Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Mungkin takdir


__ADS_3

"Paman, terimakasih paman sudah menolong ayah. sudah mau memberi perawatan yang luar biasa untuk ayah. saya tidak tahu harus berbuat apa untuk paman selain berterima kasih".


"Bangunlah nak!". Tuan Dirga mengarahkan shenna agar duduk tepat di sampingnya.


__


Shenna menunduk menahan deraian air matanya, tidak di sangka ayahnya masih memiliki teman yang begitu peduli padanya. Bahkan tidak tanggung-tanggung untuk membantu nya.


"Nak".


Shenna menatap tuan Dirga dengan senyuman tipis.


"Ya paman ?".


"Paman tidak tahu apa yang akan terjadi pada ayah mu nanti, tapi paman akan berusaha untuk membantu ayahmu agar cepat pulih. Tapi, bolehkah paman mengatakan sesuatu padamu ?".


Shenna mengangguk pelan, tuan Dirga menarik nafas dalam mengumpulkan keberanian untuk berbicara pada shenna.


"Paman dan ayah mu pernah berjanji".


"Janji apa paman ?".


"Percayalah paman tidak bermaksud untuk memanfaatkan hal apapun dalam hal ini, paman hanya ingin kau tahu dan jika kamu menolaknya paman tidak akan memaksa".


"Paman, bicaralah!! aku akan menerimanya dengan bijak".


"Baiklah. Paman dan ayahmu pernah berjanji akan menikah kan kamu dengan anak paman".


Deg.


Shenna mematung mendengar ucapan tuan Dirga, ia berharap telinganya sedikit bermasalah.


"Ma, maksud paman ?."


"Iya nak, paman dan ayahmu ingin sekali melihat kau dan Dyoza menikah."


"Bagaimana bisa paman ?."


"Tentu bisa nak, dulu sekali kamu dan dan Dyoza masih bayi. Aku berharap mempunyai anak perempuan dan ternyata Tuhan tidak memberikan lagi keturunan pada kami, begitu pun dengan ayah dan ibu mu. Karna faktor ekonomi ayah dan ibumu lebih memilih memiliki 1 anak saja. Di saat ayah mu sukses dan menjadi kaya, namun sudah tidak muda lagi dan bahkan dokter tidak menyarankan untuk memiliki anak lagi. Maka itu paman dan ayahmu menjodohkan kalian sewaktu masih bayi, agar kami bisa sama-sama saling berbagi anak perempuan dan laki-laki dengan menjadikan kalian menantu.


Shenna masih terdiam, mencerna setiap kata demi kata yang di ucapkan oleh tuan Dirga.


"Apa ini benar-benar kebetulan ?".


"Nak, paman tidak akan memaksa mu".


Shenna menatap wajah yang sudah tampak keriput itu, sama seperti ayahnya yang semakin lama semakin menua.


Di ruangan lain tampak khawatir menunggu pembicaraan antara tuan Dirga dan shenna. Ibu shenna dan ibu Dyoza sedang duduk dengan perasaan gelisah.


"Menurut kakak apa shenna akan menerima Dyoza ?". Ucap ibu Dyoza

__ADS_1


Ibu Dyoza memanggil ibu shenna dengan sebutan kakak, Karna ibu shenna lebih tua 2 tahun dari ibu Dyoza.


"Tenanglah! shenna anak yang berbakti, kemungkinan ia akan menerima Dyoza dengan baik. Ibu shenna mengusap lengan ibu Dyoza dengan lembut.


"Aku tidak sabar kak".


Ibu shenna tersenyum dan mengangguk


"Aku juga".


--


Shenna melamun di dalam mobil bersama dengan Arkan, ia benar-benar tidak tahu keputusan nya benar atau salah. Saat ia sedang berusaha membuka hatinya untuk Dyoza justru takdir seperti memaksanya untuk melebarkan pintu hatinya untuk Dyoza.


Arkan yang sedari tadi memperhatikan shenna pun segera bertanya.


"Kau kenapa ?".


Shenna masih setia dengan lamunannya.


"Ehhemm..."


Shenna sedikit tersentak dan mengusap lembut wajahnya itu.


"Ada apa shenna ?".


"Tidak ada apa-apa." Ucap shenna dingin


Bahkan Arkan di larang memberitahu Dyoza bahwa ayah dan ibunya sudah kembali dari luar negri. Dengan alasan mereka akan memberi kejutan pada anak semata wayangnya itu.


Di dalam perjalanan shenna dan Arkan masih saling diam, bahkan seperti seseorang yang baru pertama kali mengenal satu sama lain.


Hanya suara musik yang terdengar di dalam mobil, saat Arkan menoleh shenna sudah terlelap dalam tidurnya.


Arkan berhenti sejenak dan mengambil selimut yang ia sediakan untuk dirinya, ia mengambil di bangku belakang dan menyelimuti shenna hingga ke leher. Bahkan kursinya sedikit ia rebahkan agar shenna merasa nyaman.


"Aku tahu kau masih marah padaku, seandainya kau tahu semua ini aku lakukan untuk kebahagiaan mu shenna".


Arkan menarik nafas dalam-dalam dan kembali melanjutkan perjalanan dan harus segera sampai sebelum Dyoza berangkat kerja.


--


Shenna memasuki kamar Dyoza dengan mata sembab dan wajah lesu, ia benar-benar kurang tidur hari ini. Ia selalu menunduk saat Dyoza mengajaknya berbicara.


Dyoza mengernyit memperhatikan shenna yang tidak menatapnya sama sekali.


"Ada yang aneh dengan wajahku ?". Kata dyoza heran


"Tidak!".


"Lalu kenapa kau tidak menatap ku saat berbicara".

__ADS_1


Shenna hanya diam membuat Dyoza kesal.


"Shenna". Dyoza memaksa shenna menghadap padanya, namun shenna masih menunduk.


"Kau habis menangis ?". Ia terkejut melihat mata shenna sembab dan raut wajah yang sangat lesu.


"Kenapa kau diam ? kau menangis kenapa ?".


"Tidak, siapa yang menangis ?".


"Kau, masa aku ?".


"Aku tidak menangis, mataku hanya kemasukan debu".


"Kemasukan debu berapa ember sampai matamu bengkak begitu ?". Bukan Dyoza namanya jika menyerah dengan rasa penasarannya.


"Sudahlah Dyoza, mandi sana!! nanti kau telat".


Shenna bergegas masuk ke ruang pakaian untuk menyiapkan pakaian kerja untuk Dyoza, sedangkan Dyoza mematung memperhatikan shenna yang meninggalkan nya begitu saja.


Di dalam mobil Dyoza melamun mengarahkan pandangan ke jendela mobil, Arkan yang memperhatikan nya pun sedikit tidak tenang dengan sikap majikannya itu.


"Ada yang anda pikirkan tuan ?".


Dyoza menarik nafas dalam dan panjang


"Aku melihat mata shenna sembab, sepertinya habis menangis semalaman. kira-kira dia menangisi apa ya ?".


"Apa tuan sudah bertanya ?".


"Sudah!".


"Lalu ?".


"Mungkin dia pikir aku bodoh, dia menjawab matanya kemasukan debu." Dyoza tersenyum smirk dan menggeleng kepalanya.


Arkan hanya terdiam tanpa bertanya lagi, bisa-bisa ia keceplosan jika melanjutkan pembicaraan ini.


Shenna sedang duduk termenung di taman belakang setelah menyelesaikan tugasnya, ia memikirkan tentang keputusan nya malam itu.


"Ya Tuhan apa ini benar-benar takdir ?".


Shenna meneteskan air matanya, ia berharap keputusannya tepat dan ayahnya segera pulih.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2