Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Rasa bahagia sesaat


__ADS_3

Pekerjaan shenna begitu lancar dan semakin menyenangkan, karna meskipun ia mengenal majikannya shenna tetap bersikap profesional walau terkadang Dyoza selalu mengganggu Nya.


Sudah hampir tiga bulan shenna tidak pulang menemui ayah dan ibunya, akhir pekan rasanya ia ingin meminta izin kepada kepala pelayan untuk pulang.


"Kenapa kau berdiri di situ, apa nona shenna ingin berbicara padaku ?".


Kepala pelayan menyadarkan lamunan shenna saat ia ragu ingin mengajukan permintaan nya .


"Ahhh kepala pelayan benar".


"Kenapa dia bisa membaca pikiranku". Gumam shenna


"Kemari dan duduklah!".


Shenna pun duduk di sebelah kepala pelayan dengan canggung.


"Katakan apa yang kamu ingin bicarakan ?".


"Sa,saya... Mmmmhh saya ma,mau".


"Ada apa ?".


"Jadi begini kepala pelayan, saya ingin minta izin untuk pulang kerumah di akhir pekan nanti untuk melepas rindu saya pada ayah dan ibu. Apakah kepala pelayan mengizinkan ?".


"Oohh aku pikir apa, pulanglah masa percobaan mu sudah selesai. Kau sudah menjadi pelayan handal dan menguasai semua pekerjaan mu".


"Jadi kepala pelayan mengizinkan ?".


Kepala pelayan mengangguk pelan, dan ia terkejut saat shenna memeluk nya dengan sangat bahagia.


"Ah maaf kan saya kepala pelayan, saya terlalu bahagia".


Shenna membungkuk kan badannya merasa tidak enak hati.


"Sudahlah tidak apa-apa".


"Saya permisi kepala pelayan".


Shenna meninggalkan kepala pelayan dengan riang, ia seperti mendapatkan semangat baru.


"Pantas saja Dyoza tidak bisa melupakan mu dan begitu merasa bersalah telah menyia-nyiakan gadis seperti mu, kau begitu berbeda dari gadis yang selama ini aku lihat".


Kepala pelayan begitu mengagumi Shenna mantan anak orang kaya yang jatuh miskin, namun ia selalu berusaha ceria meskipun ia hanya menyembunyikan kesedihannya itu dari orang lain.


**


Shenna tersenyum ceria melayani Dyoza yang baru pulang bekerja. Dyoza merasa aneh dengan pelayan pribadi nya itu.


"Ada apa dengan nya ? Apa dia salah makan ?".


Dyoza mengikuti setiap gerak-gerik shenna.


"Tuan air nya sudah siap".


"Coba lihat dia kenapa dia tersenyum seperti itu ?".


Dyoza tidak menjawab dan berjalan menuju kamar mandi.


Shenna pun menyiapkan pakaian untuk Dyoza sambil bernyanyi dengan suara paling terkecil yang hanya bisa di dengar olehnya.


Ia berputar-putar, menari, bahkan senyumnya masih menghiasi wajah cantiknya itu.


Bahkan menyimpan pakaian kotor diruang ganti pun ia melangkah dengan tarian-tarian kecil.


"Ayah ibu aku merindukan mu".


Ia masih menari-nari seakan ia sendirian, setiap langkahnya ia merasa bahagia.


"Apa yang kau lakukan ?".


"Brukkk".


Shenna terjungkal saat ia kepergok oleh Majikannya.


"Buahahahhaaa".


Dyoza tertawa terbahak-bahak melihat shenna yang terjatuh dengan gaya yang sangat memalukan.


"Bisa tidak kau tidak mengagetkan ku!".


Shenna berteriak keras dan segera menutup mulutnya.


"Wah wah wah dasar pelayan kurang ajar".


"Ma,maaf tuan".


Shenna berbalik membelakangi Dyoza saat ia sadar bahwa majikannya itu hanya berbalut handuk di pinggang nya.


Dyoza berjalan mendekati nya membuat shenna panik dan rasanya ingin kabur dan lari sekencang-kencangnya.


Saat Dyoza berdiri tepat di belakang shenna ia merasakan kecanggungan pada shenna.


"Sepertinya kau sedang senang sekali ya ?".


"Ahhh tentu saja tuan aku sangat senang sekali".


Shenna berbalik menatap Dyoza dan segera membelakangi nya lagi, ia lupa bahwa majikannya masih bertelanjang dada.


"Sudah ku bilang panggil namaku saja saat kau sedang melayani ku di kamar".


"Baik, baik tapi bisakah kau memakai baju mu terlebih dahulu ?".


"Kenapa ? Kau malu ?".


"Memang kau tidak malu ?".


"Tidak!".


"Apa ? ku rasa dia sudah gila".


"Berbaliklah! Aku sudah memakai pakaian ku".


"Benarkah ?".


"Berbaliklah!".


Shenna berbalik menghadap Dyoza dengan mata terpejam.


"Sedang apa kau ?".

__ADS_1


Shenna membuka matanya perlahan dan benar saja Dyoza sudah memakai pakaiannya lengkap.


"Nahhh kalau begini kan tampan".


Shenna membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.


"Apa kau bilang ?".


"Ah tidak, tidak bukan apa-apa".


"Kau bilang aku tampan ?".


Dyoza menatap shenna dengan tatapan menggoda, ia mendekati shenna namun perlahan shenna mundur.


Dyoza menarik tangan shenna agar tidak menjauh darinya.


"Kau mau apa ?".


"Aku mau dengar".


"Apa ?".


"Ucapan mu barusan".


"Yang mana ?".


Shenna berpura-pura tidak mengingatnya, bahkan sekarang ia sedang akting berfikir.


"Wahhh akting mu bagus juga ya, kenapa tidak jadi bintang sinetron saja sekalian".


Dyoza menghempaskan tangan shenna dengan kasar, membuat shenna meringis.


"Dasar laki-laki kasar".


Shenna memegang pergelangan tangannya yang masih sedikit sakit akibat perbuatan Dyoza.


"Duduklah!".


"Kenapa ?".


"Kenapa sekarang ini kau begitu kurang ajar ? Tugasmu hanya patuh pada perintah ku, mengerti tidak ?". Teriak Dyoza


Shenna yang terkejut pun segera duduk di tempat yang Dyoza tunjukkan.


"Maafkan aku, kenapa kau begitu antagonis ?".


"Kalau kau menurut aku tidak akan seperti itu".


"Aku kan hanya bertanya". Gumamnya


"Apa ?".


"Ahh tidak, ada apa ? Apa ada yang ingin kau bicarakan ?".


"Akhir pekan aku ada tugas di luar kota selama 3 hari, aku ingin kau ikut denganku".


"A,apa ?".


"Apa kau tuli sekarang ?".


"Bu,bukan, bukan itu".


Dyoza mengangkat satu alisnya menunggu Jawaban shenna.


"Kenapa aku harus ikut, Bukankah biasanya kau pergi dengan tuan Arkan ?".


"Tentu saja dia selalu bersamaku, tapi aku ingin kamu ikut. Aku ingin tetap ada yang melayaniku".


Shenna menggigit bibir bawahnya, merasa cemas.


"Kau keberatan ?".


Dyoza sudah merasa kesal.


"Kenapa kau diam ?". Bentaknya


Shenna terkejut dan menundukkan kepalanya, ia sedikit takut dengan Dyoza saat ini.


"Jawab!! Apa kau ingin aku pecat ?".


Shenna pun panik.


"Bu, bukan begitu".


"Lalu kenapa kau menolak ?".


"Akhir pekan ini aku....*".


"Kalau kau menolak aku akan benar-benar memecatmu shenna".


"Ba,baik aku akan ikut".


Sebuah senyuman tipis terlukis di wajah Dyoza, ia merasa menang lagi.


**


Shenna menutup pintu dengan lemas, wajahnya kini sudah basah saat ia membelakangi Dyoza untuk keluar dari kamar itu.


Rasa bahagia yang shenna rasakan pun hilang seketika, harapannya bertemu dengan kedua orangtuanya pun sirna.


"Seandainya aku sanggup untuk menolak". Gumam shenna


"Tidak, bukan. Seandainya Dyoza mau mendengarkan alasanku". Sambungnya lagi


"Sedang apa kau disini ?".


Shenna terlonjak kaget.


"Ah ya ampun tuan Arkan, maaf saya tadi melamun".


"Apa yang kau lamun kan ?".


Ti, tidak tuan. Saya permisi".


Arkan tidak menjawab, ia hanya melihat shenna menjauh darinya hingga tak terlihat.


Arkan tersenyum dan segera membuka pintu kamar Dyoza.


"Kau sudah datang ?".

__ADS_1


"Sudah tuan".


"Duduklah!".


Arkan menurut apa yang di katakan Dyoza, mereka segera berbincang membicarakan masalah perusahaan dan perjalanan yang akan mereka lakukan di akhir pekan nanti.


Tengah malam shenna belum memejamkan matanya, ia masih termenung dan memikirkan perjalanan keluar kota bersama majikannya itu.


Gagal sudah bertemu dengan kedua orangtuanya, rasa sedih dan kesepiannya kini melekat lagi pada dirinya. Seandainya ia masih bisa berkumpul bersama dengan keluarga tercinta, pasti rasa bahagia selalu ia rasakan setiap harinya.


Shenna menitihkan air matanya, ia sudah tidak kuasa menahan kesedihannya lagi.


Ia hanya bisa mendengar suara ayah dan ibunya di sebrang telpon, rasa rindu yang begitu besar membuatnya ingin lari saja dari rumah ini.


"Tidurlah Bu! Nanti shenna akan pulang jika sudah bisa mendapatkan libur panjang".


Shenna menutup panggilan telpon nya.


Ia menarik nafas panjang.


"Kau belum tidur".


Shenna kembali di buat terkejut oleh Arkan yang tiba-tiba muncul.


"Ya ampun tuan Arkan".


"Kau terkejut ?".


Shenna mengangguk pelan.


"Maaf".


Shenna kembali terkejut karna Arkan duduk di sampingnya.


"Kenapa kau belum tidur ?".


"Sa,saya belum mengantuk tuan".


"Apa kau menangis ?".


"Ti,tidak! Tadi mata saya hanya kemasukan Debu".


"Benarkah ?".


Shenna mengangguk kembali.


"A,apa tuan Arkan hendak ingin pulang ?".


"Malam ini aku menginap".


"Oooohhhh".


"Kau betah Bekerja disini ?".


"Te,tentu saja Tuan".


"Baguslah kalau begitu".


"Tuan apa saya boleh bertanya ?".


"Silahkan!".


"Apa saya harus ikut dalam perjalanan keluar kota bersama tuan dan tuan Dyoza ?".


"Tuan Dyoza yang meminta ?".


Shenna mengangguk lagi


"Tentu saja kau harus ikut!".


Shenna kembali menarik nafas panjang.


Arkan mengernyitkan dahinya, seperti ada sesuatu yang berat di hati shenna.


"Apa ada sesuatu ?".


"Ahh tidak Tuan, saya hanya sudah mengantuk".


"Apa sedang ada yang kau sembunyikan ?".


Shenna terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Katakanlah yang ingin kau katakan!".


"Apa tuan Arkan tidak keberatan".


"Katakanlah!".


"Saya hanya rindu ayah dan ibu, hari ini saya sudah meminta izin untuk pulang bertemu dengan ayah dan ibu di akhir pekan pada kepala pelayan, dan beliau mengizinkan. Tapi...


"Huh!".


Arkan menarik nafas panjang


"Tuan Dyoza memaksa mu ?".


"Tuan Dyoza tidak memberi saya kesempatan untuk berbicara".


Arkan terdiam.


"Hiks".


"Kau menangis ?".


"Ma,maaf tuan saya...*


Arkan dengan ragu menepuk punggung shenna dengan lembut, menenangkannya.


"Menangis lah!".


Shenna kembali terisak, rasa sesak di dadanya begitu menyakitkan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2