
"Apa tuan tidak jadi pergi bulan madu bersama Nona ?." Tanya Arkan
"Tidak perlu, shenna tidak membutuhkannya. Lagi pula untuk apa pergi jauh-jauh hanya untuk jalan-jalan, ke mall juga bisa, atau ke taman hiburan di dekat sini." Ucap Dyoza sedikit ketus
"Maaf Tuan."
"Tidak apa-apa."
Dyoza menarik nafas panjang, semalaman ia tidak dapat tidur. Sekarang ia berada di dalam mobil menuju rumah, misi menginap di kantor tidak membuat nya merasa nyaman jauh dari shenna. Justru saat ini ia sangat merindukan sang istri.
"Ar, apa saat shenna menjalin hubungan denganmu ia bersikap manis padamu ?."
Arkan yang mendapat pertanyaan itu membuatnya terbatuk.
"Santai saja Ar, aku hanya ingin tahu."
"Maafkan saya tuan, tapi sepertinya tidak enak membahas tentang saya dengan nona saat ini."
"Aku hanya bertanya, dia bersikap manis atau tidak ? Kau tinggal menjawab iya atau tidak."
"I,iya Tuan."
"Huhhhh."
Arkan menarik nafas panjang.
"Kenapa jadi menanyakan hal itu ? membuat ku tidak enak hati."
Suara mobil terdengar di telinga Shenna, ia berlari menuju sumber suara.
Ia melihat pintu mobil terbuka dan segera menghampiri nya, shenna berniat untuk mengambil tas yang Arkan bawa namun dengan cepat Dyoza melarangnya.
"Tidak perlu! aku dan Arkan masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan."
Arkan mengerutkan keningnya.
"Pekerjaan ?."
"Iya kan Arkan ?."
"Iya tuan."
"Lebih baik menurutinya saja dulu, oh tuhan aku ingin sekali berendam. Bahkan weekend saja aku harus meladeni kegalauan nya."
Dyoza berjalan menuju ruang kerja diikuti oleh Arkan, shenna pun ikut mengekor di belakangnya.
"Kau sudah sarapan ? Mau aku siapkan ?."
"Tidak perlu! aku akan memintanya pada bibi."
"Bibi sedang sibuk, biar aku saja ya ?."
Dyoza berhenti menatap tajam pada shenna.
"Bisa tidak mulai saat ini kau jangan banyak bicara ? Kau membuat ku pusing."
Shenna membeku, lidah nya seakan kelu. Ia dengan susah payah menelan Saliva nya. Shenna mengangguk tanda mengerti.
Setelah itu Dyoza menaiki anak tangga dan masuk ke dalam ruang kerja.
Shenna berjalan menuju taman belakang, ia melamun. Rasanya air matanya sudah kering, bahkan untuk menangis saja begitu sulit.
Ia menepuk-nepuk dadanya, berharap sesuatu yang mengganjal di sana segera hilang. Tatapan tajam Dyoza masih terngiang di kepalanya.
"Dyoza berubah dingin, bukan kah seharusnya aku senang ?."
"*Sepertinya ini akan terus berlanjut hingga di hari-hari berikutnya."
"Oke shenna, minta maaf saja dulu*!."
--
__ADS_1
Dyoza dan arkan merebahkan diri setelah bergantian mandi, kini mereka terlihat lebih segar.
"Sepertinya saya akan tidur Tuan."
"Ya, aku juga. Semoga rencana ini tidak sia-sia."
"Semoga saja tuan."
Tidak butuh waktu lama mereka pun tidur dengan nyenyak, weekend yang sangat melelahkan bagi mereka.
Sedangkan di kamar utama, shenna hanya memikirkan bagaimana Caranya agar Dyoza memaafkannya.
Shenna mondar-mandir menggigit kuku tangannya, ia berfikir keras bagaimana ia akan memulai pembicaraan pada suaminya nanti.
"Aku tidak pandai menggoda, aku bukan wanita penggoda. Ih menyebalkan sekali Dyoza itu, kenapa jadi seperti ini situasi nya sih ?."
"Bahkan pulang kerja saja dia harus kerja lagi, memberi kabar pun tidak. Sampai rumah sikapnya makin aneh, Dyoza itu pecicilan kenapa jadi dingin begitu. Mungkin dugaan ku benar, dia tergoda wanita lain. Huh!."
Arkan terbangun dari tidurnya yang cukup panjang, rasa laparnya kini sudah terasa. Ia memegang perutnya yang sudah berbunyi "krukuk" Ia pun menoleh ke arah Dyoza. Masih begitu lelap, benar-benar sedang banyak pikiran bahkan sedang tidur saja tangannya memegang kepala.
Ia memutuskan untuk menemui bibi Hanum untuk meminta makanan, saat keluar dan menutup pintu ia berpapasan dengan shenna yang juga baru keluar dari dalam kamarnya.
Dyoza membungkuk dan memberi salam pada shenna.
"Selamat siang Nona."
Shenna mengangguk dengan senyum tipis lalu melewati Arkan.
Arkan hanya tersenyum getir melihat shenna yang begitu dingin padanya. Ia pun mengekor ikut menuruni anak tangga.
"Shenna kenapa sayang ?." Sapa bibi Hanum
"Aku ingin makan puding bi, sepertinya siang begini enak makan puding."
"Ada di dalam kulkas, mau bibi ambilkan ?."
"Tidak usah bi, biar shenna saja."
"Iya Bi, boleh aku meminta makanan ? Aku kelaparan."
"Ya ampun keponakan bibi ini lapar rupanya, sini sayang duduk!! biar bibi siapkan, Dyoza mana ?
"Masih tidur bi, aku tidak tega membangunkannya."
"Ini sudah jam makan siang, yasudah nanti juga turun kalau perutnya lapar."
Shenna melirik bibi Hanum dan Arkan, ia merasa bibi Hanum ia memperlakukan Arkan dengan sangat baik. Shenna tersenyum tipis sambil memotong puding coklat, lalu ia menuangkan Fla di atasnya.
Arkan yang melihat nya menelan Saliva, sepertinya makan puding memang enak di siang hari.
"Mmmmm Nona apa saya boleh minta pudingnya ? Sepertinya enak!."
Shenna melihat ke arah Arkan dan menggeser nya, lalu Arkan berdiri dan mengambil pisau untuk memotong puding itu. Tanpa berkata apapun shenna pergi dengan sepiring puding di tangannya.
"Bibi aku ke taman, terimakasih pudingnya."
"Loh sekalian makan siang sayang, sebentar lagi siap."
"Sepertinya aku tidak lapar Bi."
"Iihh anak itu, kenapa tidak makan."
Arkan melirik shenna ia menatap punggung itu yang semakin lama semakin menjauh.
Lalu kembali fokus pada puding di depannya saat ini.
"Sampai kapan kau terus bersikap seperti itu padaku shenna ?."
"Ohh ya bi kemana tuan Daniel ?."
"Entahlah, saat libur kerja dia jarang dirumah. Bahkan berangkat kerja pun tidak pernah lagi dirumah, ia selalu terburu-buru."
__ADS_1
Arkan Hanya mengangguk.
Tidak lama kemudian Dyoza turun untuk makan siang, ia mencari sosok sang istri namun tidak ada.
"Dimana shenna bi ?."
"Tadi dia pergi ke taman belakang."
"Tidak makan ?."
"Katanya tidak lapar, ia hanya mengambil beberapa potong puding saja. Biar bibi panggilkan."
"Tidak perlu bi, biarkan saja!."
Bibi Hanum hanya mengangguk dan melirik Arkan berharap ada penjelasan di sana, Arkan hanya mengangkat bahu nya tanda tidak tahu apa-apa.
"Sepertinya ini akan lebih merepotkan menghadapi sikap tuan yang sekarang terlihat dingin, semoga shenna lebih menyadari perasaannya. Aku takut awalnya hanya sebuah rencana tiba-tiba berubah menjadi sungguhan."
Arkan sedikit khawatir dengan Dyoza, semoga saja apa yang ia takutkan itu tidak akan pernah terjadi.
--
Kini Dyoza dan shenna sedang berada di dalam kamar, Dyoza yang sedang asyik membaca tidak menghiraukan shenna sedikit pun.
Shenna yang sedang duduk di atas ranjang menghampiri Dyoza yang sedang asyik pada bacaannya. Sudah hampir 1 bulan Dyoza tidur di sofa.
"Dyoza."
"Hmmmm". Sautnya masih fokus pada buku
"Kau tidak mau tidur di ranjang ?."
"Tidak!."
"Kenapa ? Itu kan ranjang milik mu, biar aku saja yang tidur di sofa."
Dyoza menutup bukunya dengan malas ia menatap shenna.
"Bahkan kau anggap ranjang itu hanya milikku ? Shenna kau ini istri ku."
"Iya aku tahu, tapi kenapa kau harus tidur di sofa ?."
Dyoza meletakkan bukunya dan segera berdiri menghadap shenna, menatap nya dengan tajam.
"Aku laki-laki, aku akan pegang janjiku padamu. Aku tidak akan melakukan nya jika kau tidak mengizinkannya, tapi satu hal yang harus kau tahu. UNTUK APA KITA MENIKAH JIKA TIDAK MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI."
Shenna membeku, ia benar-benar tidak bisa menjawab ucapan Dyoza.
Ia membenarkan apa yang Dyoza ucapkan saat ini.
"A,aku... aku....
Dyoza tersenyum miring.
"Tidak perlu menjawab apapun! sekarang tidur dan jangan ganggu kegiatan ku."
Dyoza kembali merebahkan dirinya di sofa dan kembali membuka bukunya tanpa menghiraukan shenna yang masih berdiri di dekatnya.
Shenna menatap sendu, ia benar-benar telah merubah Dyoza menjadi dingin. Ia benar-benar rindu pada sosok Dyoza yang pecicilan dan selalu menggodanya.
Dyoza melirik shenna setelah ia berjalan kembali menuju ranjangnya, ia menyelimuti seluruh tubuhnya hingga batas leher. Shenna menangis, ia benar-benar gagal menjadi seorang istri. Bahkan untuk memberi hak suaminya saja ia belum siap atau bahkan tidak akan pernah siap, ia terlalu takut. Takut akan kekecewaan yang akan ia alami lagi.
Luka yang pernah Dyoza berikan seperti selalu membayangi dirinya, Dyoza benar untuk apa menikah jika tidak melakukan hubungan suami istri. Dyoza selama ini sudah begitu sabar menghadapinya, apa shenna tetap akan bertahan pada dirinya yang seperti ini.
Bukankah kesedihan itu sudah 1 paket dengan kebahagian ? Dimana ada kebahagiaan di situ pula ada kesedihan, seharusnya shenna memang sudah siap akan hal itu bukan ?.
"Dyoza maafkan aku, aku akan berusaha untuk menjadi istri mu yang lebih baik lagi. Aku janji akan membuang semua kenangan buruk kita di masa lalu, semoga belum terlambat."
Dyoza menutup bukunya, rasanya sudah tidak tertarik sama sekali. Ia pun menarik selimut hingga pinggang dan berusaha memejamkan mata. Besok waktunya libur kerja, entahlah akan seperti apa liburan dirumah bersama shenna. Mungkin para suami akan menunggu hari libur untuk menikmati bersama istri tapi bagi Dyoza tidak seperti itu.
"Bersikap seperti ini membuat ku sedikit nyaman, aku tidak akan lagi berharap apapun padanya. Biarkan saja semuanya berjalan seperti seharusnya."
__ADS_1
"Apapun keputusan shenna aku akan terima, jika ia belum siap menjadi seorang istri sampai batas kesabaran ku habis, aku akan membebaskan nya."