Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Meminta kepastian


__ADS_3

Arkan tampak murung, ia turun dari tangga saat hendak ingin masuk ke kamar Dyoza ia mengurungkan niatnya. Ia mendengar semua apa yang terjadi di dalam kamar barusan.


"Benar dugaan ku, aku melakukan kesalahan besar." Arkan memijat keningnya saat ia duduk di kursi taman belakang. "Seharusnya aku tidak secepat ini mengambil tindakan, Bagaimana ini ?." memangku wajah dengan kedua tangannya, Tatapannya kosong.


Shenna berlari menuju kamar nya sambil mengusap air mata yang membanjiri pipinya.


"Ada apa dengan nya ? kenapa dia semarah itu ?". Shenna begitu sedih.


Arkan yang sedang termenung pun sadar melihat shenna yang berlari sambil menangis, ia memejamkan erat matanya. Rasanya ia ingin sekali berteriak sekuat tenaga melihat sang kekasih menangis.


Saat Arkan hendak menghampiri shenna, Arkan terhenti mendengar kepala pelayan memanggil nya.


"Tuan Arkan, Tuan Dyoza menunggumu di ruang kerja." Ucapnya seraya tersenyum


"Baik kepala pelayan." Arkan bergegas menuju ruang kerja dengan tergesa-gesa.


Tok tok tok...


"Masuk".


Arkan membuka pintu setelah mendengar perintah dari Dyoza, ia pun segera mendekati nya.


"Duduklah Ar, aku ingin bicara padamu." Dengan wajah datar Dyoza memandang Arkan.


"Tuan butuh sesuatu ?". Ujarnya menatap ragu.


"Mulai hari ini aku minta kau buatkan jadwal pekerjaan untuk Shenna".


"Maksud tuan ?." Pura-pura tidak mengerti. "Apa shenna di pindah tempat kan ?."


"Tidak! ia tetap bekerja mengurus semua kebutuhan ku, hanya saja sedikit di rubah jam kerjanya. Aku mau shenna bekerja tanpa aku melihatnya, karna aku tidak mau di ganggu oleh siapapun mulai hari ini." Ucapnya sedikit menekan.


"Baik tuan, saya akan mengatur semuanya." Arkan tersenyum. "Apa kau benar-benar menghindari Shenna tuan ?."


"Baiklah kalau begitu, ayo berangkat!." Sembari berjalan.


"Baik Tuan". mengekor.


 


Shenna sudah melakukan pekerjaan tanpa melihat majikannya, semua pekerjaan yang ia lakukan sudah memakai jadwal baru yang di berikan oleh Arkan selaku kekasihnya.


Ia melihat jam di tangannya dan terbelalak.


"Astaga sebentar lagi Tuan Dyoza pulang, aku harus segera turun." Shenna mengambil baju kotor milik Dyoza dan segera keluar dengan tergesa-gesa.


Tak lama ia masuk ke ruang laundry dan memberikan pakaian kotor kepada pelayan yang bertugas, Dyoza dan Arkan tiba di sambut oleh Kepala pelayan dan beberapa Pelayan lainnya.


"Hufff untunglah". Shenna mengusap dadanya.


"Ar kau istirahat lah, hari ini aku ingin segera istirahat!." Ucapnya sebelum menaiki tangga.


"Baik tuan, saya permisi". Dengan hormat Arkan menundukkan kepalanya dan berlalu.


Saat Arkan menuju mobil shenna memanggil nya.


"Tuan". sedikit berlari menuju Arkan.


"Ya." Arkan sedikit menarik nafas sebelum menatap shenna.


"Kau mau pulang ?."


"Ya, pastinya. Kenapa ?". Ucapnya sedikit malas dengan mata menatap ke arah lain.


Shenna mengerutkan keningnya.


"Ah, tidak. Tidak apa-apa." Tersenyum paksa.


"Baiklah kalau begitu, aku permisi yaaa."


Arkan segera masuk kedalam mobil tanpa menunggu jawaban dari shenna.


Shenna hanya terdiam mematung melihat Arkan yang tiba-tiba terlihat dingin terhadapnya, shenna sadar dari lamunannya saat mobil sudah tidak terlihat dari pandangan nya.


"Ada apa dengannya ? biasanya selalu mengusap kepala ku."


Shenna menarik nafas dalam dan mencoba untuk tersenyum dan berpikir jernih.


"Mungkin dia sedang lelah." Shenna masuk ke dalam rumah dengan pikiran yang sedikit rumit.


 

__ADS_1


Shenna menatap langit-langit kamarnya, malam ini ada yang menggangu pikirannya entah apa itu. Ia sudah mencoba untuk memejamkan matanya karna besok ia akan bangun lebih pagi dari sebelumnya, permintaan Dyoza yang membuat nya sedikit kurang tidur beberapa hari ini.


"Ada apa denganmu shenna, kenapa kau jadi lemah begini. Tahan shenna, kau kuat , kau tidak boleh menangis, oke!". Shenna menutup matanya berusaha mengabaikan pikirannya yang berkecamuk.


Sudah seminggu berlalu dari kejadian Arkan yang tiba-tiba bersikap dingin, shenna sepakat dengan dirinya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan waktunya memikirkan masalah percintaan. Shenna seperti sudah terbiasa dengan hal itu karna dulu pernah di kecewakan oleh Dyoza, hatinya seperti otomatis menerima tentang sikap Arkan yang tiba-tiba berubah.


Selama satu Minggu pula shenna bersikap biasa terhadap Arkan seolah-olah tidak ada hubungan apapun antara mereka.


Hari ini Shenna berada di dalam kamar Dyoza, ia melakukan pekerjaan nya dengan melamun. Meskipun sudah bersikap biasa tapi tetap saja sebagai seorang perempuan akan kepikiran juga.


Ceklek...


Shenna terlonjak mendengar suara pintu terbuka. Ia mematung tanpa menoleh ke arah pintu.


Tak.. tak.. tak


Suara sepatu pantofel terdengar semakin dekat di telinga Shenna.


"Ya Tuhan aku melamun sampai lupa waktu, selamat kan aku." Shenna meremas kedua tangannya, hingga kuku-kuku nya berubah menjadi putih. Tubuh shenna gemetar.


Sosok itu berdiri tepat di belakang Shenna, tidak bersuara membuat kaki shenna semakin lemas.


Shenna tidak berani menghadap, ia masih mematung dengan nafas berat. Tangannya sudah basah, di memejamkan matanya kasar, menarik nafas panjang. Sudah siap mendengar Omelan Dyoza.


"Tu,tuan ma,maafkan saya." Suara bergetar keluar dari bibir shenna.


"Sa,saya tidak melihat jam. Sa,saya terlalu bekerja dengan semangat hingga lupa jam pulang kerja Anda tuan. sa,saya mohon maafkan saya!." Suara shenna semakin lirih dan bergetar ketakutan.


"Shenna ini aku Arkan." Ucapnya lembut


Mendengar suara yang lembut membuat shenna seperti mendapatkan energi kembali, ia berbalik menghadap Arkan. Mereka saling menatap, entahlah rasanya shenna ingin sekali memeluknya tapi ia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan apa yang hatinya inginkan.


"Tu,tuan saya kira....


"Tuan Dyoza masuk ke dalam ruang kerja, jadi aku kesini untuk mengambil pakaian ganti untuk tuan Dyoza. Masih ada pekerjaan yang harus kami selesai kan." Seru Arkan memotong ucapan shenna.


"Ba,baik saya akan ambilkan tuan, sebentar!."


Shenna bergegas ke ruang pakaian dan memberikan apa yang di butuhkan Arkan.


"Terimakasih shenna, kau keluar lah sebelum tuan Dyoza tahu kau masih di sini." Titahnya menatap shenna.


Shenna keluar dengan terburu-buru tanpa menoleh lagi ke arah arkan. Nafas nya begitu berat yang Arkan rasakan saat ini.


"Maafkan aku shenna, aku harus melakukan ini. Aku sungguh mencintaimu, tapi aku tidak bisa mengabaikan perubahan sikap tuan Dyoza."


--


"Ar apa kau mau menginap ?." Ucap Dyoza setelah selesai melakukan pekerjaan.


"Saya pulang Tuan."


"Baiklah, besok kau tidak perlu kesini. Aku juga tidak akan ada kegiatan apapun, rasanya badanku sakit semua." Dyoza sedikit memijat pundaknya yang terasa kaku.


"Mau saya panggil kan tukang pijat untuk besok tuan ?". Tawar akan.


"Tidak perlu, aku mau besok tidak ada yang menggangguku siapapun."


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Arkan membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan.


Di dalam mobil saat Arkan hendak menyalakan mobil, shenna muncul menghadang.


"Shenna, ada apa ?". Ucap Arkan terkejut.


"Saya mau ikut tuan."


"Apa yang ingin kau lakukan ?".


"Bukankah ada hal yang harus kita bicarakan ?".


Arkan terdiam dan mempersilahkan shenna masuk.


Mobil berjalan menuju apartemen Arkan, shenna sudah tidak sanggup lagi dengan hubungan yang seperti di gantung.


"Duduklah! aku akan mandi sebentar." Arkan berlalu meninggalkan shenna di ruang tamu.


Shenna tidak menjawab, ia menyalakan tv dan menonton film. Cukup lama menunggu Arkan, shenna memejamkan matanya hingga tanpa ia sadari sudah masuk ke alam mimpi.


"Shenna maaf aku...


Suara Arkan terhenti melihat shenna yang tertidur dengan pulas. Arkan mendekat, Ia tersenyum menatap wajah tenang shenna. Tangannya mengelus wajah shenna dengan lembut, matanya jatuh pada bibir shenna yang terlihat menggoda.

__ADS_1


Arkan mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir ranum itu. Saat jarak wajah mereka sangat dekat, Arkan menggeleng keras dan menjauh darinya.


"Aku tahu tujuan mu adalah meminta penjelasan padaku kan shenna ? maafkan aku, seharusnya aku tidak bersikap seperti ini. Aku mohon maafkan aku." Batin Arkan


"Shenna". Arkan mengusap kepala shenna dengan lembut.


"Shenna bangunlah, aku sudah selesai." Shenna mengerjapkan matanya.


"Tu,tuan. Maaf aku ketiduran." mengusap wajahnya.


"Tidak apa-apa, maaf aku membangun kan mu."


Shenna menggeleng.


"Kau mau minum apa ? kau sudah makan ?."


"Tidak perlu repot-repot tuan."


"Tidak kok, sebentar ya!". Shenna menahan lengan Arkan.


"Tuan, saya hanya ingin bicara. duduklah!". Pinta shenna lirih.


Arkan pun duduk tepat di sebelah shenna.


"Katakanlah apa yang ingin kau katakan!".


"Aku rasa tuan tahu maksud dan tujuan ku kan ?". Menatap ke arah arkan.


Arkan tidak bergeming.


"Shenna aku.....


"Aku sadar aku hanya seorang pelayan, tapi bisakah kau sedikit menghargai perasaan ku ?".


Arkan menatap dalam mata shenna, tenggorokannya seperti tercekat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir shenna.


"Aku tidak tahu apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan, tapi aku tidak bisa terus seperti ini tuan. Apa yang sebenarnya kau inginkan dari hubungan kita ini ?." Shenna berusaha mengendalikan emosinya, Arkan menyadari saat ini shenna benar-benar menahan emosi yang bergejolak.


"Apa aku salah berharap lebih padamu ?". Ucap shenna lirih, menatap mata Arkan begitu sendu.


Arkan melihat sudah ada genangan air di mata Shenna yang masih berusaha shenna tahan agar tidak menetes.


"Maafkan aku, maafkan atas semua sikap ku seminggu ini. Aku sungguh minta maaf padamu shenna." Arkan menarik nafas dalam.


"Aku tidak butuh maaf mu tuan, aku butuh kepastian dari mu tentang hubungan kita." Tegas shenna masih menatap sang kekasih.


Arkan menggeser posisi duduk nya dan memeluk shenna dengan erat.


"Kau tahu, aku sungguh tersiksa memperlakukan mu dengan tidak baik selama ini. Aku sangat mencintaimu, tapi." Arkan menggantung ucapannya, shenna melepas pelukan Arkan dan menunggu Arkan melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa ?". Shenna mengernyit.


"Tuan Dyoza." Menunduk dengan perasaan kalut, Arkan sebenarnya tidak mau memberitahu alasan sikapnya berubah pada shenna. Tapi, ia tidak boleh egois.


Shenna menangkup wajah Arkan. mencium kening Arkan dan memeluk nya. "Aku paham maksud mu apa." Mengusap punggung. "Tapi, aku tidak bisa mengorbankan perasaan ku untuk nya." Shenna menggenggam kedua tangan Arkan.


"Shenna, Tuan Dyoza itu hidup dan mati ku. Aku sudah berjanji pada diriku untuk selalu membuat nya aman dan bahagia." ucapnya lirih.


"Ya tentu, kau akan menjadi seseorang yang paling setia padanya. Lantas mengapa kau tega membuat ku tidak bisa berpaling ?". Shenna mulai menangis, air mata yang ia tahan akhirnya tumpah juga.


"Aku rasa kau sama saja seperti Dyoza, mungkin sedikit berbeda tapi tipis." Lanjut nya. "Pada akhirnya aku juga yang salah, aku yang terlalu berharap padamu sama halnya dulu aku terlalu berharap pada Dyoza." Shenna mengusap air matanya. "Harusnya aku belajar dari pengalaman itu tapi justru aku nekat untuk membuka hatiku." menyesal.


"Shenna aku mencintaimu."


"Mungkin sebelum hari ini terjadi, ucapan itu akan terdengar sangat indah di telinga ku tuan, tapi sekarang rasanya ucapan mu tidak ada artinya lagi bagiku." shenna menarik nafas kasar.


"Baiklah tuan aku harus pulang sekarang." Lanjut nya."


Arkan menarik lengan shenna. Mata shenna tertuju pada tangan yang menahan lengannya.


"Aku tahu aku pengecut, tapi aku harus melakukan nya. Demi Dyoza, demi perusahaan yang di bangun ketua. Aku tidak bisa mengabaikan janjiku. Dyoza sangat kacau semenjak kita berpacaran, dia memang tidak berkata apapun tapi aku tahu dia seperti itu karna kita." Ucap Arkan


"Kita ? bukan! tapi kamu." Jari telunjuk shenna menyentuh dada Arkan dengan keras. "bukan kita!! Saya permisi Tuan, saya pasti kan tidak akan pernah meminta kepastian lagi padamu. karna bagi saya semuanya sudah jelas." Shenna berjalan cepat meninggalkan Arkan tanpa mempedulikan nya.


"Maafkan aku shenna, maafkan aku". Ucapnya lirih menatap punggung shenna yang semakin jauh.


--


Maaf banget yaa baru bisa up , Btw doain anak aku cepet sehat lagi yaaaaaa 🤗🤗🤗 .


selamat membaca semuanya

__ADS_1


__ADS_2