Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Pertemuan ke 3


__ADS_3

Meeting telah selesai di laksanakan, Dyoza cukup puas dengan kemampuan Daniel memimpin meeting siang itu.


Ia bangga dengan adik sepupunya yang semakin bijak menjawab setiap pertanyaan klien, bahkan Dyoza berharap agar Daniel benar-benar menuruti kemauan orang tua Daniel untuk melanjutkan mengurus perusahaan.


"Kak aku boleh pulang lebih awal tidak ? bibi menyuruhku membeli buah di tempat langganannya."


"Selesaikan pekerjaan mu dulu, baru boleh pulang."


"Baik kak."


Dyoza dan Daniel kembali ke ruangannya masing-masing, Daniel bersyukur hari ini perkejaan nya tidak terlalu banyak.


"Kak aku pamit ya! bye." Ucap Daniel setelah menyelesaikan pekerjaannya


Saat Dyoza hendak berbicara Daniel justru langsung melangkah kan kakinya dengan cepat ke arah lift.


"Dasar bocah! Selaku saja semangat jika pulang lebih awal, besok-besok aku akan bilang pada bibi agar tidak menyuruhnya membeli buah." Gerutunya kesal


--


Daniel mendorong trolinya sambil melihat daftar belanjaan di ponselnya yang telah di kirim oleh bibi Hanum.


"Bilangnya hanya beli buah, tapi kenapa teman-teman si buah ini jadi ikut ?." Daniel berdecak kesal


"Bahkan aku bingung harus apa dulu yang aku cari." Sambungnya menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Permisi tuan, boleh geser sedikit ? Saya mau mengambil apel itu."


Daniel menoleh dan terkejut melihat siapa yang berbicara padanya.


"Kau ?."


"Loh tuan Daniel ?." Ucap Kalya sang pelayan cafe


Kalya menatap troli milik Daniel yang masih kosong.


"Tuan Daniel mau belanja ?."


"Seperti yang kau lihat!."


"Oohh, baiklah selamat berbelanja tuan. Mmmmhh maaf boleh geser sedikit troli anda ?."


"Oh, i,iya tentu. Silahkan!."


"Ah terimakasih."


Daniel masih berdiam diri di sana, ia melihat Kalya yang sedang memilih buah apel sambil mencium aroma buah itu. Daniel mengerutkan keningnya, ia berpikir untuk apa ia mencium aromanya.


Kalya menoleh pada Daniel dan tersenyum lalu fokus kembali pada buah di hadapannya.


"Kalya."


"Ya Tuan ?."


"Emmmm itu, a,aku boleh minta tolong padamu ?."


"Tentu, apa itu tuan ?."


"Sebentar." Daniel mengecek ponselnya dan memberikannya pada Kalya.


Kalya membaca setiap kata di ponsel itu dan tersenyum.


"Tuan mau saya mencarikan daftar belanjaan ?."


"Iya, apa kau keberatan ?." Tanya Daniel ragu


"Hehe tidak kok!."


Kalya memberikan plastik pada Daniel untuk memasukkan buah yang ada di daftar belanjaan nya, Daniel menerimanya dengan kikuk dan segera ikut memilih.


"Kenapa kau mencium buah itu ?." Daniel kebingungan


"Ah ini, untuk memastikan rasa buahnya."


"Maksudnya ?."


"Kalau aroma buah apel ini sangat terasa berarti rasa buahnya enak."


"Aku tidak mengerti maksud mu."


"Hehehe coba cium mangga ini!."


Daniel menghirupnya.


"Bagiamana ?." Tanya Kalya


"Wangi mangga."


"Coba yang ini!." Kalya memberikan buah mangga yang satunya setelah ia menghirup aroma buah mangga itu.


"Bagaimana ?." tanyanya kembali


"Sama-sama wangi mangga."


"Coba Tuan perhatian perbedaannya, mana wanginya yang paling kuat ?."


Daniel memegang kedua mangga itu dan menghirup aromanya kembali secara bergantian.


"Yang ini!."


"Nahhh berarti mangga ini yang rasanya lebih manis dan enak."


Daniel mengangkat satu alisnya.

__ADS_1


"Tuan tidak percaya ?."


Daniel hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Yasudah begini saja." Kalya membuka tasnya mencari sesuatu di sana, lalu ia tersenyum saat mendapati benda yang ia cari.


"Pulpen ?." Daniel semakin kebingungan


Kalya menggambar kedua mata serta sebuah bibir berbentuk senyuman, lalu menyerahkan nya pada Daniel.


"Untuk membuktikan apa yang saya ucapkan, buah mangga ini saya masukkan ke dalam kantong plastik milik tuan. Nanti setelah sampai rumah tuan makan ke dua buah mangga ini dan bandingkan mana rasa yang lebih manis."


Daniel tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ayo kita cari yang lain." Ajak Kalya semangat


Daniel mengekor dan memperhatikan setiap gerakan Kalya, ia hanya mendorong troli dan Kalya lah yang memasukkan barang yang Daniel butuhkan.


Kalya naik ke trolinya dan mengambil barang sedikit tinggi, Daniel hanya melotot kan matanya begitu terkejut melihat aksi Kalya yang menurutnya bar-bar itu.


"Apa yang kau lakukan ?."


Kalya menoleh dan tersenyum.


"Ini! saya mengambil barang yang ada dalam daftar di ponsel anda tuan." Kalya pun segera memasukkan ke dalam troli milik Daniel.


"Kau gila ya! kalau jatuh bagaimana ? kenapa tidak meminta bantuan ku ? Aku bisa mengambilnya."


"Ah tuan, tidak akan jatuh. Saya sering melakukan nya, lagi pula walaupun tubuh saya tidak tinggi tapi saya bisa mengambilnya." Ucap Kalya santai


Daniel hanya menatap dengan sisa keterkejutannya.


"Gadis aneh."


Kalya kembali fokus pada ponsel milik Daniel untuk mengecek daftar belanjaan, tidak butuh waktu lama akhirnya selesai.


"Ini ponsel anda Tuan."


"Oh iya, mmmmhh terimakasih ya Kalya. Maaf sudah merepotkan mu."


"Tidak perlu sungkan tuan, saya senang bisa membantu anda." Kalya membungkukkan sedikit badannya. "Kalau begitu saya permisi tuan."


"Ka,kau mau kemana ?."


"Saya mau lanjut belanja."


"Jadi kau belum selesai ?."


Kalya menggeleng dan tersenyum.


"Kenapa tidak bilang, kau jadi tertunda."


"Ah, tidak apa-apa Tuan. Lagi pula barang belanjaan tuan lebih banyak. Ya sudah saya permisi ya Tuan Daniel."


"Tidak perlu tuan, terimakasih."


Kalya mendorong troli nya dan kembali mencari sesuatu yang ia butuhkan.


Daniel hanya menatap punggung Kalya yang semakin menjauh, ia hanya tersenyum dan melihat isi trolinya yang ternyata lumayan banyak.


"Bibi benar-benar mengerjai ku." Gumam Daniel


Daniel duduk di dekat kasir setelah selesai membayar, ia menunggu Kalya yang belum selesai berbelanja.


"Kenapa lama sekali ?".


Akhirnya Daniel melihat Kalya yang hendak membayar, saat semua total di sebutkan Kalya membuka dompetnya. Ia menghitung uang lalu terdiam sesaat, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Daniel mengerutkan keningnya melihat gerak-gerik Kalya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Mmmmmhhh mbak maaf, yang ini saya cancel saja!." Kalya menyerahkan cokelat pada sang kasir


"Boleh kak!."


Saat kasir menyebutkan kembali total yang perlu di bayar, akhirnya Kalya menyerahkan beberapa lembar uang pada kasir itu.


Transaksi pun selesai.


"Terimakasih kak, silahkan datang kembali." Ucap ramah sang kasir.


"Terimakasih." Kalya tersenyum manis.


Kalya berjalan menjauh dari kasir dan melihat kembalian yang hanya tersisa sedikit.


"Bagaimana ini, tidak cukup untuk naik angkutan umum." Kalya kebingungan.


Akhirnya Kalya memutuskan untuk berjalan kaki.


"Harusnya tadi aku pulang dulu membawa uang yang ada dirumah, di ATM ku saja nominalnya sudah berubah menjadi telur. Ah aku rindu gajian." Gumam Kalya


Tin..tin


Kalya terkejut dan menoleh pada sumber suara, ia memperhatikan siapa yang telah mengagetkan nya.


Kaca mobil terbuka di lihat Daniel tersenyum ke arahnya.


"Ayo naik!." Ajak Daniel


Kalya menoleh ke belakang mencari siapa seseorang yang daniel ajak bicara barusan.


"Hei Kalya, ayo naik!."


"Sa,saya Tuan ?." Kalya menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


"Bukan tapi pohon yang ada di belakang mu!."


Kalya kembali menolak ke belakang nya.


"Kalya, kau konyol sekali! cepat naik!." Daniel mulai gemas


"Eh, tapi tuan."


"Cepat lah jangan membuat ku menunggu!!."


"Ba,baik Tuan."


Kalya membuka pintu lalu naik dengan perasaan penuh tanda tanya.


"Dimana rumah mu ?."


"Tuan mau mengantar saya pulang ?."


"Iya, aku mengantar mu pulang karna tadi kau sudah membantu ku!."


"Ta,tapi Tuan. Saya tulus membantu anda."


"Aku juga tulus mengantar mu pulang Kalya."


"Ta,tapi...


"Cepat katakan di mana rumah mu!!."


"Di dekat cafe story Tuan."


"Loh bukannya itu tempat mu berkerja ?."


"Iya, rumah saya dekat situ. Ma, maksudnya saya menyewa tempat tinggal di dekat cafe story."


"Ohhh, kau menyewa tempat tinggal ?."


"Iya Tuan."


Mereka pun saling diam tanpa bersuara setelah nya, hingga sampai di tujuan.


"Tuan Daniel Terimakasih atas tumpangannya."


"Sama-sama Kalya, ngomong-ngomong jangan panggil aku tuan bisa tidak ?."


"Hah, lalu saya panggil tuan apa ?."


"Nama saja!."


"Ah sepertinya sangat tidak sopan tuan, saya tidak enak mengucapkan. Lagi pula Saya masih sangat muda jadi benar-benar tidak sopan."


"Mmmmmm kalau begitu panggil aku kakak saja! ya, kakak saja bagaimana ?."


"Hah, Kakak ?."


Daniel mengangguk yakin. Kalya hanya menyengir kuda.


"Ayo panggil kakak!!." Daniel tidak sabaran


"Ka,kak Daniel."


"Nah begitu kan enak, aku ingin kau terus memanggil ku setiap kali kita bertemu ya!."


"Ta,tapi...


"Tidak ada alasan. Yasudah sana keluar!."


"Ah, ba,baik Tuan... Eh maksud saya kak Daniel."


Daniel tersenyum puas, sepertinya sangat menyenangkan berteman dengan Kalya. Gadis yang cuek dan kelihatan tidak manja, tentunya sangat mandiri. Daniel bisa membaca sifat itu saat Kalya mengambil barang di rak atas tanpa meminta bantuannya, benar-benar gadis langka menurut nya.


Pertemuan ketiga nya dengan Kalya sedikit membuat nya terkesan pada gadis pelayan cafe itu.


Ia tersenyum saat Kalya sudah keluar dari mobilnya, ia membunyikan klakson saat menancap gas meninggalkan Kalya yang masih berdiri di tempat.


Kalya hanya menarik nafas panjang dan berlalu menuju rumah.


Kalya membuka pintu dengan kunci yang ia pegang, meskipun ruangannya tidak terlalu besar tapi Kalya mendekor nya dengan sangat rapih.


Ia tidak pernah membawa siapapun ke rumah sewaan nya itu kecuali sahabatnya, Lula.


Kalya membongkar belanjanya, ia mengerutkan keningnya saat melihat cokelat yang tadi ia cancel, Kalya terkejut karna jumlah cokelat nya begitu banyak.


"Astaga kenapa ini.... Banyak sekali."


Otaknya mengarah pada Daniel, tapi ia ragu. Kalya hanya menatap coklat kesukaannya itu sudah berada di tangannya.


"Kalau bukan Tuan Daniel, lalu siapa ? Ini pasti ulahnya! Astaga Tuan." Kalya tersenyum melihat cokelat kesukaannya sangat banyak, ia tidak perlu beli dalam waktu beberapa Minggu kedepan.


"Pantas saja belanjaan ku beratnya terasa bertambah, ternyata!!!."


Kalya berjingkrak kegirangan, dia benar-benar menyukai Cokelat sejak kecil.


"Aku akan berterima kasih pada tuan Daniel besok, semoga dia mampir ke Cafe."


.


.


.


Yukkk like dan commen nya yukkk, saya butuh sedikit asupan nih biar makin semangat.


Untuk Vote seikhlasnya aja yaa, karna aku sadar novel ku gak bagus-bagus amat ceritanya 😁😁😁

__ADS_1


Terimakasih ❀️


__ADS_2