
Shenna membuka matanya perlahan saat merasakan tubuhnya seperti di tindih benda berat, ia tersenyum saat mendapati wajah tampan tepat di depan mata nya.
Suara dengkuran halusnya membuat shenna terkekeh tanpa suara dan tanpa ia sadari shenna mendaratkan bibirnya di pipi makhluk tampan itu.
Dyoza menggeliat saat merasakan pergerakan, ia dengan segera membuka matanya dan tersenyum manis menatap sang istri yang wajahnya sudah merah seperti tomat.
"Selamat pagi sayang." Ucap Dyoza serak
"Pa,pagi juga sa...yang." Shenna malu-malu dan menutup wajahnya.
"Kenapa sembunyi ?."
"Aku malu." Ucapnya manja
"Kenapa malu, bahkan aku sudah melihat semuanya."
"Sudah jangan katakan lagi, kau ini senang sekali menggoda ku ya ?."
"Aku menggoda istri ku sendiri loh, masa tidak boleh. Lagi pula tubuh kamu itu sangat....
Shenna membekap mulut Dyoza dengan gemas.
"Kamu itu kenapa cerewet sekali sih ?." Ucap shenna kesal
"Hahahahaa kamu itu menggemaskan sekali sih." Dyoza mencium gemas pipi Shenna lalu mengigit nya.
"Sakit Dyoza dasar predator."
"Predator ? hahahaa tapi kau suka kan ?."
--
Kalya sedang membersihkan meja, Saat ia mendengar suara seseorang memanggil ia pun segera menghampiri nya.
"Hallo Tuan Daniel selamat sore, Mau pesan apa ?."
"Kalya sudah ku bilang jangan panggil aku Tuan!."
"Maaf Tuan tapi saya sedang bekerja, jadi tidak sopan bagi saya jika memanggil anda kakak." Jelas Kalya berbisik.
"Hah sudahlah, bawakan aku kopi seperti biasa."
"Baik tuan, tunggu sebentar ya!."
Kalya pun bergegas dan tidak lama kemudian kembali lagi membawa nampan berisi 1 cangkir kopi.
"Silahkan tuan, selamat menikmati."
"Terimakasih Kalya."
"Sama-sama Tuan, permisi." Saat Kalya hendak pergi, ia pun kembali lagi menghadap Daniel.
Daniel menyeruput kopinya lalu mengerut kan keningnya saat Kalya berdiri tepat di depannya.
"Ada apa Kalya ?."
"Mmmhh itu tuan, Te, terimakasih."
"Untuk ?." Daniel menaikkan kedua alisnya
"Cokelat nya." Kalya menyengir kuda
Daniel tersenyum tipis dan menatap Kalya.
"Itu bukan apa-apa, anggap saja tanda terimakasih karna kamu sudah membantu ku di supermarket kemarin."
"Tuan Daniel mungkin lain kali kalau kita tidak sengaja bertemu, lalu mungkin tuan butuh bantuan jangan berikan saya apa-apa lagi ya!."
"Kenapa ?."
"Karna saya tulus membantu Tuan."
"Aku juga tulus Kalya."
"Tapi, saya tidak mau suatu saat saya membantu orang lain jadi mengharapkan sesuatu dari orang yang saya tolong itu." Ucapnya lirih
Daniel menatap mata Kalya lekat, ia melihat wajah Kalya yang begitu serius dan ada permohonan di sana. Daniel tersenyum ringan dan mengangguk.
"Oke, maafkan aku ya Kalya."
"Tidak Tuan."
"Kau tidak mau memaafkan ku ?."
"Eh bukan Tuan bukan." Kalya gelagapan. "Maksudnya Tuan tidak perlu meminta maaf, saya yang harusnya meminta maaf pada Tuan. Dan terimakasih ya Tuan sudah mau mengerti."
"Iya Kalya." Ucap Daniel lembut
"Ya sudah kalau begitu, saya lanjut kerja dulu ya Tuan."
"Silahkan Kalya."
Dengan perasaan lega, Kalya pun meninggalkan Daniel dengan senyum mengembang. Daniel hanya menatap punggung Kalya dan tersenyum manis lalu menggeleng pelan.
"Gadis yang unik."
Beberapa hari kemudian...
"Silahkan Tuan." Ucap Lula menghidangkan pesanan Daniel
"Terimakasih ya." Daniel melirik name tag Lula
"Sama-sama Tuan."
"Mmmmmhh permisi Nona Lula."
Lula terhenti saat Daniel memanggil nya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan ?."
"Aku tidak melihat Kalya."
"Oohh Kalya hari ini sedang libur Tuan Daniel."
"Oohh begitu, apa aku boleh meminta nomor ponselnya padamu ?."
"Duhh bagaimana ya, saya tidak berani memberikan nomor ke sembarang orang." Lula menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Maksudnya saya orang sembarangan ?." Daniel menaikkan kedua alisnya meminta penjelasan
"Eh tidak tuan bukan begitu maksudnya. Tuan Daniel jangan salah paham."
__ADS_1
Daniel tersenyum melihat Lula yang wajahnya memucat.
"Tidak apa-apa kok santai saja, tapi kamu kan kenal aku bahkan aku dan Kalya juga saling mengenal. Dan hampir semua yang bekerja di sini mengenal aku."
"Bukan hampir, tapi memang semua karyawan di sini mengenal anda tuan Daniel. Bahkan kita tahu Tuan itu anak dari pengusaha kaya."
"Nona Lula!."
"Eh i,iya Tuan."
"Bagaimana, apa boleh ?".
"Tapi, kalau Kalya marah bagaimana ?."
"Kamu tenang saja, saya akan bertanggung jawab."
Dengan berat hati Lula mengeluarkan ponselnya dan menulis nomor Kalya di kertas untuk Daniel.
Daniel melihat kertas yang di berikan Kalya lalu tersenyum.
"Terimakasih ya Nona Lula."
"Beneran tuan akan tanggung jawab ya kalau Kalya marah pada saya, kalya itu sahabat saya Tuan." ucap Lula memelas
"Iya kamu tenang saja."
Daniel memberikan tips pada Lula.
Tring...
Sebuah pesan masuk saat Kalya sedang memasak untuk makan malam.
Kalya mematikan kompor nya saat lauk yang ia masak sudah matang.
"Nomor siapa ya ini ?." Gumam Kalya
"Kalya ?."
Kalya mengabaikan pesan itu dan segera menyiapkan makan malam untuk nya sendiri.
Daniel yang masih di cafe hanya mengerutkan dahinya, karna pesan yang ia kirim hanya di baca oleh kalya.
"Ck.. Dasar gadis cuek, bahkan ada yang mengirim pesan saja dia abaikan." Gumam Daniel berdecak
Daniel kembali memanggil Lula setelah ia menelpon Kalya tidak di angkat, Lula semakin lemas saat Daniel meminta alamat rumah Kalya. Dengan paksaan Daniel dan berjanji tidak akan memberitahu Kalya akhirnya dengan berat hati Lula memberi tahu rumah Kalya yang memang tidak jauh dari cafe.
"Pura-pura pingsan saja lah kalau Kalya sampai tahu aku yang memberi alamat rumah pada tuan Daniel." Gumam Lula melihat Daniel yang sudah pergi dari cafe
--
Tok tok...
Suapan pertama tidak berhasil mendarat di mulut Kalya, ia menggantung tangannya tepat di depan mulutnya melihat pintu yang di ketuk seseorang.
Ia mengerutkan dahinya, siapa orang yang mengetuk pintu rumah nya. Bahkan ia tidak memesan apapun, biasanya yang datang kalau tidak Lula ya pengirim paket.
"Biasanya Lula pasti menelpon kalau datang." Gumamnya hendak membuka pintu.
Ceklek...
"Lula tum...Ben." Ia membulat kan matanya saat siapa seseorang di balik pintu.
"Tu,tuan Da,Daniel ?." Kalya mundur saking terkejutnya
Ia mematung di sana cukup lama, memastikan kembali seseorang yang di hadapannya benar-benar Daniel. Ia melihat Daniel dari atas sampai bawah. Ia menepuk-nepuk pipinya berharap ini hanya halusinasi nya saja.
"Boleh aku masuk, kakiku pegal."
"Ha ? i,iya Tuan si, silahkan."
Daniel pun masuk lebih dulu, matanya berkeliling melihat rumah Kalya yang sederhana namun begitu rapih. Apalagi hiasan dekornya begitu cantik dan terlihat nyaman.
"Si, silahkan duduk Tuan."
"Terimakasih Kalya."
Kalya kebingungan sendiri, masalahnya ini pertama kali Kalya menerima tamu laki-laki dirumahnya. Selama ini rekan kerjanya main pasti ramai-ramai itu pun untuk mengadakan pesta kecil-kecilan jika mendapat bonus dari cafe.
Kalya menggaruk kepalanya, ia bingung harus bagaimana sekarang. Dan kenapa bisa Daniel tahu rumahnya dan untuk apa dia kesini. Itu lah yang ada di benak Kalya saat ini.
"Kalya kenapa kau berdiri, sini duduk!."
"Ba,baik tuan."
"Sudah ku bilang jangan panggil Tuan. Lagi pula ini kan bukan di tempat kerja mu."
"Ah, baik kak Daniel."
"Nah begitu kan enak di dengar. Ngomong-ngomong rumah mu sangat nyaman, aku suka."
"Terimakasih tuan, oh iya kalau boleh tahu ada apa tuan repot-repot datang kerumah saya ?."
"Mau main saja, bukankah kita saling mengenal. Tidak boleh ?."
"Bu,bukan begitu Tuan. Boleh, tentu boleh. Cumaaaa....
"Kau sedang makan malam ?." Ucap Daniel memotong
Kalya mengangguk pelan.
"Apa sudah selesai ?."
"Justru aku belum makan sama sekali."
"Baru saja mulai Tuan."
"Apa aku boleh ikut makan malam bersama ?".
"Hah ???."
"Kita, aku dan kamu makan malam bersama. Boleh kan ?."
"Ta,tapi saya. Itu, anu Tuan. Makanan nya hanya udang pedas dan sayur."
"Waaahhh seperti nya sangat enak, ayo!!."
Daniel menarik tangan Kalya menuju meja makan yang ukurannya sangat kecil. Namun cukup untuk 2 orang.
Daniel menatap lauk pauk yang terhidang di meja makan lalu tersenyum.
"Se, sebentar ya tuan.. eh maksudnya kak saya ambil alat makannya dulu untuk kakak."
__ADS_1
Daniel mengangguk dan segera duduk.
Kalya begitu canggung untuk menyantap makan malamnya, sedangkan Daniel sudah tidak sabaran mengambil lauk yang sepertinya cukup enak.
"Ayo Kalya kenapa diam ?."
"I,iya kak."
Daniel mengunyah sambil mengerutkan keningnya memastikan rasa makanan itu.
Kalya harap-harap cemas, wajahnya mengikuti setiap ekspresi yang Daniel tunjukkan.
"Bagaimana kak, apa enak ?." Tanya Kalya hati-hati
Daniel memejamkan matanya sambil terus mengunyah, lalu membuka matanya tiba-tiba membuat Kalya terkejut.
Tanpa berkata lagi daniel mengambil kembali lauk yang terhidang ke atas nasinya dan melahapnya dengan nikmat.
Kalya menelan Saliva nya dengan susah payah, sepertinya makan malamnya akan di habiskan oleh Daniel.
Ia hanya makan 1 suap nasi saja, selebihnya selera makannya hilang begitu saja saat melihat Daniel yang sangat lahap memakan hidangan miliknya.
"Apa dia kesurupan ?".
"Ohh tidak udang pedas ku, dia memakannya semua. Yang benar saja, apa dia tidak pernah makan udang ? bahkan dia bisa makan apa saja dari uangnya itu. Astagaaaaaa bahkan sayur pun di lahapnya. Apa, dia nambah ? Ahhhh nasi ku, setidaknya sisa kan aku sedikit saja. Aku lapar sekali."
Kalya memasang wajah sedihnya, ia benar-benar akan menahan lapar sampai besok pagi. Ia tersenyum paksa saat Daniel menatapnya sambil mengunyah.
Daniel mengusap perutnya saat semua makanan di lahap habis oleh nya.
"Kalya apa kau ini seorang chef ?."
"Ah, Mak, maksud Tu eh kakak ?".
"Makanan ini sangat enak, bahkan mirip masakan ibu ku."
"Kenapa berlebihan begitu, mungkin karna kau memang sedang lapar. Orang lapar kan biasanya apa saja juga di bilang enak."
"Anda terlalu berlebihan kak, itu biasa saja kok. Saya memang biasa masak sendiri." Ucap Kalya malu-malu kucing.
"Sungguh aku tidak bohong."
"Kalau begitu terimakasih atas pujiannya kak."
"Bolehkan aku makan malam disini setiap hari ?."
"APA????!!!!!."
Daniel terkejut melihat reaksi Kalya yang menurutnya berlebihan itu.
"Kenapa kau terkejut seperti itu ?."
"Ah , hehehe Bu,bukan begitu kak. Maksud saya memangnya kenapa harus setiap hari ?."
"Apa kau keberatan ?."
"Tentu, aku sangat amat keberatan."
"Hehe ti,tidak kak. Tapi, bukan kah ini hanya hidangan kecil ? pastinya sangat berbeda jika di bandingkan dengan hidangan dirumah kakak."
"Tentu berbeda Kalya, di sini lebih nyaman dan tentunya aku suka ruangan mu ini." Daniel berkeliling mata menatap setiap sudut ruangan itu.
"Dia becanda kan, mungkin dia hanya kurang kerjaan."
"Saya tersanjung loh kak!."
Daniel tersenyum manis dan memainkan ponselnya.
"Kenapa dia malah duduk di sofa ? apa dia tidak pulang ?. Oh Tuhan perutku lapar sekali."
20 menit kemudian Daniel pamit untuk pulang dan berterima kasih tentunya.
"Selamat malam dan hati-hati ya kak." Kalya segera menutup pintu rumah nya dan wajahnya memelas seketika sambil memegang perutnya.
Tok tok...
"Astaga ada apa lagi dengan orang itu ?".
Kalya kembali berdiri untuk membuka pintu.
"Ada apa la....
"Permisi atas nama Nona Kalya ?."
Kalya termangu saat seorang membawa sesuatu untuk nya.
"Ini pesanan untuk Nona."
"A,apa ini ?."
"Makanan. Permisi nona."
"Eh tu,tunggu...
"Pesanan ? Bahkan aku tidak memesan apapun."
Kalya memandangi bungkus makanan itu dan segera menutup kembali pintu nya.
Ia duduk dan membuka bungkusan itu, harumnya menyeruak membuat perutnya kembali keroncongan.
Ia menemukan kertas lalu membacanya.
"Terima kasih Kalya untuk makan malamnya, maaf aku habiskan. Dan ini sebagai gantinya, jangan sampai tersisa ya. Selamat makan."
-Daniel
"Astaga Tuan Daniel, kenapa dia jadi manis begini. Eh, ya ampun Kalya sadar!!!!." Kalya menepuk-nepuk pipinya
Ia segera membuka bungkusan berikut nya dan mata Kalya membulat sempurna melihat 1 ekor lobster besar sedang menatapnya, seakan berbicara "Cepat santap aku".
"Wwwooooaaaaahhhhhhhh mimpi apa aku semalam ?." Kalya benar-benar tidak menyangka.
Daniel tersenyum di dalam mobilnya dan bergegas pergi dari sana.
.
..
.
..
__ADS_1