Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Melayani pelayan


__ADS_3

"Aku mau buah anggur itu tuan!". Shenna menunjuk buah di atas meja kamar Dyoza.


"Baik".


Dyoza menatap kesal pada shenna, ia ingin mencekik shenna rasanya. Kalau saja ini bukan syarat agar ia di maafkan mana mau melakukan hal bodoh ini.


"Ahhh senang nya". Shenna menari-nari di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.


"Tuan badan ku pegal-pegal, pijat!!".


Shenna menunjuk punggungnya.


"Shenna! Jangan melewati batas! Aku bisa saja memecatmu". Teriak Dyoza keras.


"Yasudah pecat saja sekarang!! Aku juga tidak berminat melayani mu. Bukan kah hanya satu hari saja kau melakukan hal bodoh ini ?". Shenna menantang


"Aku akan menuruti mu tapi jangan kurang ajar juga!".


Shenna hanya tersenyum kecil Mendengar ucapan Dyoza yang sudah sangat geram.


"Kalau tidak mau melanjutkan ya sudah, kita sudahi saja. Lagi pula aku sudah tidak berselera, kepala pelayan juga pasti akan cepat mendapatkan pengganti ku".


Shenna beranjak hendak meninggalkan ruangan namun dengan cepat dyoza menarik tangan shenna hingga ia terjatuh dalam pelukan Dyoza.


"Buggg"


Kepala shenna membentur dada bidang Dyoza, saking terkejutnya shenna mematung dalam pelukan Dyoza.


Mereka diam cukup lama hanyut dalam pikiran masing-masing, Dyoza yg sedikit tersenyum menahan detak jantung nya yang sudah tidak karuan.


"Aku akan melayani mu, dan kau harus dengar ini. Jika kau berani berhenti aku akan memecat ayah mu di villa desa".


Shenna menjauh dari Dyoza dan menatap mata Dyoza terkejut.


"A,apa yang akan kau lakukan ? Kenapa kau jahat sekali".


"Kau dengar! Aku bisa lebih jahat dari ini".


"Bisakah kau tidak melakukan itu ?".


"Bisakah kau tidak berfikir untuk berhenti dari pekerjaan mu ini ?".


Shenna menimbang-nimbang ucapan Dyoza, ia sedikit frustasi dan merasa dirinya terancam. Terlebih lagi ia harus membantu keuangan keluarga nya.


Seharusnya shenna tidak pernah mengucap kata berhenti bahkan menyerah, ini belum seberapa pikirnya.


"Baiklah, maafkan aku!".


Shenna menunduk dan enggan menatap wajah Dyoza.


Dyoza tersenyum merasa dirinya menang, ia duduk di sofa menyandarkan kepalanya. Ia berfikir pasti shenna sangat membencinya, namun asal ia tahu Dyoza terpaksa mengucapkan kata-kata itu agar shenna tidak pergi dari rumah ini.


"Kemarilah!".


Shenna mendekati Dyoza dengan raut wajah sedih, ia benar-benar tidak habis Fikir Dyoza masih seperti dulu, melakukan hal seenaknya karna ia merasa dirinya berkuasa.


"Duduklah! Aku akan melayani mu lagi".


"Ti,tidak! Sudah cukup! Aku.. aku lelah, sepertinya sudah cukup sampai disini kau melayani ku. Tidak baik juga kan seorang majikan melayani pelayan, itu sangat konyol".


Shenna tersenyum kecut dengan ucapannya sendiri, ya! Ia salah telah mengikuti rencana kepala pelayan yang menjadi dalang di balik semua ini.


"Bukankah ini syarat agar kau memaafkan ku ?".

__ADS_1


"Aku.. aku sudah memaafkan mu, jadi sudah cukup! Aku akan bereskan semua ini".


Shenna segera membawa nampan berisi buah.


"Sudahlah biarkan saja! Duduklah!".


"Ta,tapi".


"Ini perintah dariku, cepat!".


Shenna menuruti perintah dari majikannya itu, ia melepas nampan yang hendak ia bawa pergi .


"Kau tahu tidak ?".


Shenna menggeleng pelan menatap Dyoza.


"Aku masih sangat terkejut dan tidak percaya kau menjadi pelayan dirumah ku".


"Kau pikir aku tidak terkejut, bahkan rasanya aku sampai jantungan". Gumam shenna


"Kau itu gadis cantik yang selalu menjadi incaran lelaki di sekolah dulu, apa kau tahu ?".


Shenna mengangguk pelan.


"Tapi, kenapa kau begitu sombong ?".


"Sombong ?".


"He'em".


"Apa kau berfikir aku sombong ?".


"Tentu".


"Kenapa diam ?".


"Ya kalau tuan Dyoza menilai ku seperti itu, saya harus melakukan apa ?".


"Sudah ku bilang jangan bicara formal seperti itu jika kita sedang berdua, mengert!".


Shenna mengangguk ragu.


"Hei kau belum menjawab".


"Apa yang harus ku jawab ?".


"Kenapa kau dulu begitu sombong ? Banyak laki-laki yang menyukaimu. Kau kan tinggal tunjuk satu atau dua di antara mereka".


"Kau Fikir hatiku bisa di bagi-bagi seperti dirimu".


"Hei".


"Apa!!! Memang iya kan ? Kau bisa mempermainkan para gadis itu sesuka mu, bahkan teman ku sendiri saja pernah jadi korban mu. Apa kau tidak merasa malu sudah menyakiti hati perempuan ?".


Shenna menatap kesal pada Dyoza, ia sangat geram jika ingat dahulu Dyoza selalu saja mempermainkan siswi lain termasuk dirinya yang terjebak dan termakan rayuan Dyoza, padahal ia sudah memasang tameng bahkan mengunci rapat hatinya untuk Dyoza. Tapi dengan bukti nyata Dyoza dan segala usahanya untuk mendapatkan dirinya akhirnya tanpa izin hatinya terbuka lebar untuk Dyoza.


"A,apa kau masih membenciku ?".


"Hmmmmmm aku sudah tidak membencimu, aku sudah lama berdamai dengan masa lalu itu. Tapi..."


"Tapi apa ?".


Shenna terdiam dan menatap lekat sang empu.

__ADS_1


"Hei kenapa melototi ku seperti itu".


"Aahhh sudahlah kenapa jadi bahas masa lalu bodoh itu, sudah menjelang makan malam aku harus selesaikan tugas ku dahulu".


"A,apa , bodoh katamu ?".


Shenna tidak menggubris ucapan Dyoza. Ia tetap berjalan menuju pintu.


"Hei berhenti!".


"Apalagi Tuan ?". Shenna berbalik badan dengan malas.


"Tetap lah disini temani aku makan malam".


"Apa kau tidak akan turun ?".


"Tidak!".


"Kenapa ?".


"Kau tidak perlu bertanya!".


"Kalau kau tidak turun dan aku menemani mu disini bukankah kau seperti mendorong ku ke dalam jurang".


"Apa maksud mu ?".


"Astagaaa tuan Dyoza, pelayan yang lain akan berfikir yang tidak-tidak dan serangkaian pertanyaan dari mereka pasti menyerbu ku, apa kau tidak kasihan dengan diriku yang hanya sebutir debu ini ?".


"Kau banyak sekali bicara, pergi sana!".


"Terimakasih tuan Dyoza".


"Cih"


**


Makan malam telah tiba dan tentu saja Dyoza benar-benar tidak turun dari kamarnya, kepala pelayan sangat khawatir hingga ia menemui keponakannya itu.


"Dyoza ada apa ini, kenapa kau tidak turun untuk makan malam ?".


"Ahhh aku malas bi, anak buah mu itu tidak menuruti perintah ku. Pecat saja dia!!".


"Loh apa dia berbuat kesalahan ?".


"Tentu saja".


"Apa kesalahannya Dyoza sampai kau sekesal ini pada nya ?".


Kepala pelayan sedang meladeni drama keponakannya yang terkadang suka berlebihan itu.


"Dia tidak mau menemani ku makan malam di dalam kamar, dia bilang BLA BLA BLA cih banyak sekali alasannya".


"Sudahlah biar bibi saja yang menemani mu, lagi pula benar apa yang nona shenna ucapkan dia pasti tidak mau mengambil resiko itu".


"Ahhh sudahlah aku turun saja kalau begitu".


Dyoza menghentakkan kakinya seperti nya ia masih sangat kesal dengan Shenna yang menolaknya terang-terangan.


Kepala pelayan Hanum hanya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya pelan, ia sangat mengenal keponakan nya itu yang sedari kecil selalu mendapatkan apa yang ia mau. Baru kali ini ada gadis yang berani menolak keinginan keponakan kesayangannya itu.


__


AUTHOR

__ADS_1


...Dulu hanya sebuah ilusi ternyata ilusi yang ku buat membuahkan hasil, ia bisa ku raih bahkan bisa ku peluk. Dia pujaan hati, belahan jiwa, nafasku, ragaku, jantungku, cintaku...


__ADS_2