
Dyoza sampai rumah pukul 22.30 malam, ia tidak berharap shenna menyambut nya. Ia hanya butuh tidur saat ini, setelah menyuruh Arkan pulang ia pun masuk menuju kamar.
"Kak kau baru pulang ?."
"Daniel, kau belum tidur ?."
"Kakak ini kebiasaan deh, di tanya malah balik tanya."
"Iya iya, kenapa kau belum tidur ?."
"Aku haus makanya aku bangun, yasudah Kakak istirahat sana!."
"Iya kau juga cepatlah tidur lagi."
"Iya kak, Selamat beristirahat."
Dyoza pun bergegas menaiki tangga, ia sudah tidak sabar untuk berendam, Badannya sangat lengket.
"Kamu baru pulang ?".
Dyoza terkejut mendapati shenna yang belum tidur.
"Belum tidur ?."
"Belum."
"Kenapa ?."
"Ayo katakan kau menungguku."
"Baru saja aku terbangun."
"Oohhhh."
"Apa yang kau harapkan Dyoza, dasar bodoh."
"Kau mau mandi ?."
"Iya."
"Biar aku siapkan air hangat."
"Tidak usah, aku bisa melakukan nya sendiri."
"Tapi."
"Lanjutkan saja tidur mu."
Shenna duduk kembali saat Dyoza menolaknya. Ada sedikit perasaan aneh pada dirinya saat ini.
25 Menit kemudian Dyoza keluar dengan handuk di pinggangnya, ia melihat piyama yang sudah di siapkan oleh shenna. Ia pun memakai piyama itu, ia melirik shenna yang sudah berbaring tanpa guling yang membatasi.
Dyoza ikut berbaring ia pun mengambil guling lalu membatasi nya dengan guling itu, ya kebiasaan yang shenna lakukan kini membuat Dyoza terbiasa.
Ia pun merebahkan tubuhnya membelakangi sang istri, shenna yang berpura-pura tidur pun membuka matanya. Ia cukup terkejut dengan apa yang di lakukan Dyoza saat ini, bukankah seharusnya Dyoza senang ia tidak membatasi nya dengan guling. Tapi, kenapa justru seolah Dyoza sudah nyaman dengan situasi saat ini.
"Shenna apa yang kau pikirkan, seharusnya kau senang bukan ?."
Shenna ikut membelakangi sang suami, ia menggigit ibu jarinya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun entah itu apa.
Ia berguling-guling tanpa ia sadari Dyoza menatap nya dengan bingung.
"Kau kenapa ?." Tanya Dyoza pelan
"Entahlah, aku tidak bisa tidur."
"Apa ada yang sedang mengganggu pikiran mu ?."
"Ti,tidak! hanya tidak bisa tidur saja."
"Yasudah jangan begadang ya, aku akan tidur." Dyoza kembali membelakangi sang istri
"I,iya. Selamat beristirahat."
"Mmmm."
Beberapa menit kemudian shenna mendengar deru nafas yang sangat tenang, pertanda sang suami sudah masuk ke alam mimpinya.
Shenna membuang nafas panjang, sepertinya ia tidak terbiasa dengan sikap cuek sang suami. Biasanya ia selalu di goda oleh Dyoza walaupun shenna selalu menolak tapi, sebenarnya hatinya sangat senang. Dengan menyembunyikan rasa bahagianya itulah agar ia tidak dapat membuka hati untuk Dyoza.
__ADS_1
Baru Sehari Dyoza cuek shenna sudah gelisah, bagaimana jika besok dan seterusnya.
"Apa ini yang Dyoza rasakan saat aku sebagai istri selalu cuek akan perasaan nya ?."
"Eh apa-apaan ini, shenna come on. Jangan pedulikan Dyoza."
Akhirnya shenna terlelap membawa kegelisahan di hatinya.
--
--
--
Shenna terbangun di pukul 05.00 pagi, ia melihat sosok laki-laki di depannya yang masih tidur dengan nyenyak. Shenna menatap sang suami yang terlihat sangat kelelahan.
"Maafkan aku, aku harus melakukannya. Aku tidak mau jatuh lagi seperti dulu, kau terlalu membuatku merasakan kekecewaan."
Shenna beranjak dari tidurnya dan menyiapkan segala keperluan sang suami, meskipun ini akhir pekan shenna tetap bangun lebih awal dari suaminya.
Jalan-jalan berkedok bulan madu mereka batalkan dengan alasan tidak banyak waktu untuk melakukan hal itu, sebab shenna sendiri yang meminta agar Dyoza membatalkan nya.
Padahal Dyoza ingin sekali berduaan di luar negeri dengan shenna sang istri tercinta, entahlah shenna tiba-tiba tidak ingin pergi. Dyoza sangat kesal sebenarnya tapi apa boleh buat, rasa cintanya membuat ia harus bersabar dalam menghadapi sikap shenna.
Shenna sedang membantu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan pagi, ia melihat Daniel yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Selamat pagi adik kesayangan, ayo sarapan!."
Daniel hanya melengos saat shenna menyapanya, apalagi dengan sebutan adik kesayangan. Sungguh menggelikan baginya.
"Eh kenapa dengan Daniel, apa dia tidak dengar aku memanggil nya." Gumamnya
"Daniel kau mau kemana ? Daniel." Shenna mengejar Daniel
"Daniel."
"Kenapa ?". Ucapnya ketus
"Eh kenapa terlihat kesal begitu, Kau sedang datang bulan ?."
"Tidak lucu!! cepat katakan ada apa ?."
"Bukan urusanmu, urus saja suamimu itu."
"Loh Daniel, hei."
Daniel bergegas keluar rumah, ia menaiki mobilnya dengan cepat.
"Kenapa anak itu berubah, tidak seperti Daniel yang ku kenal dulu." Ucap shenna lirih
Shenna kembali ke dapur, saat semuanya sudah beres ia pun menaiki anak tangga untuk membangunkan suaminya.
Saat masuk ke dalam kamar ia melihat suaminya masih dengan posisi yang sama, bahkan masih sangat nyenyak, tega tidak tega shenna membangunkan nya.
"Dyoza bangun! ayo kita sarapan." Ucapnya menepuk punggung sang suami
"Dyoza."
"Mmmmmhhh." Lenguhan lembut dari Dyoza
"Ayo bangun, kita sarapan."
"Aku masih sangat ngantuk." Ucapnya serak
"Mau ku bawakan sarapan ke kamar ?."
Hening.. tidak ada sahutan dari Dyoza, sepertinya ia kembali pulas.
Shenna menempelkan punggung tangannya pada kening Dyoza, memastikan suhu tubuh sang suami masih normal.
"Tidak panas." Gumamnya
Saat shenna hendak menarik tangannya, Dyoza dengan cepat memegang pergelangan tangan shenna. Tentu saja shenna terkejut dengan tindakan Dyoza tersebut.
Shenna memperhatikan Dyoza yang masih terpejam, ia memperhatikan wajah itu. Bahkan kini tangan kanannya berada dalam pelukan Dyoza.
"Dyoza, ayo bangun." ucapnya bisik-bisik
Shenna perlahan menarik tangannya, namun nihil. Dyoza memeluk tangannya dengan erat.
__ADS_1
"Hmmmm sampai kapan ia seperti itu ?." Gumamnya
"Kenapa dia selalu tampan ya ? Eh shenna dasar bodoh kenapa memujinya."
"Sebenarnya aku juga masih ngantuk, semalam aku tidak bisa tidur karna memikirkan hal bodoh. Tidur lagi sebentar tidak apa kali ya, mumpung masih pagi juga hihi."
Shenna merebahkan kembali tubuhnya dengan posisi tangan melingkari pinggang Dyoza, seulas senyuman tipis muncul di bibir Dyoza. Sepertinya modusnya berhasil kali ini, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Tanpa shenna sadari ia pun pulas, Dyoza yang kini berbalik menghadapnya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memeluk sang istri yang seperti singa betina itu.
"Tidak apa kan aku memeluk mu seperti pencuri seperti ini ? Kalau tidak seperti bagaimana mungkin kau mau aku peluk, yang ada aku akan di tendang olehmu."
Shenna semakin lelap, tubuhnya tidak dapat berbohong bahwa kini ia merasa nyaman dalam pelukan sang suami.
Dyoza menatap dalam wajah sang empu, betapa ia sangat mencintai wanita di hadapannya. Semoga shenna masih bisa memberikan kesempatan baginya untuk memperbaiki semuanya bahkan Dyoza berharap shenna mau kembali membuka hati untuk nya.
Ia tidak mau shenna seperti ini terus menerus, Dyoza tidak akan sanggup. Bahkan sesungguhnya Dyoza bukanlah sosok penyabar, demi shenna ia mencoba bersabar menerima perlakuan apapun darinya.
"Aku selalu berharap, kelak suatu hari nanti kau akan memelukku saat tidur tanpa perlu aku melakukan hal konyol seperti ini "
Dyoza mencium kening shenna dengan lembut dan dalam, ia memejamkan matanya kembali. Rasanya enggan untuk beranjak dari sana, ia berharap shenna tidur sedikit lama agar ia bisa memeluk shenna dengan puas.
.
.
Shenna kembali membuka matanya, ia terkejut sendiri. Ia sudah tidak melihat sang suami di sampingnya.
"Ah ya ampun bagaimana bisa aku tidur lagi, Bahkan sekarang sudah jam 09.00."
Shenna beranjak dari tidurnya lalu segera menuruni anak tangga, ia melihat sang suami sudah ada di meja makan.
"Selamat pagi istri ku, bagaimana tidurnya ?." Sapa Dyoza sambil mengunyah
"Pagi Dyoza, kenapa kau tidak membangunkan ku ?." Ucapnya frustasi
"Kau sangat nyenyak, sepertinya kau butuh istirahat lebih banyak."
"Maaf ya, aku ketiduran."
"He'em tidak apa, santai saja. Makanlah!." Dyoza menggeser piring berisi roti yang sudah ia olesi selai.
"Terimakasih."
Dyoza hanya tersenyum lalu kembali fokus pada makanannya.
"Oke Dyoza lanjutkan sandiwara cuek mu."
Shenna menikmati sarapan yang kesiangan dengan ciri-ciri pandang pada suaminya itu, ia mengerutkan dahinya. Tidak seperti biasanya Dyoza tidak memandang nya saat sarapan, biasanya suaminya itu selalu bertingkah kecentilan.
"Apa wajahku ada yang aneh ya, sampai Dyoza tidak mau melihat ku. Biasanya ia selalu menatap ku kan. Bisa-bisanya aku tidak ngaca dulu sebelum turun."
Dyoza tersenyum tipis, bahkan shenna sampai tidak bisa membaca bahwa kini sang suami sedang tersenyum kegirangan. Shenna benar-benar frustasi sendiri mendapati dyoza yang dari semalam bersikap acuh tak acuh padanya. Seharusnya ia senang bukan ?."
"Bagus Dyoza, rencanamu berhasil."
"Kau mau kemana ?." Ucap shenna saat Dyoza berdiri.
"Mau mandi, kenapa ?."
"Aku kan belum selesai sarapan."
"Biasanya juga sarapan sendiri kan ?".
"Tapi, kau kan libur. Kenapa harus buru-buru mandi ? biasanya juga malas-malasan."
"Sejak kapan kau banyak protes ? biasanya juga kau tidak pernah peduli apa yang aku lakukan."
"Si,siapa yang peduli ? aku kan hanya bertanya."
"Tidak ada jawaban untuk pertanyaan mu itu."
Dyoza tersenyum miring saat ia menapaki setiap anak tangga, ia bersiul ceria seolah habis mendapatkan hadiah besar.
"Kenapa dia semakin menyebalkan ?." Gumam shenna melahap kasar sarapan nya.
.
.
__ADS_1
.