Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Gagal


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Shenna terlihat murung, entahlah apa yang ia pikirkan saat ini. Tapi, rupanya sikap cuek Dyoza membuat nya sedikit mengganggu pikirannya.


"Dia berubah seperti itu setelah bertemu dengan rekan kerja wanita, apa dia... ah tidak mungkin, tapi Dyoza kan dari dulu selalu berganti-ganti wanita."


Shenna sedang duduk di balkon kamarnya, menunggu kepulangan sang suami yang akhir-akhir ini membuat nya gelisah sendiri.


"Apa semua ini karna salah ku ya ? selama ini kan aku selalu bersikap tidak baik padanya, ih tapi kenapa aku jadi khawatir begini ? bukankah itu bagus ? Ya! seharusnya aku kan senang, pernikahan ini memang tidak seharusnya terjadi."


Shenna menyeruput teh terakhirnya, ia bergegas berdiri. Saat hendak masuk ke dalam kamar, mendengar suara mobil sang suami sudah masuk gerbang.


"Hmmm oke shenna bersikaplah seperti biasa."


Ia pun bergegas menyambut sang suami dengan sedikit berlari.


"Nona jangan berlari, nanti jatuh!." Ucap salah satu pelayan


Kini shenna sudah berada di ambang pintu, ia mengambil tas yang di bawakan oleh Arkan dan segera mengambilnya tanpa berbicara apapun. Dyoza dan Arkan hanya saling melirik satu sama lain.


"Selamat datang." Ucap shenna datar


"Hmmmm." Saut Dyoza sambil melewati nya.


Shenna mengekor tanpa menoleh lagi pada Arkan, ia mengerutkan keningnya. Semakin hari suaminya semakin bersikap dingin padanya.


"Mungkin Dyoza sudah menemukan wanita yang tepat untuk menggantikan ku, tapi kenapa secepat ini ? Bahkan pernikahan ini belum genap 2 bulan."


Brukk...


"Awwww Dyoza kenapa kau tiba-tiba berhenti ?."


"Kau yang berjalan sambil melamun. Apa yang kau lamunkan ?."


"Siapa yang melamun ? aku tidak melamun."


"Kalau tidak, kenapa kau sampai tidak sadar aku berhenti ?."


"Kau berhenti tiba-tiba!."


"Siapa yang berhenti tiba-tiba ? dasar tidak mau kalah."


Dyoza pun masuk ke dalam kamar dengan raut wajah malas. Akankah rencananya berhasil pikirnya.


"Kenapa dia malah marah-marah ?." Gumam shenna


Dyoza merebahkan tubuhnya di sofa, raut wajahnya sangat lelah bahkan kini seluruh tubuhnya terasa pegal.


"Dyoza kamu kenapa ?."


"Tidak apa-apa!." Jawabnya memejamkan mata


"kamu... sakit ?". Tanyanya ragu


"Tidak! aku hanya sedikit lelah, hari ini perkejaan ku lumayan menumpuk."


"Mau aku pijat ?."


Dyoza mengerutkan keningnya, lalu membuka mata menatap shenna.


"Kenapa menatap ku seperti itu ?."


"Kau mau memijat ku ?."


"Ya jika kau tidak keberatan."


Dyoza meletakkan kakinya di paha shenna, pertanda ia siap untuk di pijat.


Dengan ragu shenna menyentuh kaki Dyoza lalu memulai gerakan memijat. Dyoza menyembunyikan senyumannya lalu merasakan setiap sentuhan sang istri.


"Lumayan, kau sekolah memijat di mana ?."


"Aku di ajarkan ibu, saat ayah bangkrut ibu selalu kelelahan saat selesai membereskan rumah. Aku yang tidak bisa apa-apa sebelum bekerja di sini hanya mampu membantu ibu sebisanya, dan aku selalu menawarkan pijatan untuk ibu. Dari situ ia mengajarkan cara memijat yang benar."


"Ternyata kau berguna juga!."


"Iissshhh."


Dyoza memejamkan kembali matanya, ia benar-benar menikmati pijatan sang istri.


Setelah memijat di bagian kaki, kini shenna beralih ke tangan saat ia hendak membuka kancing baju di bagian lengan, Dyoza membuka matanya perlahan. Ia memperhatikan wajah sang istri yang sangat serius memijatnya, bahkan ada sedikit keringat yang mengalir di pelipis matanya.


Ia reflek menyentuh nya dan shenna yang terkejut hanya bisa menatap dengan gugup.


"Ke,kenapa ?." Tanya shenna


"Aku hanya ingin mengelap keringat mu."


"Oh ya ampun, biar aku saja."


Dyoza menarik kembali tangannya dan kembali menutup mata untuk menghilangkan kecanggungan.

__ADS_1


"Tidak tidak, sabar Dyoza ini belum di pertengahan rencana. Jangan tergoda! kau harus membuat shenna perhatian dan peduli dengan apa yang kau lakukan, paling tidak seperti ini dulu. Pijatan, lama-lama ia akan membuka kembali hatinya dan lalu akan menuju ke ranjang hahaha."


"Kenapa kau memanyunkan bibir seperti itu ?." Ucap Dyoza sedikit frustasi


"Kenapa ? aku hanya berekspresi saja memijatmu."


"Harus seperti itu ?."


"Ya mana ku tahu, ini namanya reflek."


Dyoza terdiam, ia dengan susah payah menelan Saliva nya. Sungguh bibir shenna begitu menggoda baginya, rasanya ia ingin sekali menggigit nya dengan gemas.


"Ahhhh tahan Dyoza, Tahan!!!!."


"Argh!!!." Teriak Dyoza menjambak rambut nya sendiri


"Ka,kamu kenapa ?."


Dyoza yang tersadar merasa gugup dan menatap shenna dengan frustasi.


"Te,terlalu keras kau memijat ku."


"Hah, apa iya ? padahal ini sudah sangat hati-hati aku memijatmu loh!."


"Itukan menurut mu." Ucap Dyoza menekan


"Baiklah maaf, aku akan pelan kan lagi."


"Apa-apaan dia, ini mah namanya mengelus. Ahh tidak junior, tahan!! tuan-mu tidak mengizinkan. Tahan! belum waktunya, ini baru permulaan. Ohh tuhan dia seperti wanita penggoda sekarang, kenapa dia seolah-olah ingin memulai nya."


"Sudah! aku tidak mau lagi di pijat, aku mau teh hangat. Tolong buatkan untukku!."


"Baiklah aku akan buatkan." Shenna beranjak dan bergegas keluar dari dalam kamar.


Dyoza menarik nafas panjang, ia memegang dadanya memastikan detak jantung nya yang detak nya terasa begitu cepat.


"Lama-lama aku bisa terkena sakit jantung kalau begini terus."


"Oke tahan ya Dyoza, kontrol dirimu terutama si junior yang tidak tahu aturan ini. Hah!."


"Tapi, aku ingin sekali menciumnya tadi. Aku kan suaminya kenapa aku begitu menahan diri ? Argh dasar shenna istri yang tidak berperasaan, kenapa dia tega melakukan ini padaku ?."


"Mungkin sedikit tidak apa-apa lah ya ? kalau dia marah masa bodoh yang penting aku menciumnya, apa aku rayu saja ya. Tapi, shenna itu sangat galak bisa-bisa aku di tendang. Oke! aku curi saja lalu aku lari ke dalam kamar mandi, ya begitu saja. Shenna tunggu aksi ku kali ini, sudah hampir 2 bulan bibir ku menganggur."


Dyoza berhenti bicara sendiri setelah mendengar suara pintu terbuka, ia melihat shenna membawakan teh yang di minta olehnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu ?."


"Aku menatap tehnya bukan kau, jangan narsis."


"Dih dasar aneh."


Dyoza menyeruput tehnya dengan hati-hati, shenna menatap setiap pergerakan suaminya itu. Ia benar-benar kagum dengan sosok tampan itu, entahlah ngidam apa ibu mertua nya sampai anaknya tampan seperti itu.


"Eh, shenna apa yang kau pikirkan ? Dasar gila."


"Kenapa kau geleng-geleng ?."


"Ah, ti,tidak aku hanya sedikit pusing saja hehe."


"Tembok lebar."


"Apa hubungannya ?."


"Benturkan kepala mu di sana, agar pusing mu hilang."


"IIIISSSSHHH DASAR GILA."


Shenna menepuk punggung Dyoza sedikit keras hingga teh di tangannya tumpah.


"Awww panas."


"Ah Dyoza maafkan aku."


Shenna panik lalu mengambil teh itu dan meletakkannya di meja, ia kembali pada Dyoza membuka kancing baju sang suami dengan cepat agar tidak mengenai dadanya, meskipun sudah terkena.


"Maaf ya maaf, habisnya ucapan mu itu benar-benar ya."


"Aku hanya bercanda shenna, aww."


Shenna melihat dada suaminya sedikit memerah, ya! hanya sedikit. Tapi, karna shenna sangat khawatir ia tidak curiga sedikitpun.


"Sebentar aku ambil salep dulu."


Dyoza menatap punggung istri nya dan tersenyum miring, ia mengepalkan tangannya lalu berkata yes dala hatinya.


Modusnya berhasil lagi kali ini, padahal teh itu tidak terlalu panas. Tapi, ia berakting agar shenna merasa bersalah.


"Berbohong demi mendapatkan perhatiannya tidak masalah kali ya, namanya juga usaha hehe".

__ADS_1


Shenna mengolesi salep di dada bidang suaminya, detak jantung keduanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Shenna beberapa kali menarik nafas panjang, entahlah sepertinya ada yang mengganjal di sana sehingga menarik nafas saja sangat sulit.


Sedangkan Dyoza sedari tadi menatap ke sembarang arah menyembunyikan rasa geroginya. Mereka seperti dua pasang muda-mudi yang baru pertama kali bersentuhan.


"Shenna".


"Ya ?."


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu ?."


"Kau ini aneh sekali, biasanya untuk bertanya tinggal nyerocos kenapa sekarang harus izin dulu ?." Shenna masih fokus mengolesi dada suaminya.


"Oke, tapi jawab dengan jujur ya ?."


"Baiklah, mau tanya apa ?."


"Di saat seperti ini apa kau tidak merasa aneh dengan detak jantung mu ?."


Shenna seketika berhenti dan menatap Dyoza, seketika shenna menyudahi tatapan itu dan hendak menarik tangannya. Dengan sigap Dyoza memegang tangan shenna.


"Katakan dengan jujur! apa kau tidak merasakan apa yang ku rasakan saat ini ?."


Shenna kembali menatap ia melihat ada sebuah harapan di mata Dyoza.


"Dyoza, aku sudah selesai mengobati mu."


"Shenna please! aku sangat gugup saat ini, apa kau tidak merasakannya juga ?."


Shenna menggeleng menatap ke sembarang arah.


"Kau berbohong!."


"Ti,tidak siapa yang berbohong ?."


"Lalu kenapa tangan mu sangat dingin ?."


Shenna menarik paksa tangannya dan hendak berdiri, lalu dengan cepat Dyoza menarik shenna hingga posisi shenna saat ini tepat berada di atasnya, dengan posisi sangat intim.


"Apa sekarang kau merasa gugup ?."


Shenna menggeleng.


Dyoza memeluk shenna, ia mengeratkan pelukannya di pinggang shenna.


"Kalau seperti ini ?."


"Tidak!."


Dyoza bergerak dengan cepat mengubah posisinya, saat ini ia tepat berada di atas shenna. Ia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak menindih sang istri.


"Kalau seperti ini ?."


"Tidak! Dyoza hentikan, kakiku sakit."


"Jujur lah shenna, apa kau benar-benar masih marah pada ku ?."


"Untuk apa aku marah, sudahlah aku tidak mau membahas apapun."


Saat shenna hendak bangun, Dyoza menabrak kan bibir nya pada bibir sang empu. Shenna yang terkejut segera memundurkan dirinya.


Tapi, dengan cepat Dyoza mengikuti kemana arah shenna bergerak. Dyoza masih menempel kan bibinya enggan melepas. Shenna benar-benar ingin menolak tapi seolah tubuhnya berkata tidak sesuai dengan keinginannya.


Dyoza semakin memperdalam ciuman itu, kini matanya terpejam menikmati setiap pagutan nya. Shenna yang melihat Dyoza menikmati seolah terhipnotis, ia pun ikut memejamkan matanya. Dyoza sedikit menggigit bibir shenna agar ia membuka nya, dengan cepat Dyoza menerobos saat bibir shenna terbuka.


Ia membelit lidah nya, seolah-olah bermain di sana. Detak jantung Dyoza sudah tidak karuan lagi, bahkan kini shenna begitu gugup dan tentu saja detak jantung nya melompat-lompat.


Shenna reflek meladeni ciuman sang suami, Dyoza tersenyum di sela-sela aktivitas nya. Ia puas dengan tindakan sang istri, tentunya ia merasa lampu hijau sudah menyala mulai saat ini.


Dyoza semakin liar, shenna semakin membeku. Dyoza melepas ciuman nya, kini sasaran nya adalah ceruk leher sang istri. Ia menciumnya dengan lembut disana, shenna merinding seolah-olah tubuhnya benar-benar menikmati nya.


Tangan Dyoza mengusap leher sang istri seakan ia tahu disana lah titik lemah seorang wanita.


Shenna menggeliat, semakin larut dalam belaian sang suami bahkan kini Dyoza semakin menekan tubuhnya. Sesuatu di sana terasa begitu keras, Dyoza memasukkan tangannya ke dalam baju shenna mencari sesuatu yang ia inginkan. Saat hendak menyentuhnya shenna gelagapan, menyudahi ciuman itu dan menahan tangan sang suami.


"Kenapa ?." Ucap Dyoza lirih


"A,aku... aku belum siap. Maafkan aku Dyoza."


Tanpa menunggu jawaban, shenna bangkit dan keluar dari dalam kamar.


"****." Ucap Dyoza frustasi


"Bagaimana ini, junior sudah bangun."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2