
Saya hanya memanfaatkan sebaik mungkin atas izin yang sudah tuan berikan pada saya."
"Ah, sepertinya kata-kata ini cukup keren kan?."
Dyoza tersenyum smirk mendengar kata-kata cantik yang terlontar dari mulut Arkan.
"Ternyata ucapan mu waktu itu benar sungguhan."
"Kau bilang memanfaatkan sebaik mungkin ?."
Bertanya lagi meyakinkan.
"Ya, tuan."
Mengangguk pasti.
"Lalu, kenapa kau menyuruh shenna untuk pulang sendiri ?".
Deg....
"Kenapa diam apa kau akan mati sekarang ?."
senyum menyeringai.
"Saya sudah ingin mengantar nya pulang, tapi... shenna memarahi saya tuan." Arkan
Masih menjawab setenang mungkin.
"Cih! apa sekarang kau lemah soal wanita Ar ?."
"Ayolah tunjukkan wajah panik mu".
"Tentu tidak Tuan, saya bisa memposisikan diri saya." Mencoba membuat Dyoza bungkam.
"Kenapa Tuan Dyoza seperti menyerang ku bertubi-tubi ?."
"Lalu kenapa kau membiarkan shenna pulang sendirian ?." Dyoza masih mencecar Arkan.
"Karna shenna tidak ingin punggung saya semakin parah jika terlalu lelah, saya sudah benar-benar memaksanya untuk mengantarkan pulang tapi shenna hanya meminta saya untuk mencarikan taksi dan saya mengantar nya sampai lobby."
"Sudahlah Tuan jangan mencari letak kelemahan ku! itu hanya akan sia-sia saja."
"Hah! kau selalu saja banyak alasan Ar".
Mendengus kesal.
"Maaf Tuan, saya justru senang Tuan mengantar shenna sampai rumah. Saya sebagai kekasih nya berterima kasih pada Tuan." Arkan menekan kata kekasih pada Dyoza, dia tahu Dyoza pasti akan semakin kesal.
Brakk...
Dyoza menendang kursi pengemudi yang Arkan duduki saat ini.
"Kau mau mati ya ?."
Dyoza di buat kesal oleh pernyataan Arkan.
"Sial dia memang bukan orang yang pantas di remehkan."
"Tidak Tuan."
Arkan tersenyum puas, ia seperti memergoki Dyoza berselingkuh dengan kekasihnya.
"Dia bilang kekasih ? ah, aku benar-benar meremehkan Arkan".
Merek saling diam dan bergelut dengan pikiran masing-masing, hingga mobil mereka terparkir sempurna di tempat yang menjadi tujuan mereka.
.
.
__ADS_1
.
Sudah satu bulan hubungan Arkan dan shenna berjalan. Raut wajah bahagia tidak lepas dari shenna dan Arkan, Bahkan setiap hari Arkan selalu memberikan amunisi semangat agar shenna menjalankan pekerjaannya penuh dengan suka cita.
Setiap selesai bekerja shenna selalu menelpon ayah dan ibunya di desa, menanyakan kabar, mengirim uang hasil kerjanya, bahkan sekarang ibu shenna sudah bisa membuka toko kue hasil kinerja ayah dan shenna.
Meskipun selama shenna Bekerja mereka hanya bertatap muka melalui Videocall shenna tetap bahagia. Hal yang terpenting bagi shenna adalah ayah dan ibu nya bahagia serta sehat itu sudah lebih dari cukup untuk Shenna.
Malam ini shenna sedang merapikan kamar Dyoza yang tampak seperti kapal pecah, shenna bingung kenapa akhir-akhir ini seperti ada yang aneh pada Dyoza .
kaleng minuman alkohol berserakan dimana-mana bahkan kulit kacang pun tersebar di setiap sudut.
"Apa dia mandi kulit kacang sampai tersebar kemana-mana begini ?." Shenna menggerutu dalam hati sambil membersihkan sampah yang berserakan.
Ia melihat Dyoza sedang memejamkan mata di atas ranjangnya dengan posisi tengkurap. Shenna menghampiri Dyoza berniat untuk menyuruhnya mengganti pakaian. Sebab pakaian yang Dyoza gunakan masih setelan kemeja kerja.
"Aku bangunin tidak ya ?." berpikir lagi. "Ah biarkan sajalah! kasihan dia sepertinya lelah sekali." Melanjutkan bersih-bersih.
"Apa aku panggil kan saja Tuan Arkan ya, biar dia saja yang membangunkan." Shenna menuju ruang kerja dimana terdapat Arkan di dalamnya.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk." Titah Arkan yang matanya fokus pada layar laptop di depan nya.
"Permisi Tuan." Shenna masuk dan menutup pintu kembali.
"Kenapa ?." Menutup layar laptopnya.
"Mmmmhhh Tuan Dyoza belum mengganti pakaiannya, sedangkan dia sudah tertidur pulas. aku tidak berani membangunkannya. Apa Tuan bisa membantunya untuk mengganti pakaiannya ?."
Shenna tersenyum penuh harap.
Arkan yang sedari tadi duduk beranjak menghampiri shenna.
"Apa kau sudah selesai dengan pekerjaan mu ?." Menyelipkan rambut shenna di belakang telinga.
Shenna mengangguk pelan, dadanya berdesir dengan perlakuan Arkan.
"Sedikit." Tersenyum lembut pada Arkan.
"Kemarilah! aku akan memelukmu." tangan shenna di arahkan ke pinggang Arkan, dan mereka saling memeluk satu sama lain.
"Oh Tuhan biarkan laki-laki ini selalu di samping ku." Shenna selalu berdoa agar Arkan tidak pernah berubah dan bahkan selalu bersikap lembut seperti ini, kapanpun.
"Sekarang istirahat lah! Pekan nanti aku akan mengajak mu jalan-jalan." Mendengar itu shenna menatap Arkan dengan mata yang berbinar.
"Benarkah ?."
"Apa aku terlihat tidak meyakinkan ?." Mengusap lembut kepala shenna.
"Terimakasih." shenna kembali memeluk Arkan dan berjinjit mencium lembut pipi Arkan.
Sontak Arkan terkejut dengan tindakan shenna.
Saat shenna hendak meninggalkan ruangan, Arkan menarik tangan shenna dan mencium bibir nya. Mata shenna membulat tak lama ia memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut sang kekasih.
"Kalau tuan Dyoza tahu, aku akan mati sekarang berciuman diruang kerjanya." Batin Arkan
Cukup lama ciuman itu, setiap pagutan yang Arkan berikan shenna selalu membalasnya. Rasanya waktu berhenti ketika ciuman mereka berlangsung. Saat nafas mereka mulai tersengal mereka saling melepas, dan Arkan menempelkan keningnya di kening shenna lalu mencium kening shenna lumayan lama, seperti mengalirkan rasa cintanya pada shenna.
.
.
Arkan melirik Dyoza yang masih setia pada posisinya, ia mencium bau alkohol menyeruak di dalam ruangan. Ia memicingkan matanya melihat dyoza.
"Kenapa akhir-akhir ini ia selalu minum saat pulang kerja ?." Arkan duduk di bibir ranjang memperhatikan Dyoza, ia seperti enggan membangunkan namun Dyoza harus berganti baju.
"Tuan Dyoza." menggoyang tangan Dyoza pelan. "Tuan bangun lah! ganti pakaian mu." Tidak ada pergerakan akhirnya Arkan mengganti pakaian Dyoza.
Arkan duduk di sofa masih menatap seseorang yang tertidur seperti orang yang tidak bernyawa, ia berfikir tentang perubahan sikap Dyoza. Ia mengusap kasar wajahnya, sedikit bimbang tentang hal yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Apa semua ini ada hubungannya Dengan aku dan shenna ?."
"Apa Tindakan ku salah ? apa sebenarnya Tuan Dyoza mencintai shenna ?."
Arkan menyandarkan kepalanya menatap langit-langit kamar, matanya berkeliling sesekali memejam dengan kasar.
Tanpa Arkan sadari ia ikut terlelap di dalam kamar dengan posisi duduk.
--
Shenna terkejut mendapati Arkan tidur di kamar Dyoza, ia segera membangun kan sang kekasih.
"Tuan Arkan." Shenna membangun kan Arkan dengan hati-hati. "Tuan bangun, kenapa kau tidur di sini ?." Mengusap lembut pipi Arkan.
Tidak sulit membangun kan Arkan, saat matanya terbuka Arkan sedikit terkejut.
"Shenna." Memijat keningnya yang sedikit pusing. "Aku ketiduran." Serunya menjelaskan.
"Apa Tuan Dyoza sudah bangun ?." Sambung nya melihat Dyoza.
"Belum Tuan, aku baru saja masuk ingin menyiapkan kebutuhan Tuan Dyoza."
"Baik, kau lanjutkan lah! aku akan mandi di bawah." Mengusap kepala shenna, dan berlalu.
"Sepertinya tuan Arkan sangat lelah." menatap kepergian Arkan . Shenna bergegas mengerjakan pekerjaannya pagi ini, hal-hal yang biasa ia lakukan setiap harinya.
Saat shenna sedang menyiapkan pakaian kerja, ia tidak sadar bahwa Dyoza sudah berdiri di belakangnya.
"Aaaaaaaa." Teriak shenna saat berbalik. "Astaga Tuan kau membuat ku kaget." Mengusap dadanya .
"Aku sudah siapkan air untuk mandi." Sambungnya. " apa tuan sudah mau mandi sekarang ?."
Dyoza tidak menjawab apapun, ia hanya menatap shenna lama dan segera berlalu menuju kamar mandi.
"Kenapa dengan Tuan Dyoza ? Dasar aneh."
Butuh waktu 20 menit Dyoza mandi dan shenna pun kembali masuk untuk memakai kan sepatu pada Dyoza, shenna fokus melakukan nya tanpa bersuara. Dyoza pun hanya memperhatikan setiap pergerakan shenna tanpa berbicara.
"Nah sudah selesai ?." Ucap shenna tersenyum menatap Dyoza.
Shenna mengerutkan keningnya, melihat wajah Dyoza yang tidak seperti biasanya. Tidak bersemangat, ada lingkaran hitam di matanya bahkan Dyoza seperti orang yang sedang sakit.
"Tuan kau kenapa ?." Bertanya dengan hati-hati. "Kenapa ada lingkaran hitam di mata tuan ? apa tuan kurang tidur akhir-akhir ini ?". Shenna dengan reflek menyentuh kening Dyoza dengan punggung tangannya. "Tuan sakit ?."
"Awwww." Dyoza menepis kasar tangan shenna.
"Jangan sembarang menyentuh ku!." Ucapnya ketus. "Apa kau tidak sadar dirimu siapa ?." Menatap tajam shenna.
"Maafkan saya tuan, saya hanya khawatir." Shenna menunduk dan menyesal.
"Sebaiknya kau keluar sekarang! aku tidak ingin melihat mu." Berdiri membelakangi shenna. "Sebaiknya sekarang kau melakukan tugasmu saat aku sedang tidur pulas, jangan sampai membangun kan ku. Dan setelah menyiapkan semuanya kau tidak perlu kembali lagi ke kamar ini. Mulai besok aku akan memakai sepatu sendiri, bekerjalah tanpa muncul di hadapan ku!." Ucap Dyoza datar.
Shenna termangu mendengar ucapan dyoza, ia merasa bingung.
"Ma,maaf tuan apa salah saya ?." Ujar shenna lirih. "Apa saya melakukan sebuah kesalahan sampai Tuan tidak mau melihat saya, apa selama ini pekerjaan saya buruk ? Tolong jelaskan pada saya! saya tidak mau mengecewakan Tuan." Tanpa terasa shenna menetes kan air matanya.
"Kau....
Dyoza berbalik menghadap shenna dan terdiam saat mendapati shenna menangis. "Sial"
"Saya minta maaf jika saya punya salah pada tuan, sejujurnya saya sudah berusaha sebaik mungkin melaksanakan pekerjaan saya." Shenna semakin tak kuasa menahan air matanya. "Ada apa ini ? kenapa Dyoza marah padaku, apa salahku ?."
"Kenapa shenna menangis ? apakah kata-kata ku kelewatan ? aku hanya tidak ingin semakin hari hatiku semakin sakit dan semakin menyadari bahwa aku mencintai nya, tapi apa benar aku mencintainya ? bahkan melihat nya menangis seperti ini rasanya aku ingin sekali memeluknya, tapi aku masih waras shenna kekasih Arkan, orang kepercayaan ku, orang yang selama ini setia padaku, pada keluarga ku, bahkan ia sudah ku anggap sebagai saudara ku."
"Hentikan tangisan mu! lakukan saja apa yang ku perintahkan, jangan membantah atau bertanya". Ujar Dyoza menahan rasa kesal di dadanya. "Lakukan apa yang aku katakan!!!." Bentaknya .
"Ba,baik tuan, maafkan saya. Saya permisi." shenna keluar dari dalam kamar Dyoza dengan deraian Air Mata, entahlah sepertinya kata-kata Dyoza begitu menyakiti hati nya.
Arkan tampak murung, ia turun dari tangga saat hendak ingin masuk ke kamar Dyoza ia mengurungkan niatnya. Ia mendengar semua apa yang terjadi di dalam kamar barusan.
__ADS_1
"Benar dugaan ku, aku melakukan kesalahan besar." Arkan memijat keningnya saat ia duduk di kursi taman belakang. "Seharusnya aku tidak secepat ini mengambil tindakan, Bagaimana ini ?." memangku wajah dengan kedua tangannya, Tatapannya kosong.