
Sudah 3 bulan shenna menjalankan tugasnya melayani Daniel, ia benar-benar senang karna Daniel memperlakukan nya seperti seorang teman. Daniel selalu membuat shenna bekerja dengan semangat, mood shenna selalu baik semenjak mengenal sosok Daniel.
Shenna yang mengetahui umur Daniel 2 tahun di bawahnya menganggap ia sebagai adik kesayangannya, ya tentu shenna sangat senang menganggap begitu.
Selama ini shenna tidak pernah menjadi sosok kakak atau adik karna ia anak tunggal. Semoga Daniel pun menganggap shenna sebagai kakaknya.
Tapi, shenna salah walaupun Daniel tahu shenna menganggapnya sebagai adik Justru Daniel tidak menganggap shenna sebagai kakaknya, tapi Daniel sudah menyukai shenna dari awal pertemuan mereka. Namun Daniel pandai menyembunyikan perasaan yang selalu mengganggu tidurnya itu.
Awalnya Daniel sangat kecewa karna shenna hanya menganggapnya sebagai adik, tentu ia sangat terpukul. Bahkan ia seperti di tolak sebelum bertindak.
"Selamat pagi". Ucap shenna setelah Daniel menyuruhnya masuk.
"Pagi shenna". Jawabnya penuh semangat.
"Wahhh kenapa kau tampan sekali hari ini, mau kemana ? apa kau mau bertemu dengan kekasih mu ?". Tanya shenna sambil tersenyum menunggu jawaban.
"Kekasih ? kau bercanda! kita kan akan pergi jalan-jalan lagi hari ini dan kenapa kau malah membawa pakaian bersih ini ke kamar ku, ini kan hari libur mu. Cepat lah kau bersiap kita akan ke tempat yang menyenangkan hari ini." Ujar Daniel menggeleng.
"Kenapa ? carilah kekasih biar kau tahu rasanya jatuh cinta! kau tenang saja setelah ini aku akan bersiap." Ucap shenna semangat.
"Dasar bodoh, aku sudah merasakan jatuh cinta sejak beberapa bulan yang lalu hingga hari ini. Hah aku harus bagaimana ? Bahkan kau hanya menganggap ku sebagai adik, ini tidak masuk akal".
"Arrrggghhhh". Daniel kesal sendiri menjambak rambut nya, tanpa ia sadari shenna terlonjak kaget.
"Ka,kau kenapa ?". Ucap shenna takut.
"Hah ? hahahaha tidak aku hanya sedikit pusing saja".
"Kau sakit ?". Shenna mendekati Daniel dan menempelkan punggung tangan nya di kening Daniel. "Kau hangat". Shenna panik dan segera memanggil kepala pelayan.
Daniel hanya menganga melihat tindakan shenna yang menurutnya berlebihan itu. Ia sudah bilang baik-baik saja tapi shenna tidak menggubris nya
"Kenapa jadi begini ?". Daniel garuk-garuk kepala.
Tidak butuh waktu lama kepala pelayan masuk ke dalam kamar Daniel dan ikuti oleh Dyoza, Arkan serta shenna.
"Kenapa mereka semua masuk ?".
"Sayang kau sakit ?". Wajah bibi Hanum terlihat khawatir.
"Aku baik-baik saja bi, tenanglah!". Ucap Daniel santai.
"Kau hangat, bagaimana bisa kau bilang baik-baik saja ?". Ujar bibi Hanum setelah memastikan suhu tubuh keponakan nya itu.
"Dan kenapa tiba-tiba suhu tubuhku jadi tidak normal begini, aku kan baik-baik saja". Daniel merasa frustasi.
__ADS_1
"Saya akan panggil kan dokter untuk Tuan Daniel". Ucap Arkan sambil memainkan ponselnya mencari kontak yang akan ia hubungi dan keluar dari kamar Daniel.
"Tidak usah kak! aku baik-baik saja. Percayalah! kalian jangan berlebihan seperti ini, aku tidak nyaman". Daniel protes.
"Daniel jaga ucapan mu, kita semua khawatir. Jangan membantah!". Ucap Dyoza kesal.
Jika dyoza sudah membuka suara tidak ada satupun yang berani membantah. Daniel pun hanya menekuk wajahnya, pasrah tidak bisa berbuat apa-apa.
"Dan hari ini jangan keluar dari kamar mu, mengerti ?". Titah Dyoza
"Tapi kak". Daniel hendak protes
"Aku tidak suka ada yang membantah ucapan ku".
"Bagaimana ini, aku kan akan pergi jalan-jalan lagi dengan shenna".
"Kak, aku akan jalan-jalan dengan shenna. Aku sudah janji padanya". Gusar itu yang di rasakan Daniel.
"Tuan kita bisa jalan-jalan setelah kau sembuh, kau harus istirahat". Saut shenna.
Dyoza hanya melirik shenna dari ujung matanya tanpa berkata apapun. Daniel pun menunduk menahan kesal pada kakak sepupunya itu.
"Bibi". Jurus andalan Daniel akhirnya di keluarkan, merajuk pada bibi kesayangannya itu.
"Daniel dengarkan apa kata kakak mu, dan Nona shenna juga tidak akan mau jalan-jalan dengan laki-laki yang sedang sakit. benarkan Nona shenna ?".
"Kau dengar kan". Bibi hanum mengelus kepala Daniel dengan sayang.
Sedangkan Dyoza mengulum bibirnya menahan senyum.
"Kenapa aku sangat senang ya". Batin Dyoza
Shenna pamit keluar kamar meninggalkan bibi Hanum dan Dyoza di sana yang menemani Daniel.
Ia menutup pintu dan hendak berbalik tubuh terhuyung karna menabrak laki-laki yang berdiri di belakangnya.
"Astaga, maaf tuan saya tidak sengaja". Ucap shenna terkejut.
"Kau baik-baik saja ?". Tanya Arkan.
"Iya saya baik-baik saja." Jawab shenna sedikit gugup.
"Silahkan Tuan". Shenna menggeser posisi nya mempersilahkan Arkan masuk tanpa menatap Arkan.
Namun bukannya masuk, Arkan justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Shenna mendongak menatap Arkan bingung.
__ADS_1
"Tu,tuan tidak masuk ?". Ujar shenna.
Arkan hanya menatap shenna lama.
"Shenna apa kau baik-baik saja ?". Kata-kata dari Arkan membuat shenna sedikit muak.
Shenna menunduk dan menyunggingkan senyumnya tanpa Arkan ketahui.
"Saya baik-baik saja Tuan". Ucapnya mantap.
Arkan mengangguk pelan mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.
Mereka terdiam cukup lama sampai dokter pribadi datang membuyarkan keheningan.
"Permisi". Ucap sang dokter.
"Kau sudah datang tuan, silahkan masuk". Arkan membuka pintu kamarnya dan ikut masuk setelah sang dokter memasuki kamar Daniel.
Shenna menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara kasar.
"Jangan pedulikan aku tuan Arkan, karna aku sedang berusaha mengendalikan perasaan ku agar berhenti mencintaimu". Mata shenna mulai berkaca-kaca.
Shenna memilih menuju kamar nya, karna hari ini acara jalan-jalan nya batal karna Daniel mendadak sakit.
"Sepertinya liburku hari ini aku isi dengan bermalas-malasan saja". Ucapnya merebahkan diri di tempat tidurnya. "Ahhhh nyaman sekali, otot-otot ku butuh istirahat". Shenna pun tertidur dengan pulas.
--
Setelah mendapat diagnosa Daniel terpaksa harus menurut untuk beristirahat di dalam kamar tanpa melakukan apapun.
Ancaman Dyoza tidak main-main jika Daniel tidak menurut, ia akan di pulangkan kerumah orang tuanya jika berani membantah.
Setelah memberi resep obat, sang dokter pun segera pamit. Arkan mengantar sang dokter sampai depan pintu dan mengangguk hormat saat sang dokter melajukan mobilnya.
Sedangkan di dalam kamar, Daniel berguling-guling tidak jelas, kesal karna gagal jalan-jalan bersama shenna.
--
--
--
Next part aku nunggu like dan komen yang banyak dari kalian yaaa , hehe ..
nih aku kasih sedikit bocoran ..
__ADS_1
aku mau lanjut tentang perasaan Dyoza ke shenna yang selama ini tidak di sadari oleh Dyoza, tapi nanti yaa 🤭 dan ada alasan juga kenapa Arkan mengorbankan perasaan nya untuk Dyoza, yang penasaran yukk ramein like dan komen nya yaaa ..
Selama ini aku semangat karna like dan komen kalian itu berpengaruh banget sama mood ku, sehat-sehat buat kalian dan jaga protokol kesehatan yaaa .. jangan lupa pakai masker kalau keluar rumah , bye-bye 🥰🥰