Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Bukan malam pertama


__ADS_3

Semua berkas persyaratan pernikahan sudah beres, kini shenna dan Dyoza menunggu hari dimana janji suci akan terucap dan di saksikan oleh orang tua, keluarga dan orang-orang yang akan mereka undang nanti.


Dyoza melamun sambil memegang pulpen di tangannya, ia senang akhirnya akan menikah dengan shenna. Namun, entahlah di hatinya ada rasa kesedihan yang menyelimuti.


"Ar".


"Ya tuan ?".


"Apakah sesakit ini mencintai seseorang yang tidak mencintai kita ?".


Arkan terdiam, ia mengerti maksud pertanyaan dari tuannya itu.


"Tuan, kau percaya takdir ?".


Dyoza mengangguk pelan menatap Arkan.


"Selama bertahun-tahun tuan tidak pernah bertemu dengan nona shenna, bahkan pertemuan kalian bisa di bilang unik. Saya yakin nona shenna akan kembali membuka hatinya untuk tuan".


Cukup lama Dyoza terdiam


"Ar, boleh aku bertanya sesuatu padamu ?".


"Tentu tuan!".


"Tapi, aku ingin kamu menjawab sejujur-jujurnya!".


"Akan saya jawab tuan".


"Apa kau masih mencintai shenna ?".


Arkan membeku menatap Dyoza.


"Tuan sa,saya...


"Jawablah dengan jujur! jawaban mu tidak akan merubah apapun di antara kita."


"Huh!!! Iya tuan, saya masih mencintainya tapi tuan jangan khawatir saya tidak akan melakukan hal di luar batas, lagi pula saya hanya.....


"Ternyata dugaan ku benar". Potong Dyoza


"Ma, maksud tuan ?".


"Kau tidak mungkin begitu peduli pada seseorang selain aku, apalagi kau begitu dingin pada wanita. Tapi dengan shenna kau berbeda Ar, ayolah kita bertahun-tahun menjadi partner. Kau tahu aku begitupun sebaliknya".


"Maafkan kelancangan saya tuan!".


"Tidak Ar, aku yang seharusnya minta maaf. Aku penghalang hubungan kalian, aku sebenarnya merasa malu padamu".


"Saya mohon Tuan jangan berkata seperti itu, saya memang mencintainya tapi saya mohon Tuan setiap perlakuan saya padanya itu tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya akan berusaha menjalankan tugas saya dengan baik, kebahagiaan tuan adalah hal paling penting untuk saya".


Dyoza berdiri menghampiri Arkan dan memeluknya dengan erat.


Arkan terkejut dengan sikap Dyoza kali ini, hingga Arkan membalas pelukannya.


" Kau begitu tulus, aku bahagia bisa kenal denganmu Ar kau seperti sosok seorang kakak. Maafkan aku yang selalu membuat mu susah". Ucap Dyoza lirih menahan tangisnya.


Arkan menggeleng, mengusap punggung Dyoza.


"Saya bahagia jika tuan bahagia".


--


Kini shenna dan Dyoza berpenampilan sangat berbeda, tentu saja berbeda karna shenna dan Dyoza kini memakai pakaian pengantin. Acara pernikahan mereka akan terlaksana hari ini, semua tamu undangan menunggu waktu di mana Dyoza akan mengikrarkan janji suci nya pada shenna.


Air mata kebahagiaan mengalir membasahi wajah sang ibu, Tidak di sangka anak satu-satunya mereka sudah berubah status.


Mereka saling berpelukan satu sama lain, memberi doa pada anak semata wayang mereka. Bahkan ayah shenna pun menangis memeluk putri kesayangannya itu.


"Jadilah istri yang baik untuk suami mu nak, jangan membantah setiap perkataan nya. Ingat! mulai sekarang kau adalah tanggung jawab suamimu". Ucap sang ayah mengelus kepala shenna.


"Shenna akan selalu ingat pesan ayah".


Dan masih banyak nasehat-nasehat yang shenna terima dari ayah serta ibunya.


"Jaga istri mu, jadikan ia ratu bukan pembantu. Dengar nak jangan membuat istri mu menangis karna sedih, sebab setiap tetes Air mata yang ia keluarkan karna kesedihan itu akan membuat rejeki mu tersendat." Ucap sang ibu


Dyoza mengangguk dan mencium kening ibunya.


Kini giliran para tamu memberikan ucapan selamat pada pengantin baru yang sedang berbahagia di mata mereka, seluruh undangan begitu antusias mengantri.


Setiap jenis ucapan terlontar, apalagi dari teman masa SMA mereka.


"Selamat enak-enak bro".


"Akhirnya bisa main bola juga".


"Wahh akhirnya bisa merasakan nikmatnya dunia".

__ADS_1


"Lakukan perlahan, biasanya malam pertama itu wanita sangat kesakitan".


"Playboy cap badak akhirnya menikah juga, selamat yaa".


Dan masih banyak jenis ucapan lainnya yang membuat telinga Dyoza terasa ingin pecah, bahkan wajah shenna sampai merah seperti tomat menahan malu.


"Brengsek mereka".


--


"Duduklah kau kelihatan sangat lelah". Ucap Dyoza


Shenna mengangguk dan duduk, memijat kakinya perlahan.


Dyoza pun segera mengambil alih, ia melepas high heels yang shenna gunakan. Dyoza melihat luka lecet di kaki shenna.


"Kenapa sampai lecet begini, apa itu tidak muat di kaki mu ?".


"Ah, tidak. Itu sudah biasa bagi perempuan".


"Apa ? yang benar saja. Kalian para wanita menyiksa diri".


"Sudahlah jangan di permasalahkan, nanti juga lecetnya hilang. Hanya butuh kompres sedikit semuanya akan baik-baik saja."


Dyoza menggeleng keheranan, ia tidak habis pikir dengan jawaban begitu santai yang di berikan shenna untuknya. Padahal Dyoza begitu khawatir saat ini.


"Lain kali jangan gunakan itu saat bepergian, gunakan sepatu atau sandal saja."


"Iyaa, sudahlah aku bisa sendiri."


Dyoza memanggil pelayan dan memerintahkan untuk mengambil alas kaki untuk Shenna, agar kakinya tidak kedinginan.


Shenna lebih nyaman menggunakan nya, rasa pegalnya pun sedikit berkurang karna pijatan lembut yang di berikan Dyoza.


"Sudah lebih baik ?".


"Sudah, terimakasih".


Dyoza mengangguk lalu mereka pun menyapa para undangan.


Arkan sedang duduk bersama para kerabatnya, bahkan ia seperti tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya kecuali orang-orang yang ada di hadapannya sekarang.


"Ar, kapan kau menyusul ? Kita semua hampir sudah menikah." Ucap 1 orang


"Ya benar, kapan kau menyusul. Kau dan Dyoza bahkan lebih tua darimu". 1 lagi menimpali


"Apa Umur selalu menjadi patokan agar segera menikah ?". Tanya Arkan menenggak minuman nya.


"Ayolah, ini pernikahan bukan ajang perlombaan. Lagi pula menikah itu tidak harus di buru-buru kan ? seperti lomba lari saja".


Mendengar Jawaban Arkan semua sontak tertawa.


Mereka pun bersulang untuk kebahagiaan hari ini.


"Aku berharap bisa jatuh cinta lagi".


"Sebentar ya aku ingin ke toilet". Pamit Arkan


Arkan berjalan menuju toilet dengan santai, saking santainya ia tidak melihat kanan dan kiri.


Brugggg..


"Awwww".


"Maaf nona saya tidak sengaja". Arkan membantu gadis itu berdiri.


"Ahh apa kau ini pegulat ? kenapa kau begitu kuat ?". Tanyanya merapikan rambut


"Maaf sekali lagi saya tidak sengaja."


"Sudahlah lupakan! aku permisi".


Arkan tercengang menatap punggung itu hingga menjauh, ia mengerutkan dahinya.


"Baru kali ini aku menemui gadis cuek seperti itu, biasanya para gadis akan marah dan membentak jika mengalami insiden seperti ini."


Arkan tersenyum tipis dan segera melanjutkan niatnya.


--


"Shenna kau masuklah lebih dulu, aku akan menyusul nanti. Rekan kerja ku masih di sini. Nanti pelayan akan mengantar mu."


"Iya aku sangat lelah, maaf tidak bisa menemanimu sampai akhir."


"Tidak apa-apa, lagi pula acara kita sudah selesai kok. Ayah dan ibu juga kan sudah pulang lebih dulu."


Shenna pun menuju kamar pengantin, Dyoza bergegas menemui rekannya yang masih betah menikmati minumannya.

__ADS_1


"Mari nona saya antar." Ucap pelayan hotel


"Terimakasih."


Sesampainya di dalam kamar, shenna bergegas membersihkan diri. Tubuhnya begitu lengket, ia pun berendam.


"Kamar ini sungguh indah, tapi tidak berguna. Pernikahan ini bukan keinginanku." Ujar shenna menggeleng


Shenna menyingkirkan handuk berbentuk angsa dan membersihkan kelopak bunga mawar yang bertebaran di atas tempat tidur. Rasanya biasa saja, tidak ada yang spesial baginya. Toh ini juga bukan akan jadi malam pertama untuknya dan Dyoza.


Setelah selesai shenna pun merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk, ia sudah menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan meletakkannya di atas sofa.


"Tidak masalah kan kalau aku tidur duluan ? Ah masa bodoh, aku tidak peduli."


Shenna memejamkan matanya dan dalam sekejap ia sudah terlelap. Ia benar-benar kelelahan, Tamu undangan begitu banyak sampai ia kwalahan.


Setelah para tamu undangan pulang Dyoza duduk meluruskan kakinya di dampingi oleh Arkan.


"Apa tuan butuh sesuatu ?".


"Tidak Ar, kau pulanglah! kau juga pasti sangat lelah."


"Saya akan mengantar tuan sampai depan pintu kamar."


"Baiklah, ayo!".


Mereka pun menaiki lift menuju kamar, Dyoza sangat lelah. Kakinya juga terasa pegal.


"Kita sudah sampai tuan."


"Terimakasih Ar, kau boleh pulang."


"Saya permisi tuan, selamat beristirahat." Arkan menundukkan kepalanya dan bergegas pergi.


Dyoza masuk ke dalam kamar dan menemukan sang istri sudah pulas, ia hanya tersenyum tipis. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Butuh waktu 25 menit ia sudah segar kembali, ia pun terkejut melihat baju tidur yang sudah di siapkan oleh sang istri.


"Sedang lelah saja kau masih menyiapkan kebutuhan ku, seandainya kau menginginkan pernikahan ini. Mungkin saat ini kita.... Ah tidak Dyoza jangan berharap terlalu besar."


Kini Dyoza dengan perlahan menaiki tempat tidur agar tidak membangunkan sang istri, namun karna shenna gadis yang sangat sensitif dengan gerakan ia pun melenguh dan perlahan membuka matanya. Dyoza mematung berharap shenna tidak bangun.


"Dyoza kau sudah selesai ?".


"Shenna maaf aku membangun kan mu." Bukannya menjawab justru Dyoza merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, aku memang agak sensitif dengan gerakan saat tidur." Mengucek mata


"Apa kau butuh sesuatu ?".


"Ti,tidak. Kau lanjutkan saja tidurnya. Aku juga akan segera tidur sebentar lagi."


"Baiklah! selamat istirahat."


Dyoza hanya mengangguk lalu membuka layar ponselnya, ia Melihat pesan masuk sudah mencapai ratusan. ternyata teman-teman nya sewaktu di luar negri mengirimkan pesan ucapan selamat untuknya. Dyoza tersenyum dan meletakkan ponselnya lalu tidur.


--


Suara kicauan burung terdengar membuat shenna terbangun dari tidurnya, ia melihat Dyoza tepat di hadapannya. Ia tersentak lalu seketika tersadar, Dyoza sudah menjadi suaminya.


"Astaga hampir saja aku berteriak dan ingin menendang Dyoza, aku lupa dia sekarang suamiku. Dasar shenna bodoh!!."


Shenna pun membuka seluruh gorden, saat cahaya masuk ke dalam kamar Dyoza melenguh dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.


"Dasar kerbau pemalas". Gumam shenna


Kini tubuh shenna sudah sangat segar, ia pun menggunakan dress selutut dan sedikit hiasan. Sederhana namun elegan, shenna tidak terlalu suka dengan hiasan yang mencolok bahkan ia tidak suka dengan warna-warna cerah.


"Dyoza bangun!! apa kau akan tidur sepanjang hari ?".


"Dyoza."


Tidak ada sahutan apalagi pergerakan.


"Sepertinya ia benar-benar kelelahan, kasihan sekali dia."


"Baiklah aku akan meminta pelayan untuk membawakan sarapan ke sini. Sepertinya hari ini akan menghabiskan waktu di dalam kamar."


"Iissshhh sudah seperti pengantin baru saja, eh tapikan aku dan Dyoza memang pengantin baru hihi."


Shenna cekikikan sendiri, meskipun pernikahan nya dengan Dyoza karna terpaksa tetapi shenna dengan bijak menerima semuanya. Ia pun bersikap baik pada Dyoza sebagai suaminya. Ia pun percaya Dyoza tidak akan menyentuh nya tanpa persetujuan darinya.


"Ayah ibu maaf, mungkin saat ini bisa di bilang aku istri durhaka."


-


-

__ADS_1


-


Bersambung..


__ADS_2