
Tok tok tok...
"Masuk". Serunya masih fokus pada buku di pangkuannya.
"Dyoza apa kau sedang sibuk ?". Ucap kepala pelayan menghampiri keponakannya.
"Ah bibi ternyata kau, aku sedang membaca saja". menutup buku dan meletakkan di atas meja.
"Ada yang ingin bibi bicarakan padamu".
"Ada apa bi ? sepertinya sangat serius."
"Ini tentang shenna." Jawab kepala pelayan hati-hati.
"Katakanlah bi". Ucap Dyoza tidak sabaran.
"Apa kau tahu shenna sedang sakit ?".
Dyoza membulat kan matanya, dia benar-benar tidak tahu kalau shenna sakit.
"Dia sakit apa bi ? bukankah seluruh pelayan di sini sudah di berikan vitamin ?".
"Sakit itu kan tidak bisa di prediksi oleh apapun, kalau waktunya sakit ya akan sakit".
"Ya kau benar bi, lalu apa hubungannya dengan ku ?".
"Bibi akan memindahkan tugasnya, seperti nya dia tidak sanggup membagi waktunya. Bahkan dia bilang sering mengalami insomnia karna setres takut telat bangun". Mendengar penjelasan kepala pelayan, Dyoza Merasa bersalah.
"Baiklah bi, pindahkan saja dia. Tapi, aku tidak mau di ganti pelayan lain. Aku hanya ingin bibi yang menyiapkan semuanya untukku". Ucap Dyoza penuh penekanan.
"Baiklah. Yasudah kalau begitu kau lanjutkan membacanya, bibi akan keluar".
Dyoza mengangguk pelan, kini pikiran nya sedikit terganggu dengan pernyataan dari bibi nya kalau shenna sakit.
"Apa aku terlalu berlebihan ya ? Bahkan Untuk menghindarinya saja aku sampai kehilangan akal". Gumam Dyoza.
Kepala pelayan hanum menuruni tangga dan berpapasan dengan Arkan, mereka saling menyapa satu sama lain.
"Ohh iyaa Tuan Arkan mulai hari Senin tolong kondisikan schedule kerja nona shenna yaa, karna nona shenna sudah di pindah Tugas kan".
"Apa ?". Arkan sedikit terkejut dengan ucapan kepala pelayan.
Kepala pelayan hanum hanya tersenyum dan meninggalkan Arkan yang masih belum sepenuhnya mencerna ucapan Kepala pelayan.
"Kasihan nona shenna harus terlibat dengan mereka, aku akan menjauhkan nona shenna dari dua keponakan ku yang sama bodohnya itu". Ucap batin kepala pelayan.
--
Tok tok tok...
"Siapa pagi-pagi begini mengganggu tidurku ?". Gumam Daniel serak.
Tok tok tok...
"Hei siapa di sana ? kenapa menganggu tidurku". Daniel menutup kedua telinganya dengan gusar, ia menendang selimut hingga teronggok ke bawah.
"Permisi Tuan Daniel, saya Shenna pelayan yang akan menyiapkan keperluan anda". Suara yang tidak asing bagi Daniel terdengar di balik pintu.
Mendengar nama shenna Daniel langsung beranjak dari tempat tidur nya, dan segera membuka pintu kamarnya dengan cepat.
__ADS_1
"Kau rupanya, masuklah!". Daniel menarik tangan shenna dan menutup kembali pintu kamar nya.
"Eh eh". Shenna terkejut dengan tindakan Daniel.
"Duduklah! kau barusan bilang apa ?". Daniel duduk di hadapan shenna menunggu jawaban.
"Saya di tugaskan untuk melayani kebutuhan Tuan Daniel oleh kepala pelayan". Jawab shenna dengan mantap.
"Oohh jadi kau yang di pilih bibi, ahh baguslah kalau begitu. Tapi, jangan panggil aku tuan! panggil saja Daniel seperti awal kita bertemu".
"Tidak bisa!". Shenna menggeleng.
"Kenapa ?". ucap Daniel memelas.
"Saya di sini kan berkerja, jadi harus profesional".
"Kau harus bersikap profesional di depan bibi saja dan kakak, kalau kita hanya berdua seperti ini kau panggil nama saja, bagaimana ?". Daniel begitu antusias.
Shenna masih terdiam seperti berfikir.
"Ayolah!! kita berteman saja, disini aku tidak punya teman wanita."
"Memangnya kau tidak malu menjadi teman ku ?".
"Kenapa harus malu ?". sahut Daniel bingung.
"Aku kan hanya seorang pelayan".
"Ah kau ini, berteman itu kan dengan siapa saja. bahkan aku mempunyai teman seorang pengemis." jawab Daniel berbisik.
"Apa benar ?".
"Jadi bagaimana, kita berteman. Aku tertarik padamu saat awal kita bertemu".
"Wahhh kau jujur sekali". Shenna menggeleng pelan kepala nya.
"Aku tidak suka berbasa-basi". Seru Daniel.
"Baiklah kita berteman."
Daniel sangat senang mendapat teman seperti shenna.
Shenna melakukan tugasnya dengan baik, tugas yang ia kerjakan tidak berbeda seperti sebelumnya. yang membedakan adalah Daniel yang tidak banyak menuntut, bahkan Daniel lebih santai. sesekali Daniel membantu shenna meletakkan baju kotornya yang berserakan di keranjang baju.
Sesekali shenna melarang Daniel namun tetap saja ia ikut membantu.
"Kalau kepala pelayan tahu aku bisa di tegur".
"Kau tenang saja, aku yang akan menjelaskan nya. Lagi pula bibi tidak akan tahu, kau kan di dalam kamar ku dengan pintu tertutup." Ucapnya santai.
"Kenapa dia beda sekali dengan Dyoza, dia terlalu santai dan tidak membuat ku repot. sedangkan Dyoza sebaliknya."
"Hei kenapa kau melamun ?". Shenna tersentak dari lamunannya.
"Boleh aku bertanya ?."
"Tentu". jawab Daniel pasti.
"Kau dengan Dyoza....*
__ADS_1
"Aku adik sepupunya". Daniel memotong ucapan shenna karna tahu kemana arah pertanyaan yang di tujukan untuk nya.
"Oohh". Shenna mengangguk pelan.
"Kenapa, kau pasti bingung kan sifat ku berbeda dengan nya ?". Menyengir kuda melihat shenna yang tersenyum memaksa.
Di dalam kamar Shenna dan Daniel terlihat akrab layaknya teman yang lama tidak bertemu, sedangkan di balik pintu kamar Daniel seseorang mondar-mandir gelisah karna sudah hampir 1 jam Shenna tidak keluar dari dalam kamar Daniel.
"Apa yang mereka lakukan di dalam, kenapa begitu lama ?". Arkan membatin.
Dyoza yang masih di dalam kamar pun hanya memasang wajah kesal, setelah tahu kepala pelayan menempatkan shenna bertugas untuk melayani adik sepupunya.
Kekhawatiran pun di rasakan oleh Dyoza dan Arkan, entahlah dua laki-laki menyebalkan itu sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Sedangkan yang di dalam sana masih asyik mengobrol dan saling mengenal satu sama lain tanpa mempedulikan apapun. Shenna sangat senang akhirnya ada sosok laki-laki yang sangat santai dan tidak kaku, bahkan sepertinya shenna akan semakin betah Bekerja disini.
Lain halnya dengan Daniel sejak awal pertemuan mereka di kepalanya sudah ada niat terselubung, selain ia menyukai shenna dia pun akan menjadikan shenna seseorang yang akan terikat dengannya. Tapi, ia sedikit berfikir rasanya tidak mudah karna shenna gadis yang sedikit berbeda dengan para gadis yang Daniel temukan di muka bumi ini.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi yaa tuan".
"Hei kau lupa kesepakatan kita, kenapa masih memanggil ku tuan ?". Ucap Daniel protes.
"Ah, iyaa aku lupa. Baiklah Daniel aku permisi yaaa".
"Bye shenna".
Shenna menutup kembali pintu kamar Daniel, sepertinya ia melewatkan sesuatu selama di dalam kamar Daniel. Ia melihat Dyoza dan Arkan sedang duduk di ruang keluarga sedang asyik menonton tv.
Mereka saling beradu pandang dan shenna pun menyudahi tatapannya pada dua laki-laki itu.
"Ada apa dengan mereka, kenapa kompak sekali". Batin shenna, ia menuju ruang laundry.
"Eh tunggu, kenapa mereka masih di rumah. Bukankah seharusnya mereka pergi bekerja ?". Shenna merasa heran.
Lalu ia hempaskan hal yang menurutnya tidak penting itu.
"Bukan urusan ku juga". Sambungnya melanjutkan pekerjaan nya.
Di ruang keluarga Dyoza dan Arkan menunggu seseorang keluar dari dalam kamarnya. Dengan tatapan geram ke arah pintu mereka akan memberondong pertanyaan pada daniel.
Yang di tunggu tak kunjung keluar membuat mereka kesal sendiri.
Arkan yang sadar akan kebodohannya pun menyadari bahwa dirinya memang bodoh, untuk apa menunggu Daniel keluar. Kenapa tidak mengetuk pintunya saja dan membawanya keluar dari dalam kamarnya.
"Kenapa aku harus mengikuti perintah tuan Dyoza yang tidak masuk akal ini." Arkan menepuk jidatnya.
Ia melihat jam di tangannya, Waktu pergi ke perusahaan sudah sangat telat. Ia pun membujuk Dyoza untuk segera berangkat. Dengan berat hati Dyoza menyetujui apa yang Arkan ucapkan.
"Semoga besok tidak terjadi hal bodoh seperti hari ini lagi, bahkan aku malu pada diriku sendiri". Arkan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
---
Ku kutuk Dyoza dan Arkan menjadi bucin hahahahahaaa
Jangan lupa like, komen juga yaa .
Follow juga IG saya nih
intanpermata0606
__ADS_1
lapyuuuuuu ❤️❤️❤️