca.


Dyoza makan tanpa berbicara sedikit pun, hanya suara dentingan sendok. Matanya tidak lepas dari wajah shenna.


"Kenapa shenna semakin cantik".


Shenna masih fokus pada buku yang ia pegang, membolak-balik setiap lembarnya. Ia melihat Dyoza yang masih asyik makan, shenna bingung kenapa Dyoza lama sekali makannya.


"Kau belum selesai ?". Ucap nya seraya menutup buku.


Dyoza hanya menggeleng pelan, ia sengaja makan dengan lambat karna ingin berlama-lama dengan shenna.


"Baiklah cepat habis kan! aku sangat mengantuk". Ujarnya sembari menyandarkan tubuhnya.


Shenna memejamkan matanya, tanpa terasa ia sudah memasuki alam mimpi.


Tidak lama kemudian Dyoza selesai makan dan melihat shenna yang sudah terlelap.


Dyoza memperhatikan shenna yang begitu lelap, ia pun menyunggingkan senyum nya.


"Kenapa wajah mu begitu teduh "?. Dyoza merapihkan rambut shenna yang sedikit menutupi wajahnya.


Dyoza mendekatkan wajahnya hingga jarak yang sangat dekat, ia memandang wajah teduh itu. Detak jantung Dyoza bergejolak.


Shenna membuka matanya, ia terkejut melihat jarak di antara dirinya dan Dyoza. Shenna dan Dyoza saling menatap lama, shenna tersadar dan mendorong Dyoza dengan sangat keras.


Bruggggg


"Awww". Dyoza terlempar, pinggangnya membentur meja cukup keras.


"Dyoza!!!". Pekik shenna terkejut. Shenna pun beranjak dan membantu Dyoza yang sedang menahan sakit di pinggangnya.


"Dyoza maafkan aku, aku tidak sengaja". Panik, itulah yang shenna rasakan saat ini.


"Pinggang ku shenna, pinggang ku". Dyoza meringis.

__ADS_1


"Yang mana ? ini ?".


"Awwww jangan kau sentuh, itu sakit sekali". Dyoza teriak karna shenna menyentuh pinggang yang terbentur meja.


"Maaf, maaf aku kan tidak tahu. Coba aku lihat ya". Shenna menyibak baju Dyoza dan melihat pinggang Dyoza, benar saja ia melihat pinggang Dyoza memar dan sedikit lecet.


"Astagaaaaaa, Dyoza ayo kerumah sakit! lukamu parah".


"Tidak usah, panggilkan bibi dan tolong beritahu dia untung menghubungi dokter Tirta." Titahnya menahan sakit.


"Baiklah! tapi ayo bangun, kau jangan duduk di lantai." Shenna memapah Dyoza dan membantu nya duduk di sofa.


"Sebentar ya, aku keluar dulu". Shenna bergegas menemui kepala pelayan.


--


Di dalam kamar, Dyoza sedang di periksa oleh dokter pribadi keluarga nya di temani bibi hanum. Ia melihat pinggang Dyoza memar, sedikit lecet dan bahkan sudah sedikit membengkak.


"Sebenernya kau melakukan apa sampai Seperti ini ?". Tanya dokter Tirta heran.


"Aku hanya terpeleset dan membentur ujung meja".


"Apa lantai mu sangat licin sampai kau terpeleset seperti itu ?". Sambung nya masih heran.


"Kau ini kenapa cerewet sekali, sudahlah obati saja itu dan jangan bertanya lagi". Ujarnya ketus seraya menahan sakit.


Shenna membawa nampan berisi jus jeruk serta cemilan untuk Dyoza dan dokter Tirta.


"Silahkan di minum dokter Tirta". Ucapnya meletakkan nampan.


"Terimakasih ya". Dokter Tirta pun mengambil gelas berisi jus dan meminumnya.


"Aku bingung kenapa 2 keponakan ku ini bisa sakit berbarengan, aku jadi sedih". Ucap bibi Hanum


"Jangan sedih bi, 2 keponakan mu itu laki-laki kuat". Ujar dokter Tirta.


"Ya kau benar, ohh iya bagaimana kabar istri dan anakmu ?". mengalihkan pembicaraan.


"Mereka baik bi, anakku sudah bisa berjalan". Ujar dokter Tirta berbinar.


"Wahhh pasti sangat menggemaskan sekali, aku sangat ingin menggendongnya. Kapan-kapan bawalah anak dan istri mu kesini ya!".


"Baiklah bi, nanti aku akan membawanya."


Shenna yang mendengar obrolan mereka hanya tersenyum dan seperti merasakan kebahagiaan dokter Tirta.


"Apa-apaan mereka, kenapa jadi mengabaikan ku". Dyoza memasang wajah kesal.


"Mulai lagi kan".


"Aku lebih tampan darinya bi". Ucapnya ketus.


"Tapi kau jomblo". Dokter Tirta seperti menabur garam di atas luka, memancing kemarahan Dyoza.


"Kau!! Awwww". Dyoza memekik kesakitan memegang pinggang nya saat hendak bangun dari duduknya.


"Makanya jangan banyak bergerak, kau ini nakal sekali". Bibi hanum marah-marah. Dokter Tirta hanya mengulum bibirnya menahan gelak tawanya. "Shenna untuk sementara waktu kau layani Dyoza sampai ia sembuh ya!! kalau dia susah untuk minum obat kau lapor padaku". Titar bibi Hanum.


"Ba,baik kepala pelayan".


Dyoza menyembunyikan senyum kebahagiaan nya, namun ada sosok yang mengetahui raut kebahagiaan itu. Dokter Tirta. Ia pun memicingkan matanya curiga.


"Sepertinya si jomblo ini menyukai pelayan nya sendiri".


Pagi menjelang...


Shenna membawa sarapan ke kamar Dyoza.


"Selamat pagi". Ucap Dyoza menyapa.


Dyoza yang baru saja bangun pun menjawab dengan suara serak sambil mengucek matanya yang sedikit buram.


"Makanlah sarapan mu, dan ini obatnya".


"Tapi, aku mau ke kamar mandi dulu".


"Kau bisa berjalan ?".


"Yang sakit pinggang ku, bukan kakiku". Jawab nya ketus.


"Kenapa galak sekali, aku kan hanya bertanya ?".


"Masih pagi, jangan membuat ku kesal".


"Eh kenapa marah coba". Shenna membatin.


Saat Dyoza masuk ke dalam kamar mandi, shenna memilih untuk meninggalkan kamar majikannya itu.


Shenna menuruni anak tangga lalu ia berpapasan dengan Arkan yang akan melihat kondisi Dyoza sebelum berangkat ke kantor.

__ADS_1


"Selamat pagi shenna". Ucap Arkan menyapa.


"Selamat pagi tuan". Shenna tersenyum dan segera berlalu.


Arkan menatap punggung shenna yang semakin menjauh, rasanya sekarang seperti ada dinding besar di antara mereka.


Tok tok tok....


"Masuk".


"Permisi Tuan".


"Ar, masuklah. Kau sudah sarapan ?".


"Sudah tuan, maaf saya menganggu sarapan Anda. Bagaimana ke adaan tuan ?".


"Ya begitulah, pinggang ku sakit sekali. Kau tidak apa-apa kan ke kantor sendirian ?".


"Tidak masalah tuan, tuan istirahat saja biar urusan kantor saya yang mengerjakan".


"Terimakasih ya!".


"Tidak perlu sungkan tuan, ini sudah menjadi tanggung jawab saya. Baiklah saya permisi tuan, semoga lekas sembuh". Dyoza mengangguk dan melanjutkan sarapan nya.


--


"Aku sudah siapkan air untuk mandi, kau mau mandi sekarang ?". Ucap shenna lembut.


"Iya, aku mau mandi".


Shenna mendekat dan membulatkan matanya karna sarapan Dyoza tidak di habiskan.


"Kenapa sarapan mu tersisa banyak, kalau kepala pelayan tahu kau akan di marahi". Ucap shenna


"Yang di marahi kan aku, kenapa kamu yang histeris begitu ?". Jawab Dyoza santai.


"Kau yang di marahi tapi aku yang di cap tidak bisa bekerja dengan baik, cepat habiskan!". Kata shenna sedikit kesal.


"Aku tidak mau, aku kenyang."


"Ayolah Dyoza, habiskan sarapan mu!". Shenna mulai merengek.


"Kenapa kau jadi seperti Daniel, merengek seperti itu". Dyoza mengernyit heran.


"Aku tidak peduli, cepat habiskan".


"Aku tidak mau!". Dyoza menekan setiap ucapannya.


Shenna menarik Dyoza menuju tempat tidurnya.


"Duduk!!". Setelah Dyoza duduk dengan benar, shenna mengambil piring dan menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Dyoza.


"Aaaaaaa cepat buka mulut mu!". Shenna menunggu Dyoza membuka mulutnya dengan tangan menggantung.


Dyoza menatap shenna dengan wajah terkejut namun di hatinya sedang melompat-lompat kegirangan.


"Cepat!!!". Bentaknya gemas.


Seperti anak kecil yang di marahi ibunya, Dyoza pun menjadi penurut. Bahkan Dyoza sangat lahap menghabiskan sarapannya, tentu saja karna Shenna menyuapinya.


"Shenna". Panggil Dyoza memecah keheningan


"Kenapa ?". Jawab shenna.


"Kau mau tidak jadi pacarku lagi ?". Shenna membulatkan matanya mendengar ucapan dyoza. Lalu ia menggeleng kepalanya kesal.


"Jangan karena aku menerima mu sebagai temanku lalu kau bercanda seperti ini, ini tidak lucu!". Ucap shenna datar.


"Aku tidak bercanda, sepertinya aku menyukaimu". Tegas Dyoza meyakini.


"Cukup Dyoza!! apa kau lupa dulu kau juga berkata seperti ini padaku?".Ujarnya masih dengan wajah datar


"Benarkah ?". Ucapnya menaikkan satu alisnya


"Ah, tentu saja kau lupa. Karna kata-kata ini berlaku untuk semua wanita yang menjadi mangsa mu sewaktu sma". Shenna tersenyum smirk.


"Tapi, aku benar-benar tidak bercanda". Dyoza frustasi.


"Sudahlah!!! kau mandi sana, aku mau melihat Daniel untuk mengecek keadaan nya". Shenna keluar membawa mangkuk yang isinya sudah ludes.


"Shenna aku serius!! shenna berhenti! hey bodoh, aku tidak bercanda. Arrrggghhhh!!!". Dyoza kesal sendiri karna shenna benar-benar tidak menanggapinya, ia menjambak sendiri rambutnya dengan geram. Sedangkan yang di panggil tidak memasang telinga untuknya.


--


--


--


**Sebenernya mau up agak lama, tapi apa daya diri ini pun tak sanggup. Jadi, aku akan tetap up seperti biasa dan sesempat nya .. Jangan lupa tetap ramaikan komentar dan jangan lupa juga like nya , jika bersedia boleh kasih hadiah dan vote nya ... Terimakasih untuk antusias nya selama ini🥰🥰

__ADS_1


Boleh juga dong rekomen novel ku ini ke teman-teman kalian, nuhun 🙏🙏


Follow IG : intanpermata0606**


__ADS_2