
"Jadi kau setiap hari kerumah gadis pelayan cafe itu ?." Ucap Zidan menyeruput minumannya.
"Kalya." Ucap Daniel menegaskan
"Iya-iya siapa lah itu namanya, lagi pula sejak kapan kau menghapal nama seseorang ?."
"Entahlah, sepertinya mendekati Kalya lumayan bagus untuk menaikkan mood ku. Kau tahu, membuatnya geram sangat menggemaskan."
"Dasar gila, kau bahkan mendekati nya untuk melampiaskan perasaan mu kan ?."
Daniel menyengir kuda.
"Aaaiiissshhh sampai kapan Daniel ? kasian gadis pelayan cafe itu. Dia tidak tahu apa-apa!."
"Kenapa kau berisik sekali sih, bahkan dia sangat senang aku ajak nonton hari ini."
"APPAA!!! Jadi kalian hari ini ketemuan, lalu buat apa aku di sini ?."
"Kau pikir aku akan berduaan saja dengan nya ? itu kan sama saja seperti kencan. Aku bahkan malu jalan dengannya berduaan di mall mewah seperti ini. Kalya itu serba sederhana, aku tidak terbiasa jalan dengan wanita yang modelnya seperti dia."
"Kau jangan sembarang bicara!!" Zidan melirik ke sekelilingnya. "Lalu buat apa kau mengajaknya nonton film ? Dan bahkan dari foto yang kau tunjukkan padaku dia masih sangat polos. Sepertinya bibirnya juga masih belum tersentuh siapapun."
"Memangnya masih ada wanita yang seperti itu ? Kau hidup di jaman apa sebenarnya sih ?."
"Aku ini pakar wanita, hampir semua jenis wanita sudah ku pacari. Jadi tentu aku tahu kalau gadis itu masih polos dan bisa jadi dia tubuh nya masih ori. Kau sering kerumahnya kan, apa yang kau dapat selain makan malam ?."
Daniel terdiam, benar juga pikirnya.
"Sudah lah tidak usah kau pikirkan. Dan jangan sembarang bicara lagi aku tidak mau ikut-ikutan soal ini. Kalau gadis pelayan cafe itu sampai tahu aku akan merubah diri menjadi batu saat ini juga."
"Aku tidak butuh bantuan mu!!." Ucap Daniel cuek
"Cih, Sombong sekali. Oh iya Padahal aku ingin sekali bertemu dengan bibi Hanum, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku merindukan bibi Hanum."
"Hari ini ada acara dirumah, acara barbeque."
"Loh Kenapa kita tidak kesana saja ?."
"Kau gila apa! Mana kuat hati ku melihat kakak dan shenna bermesraan, bikin panas saja!."
Zidan menggeleng kepala, ternyata Daniel belum bisa melupakan perasaan nya pada istri kakak sepupu nya itu.
"Pantas kau mengajak Kalya!."
"Aku juga mengajakmu, biar ramai. Kalau berdua saja denganmu bisa-bisa orang berpikiran kalau kita ini punya hubungan spesial."
Zidan tertawa lepas mendengar ucapan Daniel.
"Kau lupa kita pernah tidur berdua di dalam kamar ?."
"Cih."
Prangg....
"Ma,maaf. Maaf saya tidak sengaja."
"Hati-hati nona, kenapa berlari ?." Ucap pelayan yang sudah berjongkok
"Ma,maaf!." suara Kalya bergetar
Kalya berlari keluar dari restoran itu, ia tidak menghiraukan tatapan para pengunjung. Bahkan ia tidak membantu membersihkan gelas yang sudah berserakan di lantai.
Sesampainya di restoran ia sudah semangat sekali ingin menghampiri Daniel yang sedang menunggu nya, saat ia ingin mendekat ternyata ia di suguhkan dengan obrolan antara Daniel dan laki-laki yang belum Kalya kenal itu.
"Ka,Kalya." Ucap Daniel terkejut
__ADS_1
Bahkan Zidan yang menoleh pun ikut terkejut mendengar nama yang sahabat nya sebut.
"Itu Kalya ?."
Daniel mengangguk lalu bergegas mengejar Kalya tanpa memperdulikan Zidan yang masih di posisi yang sama.
Kalya berlari sekuat tenaga, air matanya sudah membasahi pipi. Rasa sakit di dadanya membuat ia sulit mengatur nafas, bahkan ia tidak peduli dengan teriakan orang-orang yang ia tabrak saat berlari.
"Sudah ku bilang Kalya, jangan pernah percaya dengan orang kaya."
Kalya kembali berlari saat ia mendengar seseorang di belakangnya memanggil namanya cukup keras, Kalya menoleh sebentar lalu kembali berlari sekencang-kencangnya.
"Kalya tunggu! kal... Kalya." Daniel berhenti berlari dengan nafas terengah-engah.
Tidak lama kemudian Zidan berhenti tepat di samping Daniel.
"Astaga apa gadis pelayan cafe itu seorang atlet lari ?." Zidan menepuk punggung Daniel cukup keras.
"Bagaimana ini ?." Daniel frustasi, ia terduduk di pinggir trotoar.
"Sudah ku bilang jangan sembarang bicara, kau ini memang susah sekali di nasehati." Zidan geram.
"Aku harus bagaimana sekarang ?."
"Sudah ku bilang, aku akan merubah diri menjadi batu kalau gadis itu mendengar." Zidan ikut duduk.
"Kau benar-benar tidak berguna!."
"Kau yang bilang tidak butuh bantuan ku."
Daniel berdecak kesal, satu-satunya cara adalah datang kerumah Kalya untuk meminta maaf dan meluruskan masalah ini.
"Kau mau kemana ?." Zidan menahan pundak Daniel
"Kau pikir mau kemana lagi, hah ?."
"Berisik kau!." Daniel menendang menginjak kaki Zidan lalu bergegas pergi.
"Aww, bedebah sialan!!." Zidan meringis memegang kakinya. "Aku yakin gadis itu tidak akan memaafkan Daniel hehe."
--
Kalya terpaksa naik taksi karna ia takut Daniel terus mengejarnya. Ia menangis sesenggukan di belakang sang supir taksi. Rasanya begitu sakit apa salahnya sampai Daniel tega melakukan itu padanya, Kalya sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sang supir taksi yang mendengar Isak tangis penumpang nya pun hanya melirik Lewat spion dan kembali fokus pada jalan di depannya.
"Terimakasih pak." Kalya memberikan uang pada sang supir setelah sampai tujuan.
"Sama-sama Nona."
Kalya duduk di taman kota, tujuannya bukan rumah. Ia tahu Daniel pasti akan datang kerumahnya saat ini. Ia tidak tahu lagi harus bahagia sekarang.
Hiks...
Kalya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, ia tidak peduli dengan pasangan muda-mudi yang melewati nya sambil melirik heran.
Cukup lama ia menangis sampai matanya membengkak. Bahkan cuaca pun sudah mulai berubah dingin karna langit sudah berubah gelap.
"Kenapa aku begitu bodoh. Seharusnya aku jangan berharap apapun, meskipun harapan ku hanya sebatas menjadi temannya."
"Harusnya aku sadar diri."
Hiks..
Seseorang dari kejauhan tampak mengerutkan keningnya, ia menghampiri Kalya yang sedang menangis.
__ADS_1
Ia menusuk-nusuk kepala Kalya dengan jarinya lalu menyodorkan sapu tangan.
Kalya terkejut dan mendongak.
"Tidak perlu, aku bisa menggunakan baju ku." Kalya segera mengusap air matanya.
Laki-laki itu tersenyum dan duduk tepat di samping Kalya, ia kembali memasukkan sapu tangan ke dalam kantong celananya.
"Apa kau tahu, sedari tadi mereka berbisik membicarakan mu ?."
Mata kalya berkeliling dan tentu saja ia tidak peduli.
"Aku tidak peduli, aku tidak mengenal mereka."
Laki-laki itu kembali tersenyum mendengar ucapan Kalya.
"Aku Bara, Bara Mahardika."
Kalya menatap tangan itu lalu menyebutkan namanya tanpa menjabat tangan Bara yang masih menggantung.
Bara menurunkan tangannya dan masih tersenyum, ia memahami kondisi Kalya saat ini.
"Kalau boleh tahu, apa yang membuat mu menangis ?."
"Bukan urusan mu, pergilah aku ingin sendiri!!."
Bukannya pergi justru Bara kembali tersenyum.
"Aku tahu kau butuh tempat bercerita, aku menghampiri mu hanya ingin berniat baik. Aku tidak akan menghakimi mu jika kau bercerita, karna kita tidak saling mengenal dan tentunya bukan hak ku menghakimi mu."
Kalya menyerap setiap kata yang Bara ucap kan, ia berpikir ada benarnya juga. Seharusnya saat ini bara akan menjadi pendengar setia tanpa menghakimi.
Tidak lama kemudian mengalir lah setiap kata yang Kalya ucapkan, Bara dengan setia mendengarkan Kalya. Sesekali Bara menepuk punggung Kalya dengan lembut untuk menenangkan nya agar tangisnya mereda.
"Terimakasih ya sudah mau mendengarkan cerita ku.... kak Bara." Ucap Kalya merasa lega
"Aku hanya membantu mu agar hati mu tidak terasa sesak, apa kau sudah membaik ?."
Kalya mengangguk pelan.
"Sedikit."
"Setelah ini kau mau kemana ?."
"Aku akan menginap dirumah teman."
"Mau ku antar ?."
"Tidak perlu kak."
"Kau yakin ?."
Kalya mengangguk.
"Baiklah! kalau begitu hati-hati, semoga setelah ini kau akan selalu bahagia."
"Terimakasih kak, semoga kakak pun begitu."
Kalya dan Bara akhirnya pergi dari sana dengan jalan yang berlawanan.
"Hallo Lula, kau sudah dirumah ? aku sedang di jalan ingin ke rumah mu. Nanti saja aku ceritakan ya, bye!!."
-
-
__ADS_1
-
Bersambung