
Sinar matahari menerpa dua pasangan yang saling memeluk di bawah selimut, Shenna yang seperti nya sebentar lagi akan membuka matanya. Perut yang sudah tidak ramping lagi membuat nya sedikit tidak nyaman.
Ia menatap wajah laki-laki tampan di hadapannya. Matanya yang tajam, alis hitam serta hidungnya yang mancung membuat shenna terkagum. Sungguh ciptaan tuhan yang begitu indah ucapnya.
Shenna menyentuh wajah itu, tangannya berkeliling di area wajah suaminya tanpa ia sadari sang empu tersenyum lalu memegang tangannya.
"Sayang kamu bangun ?".
"Bagaimana aku tidak bangun kamu membuat ku geli."
"Ah maaf."
"Apa aku begitu tampan ?."
"Hehehe."
Tanpa aba-aba dyoza mencium bibir shenna dengan gemas. Shenna tersenyum bahagia di buatnya.
"Bangun yuk aku lapar."
"Hmmm padahal aku masih ingin memeluk mu. Ini kan akhir pekan."
"Dasar pemalas."
Dyoza hanya tertawa melihat istrinya yang tiba-tiba bangun dari tempat tidur nya.
"Kenapa kabur?."
"Takut macan tiba-tiba menerkam."
Dyoza terbahak-bahak mendengar ucapan shenna.
"jangan lari sayang, kasihan anakku."
.
.
__ADS_1
.
Di tempat lain Arkan yang sedang duduk manis sambil menikmati teh nya selepas olahraga sedang gelisah. Hari ini ia mendapat telpon dari bibi Hanum.
"Kasih alasan apa ya ?." Gumamnya
Arkan di telpon untuk datang sarapan bersama di rumah utama.
"Kalau tidak datang habis aku." Gumamnya lagi.
Arkan menggaruk kepalanya frustasi, baru saja semalam ia memikirkan shenna dan mencoba untuk membatasi diri agar tidak terlalu lama bertemu dengannya. Justru sekarang ia akan sarapan satu meja dengan gadis yang susah payah ia jauhi selama ini.
"Oke tidak apa-apa Ar, hanya sarapan. Kau bisa menunduk tanpa melihat sekeliling mu."
Sesampainya dirumah utama...
"Selamat pagi tuan."
"Pagi Ar, kau sudah datang. Duduklah!."
"Terimakasih tuan."
"Selamat pagi bibi."
"Pagi Ar."
Bibi Hanum memeluk Arkan dengan hangat.
"Duduklah!."
"Terimakasih bi."
"Jangan sungkan!!."
Hidangan pun di sediakan.
Selama sarapan Arkan benar-benar menundukkan pandangan nya, sialnya shenna duduk tepat di depannya. Untunglah bibi Hanum duduk bersebelahan dengannya.
__ADS_1
Saat sarapan selesai dyoza mengajak Arkan keruang keluarga untuk berbincang. Obrolan pun mengalir begitu saja, saat shenna menghampiri Arkan mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Lihatlah Ar shenna sudah bahagia sekarang dan ini yang kau mau."
"Ar kenapa melamun?." Dyoza menautkan keningnya
"Ah maaf tuan seperti nya saya mengantuk."
"Istirahat lah dulu di kamar."
"Baik tuan."
Arkan menarik nafas panjang, akhirnya ia bisa menghindari situasi saat ini.
Saat Arkan hendak masuk ke dalam kamar, tiba-tiba shenna memanggil nya.
"Tuan Arkan tunggu sebentar."
Arkan menoleh ke sumber suara.
"Ya nona ?."
"Ini jaket mu tertinggal."
"Oh, iya terimakasih nona."
Buru-buru arkan mengambil jaket miliknya lalu melesat masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak gugup kan ?."
Arkan merebahkan dirinya, padahal ia tidak mengantuk sama sekali meskipun semalam tidur nya tidak nyenyak. Ia hanya beralasan agar tidak ada di antara dyoza dan shenna.
Dyoza tersenyum melihat Arkan yang menurutnya tidak seperti biasanya.
"Apa kau belum bisa move on dari shenna Ar ?."
Dyoza menggeleng kan kepalanya , sedikit merasa bersalah karenanya Arkan rela melepas wanita yang sangat ia cintai. Tapi mau bagaimana lagi sekarang shenna sudah menjadi istrinya dan dyoza tidak akan mau melepas wanita yang sangat ia cintai. Ia tidak akan rela ada yang merebut shenna siapapun itu termasuk Arkan.
__ADS_1
"Maafkan aku Ar, tapi shenna adalah wanita ku sekarang. Aku harap kau tidak melakukan hal di luar batas, tapi aku tau kau tidak akan melakukan itu."