
"Kenapa mereka lama sekali."
Dyoza menatap pintu masuk dengan gelisah, ia menunggu kedatangan Arkan dan shenna. Sudah 20 menit berlalu mereka belum juga masuk.
"Dyoza." Teriakan keras mengagetkan Dyoza.
"Reza." Tak kalah keras Dyoza pun memanggil temannya itu.
Mereka menjabat tangan dan saling berpelukan.
"Bagaimana kabarmu Dyoza ?."
"Aku baik, kau bagaimana kenapa sekarang terlihat lebih tampan ?."
"Ah kau ini bisa saja menggodaku."
"Hahahahaa." Mereka tertawa bersama, dan menyapa teman yang lainnya.
Dyoza dan Reza bergabung dengan yang lain, saling mengobrol mengenang masa-masa SMA serta pengalaman mereka setelah lulus SMA.
"Hai." Salah satu mantan kekasih Reza menyapa.
"Eh Ressa, kau dengan siapa ?." Ucap Dyoza.
"Kenalin ini Raka calon suami aku."
Dyoza dan Reza pun menjabat tangan calon suami Ressa.
"Aku dan Raka ke sana dulu ya!."
Pamit Ressa.
"Oke sa." Ucap Dyoza singkat.
"Bagaimana perasaan mu ?."
goda Dyoza.
"Ah kau ini, itu sudah lama sekali Dyoza."
Dyoza tersenyum mengangguk.
"Dyoza coba lihat siapa yang datang!."
Reza menyenggol lengan Dyoza.
Dyoza seketika melihat kearah pintu masuk.
"Kenapa shenna semakin cantik saja?." ucap Reza penuh takjub.
"Apa harus bergandengan tangan seperti itu ?."
Batin Dyoza.
Semua mata tertuju pada shenna yang berjalan beriringan dengan arkan. Senyum shenna yang begitu cerah membuat semua orang terpana.
Semua teman SMA shenna mengetahui tentang rumor bangkrut nya perusahaan ayah shenna, meskipun begitu mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Tak sedikit yang peduli bahkan Tak sedikit pula yang membully shenna. Biasanya yang membully shenna karna kekasih mereka pernah memutuskan mereka dengan alasan yang tidak masuk akal, padahal alasan yang sesungguhnya adalah ingin mendapatkan seorang shenna dan tentu itu terjadi saat mereka masih sekolah.
Yang tidak peduli dengan hal itu adalah justru yang mengetahui sifat asli shenna, meski dulu shenna cantik dan kaya shenna tidak pernah memandang rendah seseorang, bahkan bisa di bilang shenna adalah gadis yang memiliki hati yang begitu baik.
"Kau gugup ?."
Bisik Arkan.
"Sedikit."
"Tenanglah! aku akan selalu di sampingmu."
Shenna tersenyum malu mendengar ucapan Arkan.
"Shenna apa kabar ?."
Reza menghampiri dan menarik Dyoza.
"Hallo Reza, aku baik. Kau bagaimana ?."
"Tentu aku pun baik."
"Tuan Dyoza."
Arkan menundukkan kepalanya.
Dyoza pun mengangguk pelan.
"Jadi benar kau Arkan sekretaris nya Dyoza ?."
Reza terkejut.
"Benar Tuan."
"Bagaimana bisa kau dengan shenna ?."
Reza kebingungan.
"Reza kenapa sedari tadi kau begitu cerewet ?."
Dyoza kesal.
"Aku hanya....
"Sudahlah! aku lapar."
"Dyoza tunggu aku! shenna aku kesana ya!."
Shenna mengangguk dan tersenyum.
"Nona kau mau minum ?."
"Tuan panggil aku shenna mulai sekarang dan seterusnya!."
shenna gemas sendiri.
"Maaf, aku hanya belum terbiasa."
Arkan tersenyum kikuk.
"Tidak apa-apa Tuan, aku memaklumi."
Banyak teman-teman SMA shenna yang berbisik tentangnya, ada yang membicarakan hal baik adapula yang berbicara tentang hal buruk kepada shenna.
"Lihatlah Shenna sudah miskin masih saja banyak tingkah."
"Shenna memang cantik, dari dulu aku selalu mengagumi nya yaa walaupun sekarang dia sudah tidak menjadi orang kaya."
"Sumpah shenna memang wanita paling beruntung, itu kan Arkan sekretaris nya Dyoza. Bahkan sekelas Arkan saja menyukai shenna."
"Tuan Arkan pasti menyukai shenna karna kepribadiannya yang baik."
"Ya ampun Arkan yang aku incar sedari dulu ternyata jatuh hati pada shenna, huhu."
Begitulah bisikan-bisikan manusia di dalam hotel yang begitu mengagumi shenna dan membenci shenna, bahkan tidak sedikit pula yang mengenal Arkan sebagai sekretaris Dyoza. Meskipun mereka sudah lama tidak bertemu ada beberapa teman SMA Dyoza berkerja sama Dengan nya tentang bisnis di perusahaan dari situlah mereka mengenal Arkan.
"Dyoza, kenapa Arkan bisa bersama shenna ? Aku sungguh penasaran."
Cecar Reza.
"Cerita nya panjang, aku malas untuk menjelaskan nya."
ucap Dyoza datar.
__ADS_1
"Ah kau ini masih saja seperti itu, aku benar-benar tidak menyangka shenna masih sama seperti dulu begitu cantik bahkan kadar kecantikannya sekarang semakin bertambah."
Dyoza masih terdiam, ia melirik ke arah shenna yang sedang mengobrol dengan beberapa teman yang menghampiri nya.
"Dia memang cantik."
Arkan menangkap basah Dyoza yang sedari tadi memperhatikan shenna, tanpa memandang Arkan.
Β
Acara sudah di mulai sekitar 30 menit yang lalu, mereka saling bersenda gurau dan ada pula yang fokus dengan penyanyi di depannya yang memeriahkan acara malam ini.
"Shenna."
Shenna menoleh ke sumber suara yang tidak asing baginya. Ia tersenyum manis.
"Sera, Kinan."
"Shenna bagaimana kabarmu ?."
canggung.
"Aku baik, kalian bagaimana ?.
"Kami baik".
Jawab serempak.
"Shenna bisa kita bicara sebentar ?."
Sera melirik Arkan.
Arkan yang mengerti hanya tersenyum dan berpindah untuk sedikit menjauh.
"Ada apa Sera ?."
"Shenna, maaf."
Shenna mengerutkan keningnya.
"Maaf untuk apa ?."
"Karna kami tidak ada di saat kau sedang jatuh, maafkan kami yang egois meninggalkan kau yang kala itu butuh kami."
Ucap Sera lirih.
"Aku juga minta maaf shenna."
Kinan menunduk.
Kedua tangan shenna menggenggam tangan Sera dan Kinan, kedua sahabatnya itu saling berpandangan.
"Aku memaafkan kalian."
"Be, benar kah ?."
Kinan
"Tentu, bukankah sahabat harus saling memahami dan mengerti ?."
"Kau masih menganggap kami sahabat ?."
Sera terkejut.
"Asal kalian tidak malu bersahabat denganku."
Ucap shenna lembut.
"Ah, shenna."
Sera dan Kinan memeluk shenna dengan erat, mereka bertiga saling menitihkan air mata. Sejujurnya mereka saling merindukan satu sama lain.
Arkan tersenyum manis melihat pemandangan di depannya, ia begitu senang melihat shenna mendapat perlakuan baik dari sahabat nya.
"Ehhem, Mau kah kau berdansa dengan ku Shenna ?."
Arkan mengulurkan tangannya.
"Tentu."
Shenna tersenyum lalu melirik ke dua sahabatnya,
Sera dan Kinan melambaikan tangannya pada shenna dengan heboh. Tak lama kemudian Sera dan Kinan pun di ajak berdansa dengan laki-laki yang sedari tadi sudah mengincar mereka.
Arkan menatap dalam, ia menarik pinggang shenna membuat detak jantung shenna bergemuruh.
Mata Dyoza tidak lepas dari pemandangan yang membuatnya gerah, padahal AC di dalam semuanya menyala.
Dyoza mengipas wajahnya dengan tangan nya sendiri dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
.
.
.
"Kau sangat cantik."
Arkan tak luput memandang shenna.
Shenna tersipu malu.
"Terimakasih tuan Arkan."
Arkan mengeratkan genggaman pada shenna, detak jantung mereka saling bergemuruh.
Sedangkan di pojok sana geram sendiri melihat kelakuan dua manusia yang menurutnya seperti dunia milik mereka berdua dan yang lain ngontrak termasuk dirinya.
"Cemburu ?."
Dyoza tersentak.
Seorang gadis cantik berambut pendek tersenyum licik.
"Anggun ?."
"Dyoza."
Mereka saling memeluk satu sama lain.
"Kau sudah kembali dari London ?."
Ucap Dyoza senang.
"Tentu, makanya sekarang aku disini walaupun terlambat datang."
"Dyoza aku merindukan mu."
"Aku juga."
Dyoza dan anggun mengobrol saling melepas rindu, anggun adalah salah satu teman Dyoza yang paling dekat dengannya. Mereka berteman saat awal masuk SMA, bisa di bilang hanya anggun yang bisa membuat Dyoza nyaman saat bicara dengan nya walaupun baru saling mengenal saat itu, sifat anggun yang baik bahkan sedikit tomboy tidak sesuai dengan dengan namanya, menarik perhatian Dyoza.
"Dimana Reza ?."
Anggun celingak-celinguk
"Lihatlah!."
tunjuk Dyoza, Reza sedang asyik berdansa.
__ADS_1
"Wahhhh benar-benar anak itu, tidak menunggu ku untuk menemaninya berdansa."
Anggun kesal namun hanya bercanda.
"Ayolah berdansa denganku!."
Ajak Dyoza.
"Tentu Pangeran tampan ku."
Mereka tertawa bersama menuju ke tengah.
.
.
.
Panitia acara memberikan instruksi Untuk mengacak pasangan dansa dengan lagu yang ia putar, dengan reflek mereka pun saling acak. Dansa seperti itu sudah tidak heran lagi bagi mereka yang mengetahui nya, bahkan adapula mereka yang tidak mengincar wanita Untuk di jadikan pasangan mereka pun memilih berdansa dengan sesama laki-laki hanya untuk membuat kegaduhan sendiri.
Yang sedang berdansa pun tertawa terbahak-bahak, jangan berharap suasana akan romantis saat melihat kelakuan teman mereka yang diluar batas nalar.
"Dyoza."
"Kenapa ?."
"Aku mau bertukar pasangan Dengan shenna."
Tanpa menunggu jawaban Dyoza, anggun sudah menghampiri mereka.
"Hei Anggun."
Dyoza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Permisi."
Ucap anggun.
"Nona anggun ?."
Arkan terkejut.
"Arkan, aku merindukan mu."
Anggun memeluk Arkan di balas olehnya.
"Arkan apa kau benar-benar selingkuh dariku ?."
anggun melipat kedua tangannya.
Shenna hanya berdiri dan kebingungan ternyata anggun mengenal Arkan.
Arkan dan anggun pun tertawa bersama.
"Shenna apa kabar ?."
Anggun memeluk.
"Aku baik anggun, kau sudah pulang dari London rupanya.
Tersenyum manis.
"Kenapa kau semakin cantik begini."
ucap anggun tulus.
"Kau selalu saja begitu."
Shenna mengusap tangan anggun.
"ah, aku mau bertukar pasangan dengan mu Shen. Apa boleh ? aku sungguh merindukan Arkan.
Tersenyum manis.
"Tentu saja, silahkan!."
"Kau mau kemana shenna ?."
Shenna berhenti saat ia hendak menjauh.
"Aku sudah selesai".
"Eh kenapa begitu, Kita kan bertukar pasangan. Sebentar!."
Anggun celingak-celinguk mencari sosok Dyoza dan menghampiri nya.
"Kemarilah!."
menarik tangan Dyoza.
Shenna terkejut ternyata pasangan anggun adalah Dyoza.
"Ayo Ar."
Ucap anggun mengajak Arkan berdansa.
Dyoza dan shenna hanya berdiri saling diam.
"Kenapa begini."
Batin Dyoza.
"Ehhem, Shena kau mau berdansa denganku ?."
"I,iya Tuan".
Dalam keheningan mereka berdansa, dengan canggung Dyoza memeluk pinggang shenna yang ramping.
Lampu yang temaram membuat suasana semakin membuat Dyoza salah tingkah sendiri.
"Shenna kenapa kau diam saja ?."
ucap Dyoza memecah keheningan.
"A,aku sungguh tidak nyaman. Mereka sedari tadi memperhatikan kita."
melihat sekeliling
"Lalu kenapa ?."
menaikkan alisnya.
"Tidak apa-apa."
menggeleng keras.
"Shenna."
"Ya ?."
"Apa kau senang hari ini ?".
"Ya, tentu. kenapa ?."
"Tidak apa-apa. aku hanya bertanya."
Arkan yang berdansa sambil mengobrol dengan anggun pun tidak lepas memperhatikan shenna dan Dyoza, ada sedikit rasa cemburu di hatinya.
Β
__ADS_1
Like like like
ππππππ