
Sudah Satu Minggu shenna selalu menghindari Dyoza, Bahkan berpapasan dengan nya pun shenna selalu bersikap seolah-olah di hadapannya tidak ada sosok Dyoza.
Bahkan shenna tidak memberi Dyoza kesempatan untuk berbicara.
Hari ini Shenna sedang beristirahat di dalam kamarnya, setelah selesai menyiapkan keperluan Dyoza ia pun tidak menunggu sang empu hingga pulang.
Ia sengaja selalu menyiapkan keperluan calon suaminya itu lebih awal agar ia tidak berlama-lama melihat wajah yang saat ini tidak ingin ia lihat.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu dari luar kamarnya membuyarkan keheningan.
"Siapa ?". Teriak shenna malas
Bukannya menjawab justru yang di luar sana kembali mengetuk.
"Ish menganggu saja". Gerutu shenna sambil bangkit dan membuka pintu.
Shenna kembali menutup pintu saat ia tahu siapa sosok yang menganggu nya. Dyoza.
"Shenna tunggu aku ingin bicara!". Ucapnya menahan pintu dengan kaki.
"Aku sedang tidak ingin bicara, pergilah!".
"Shenna please! kita harus meluruskan kesalahpahaman ini".
"Semua sudah jelas".
Shenna kembali mendorong pintu dengan kuat namun apa daya tenaganya tidak sebanding dengan Dyoza.
Dyoza mendorong pintu dan segera masuk, lalu dengan cepat mengunci pintu.
"Apa yang kau lakukan ?". Ucap shenna geram
"Maaf, tapi aku harus melakukan ini. Shenna kau salah paham."
"Aku tidak mau dengar apapun, kau dengar ini baik-baik. AKU INGIN KITA BATAL MENIKAH".
Deg..
Jantung Dyoza berdebar begitu cepat, nafasnya seakan tercekat, ada rasa sakit yang menjalar. Entah, baru kali ini Dyoza merasakan hal seperti itu yang menurutnya sangat asing.
"Shenna jangan gegabah". Dyoza mendekat
"Jangan mendekat! aku sudah memikirkan nya dengan matang-matang, selama seminggu ini aku rasa keputusan ku sudah bulat. Dan ini keputusan yang tepat untuk kita berdua".
"Shenna". Ucap Dyoza lirih
"Lagi pula aku bukan gadis satu-satunya, kau tidak akan rugi batal menikah denganku. Harusnya aku yang rugi bukan ?". Shenna tersenyum pahit
"Shenna aku mencintaimu".
"Tidak Dyoza, harusnya kau bisa mengerti dirimu sendiri. Kau tidak mencintai ku, kau hanya ingin membalas semua kesalahanmu padaku dan tidak lebih dari itu. Pernikahan ini tidak benar".
"Shenna, aku benar-benar mencintai mu. Aku tahu kesalahanku yang lalu sangat menyakiti hatimu, bahkan kau tidak membenciku pun aku sudah sangat bersyukur. Mungkin awalnya aku memang ingin menebus semua kesalahanku tapi, tapi ternyata tidak hanya itu. Aku benar-benar mencintai mu shenna, aku mohon percayalah padaku".
Shenna duduk dan menarik nafas dalam, ia sedikit frustasi. Entahlah ia harus bagaimana sekarang, rasanya berat untuk percaya. Shenna seperti sudah terlanjur kecewa dengan Dyoza.
"Apa kau masih ragu padaku shenna ?".
Shenna terdiam tidak menjawab apapun, Dyoza memberanikan diri mendekati calon istrinya. Ia duduk tepat di samping shenna lalu menghadap nya.
"Kau tahu shenna, semenjak kejadian yang lalu hidupku tidak tenang. Kau ingat saat kita bertemu di bar, betapa senangnya aku. Saat itu aku menyesal mengapa tidak menunggu mu hingga sadar dari mabuk mu".
Shenna menunduk.
"Rasanya aku ingin sekali memeluk mu saat itu, tapi saat kau mengatakan hal yang membuat ku kembali bersalah aku terpaksa lebih memilih meninggalkan mu malam itu".
Dyoza menggenggam tangan shenna.
"Percayalah!! aku benar-benar menginginkan mu shenna".
Shenna menggeleng pelan menatap Dyoza dan melepaskan tangannya perlahan.
"Maaf!! keputusan ku sudah bulat. Sekarang silahkan keluar dari kamar ku".
Dyoza membeku lidahnya kelu, ia sudah tidak tahu dengan cara apa meyakinkan shenna kembali. Dengan berat hati Dyoza keluar dengan gontai, sesekali menoleh berharap shenna melihat nya. Namun nihil, shenna benar-benar membuang muka untuk Dyoza.
Shenna sudah tidak menangis lagi, seakan air matanya terkuras habis. Meskipun jujur, ini lebih sakit dari sebelumnya.
Ketika ia sanggup bertahan dalam kesulitan sendirian tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangannya dengan tulus, ia berharap uluran tangan itu dapat memperkuat pertahanan nya. Tapi saat ia sudah sepenuhnya mempercayai seseorang bukannya menguatkan justru menghancurkan pertahanannya.
__ADS_1
Shenna mulai kembali menguatkan dirinya untuk bertahan tanpa berharap pada siapapun, ia akan mengandalkan dirinya sendiri.
"Aku harus segera menemui ayah dan ibu untuk membicarakan pembatalan pernikahan". Ucapnya lirih
--
Shenna sudah selesai menyiapkan seluruh keperluan Dyoza di pukul 02.00, ia menuruni tangga satu persatu dengan rasa kantuknya. Ia bertekad untuk menemui ayah dan ibunya saat sang fajar mulai terlihat.
"Aku harus kembali tidur, agar di perjalanan nanti aku tidak mengantuk".
Shenna pun kembali tidur dan bangun di pukul 06.00 pagi, ia pun bergegas mandi dan bersiap.
Setelah memastikan Dyoza dan Arkan berangkat kerja, ia pun berpamitan dengan bibi Hanum untuk menemui ibu dan ayahnya. Shenna menolak saat bibi Hanum menawarkan untuk di antar oleh supir.
"Ada yang aneh, kenapa tiba-tiba shenna ingin menemui ayah dan ibunya sendirian. Bukankah seharusnya ia pergi dengan Dyoza? Aku harus menelpon Dyoza, mungkin mereka sedang ada masalah". Ucap bibi Hanum khawatir
Bibi Hanum bergegas menelpon sang keponakan nya itu dengan tergesa-gesa, Dyoza yang mendengar kabar bibi nya itu pun terkejut lalu bergegas menyusul.
"Tapi tuan nanti kita ada meeting penting dan tidak bisa di tinggalkan". Jelas Arkan
"Apa tidak bisa di tunda ?".
"Kita sudah menundanya satu kali, kalau hari ini kita menundanya lagi maka...
"Ya aku mengerti, tidak usah kau lanjutkan". Ucap Dyoza memotong, Ia sedikit frustasi. "Kalau begitu kita majukan saja jadwalnya".
"Baik Tuan, saya akan mengabari tuan Frans".
"Aku harap kita tepat waktu menyusul shenna."
Dyoza membuang nafas kasar.
Di tempat lain..
"Pak ada apa di depan, kenapa banyak orang berkerumun ?".
"Sepertinya ada kecelakaan nona".
Shenna melihat jam di pergelangan tangannya, lalu matanya berkeliling ia pun berdecak.
Hampir 45 menit akhirnya terbebas dari kemacetan, shenna menarik nafas lega. Sedangkan di tempat lain Dyoza dan Arkan sedang dalam perjalanan menyusul shenna.
"Lebih cepat lagi Ar, aku tidak mau shenna menemui ayah dan ibunya".
Dyoza duduk dengan tidak tenang, ia menggigit kuku ibu jarinya dan matanya berkeliling. Rasa gelisah nya sangat menganggu, ia benar-benar tidak dapat mengontrol dirinya saat ini.
Arkan mengemudikan mobil dengan fokus, ia tidak bersuara sedikit pun. Ia mengerti keadaan tuan nya saat ini.
Shenna membayar taksi lalu gerbang pun di buka oleh security yang bertugas.
"Selamat datang nona shenna, sendirian ?".
"Terimakasih pak, iya saya sendiri. Ayah dan ibu ada di dalam kan ?".
"Ada non, silahkan".
"Terimakasih pak".
Shenna pun bergegas saat hendak memasuki kediaman ayah dan ibunya ia pun terhenti saat mendengar pembicaraan kedua orangtuanya.
"Aku senang anak kita akan menikah". Ucap ayah shenna
"Apalagi aku". Timpal sang istri
"Terimakasih sayang, kamu selalu mendampingi ku saat titik terendah. Aku bahagia memiliki kalian, aku merasa penyakit ku ini akan muncul kembali. Aku benar-benar ingin melihat putri kita menikah, ia pasti akan bahagia dengan Dyoza, jadi saat mati pun aku akan lebih tenang".
"Sayang kau bicara apa ? kau pasti akan sembuh dan penyakit mu akan hilang. Kau akan selalu sehat seperti sedia kala".
"Ya kau benar sayang, aku akan sembuh dan akan hidup lebih lama lagi. Aku akan menggendong cucu sebanyak mungkin, rumah ini pasti akan ramai dengan anak-anak."
"Iya sayang aku sudah tidak sabar."
"Aku sangat berharap shenna menikah dengan Dyoza".
Ayah shenna tersenyum dan menatap istri tercinta, ia mengelus tangan istrinya dengan lembut.
Di balik pintu shenna mematung dan tanpa ia sadari pipinya sudah basah karna air mata, tubuhnya gemetar hebat, kakinya terasa lemas, shenna pun terduduk, Ia pun tidak menyadari ada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya dengan raut wajah sedih. Seakan ia bisa merasakan apa yang shenna rasakan saat ini.
"Jadi Ayah dan ibu benar-benar berharap aku menikah dengan Dyoza ?".
Arkan hanya menatap shenna serta Dyoza dari jarak yang cukup jauh, lalu ia bergegas meninggalkan tempat. Lebih baik ia menunggu di dalam mobil, ia tidak bisa menyaksikan kesedihan shenna lebih lama lagi.
__ADS_1
"Tuhan, aku hanya berharap shenna bahagia". Ucapnya lirih
Shenna berbalik hendak meninggalkan tempat, ia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan ayah dan ibunya. Ia merasa dirinya tidak berguna, bahkan sampai saat ini kebahagiaan apa yang ia berikan pada kedua orangtuanya. Satu-satunya yang dapat membahagiakan orang tua nya adalah menikahi Dyoza.
Shenna terkejut mendapati dyoza di hadapannya, ia menghapus air matanya dengan kasar. Dyoza menatap dengan rasa bersalah ia benar-benar ingin memeluk shenna dengan erat.
"Shenna".
Shenna menatap Dyoza dengan raut wajah sedih.
"Dyoza aku...
Tanpa menunggu ucapan shenna ia pun memeluk shenna dengan erat, pertahanan shenna kembali pecah. Ia menangis sesenggukan di dalam pelukan Dyoza.
Dyoza menunduk, ia hanya diam tanpa berbicara memberikan waktu untuk Shenna mengeluarkan seluruh kesedihannya.
Saat di rasa shenna cukup tenang, Dyoza mengajak shenna ke taman untuk berbicara.
Dyoza mengambil air yang di bawa oleh Arkan, lalu arkan bergegas kembali ke dalam mobil.
"Minumlah!". Titah Dyoza
Shenna menenggaknya hingga setengah, seperti nya ia sedikit merasa lebih tenang.
Keheningan pun tercipta, Dyoza sedang mengumpulkan keberaniannya untuk membuka suara.
"Dyoza". Panggilnya datar
Dyoza mengurungkan niatnya saat ia hendak membuka suara.
"Ya ?".
"Mari buat kesepakatan!". Shenna menatap lurus
"Kesepakatan ?". Dyoza mengerutkan keningnya
"Ya!".
"Kesepakatan apa shenna ?".
"Aku menarik kata-kata ku kemarin, pernikahan akan tetap berjalan".
"Shenna aku senang mendengar nya". Dyoza begitu antusias. "Lalu apa kesepakatan nya ?".
"Jangan sentuh aku selama aku tidak mengizinkannya."
DUUAAARRRR
Dyoza membeku mendengar ucapan shenna, dadanya seperti tertusuk belati, rasanya sungguh sakit.
"Kalau kau tidak setuju tidak apa-apa, aku akan memberanikan diri untuk bicara pada ayah dan ibu bahwa pernikahan kita tidak bisa di lanjutkan."
"Tidak shenna, aku.... aku setuju. Tapi, aku juga punya 1 permintaan". Ucapnya dengan berat hati
"Katakan!".
"Kau harus tetap tidur satu ranjang denganku".
"Aku tidak bisa menjamin kau tidak melakukan hal itu, kau adalah laki-laki normal".
"Shenna aku pria sejati, pria sejati itu memegang setiap ucapannya".
Shenna menimbang ucapan dyoza lalu ia mengangguk.
"Baiklah akan aku pegang ucapan mu itu, jika kau melanggar percayalah aku tidak akan pernah memaafkan mu seumur hidupku".
Dyoza mengangguk pelan, ada rasa sedih dalam dirinya. Ia merasa seperti hukuman menghampiri nya saat ini.
"Setidaknya aku punya banyak waktu untuk bisa meluluhkan hatimu shenna".
"Dan aku akan tetap melaksanakan tugas ku sebagai istri kecuali itu. Kau harus tahu Dyoza aku menikahi mu karna kedua orangtuaku, percayalah aku akan menutup hatiku untukmu".
"Percayalah shenna, aku akan berusaha membuatmu bahagia dan kembali mencintai ku". Ucap Dyoza mantap
Dyoza terdiam, ia menarik nafas dalam-dalam. Sungguh ironis, bahkan saat ini ia seperti pengemis.
Shenna pun membisu.
"Ayo kita bertemu ayah dan ibu!!". Dyoza berdiri dan menarik tangan shenna tanpa menunggu jawaban.
-
__ADS_1
-
Hallo aku baru update lagi, Alhamdulillah bisa update dan cukup panjang. Semoga suka dan happy reading, jangan lupa like nya yaaaa 🥰🥰🥰🥰🥰