Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Kekhawatiran Dyoza


__ADS_3

Shenna tertidur di dalam mobil, pesta reuni malam ini sangat melelahkan baginya. Arkan yang fokus menyetir sedikit melirik ke kaca spion memastikan shenna tidur dengan posisi yang nyaman.


Dyoza hanya terdiam, sesekali memejamkan matanya.


"Tuan Dyoza mengantuk ?."


Ucap Arkan.


"Ya, sedikit Ar. Tadi aku lumayan banyak minum."


"Tidurlah Tuan!."


Tanpa menjawab Dyoza hanya mengangguk dan mengambil posisi nyaman untuk sedikit memejamkan matanya.


.


.


.


"Tuan kita sudah sampai."


Arkan menggoyang lengan Dyoza.


Dyoza mengerjapkan matanya, kepalanya sedikit pening. Arkan membukakan pintu untuk Dyoza.


"Shenna bagaimana ?."


"Tuan tidak perlu khawatir, saya akan membangunkannya."


"Baiklah!."


Dyoza masuk ke dalam menuju kamar.


Arkan membuka pintu belakang mobil dan menatap wajah shenna yang masih setia dengan tidurnya.


Ia tersenyum memandang wajah tenang itu.


"Shenna."


"Kenapa nyenyak sekali."


Arkan tidak tega membangunkannya, ia memilih untuk mengangkat shenna.


Shenna sudah terbaring dengan posisi yang nyaman, Arkan dengan hati-hati melepaskan pelukannya di tubuh shenna dan segera keluar.


Saat Arkan hendak keluar shenna membuka matanya.


"Tuan."


"Kenapa kau terbangun ?."


Shenna mengedarkan pandangannya.


"Kenapa tiba-tiba aku berada dikamar ?."


"Maaf aku tidak tega membangunkan mu, jadi aku mengangkat mu kesini."


"Tidak apa-apa tuan aku yang seharusnya meminta maaf karna sudah merepotkan mu."


"Tidak shenna."


Arkan mengusap pucuk kepala Shenna.


Shenna terdiam, detak jantung nya berdesir karna sentuhan tangan Arkan di kepala shenna.


"Kau senang malam ini ?."


"Tentu, terimakasih Tuan."


Senyum manis pada Arkan.


"Kenapa berterima kasih pada ku ?."


Bingung.


"Karna Tuan selalu di samping ku malam ini. melindungiku dari teman-teman yang tidak menyukaiku, Jadi aku sangat bersyukur karena tuan ada di sisiku."


"Begitukah ?."


Shenna mengangguk.


"Berarti kau harus membayarnya."


Senyum menyeringai.


"Ma, maksud Tuan ?."


Shenna mulai berfikir.


"Ya, kau harus membayarnya untuk malam ini."


"Bagaimana dengan makan malam ?."


seru Shenna.


"Sepertinya menyenangkan."


Arkan berbinar.


"Tuan mau makan malam bersamaku di restoran apa ? ingat ya tuan jangan restoran mahal, gajihku nanti habis semuanya."


"Hahahah kau ini ada-ada saja, tidak perlu di restoran. Kita makan di apartemen ku saja, kau yang memasaknya sendiri untukku! bagaimana ?."


"Serius ?."


Melebarkan matanya.


"Kenapa kau melotot, apa yang ada di dalam fikiran mu ini ?."


Arkan menunjuk kening shenna.


Shenna menyengir ria.


"Dasar mesum."


"Ih siapa yang mesum, aku hanya tidak menyangka saja Tuan ingin memakan masakan ku sendiri. Apa kau tidak takut rasanya akan tidak enak ?."


"Kita lihat saja nanti, Minggu ini jam 17.00 aku akan menjemputmu. Tunggulah!."


"Baiklah!."


.


.


.

__ADS_1


.


Dyoza sudah memejamkan mata sejak ia masuk ke dalam kamarnya, tanpa melepas sepatunya ia sudah tertidur dengan nyenyak.


Arkan masuk berniat memastikan dyoza tidur dengan benar, ternyata benar dugaannya Dyoza tidur berganti pakaian. Ia segera melepaskan sepatu Dyoza, dan melepas pakaian yang masih menempel di tubuh Dyoza.


"Ar."


"Saya tuan."


"Kenapa kau menganggu tidurku."


Ucapnya serak.


"Maaf tuan, saya hanya berniat mengganti pakaian Tuan."


Dyoza mengambil baju tidur nya dan segera mengganti dengan malas dan masih dengan mata yang enggan membuka.


"Saya permisi Tuan, silahkan lanjutkan kembali tidur nya."


"Terimakasih Ar."


"Tidak perlu sungkan Tuan."


Arkan keluar dari kamar Dyoza dan memilih untuk pulang ke apartemen nya, ia juga lelah dan butuh istirahat.


 


"Shenna kau suka membaca buku ?."


Dyoza penasaran.


"Iya tentu saja, kenapa Tuan ?."


Fokus merapikan buku.


"Ah tidak, aku hanya bertanya saja."


Tidak mendengar jawaban Dyoza memperhatikan shenna yang sedang memunggunginya.


"Maaf ya menganggu libur mu."


Shenna menoleh pada Dyoza.


"Tidak apa-apa Tuan."


Senyum manis.


"Kau tenang saja, uang lembur mu akan aku transfer hari ini juga."


"Iyaa tuan, terimakasih sudah memberikan saya lembur kerja."


berbicara tanpa menoleh pada Dyoza.


Dyoza masih menatap punggung shenna.


Seperti ada hal yang ingin ia bicarakan lagi, namun rasanya ia ragu.


"Shen".


"Ya."


Menoleh


"Mmmmhhh selama putus denganku apa kau mempunyai kekasih lain ?."


Shenna terdiam, kenapa Dyoza senang sekali membahas masa lalu dengan nya, pikir shenna.


"Kenapa kau diam ?."


"Kenapa kau selalu membahas masalah itu ?."


Mendengus kesal.


"Kenapa, aku kan hanya bertanya ?."


Dyoza menggaruk kepalanya.


"Cepatlah jawab, aku hanya ingin tahu saja!."


"Tidak penting sekali keingintahuan mu itu."


menjawab cuek.


"Ini sangat penting."


"Penting apanya ? itu pertanyaan konyol."


"Kau bilang konyol ?."


Dyoza meninggikan suara.


"Iya, kenapa ?."


menantang


"Kau."


Tok..tok..tok


"Permisi Tuan."


"Masuklah Ar."


Titah Dyoza.


Shenna melirik Arkan sebentar dan melanjutkan kegiatannya.


"Apa Sudah selesai ?."


Ucap Arkan pada shenna.


"Belum Tuan, ini masih banyak sekali buku yang harus saya tata."


"Ar, bantu shenna untuk meletakkan kembali buku-buku ini. Aku ingin mengerjakan sesuatu sebentar."


"Baik Tuan." Dengan senang hati."


Dyoza fokus pada laptop nya saat ini, tanpa menghiraukan shenna dan Arkan. Entah sedang mengerjakan apa hanya Dyoza dan Tuhan yang tahu.


"Yang ini kau letakkan di rak paling pojok ya!."


Ucap Arkan.


"Baik Tuan."


Shenna menuruti perintah Arkan, ia segera membawa buku yang sudah Arkan tumpuk menjadi satu agar shenna lebih mudah menatanya.

__ADS_1


sudah hampir satu jam Shenna dan Arkan merapikan buku-buku koleksi Dyoza, begitu banyak buku-buku yang di miliki Dyoza.


Ruang perpustakaan pribadi milik Dyoza tentu begitu besar, rak buku yang menjulang tinggi membuat shenna lelah karna harus Turun naik tangga khusus mengambil dan menata buku di rak paling atas. Sebab, tubuh mungil shenna tidak akan bisa menjangkau tanpa menaiki tangga, berbeda dengan Dyoza dan Arkan yang memiliki tubuh tinggi yang hanya dengan berjinjit bisa mengambil buku yg letaknya jauh menurut shenna.


"Kau kesulitan ?."


"Sedikit."


Masih fokus menata.


"Mau ku gantikan ?."


"Tidak perlu! sebentar lagi selesai."


Saat shenna hendak turun, injakan kakinya tidak sempurna membuat ia terpeleset hendak terjatuh.


"Ah".


Arkan yang melihat nya pun dengan cekatan memeluk shenna, mereka terjatuh bersamaan dengan tangga yang menumpu tubuh Arkan.


Shenna menutup kedua matanya.


"Aww."


Arkan menahan sakit punggung nya yang tertimpa tangga.


Shenna melebarkan matanya melihat wajah Arkan yang menahan sakit, shenna kini di bawah Arkan dengan posisi yang sangat intim.


"Tuan."


Mata mereka saling menatap, Arkan yang masih menahan tubuhnya agar tidak menindih shenna pun masih terlihat menahan sakit di punggung nya.


"Kau tidak apa-apa shenna ?."


Khawatir.


Shenna menggeleng pelan, sungguh pemandangan indah bagi shenna menatap wajah Arkan sedekat ini.


Mereka masih setia di posisi yang sama dengan tangga yang masih menempel di punggung Arkan. entahlah, saat ini sepertinya waktu berhenti secara tiba-tiba, Arkan seperti tidak merasakan sakit akibat tertimpa tangga. yang ia rasakan saat ini detak jantung nya berdetak begitu hebat.


"Kalian kenapa berisik seka..


Dyoza datang mendengar suara gaduh.


"Arkan shenna."


Dyoza menghampiri mereka sedikit berlari dan mengangkat tangga yang menimpa Arkan, sedikit berat akhirnya Dyoza berhasil menyingkirkan nya.


Arkan berdiri dan membantu shenna, ia menggerakkan bahunya yang terasa nyeri.


"Kalian kenapa bisa tertimpa tangga ?."


Dyoza khawatir.


"Maaf kan saya tuan, tadi saya hampir terjatuh dari tangga tapi untung lah ada tuan Arkan yang menolong saya. Maafkan saya tuan Arkan sudah membuat anda celaka."


Ucap shenna lirih dan khawatir.


"Sudahlah tidak perlu minta maaf, hanya sedikit sakit."


"Ar buka baju mu, aku ingin lihat punggung mu apakah luka ?."


Seru Dyoza tidak sabaran.


"Tidak apa-apa Tuan."


Menolak Secara halus.


"Cepatlah jangan membuat ku mengulang kata."


Dyoza kesal.


Tanpa menunggu lama Arkan pun membuka bajunya tanpa melihat ekspresi wajah shenna yang bersemu merah, tapi shenna juga penasaran.


"Kau gila berkata ini hanya sedikit sakit, lihatlah ini merah dan memar. Ikut ke kamar aku akan panggil kan dokter untukmu."


"T,tapi Tuan."


"Jangan membantah ku Ar. shenna ikut aku!."


Dyoza keluar dari ruang perpustakaan menuju kamarnya di ikuti shenna dan Arkan.


Shenna meremas kedua tangannya, ia begitu khawatir dengan keadaan Arkan terutama ia takut Dyoza akan menyalahkan nya.


Arkan yang sadar tangan shenna gemetar ia pun mencoba untuk menenangkan shenna.


"Shenna jangan takut, aku baik-baik saja. Tenanglah!."


Shenna menatap shenna dan tanpa sadar ia meloloskan air matanya, Arkan yang melihat shenna menangis hanya menahan gejolak hatinya untuk memeluk shenna. Ia menahan itu karena di dalam kamar Dyoza tidak hanya shenna dan dirinya. Shenna mengusap air matanya seketika.


"Ar duduklah! aku sudah menghubungi dokter keluarga."


Titah Dyoza yang muncul dari ruang pakaian.


"Baik Tuan."


"Shenna."


"I,iya Tuan."


Menunduk.


"Ikut aku!."


Tanpa menunggu Dyoza keluar dari kamar di ikuti shenna, Arkan hanya memandang punggung shenna hingga lenyap dengan pintu yang tertutup.


Arkan menggigit kuku jarinya, khawatir Dyoza menghukum shenna.


Dyoza dan shenna sudah berada di ruang kerja, mereka berdiri masih membelakangi shenna dan saat Dyoza menghadapnya shenna panas dingin melihat wajah Dyoza yang tidak bisa di tebak saat ini.


"Shenna, kau....


"Maafkan saja Tuan, saya sungguh tidak sengaja mencelakai tuan Arkan. Saya hampir jatuh dan saya tidak tahu ternyata tuan Arkan melindungi saya dengan tubuhnya. Saya mohon maaf saya, jangan pecat saya! saya mohon."


Pipi shenna sudah basah di banjiri oleh air matanya, ia takut dan gemetar. Ia khawatir dengan keadaan Arkan dan takut pula akan kemarahan Dyoza karna sudah membuat orang yang terpenting di hidup Arkan terluka.


"Shenna, aku....


"Maafkan saya tuan, maafkan sa....


Shenna membungkam ketika dengan tiba-tiba Dyoza memeluk shenna dengan erat. Dyoza membenamkan wajahnya di leher shenna, ia menghirup aroma tubuh shenna. Sesungguhnya Dyoza pun sangat khawatir dengan shenna, niatnya membawa shenna ke ruang kerja hanya ingin bertanya keadaan shenna.


"Aku hanya mengkhawatirkan mu, aku tidak akan memecat mu."


Ucap Dyoza lirih.


Shenna membeku, ia tidak membalas pelukan Dyoza namun tidak pula menolak perlakuan Dyoza. Ia hanya memejamkan matanya, menangis mengeluarkan air matanya dengan terisak.

__ADS_1


Dan Dyoza berkata


"Boleh minta like nya ?." 🥰🥰🥰


__ADS_2