
Dyoza mengeringkan rambutnya keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat shenna sudah kembali ke dalam kamar dengan posisi berbaring menutup selimut hingga ke leher.
Dyoza mendengus, sedikit kesal dengan istri nya itu. Ia harus mandi air dingin untuk menghilangkan hasratnya yang tertunda.
Ia dengan cepat memakai piyamanya dan mengambil bantal ia lebih memilih tidur di sofa.
Shenna yang berpura-pura tidur mengerutkan dahinya, ia mengintip sang suami yang sedang berbaring di atas sofa sambil memainkan ponselnya.
"Dia pasti marah."
Dengan berat hati shenna memejamkan matanya, mencoba untuk tidak peduli pada sosok yang sedang menghindari nya saat ini.
"Kalau aku tidur di ranjang aku takut junior bangun, bisa gila aku jika menahannya lagi. Lebih baik aku tidur di sofa untuk sementara waktu. Ohh Tuhan ini kah hukuman untukku ? Bahkan sudah punya istri saja aku harus menjaga setiap sentuhan ku pada istri sendiri."
Shenna gelisah, ia bergerak kesana-kemari mencari posisi ternyaman. Dyoza yang melihat itu hanya melirik dan bersikap cuek, ia kembali pada ponsel di tangannya.
"Kenapa shenna bergoyang-goyang seperti itu ? menggoda apa bagaimana sih, dasar wanita selalu saja bikin pusing apa mau nya."
Dyoza ingin berteriak pada shenna untuk tidak mencari perhatian padanya, matanya tidak lepas dari shenna jika ia terus bergerilya seperti itu.
Ia mengusap dadanya, menarik nafas panjang. Entahlah sejak kapan ia bisa sesabar ini.
Dyoza melihat jam di dinding nya, menunjukkan pukul 22.30 malam. Ia akhirnya memutuskan untuk tidur karna besok ia ada meeting pagi.
Shenna justru tidak bisa tidur, entah apa yang ia gelisah kan saat ini. Namun sepertinya sikapnya tadi membuat nya terganggu sendiri.
Ia melihat Dyoza yang tidur tanpa selimut, akhirnya shenna memutuskan untuk mengambil selimut dari dalam lemari dan memakaikan pada sang suami.
Shenna duduk sebentar memandang wajah tampan itu, ia menatap sendu.
"Maafkan aku, aku bukan istri yang baik untukmu. Bahkan untuk memberi hak mu saja aku belum siap, atau mungkin tidak akan pernah siap." Shenna menitihkan air mata nya
"Dyoza, aku serahkan semuanya padamu. Aku tidak akan meninggalkan mu tapi, kau mungkin bisa karena, banyak faktor yang mungkin bisa kau ambil menjadi sebuah alasan untuk mu meninggalkan ku."
"Aku tahu kau bukan sosok laki-laki sabar tapi kau mencoba untuk itu, apa aku salah jika aku belum siap ? Pasti salahkan ? Bahkan saat ini aku seorang istri yang durhaka padamu. Percayalah aku sedang berusaha untuk menerima semuanya, kekecewaan, rasa kesal, marah aku mencoba untuk mengikhlaskan apa yang sudah menjadi bagian dari takdirku."
Shenna memberanikan diri mengungkapkan seluruh isi hatinya, walaupun Dyoza tidur. Ia tidak berharap Dyoza mendengarnya, bahkan shenna pun berbicara dengan nada pelan seakan sedang berbisik.
"Tapi, terimakasih karena kau mau menerima semua tentang ku. Bahkan kau sangat menyayangi orang tua ku, Dyoza aku harus apa ? Aku merasa aku sendirian di sini, seakan tidak ada yang peduli. Padahal kau sangat peduli padaku, tapi hari-hari ku begitu kosong."
"Hiks"
Shenna membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan nya, agar tidak membangunkan Dyoza karna Isak tangisnya.
Dyoza yang sejak awal terbangun karna merasakan ada seseorang yang menyelimuti nya pun berpura-pura tidur.
Ia mendengar ucapan shenna dari awal, jujur ia ingin sekali memeluk shenna. Ingin sekali berkata ia tidak sendirian, ia merasa seperti itu karna hatinya tidak mau terbuka luas untuknya.
"Selamat istirahat, Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi untukmu."
Dyoza ingin sekali memeluk shenna saat ini, tapi ia menahan keinginannya itu. Ia ingin melihat perubahan pada diri shenna, shenna benar ia bisa saja menyidangkan pernikahan ini tapi, Dyoza sudah berjanji akan menjadi lelaki baik dan akan mempertahankan rumah tangga nya. Ia akan menjadi sosok laki-laki yang bertanggung jawab dalam segala hal.
Ia ingin menebus semua keburukannya di masa lalu, ia akan setia pada satu wanita saja saat ini dan selamanya.
"Tahan Dyoza, bersikap lah cuek padanya. Jangan sedikit-sedikit nyosor!!!."
Dengan kekuatan tekat pada dirinya, ia pun pasrah dan membiarkan shenna kembali ke ranjang. Dyoza menarik nafas dan kembali tidur. Besok ia akan berniat bangun pagi sebelum shenna bangun dari tidurnya, ia benar-benar harus melakukan ini agar shenna merasakan kehilangan sebuah perhatian dari sang suami.
--
Shenna menguap lalu merapikan rambutnya yang berantakan, ia bangun di pukul 06.00 pagi. Shenna mencari sang suami sudah tidak ada di sofa, lalu matanya mengarah pada kamar mandi. Ia turun dari ranjang menuju ke arah sana dan ia tidak mendengar suara gemericik air, shenna membuka pintu kamar mandi tapi tidak terkunci.
Akhirnya ia turun menuju meja makan, namun nihil ia tidak menemukan sosok yang ia cari.
__ADS_1
"Bibi, Dyoza kemana ?."
"Sudah berangkat kerja sayang, katanya ada meeting pagi hari ini."
"Kenapa tidak membangunkan ku ya ?."
"Ia tidak tega, kamu tidurnya pulas sekali."
"Hmmm Baiklah bi."
"Eh mau ngapain ?."
"Bantu bibi masak."
"Tidak usah sayang, kamu istirahat saja. Lagi pula sudah ada 2 orang yang memasak."
"Tapi, bi."
"Sudah sana istirahat lagi, nanti biar bibi antar sarapannya ke kamar kamu."
"Bibi Hanum, terima kasih."
Shenna memeluk bibi Hanum lalu mencium pipinya, ia sangat menyayangi bibi dari suaminya itu. Bahkan saat menjadi pelayan shenna sudah sangat menyayangi bibi Hanum.
"Anak nakal, belum mandi sudah cium-cium."
"Hehehe aku ke atas ya bi."
"Iyaa sayang."
Bibi Hanum tersenyum menatap istri keponakan nya itu, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah shenna yang terkadang seperti anak kecil, sangat manja.
Ia merasa ikut beruntung Dyoza mendapatkan istri yang baik seperti shenna.
Dyoza dan rekan kerja lainnya kini sedang berada di sebuah ruangan, meeting kali ini sangat penting untuk perusahaan nya.
Mereka saling memberi solusi satu sama lain, Dyoza begitu serius mendengarkan presentasi dari salah satu staffnya.
Hampir 1 jam akhirnya meeting selesai, Dyoza dan Arkan kembali ke ruangannya begitu pun dengan yang lain.
"Tuan mau makan apa, biar saya siapkan ?."
"Tidak perlu Ar, aku tidak lapar."
Arkan mengerutkan dahinya, tidak seperti biasanya Dyoza bilang tidak lapar.
"Mau makan makanan ringan ?."
"Hmm buah saja."
"Baik tuan saya permisi."
Dyoza membuka laptopnya mengecek sesuatu di sana, saat Arkan kembali membawa sepiring potongan buah segar ia pun menutup laptopnya.
"Silahkan tuan!."
"Terimakasih Ar."
"Hari ini kita selesaikan semua pekerjaan kita Ar, kita lembur. Kalau perlu kita menginap di sini."
"Hah ?." Arkan tampak terkejut
"Kau dengarkan ?."
__ADS_1
"Baik tuan."
"Ada apa dengan Tuan Dyoza, sepertinya ada masalah."
Shenna mondar-mandir di ruang tengah, ia khawatir sudah jam 23.30 Dyoza belum juga pulang. Pesan yang ia kirim tidak di baca bahkan telpon pun tidak di angkat.
Tidak seperti biasanya Dyoza pulang hingga larut seperti ini, jika ia lembur pasti akan mengabarinya.
Bibi Hanum hanya geleng-geleng kepala melihat shenna yang menolaknya untuk masuk ke kamar, bahkan shenna melarang bibi Hanum untuk menemani nya.
Dengan terpaksa bibi Hanum masuk ke dalam kamarnya, padahal bibi Hanum tahu kalau Dyoza akan menginap di kantor. Tapi, Dyoza melarang bibi nya itu untuk memberitahu sang istri.
Bahkan bibi Hanum sudah tahu rencana sang keponakan, ia hanya berdoa semoga rencana Dyoza berhasil membuat shenna kembali membuka hati untuknya.
"Sebenarnya aku tidak tega melihat shenna begitu khawatir, tapi mau bagaimana lagi Dyoza juga butuh kepastian tentang hati shenna."
Shenna sudah mulai lelah, pada akhirnya ia masuk ke dalam kamar pukul 02.00 pagi.
Ia memberanikan diri untuk menelpon Arkan untuk bertanya.
"Tuan nona shenna menelpon saya."
"Angkat saja Ar, bilang jangan tunggu aku."
"Baik tuan."
"Hallo"
"Ya Nona, ada yang bisa saya bantu ?."
"Tuan Arkan, apa Dyoza baik-baik saja ?."
"Tentu nona, Tuan Dyoza sedang lembur bersama saya di kantor. Kemungkinan kami menginap di sini."
"Oh begitu, yasudah terimakasih."
"Sama-sama Nona."
Shenna mengakhiri panggilan telepon nya.
"Sepertinya Nona shenna mengkhawatirkan anda Tuan."
"Biarkan saja!. Ar tolong kau cek ini!."
"Baik Tuan."
Di dalam kamar shenna menekuk wajahnya, ia sedikit kesal.
"Kenapa dia tidak memberiku kabar ? Apa sesibuk itu ? Bahkan tuan arkan bisa menerima panggilan telepon, kenapa dia tidak bisa ? Hmmm Baiklah, aku tidak akan menganggu nya. Mungkin benar-benar sibuk."
Shenna pun memutuskan untuk tidur, ia pasti akan kesiangan. Bahkan kini dengan cepat ia sudah terlelap, benar-benar malam yang panjang baginya. Shenna memaklumi dengan sikap Dyoza saat ini, karna ini ulahnya sendiri. Ia hanya berharap semoga Dyoza tidak akan seperti ini terus-menerus.
Dyoza baru saja selesai mengerjakan pekerjaan nya bersama Arkan, sebenarnya pekerjaan itu sudah selesai tapi ia benar-benar menyibukkan diri ia selalu menyuruh Arkan untuk merevisi pekerjaan nya, Arkan yang sudah membaca gelagat bos nya itu hanya mengikuti apa yang di minta.
Padahal pekerjaan ini bisa di selesaikan dalam waktu singkat, demi menghindari shenna sang bos besar rela tidak pulang kerumah.
.
.
.
.
__ADS_1