Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
kedatangan Daniel


__ADS_3

Daniel menatap langit-langit kamar, seperti nya hari ini ia benar-benar akan dirumah. Kehidupan nya yang ia jalani saat ini seolah-olah di selimuti oleh warna abu-abu.


Betapa tidak, sosok wanita yang selama ini ia rindukan lah yang mengubah semua warna itu. Ya, kalya. Kalya lah yang selama ini ia rindukan.


"Apa kau benar-benar semarah itu kal ?." Ucapnya lirih


Ia berguling ke kanan dan ke kiri. Sekelebat bayangan wajah kalya muncul di pikiran nya. Ia mengepalkan dua tangannya, tanda menyemangati diri nya untuk berani menemui kalya.


Tidak butuh waktu lama Daniel sudah bersiap dan segera ia menyambar kunci mobil nya.


.


.


.


Suara pintu berbunyi, kalya yang sedang duduk sambil menonton tv pun mengerutkan keningnya.


"Siapa ya ?." Gumamnya


Kalya tidak bekerja hari ini, sudah beberapa hari ia lembur dan telat makan akhirnya ia merasa tidak enak badan dan dengan berat hati meminta izin pada bara untuk tidak bekerja.


Kalya membuka pintu dan betapa terkejutnya ia melihat Daniel yang sedang menyengir kuda di hadapannya.


Tanpa basa-basi kalya hendak menutup pintu lalu dengan sigap Daniel menahannya lalu masuk ke dalam rumah tanpa seizin pemilik nya.


"Tuan Daniel apa yang kau lakukan ?." Ucap kalya sedikit lemas.


"Kalya dengarkan aku dulu!."


"Keluar!!!!." Teriak kalya


"Tidak!."


Kalya kembali terkejut karna Daniel menolak keras dengan wajah serius.


"Kalya dengarkan aku dulu, aku minta maaf."


"Tuan Daniel aku tidak punya waktu untuk membahas hal yang tidak penting."


"Tapi ini penting kal, sangat penting."


Kalya memejamkan matanya, tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pening. Ia memijat keningnya. Daniel pun memperhatikan setiap gerakan yang kalya lakukan dan Daniel tersadar wajah kalya begitu pucat.


"Kal apa kau sedang sakit ?."


Daniel menyentuh kening kalya dengan cepat di tepis oleh kalya. Saat kalya hendak berjalan melewati Daniel dengan cepat Daniel menangkap tubuh kalya yang sedikit terhuyung.


"Kalya kau tidak apa-apa?." Ucapnya khawatir


"Lepaskan saya tuan!."

__ADS_1


Daniel pun melepas namun tetap siaga. Kalya pun duduk sambil memijat kepalanya yang terasa pusing. Tubuhnya begitu lemas dan ia tidak akan sanggup mengusir Daniel saat ini.


"Kalya mau ku antar ke rumah sakit ? wajahmu pucat."


Kalya menggeleng kepala tanpa melihat Daniel.


"Kau mau istirahat ?."


Tanpa menjawab kalya pun merebahkan tubuhnya di sofa. Ia memejamkan matanya. Daniel hanya diam memperhatikan kalya serta obat-obatan yang ada di atas meja. Kalya memang sudah sempat berobat setelah meminta izin pada bara. Bara yang menawarkan diri untuk mengantar pun di tolak mentah-mentah oleh kalya.


Cukup lama kalya tertidur dan Daniel pun dengan setia menunggu. Ia sudah membeli beberapa makanan untuk kalya, serta buah-buahan segar.


"Seperti nya efek obat yang kau minum begitu kuat." Gumam Daniel.


Daniel mendekati kalya, ia tatap wajah pucat itu namun masih terlihat cantik. Ia tersenyum menatap wajah itu, seandainya ia dulu tidak melakukan kesalahan mungkin saat ini wajah itu sedang tersenyum saat melihat dirinya.


"Aku benar-benar merindukan mu kalya."


Daniel mencium kening kalya dengan lembut ia memejamkan matanya seperti mengalir kan rasa rindunya pada kalya. Entahlah, tapi rasanya Daniel begitu nyaman pada posisi saat ini.


.


.


.


Kalya terbangun dari tidurnya, ia mengerjap dan seperti mengingat sesuatu. Benar saja ia tersentak saat melihat Daniel sedang tertidur di sofa sebelah nya.


"Untuk apa dia kesini, kenapa di saat aku sakit begini. Seharusnya aku tetap bekerja. Hmm aku haus."


Saat kalya hendak berjalan kakinya menyenggol meja dan menimbulkan suara. Tanpa kalya sadari Daniel pun terbangun.


Setelah selesai melepas dahaga Kalya begitu terkejut saat berbalik Daniel sudah ada di hadapannya.


"Astaga." Ucap kalya mengelus dadanya.


"Kau baik-baik saja ?."


"Tu,tuan kenapa kau kemari ?."


"Kalya aku minta maaf."


"Aku sudah memaafkan mu, jadi sekarang pergilah."


"Tidak!."


"Kenapa tidak ????." Kalya mulai frustasi


"Karna aku tau, kau tidak benar-benar memaafkan ku."


"Lalu apa yang harus aku lakukan ? Aku benar-benar sudah memaafkan mu tuan, bahkan aku sudah tidak peduli dengan kejadian itu. Jadi aku mohon pergilah sekarang juga, kau menganggu ku yang sedang sakit."

__ADS_1


Daniel mendekat dan kalya pun mundur perlahan tanpa ia sadari tubuhnya sudah membentur tembok.


"Kal..."


Kalya hanya menatap mata Daniel yang begitu tajam melihat nya.


"Tu,tuan apa kau bisa mundur ?."


"Tidak!! aku akan pergi jika kita berdamai."


Daniel semakin merapatkan tubuhnya, kini posisi mereka begitu dekat. Bahkan tubuh kalya kini berada di antara kedua tangan Daniel. Kalya menundukkan wajahnya ke samping. bahkan kini nafas Daniel seperti meniup daun telinga kalya.


"Tuan ku mohon jangan begini."


"Kenapa, kau gugup ?."


Suara Daniel begitu menyebalkan di telinga kalya, ia benar-benar ingin menendang kaki Daniel tapi apa daya ia pun tidak berani.


"Apa mau tuan ?." Akhirnya ia menyerah


"Aku mau kita berdamai."


"Berdamai yang seperti apa maksud tuan ?."


"Panggilan mu."


"Ma, maksud nya ?."


"Bukankah kau memanggil ku kakak, kenapa sekarang berubah ?."


"Dari awal aku memang memanggil mu tuan, lalu berubah menjadi kakak karena aku pikir kau tulus ingin berteman dengan ku. tapi..."


"Maaf kalya." Ucap Daniel memotong


"Aku salah, aku yang salah. Aku benar-benar minta maaf. Kau tau betapa gelisah nya aku saat kau mengetahui hal itu, aku salah. Aku salah kalya, aku minta maaf." ucapnya lembut


Kalya mencoba untuk melihat mata Daniel, ia ingin melihat apakah Daniel benar-benar tulus meminta maaf padanya. Ia tidak ingin kembali di bohongi oleh Daniel.


Daniel menatap lekat mata kalya, ia begitu rindu pada wanita di hadapannya saat ini. Ia benar-benar berharap semoga kalya mau memaafkan nya dan berdamai. Ia ingin seperti dulu dekat tanpa jarak.


Kalya kembali menunduk.


"Bisakah kita bicara tidak dengan posisi seperti ini ?."


Daniel yang tersadar pun memberi ruang pada kalya.


"Maaf, ayo duduk di sofa."


Kalya pun mengangguk pelan.


Akhirnya merekapun bicara dengan posisi berhadapan dan saling meminta maaf satu sama lain. Ada yang berdesir di hati kalya seperti nya rasa gelisah yang kalya rasakan juga mulai berkurang, sebenarnya kalya juga merindukan hari-hari bersama Daniel seperti dulu. Tapi, mulai saat ini kalya akan memberi jarak dan sikap waspada agar ia tidak kecewa dengan Daniel untuk kedua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2