
Sudah 1 Minggu berlalu, Dyoza pun sudah dapat melakukan aktivitas nya kembali. Shenna bahkan selalu mendapat perhatian lebih dari Dyoza, bahkan Arkan bisa melihat perubahan sifat dari Dyoza.
Arkan sudah benar-benar melepas shenna, ia yakin hanya Dyoza yang dapat membahagiakan shenna.
"Bi aku pulang dulu ya, tuan Dyoza sudah ada di dalam kamarnya". Ucap Arkan lembut
"Baiklah, kau hati-hati ya Ar." Ucap bibi Hanum
"Baik bi".
Arkan keluar rumah menuju apartemen nya, ia berhenti sejenak di tengah perjalanan. Membuka kaca mobil dan mengeluarkan sebatang rokok dan korek, lalu menghisapnya dengan kasar.
Entahlah apa yang sedang ia rasakan saat ini, hanya Arkan dan tuhan yang tau. Semoga ia benar-benar bisa melepas Shenna, semoga.
Dering di ponsel nya membuyarkan lamunan, seseorang menelepon.
"Hallo"
"Baik, aku akan segera kesana."
Sambungan terputus, Arkan pun menghidupkan mobilnya dan menancapkan gas meninggalkan lokasi.
--
Arkan kembali kerumah Dyoza dengan tergesa-gesa, ia mencari seseorang yang akan ia jemput malam ini.
"Arkan ada apa ?". Tanya bibi Hanum melihat wajah Arkan yang sangat panik
"Bi, apa shenna sudah tidur ?".
"Sepertinya sudah!". Bibi Hanum melihat jam di pergelangan tangan nya, menunjukkan pukul 23.00 malam.
"Duduklah! Sepertinya sangat serius."
Arkan dan bibi Hanum pun menempel kan bokongnya di sofa.
"Bi, aku harus membawa shenna kerumahnya sekarang juga."
"Ada apa ?".
"Ayah shenna sakit, serangan jantung".
Mata bibi Hanum membulat penuh mendengar ucapan Arkan.
"La,lalu bagaimana keadaannya sekarang ?". Tanya bibi Hanum khawatir
"Bi, keadaan nya kritis. Entah aku harus bagaimana mengatakannya. Tapi, disana sudah ada ayah yang mengurus semua kebutuhan nya dirumah sakit."
"Ayahmu ? apa hubungannya ? bukankah ayah mu berada di luar negri menangani perusahaan disana bersama kakak ipar ?".
"Ceritanya panjang bi, aku harus mengajak shenna secepatnya".
"Baiklah kau tunggu disini, aku akan membangunkan shenna."
--
"Tuan sebenarnya ada apa dengan ayah ?". Tanya shenna gelisah
"Pakailah sabuk pengaman mu!!". Bukannya menjawab justru Arkan menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata.
Shenna yang menyadari keadaan pun hanya menarik nafas berat, ia sesekali memperhatikan Arkan yang sedang fokus mengemudi.
"Ya Tuhan ada apa dengan ayah ?".
Dalam perjalanan menuju villa desa cukup lama, apalagi menyetir di malam hari membuat Arkan harus ekstra hati-hati.
Sesampainya di villa desa cukup membuat shenna semakin di landa segudang pertanyaan, di villa desa benar-benar sangat ramai oleh para pelayan yang seperti sedang menunggu kehadirannya.
"Nona shenna silahkan, ayah nona sudah menunggu sejak tadi!!." Ucap salah satu pelayan di villa desa
Shenna hanya mengangguk dan menatap Arkan, yang di tatap hanya menarik tangan shenna menuju 1 kamar.
__ADS_1
Ceklek
Semua mata tertuju padanya saat seseorang di balik pintu membuka.
"Ayah".
"Mana shenna nak ?". Tanya ayah Arkan
Shenna muncul dari belakang punggung Arkan, matanya membulat saat melihat ayahnya yang berbaring lemah dan sosok di sampingnya dengan deraian air mata menatap ke arahnya.
"Shenna."
"Ibu". Shenna menghambur memeluk ibunya
"Ada apa dengan ayah Bu, kenapa bisa seperti ini ?." Shenna mengelus pipi ayahnya dengan sayang
Peralatan medis yang lengkap menempel pada tubuh ayahnya membuat shenna merasa sakit hati, ia benar-benar tidak tega melihat kondisi ayahnya saat ini.
Ayah shenna membuka matanya dengan berat, ia tersenyum saat melihat anak semata wayangnya kini berada di depannya.
"Shenna". Ucap ayah shenna lirih
"Ayah, iya ini shenna. ayah cepat sembuh ya, shenna rindu ayah". Ucap shenna menahan sesak
"Nak".
Shenna menoleh ke sumber suara yang memanggil nya.
"Maafkan paman, paman benar-benar menyesal terlambat menolong kalian ?".
"Pa,paman siapa ? Paman mengenal ayah ?".
"Ini teman lama ayah nak, ia datang kesini akan menolong kita dari masalah ini". Ucap ibu menjelaskan
Shenna terdiam, ia benar-benar tidak bisa berfikir apa-apa untuk saat ini karna terlalu khawatir dengan keadaan ayahnya.
Melihat tubuh shenna yang gemetar akhirnya arkan memutuskan untuk mengajak shenna keluar dari kamar dan mengajaknya ke taman belakang.
Shenna mengeryit, ia benar-benar tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh Arkan.
"Tuan, aku benar-benar tidak mengerti apa maksud kalian. Teman lama, membantu, baru mengetahui, sebenarnya ada apa ini ?". Shenna gusar
"Tuan besar itu adalah ayah tuan Dyoza, ayah mu adalah teman lama tuan besar." Ucap Arkan menjelaskan
Shenna hanya menarik nafas panjang, di benaknya sekarang hanya kekhawatiran yang menyelimuti.
"Aku tidak peduli tuan besar itu ayahnya Dyoza, aku hanya sedang mengkhawatirkan ayah saat ini." kata shenna sedikit meninggi
"Shenna percayalah semua ini akan ada hubungannya dengan mu". Arkan menggenggam tangan shenna
Shenna hanya menatap tangan nya yang di genggam erat oleh Arkan, dan Arkan melepas nya setelah menyadari sang empu menatapnya.
"Maaf aku...
"Tuan Arkan, apa ayah saya akan secepatnya pulih kembali ?".
Arkan menatap shenna dengan tatapan sendu, ia pun tidak tahu apa yang akan terjadi pada ayah Shenna. Bahkan semuanya terjadi begitu cepat.
Mata shenna memicing ketika sesuatu ada yang berbeda di wajah Arkan, ia pun reflek menyentuh nya. Arkan dengan sigap menangkap tangan shenna agar tidak menyentuh wajahnya.
"Ada apa dengan wajahmu, kenapa terlihat memar ?".
"Tidak apa-apa, aku hanya terjatuh tadi".
Flashback on...
Plak...
"Kau bodoh Arkan, kenapa kau tidak cepat mengurus masalah tuan Dito. Kau kan tahu kalau tuan Dito itu teman lama tuan besar".
"Ayah, aku...
__ADS_1
"Kau terlalu serakah, bukankah kau sudah memutuskan hubungan mu dengan nona shenna ? kenapa mengurus masalah ini begitu lama ? apa kau sudah bosan bekerja ?".
"Ayah tolong dengar kan penjelasan ku dulu!".
"Apa yang akan kau jelaskan, Hah ? Semua sudah terjadi, sekarang tuan Dito kritis."
Arkan membisu mendapatkan amarah dari ayahnya, bahkan tamparan yang cukup keras ia dapatkan saat ini. Ia benar-benar terlalu lama bangkit dari sakit hatinya. Mau bagaimana pun ayahnya tidak akan pernah memaafkan kesalahannya apalagi berurusan tentang keluarga Dyoza. Keluarga yang sudah ayah Arkan serahkan pengabdiannya berpuluh-puluh tahun lamanya.
flashback of
"Tuan Arkan".
Arkan tersadar dari lamunannya dan ia hanya menatap shenna dengan tatapan sulit di artikan oleh shenna.
"Shenna apa kau mencintai Dyoza ?".
Shenna terkejut mendapatkan pertanyaan tiba-tiba seperti itu, matanya berkeliling menatap ke setiap arah.
"Aku mohon jawablah pertanyaan ku ini!".
"Aku rasa itu bukan urusanmu lagi tuan, aku akan menyimpan hati ku baik-baik". Tegas shenna
"Aku hanya ingin kau bahagia".
"Bahagia atau tidak itu juga bukan urusanmu". Ketus shenna
Mendapat jawaban yang tidak bersahabat membuat Arkan hanya dapat menarik nafas panjang, rasanya sakit tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kesetiaan pada keluarga Dyoza begitu besar dari apapun, bahkan hanya karena ia lengah sedikit tamparan keras dari ayahnya mendarat dengan mulus di pipinya.
--
--
--
--
"Duduklah nak!". Ucap Tuan Dirga ayah Dyoza
Shenna menurut dengan wajah yang terlihat bingung.
Tuan Dirga menatap sendu wajah shenna, ada penyesalan di wajahnya.
"Bagaimana keadaan mu akhir-akhir ini nak ?".
"Sa,saya baik tuan besar".
"Jangan panggil aku tuan besar!! panggil aku seperti tadi kau memanggilku!."
Shenna hanya tersenyum kaku dan mengangguk pelan.
"Maafkan paman, karna baru bisa pulang dari luar negri. Maafkan paman karna terlambat mengetahui keberadaan ayahmu. Seandainya aku lebih fokus pada pencarian kalian, pasti tidak akan terjadi seperti saat ini."
"Kenapa paman meminta maaf begitu ? saya, ibu dan ayah menjalani kehidupan kami yang sekarang dengan baik. Kami menerima semua takdir yang Tuhan berikan, ini semua hanya tentang perubahan status. Bukan kah kami masih bisa bernafas ?".
Mendengar ucapan shenna, tuan Dirga meneteskan air matanya. Begitu beruntung Dito mempunyai anak gadis yang baik dan begitu bijak, tidak seperti dirinya yang merasa masih gagal mendidik Dyoza menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Bahkan untuk mengurus salah satu perusahaan miliknya saja harus dengan ancaman dulu.
Shenna bertumpu di lantai dengan kedua kakinya dihadapan tuan Dirga, ia menatap wajah beliau dengan tatapan lembut.
"Apa yang kau lakukan nak ?".
"Paman, terimakasih paman sudah menolong ayah. sudah mau memberi perawatan yang luar biasa untuk ayah. saya tidak tahu harus berbuat apa untuk paman selain berterima kasih".
"Bangunlah nak!". Tuan Dirga mengarahkan shenna agar duduk tepat di sampingnya.
--
--
-
__ADS_1
Segini dulu ya! besok" lagi , janji!!! stay healthy yaaa semua