
"Sedang apa shenna di dalam sana, kenapa lama sekali ?". Daniel begitu gelisah karna shenna tak kunjung muncul dari kamar Dyoza.
Daniel mondar-mandir mengintip dari balik pintu kamarnya, saat melihat shenna keluar dari dalam kamar Dyoza, Daniel segera memanggil nya.
"Ada apa ?". Tanya shenna mendekat.
"Kenapa kau lama sekali di kamar kakak ?".
"Pakaian tuan Dyoza banyak, jadi aku agak lama di dalam. Kenapa ?".
"Ah, tidak apa-apa. yasudah kau istirahatlah!".
"Baik, selamat malam".
Shenna pun menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan ingin merebahkan tubuhnya untuk melepas lelah.
--
Akhirnya akhir pekan telah tiba , shenna sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Daniel. Di dalam kamar Daniel pun sedang bersiap diri, ia sangat senang akan berduaan dengan gadis yang membuatnya tertarik.
"Bagaimana bisa aku mempunyai wajah setampan ini ?". Jurus narsisnya muncul begitu saja tanpa aba-aba.
Daniel keluar dari dalam kamarnya menuju meja makan hendak sarapan, ia melihat kakak sepupu nya sudah duduk manis disana.
"Selamat pagi kakak". Ucapnya begitu manis didengar.
"Pagi". Jawab Dyoza datar.
Dyoza duduk di sebrang Dyoza dan mengambil sepotong sandwich lalu melahapnya.
"Tumben kau sudah sewangi ini, mau kemana ?". Ucap Dyoza sambil menikmati sarapannya.
"Aku kan mau mengajak shenna jalan-jalan kak, aku pernah bilang pada bibi di depan mu. Kau lupa ?". Jawab Daniel dengan santai.
Dyoza terdiam namun masih dengan wajah datarnya sambil mengunyah makanannya.
"Kenapa aku bisa tidak ingat ya ?".
Daniel melihat jam di lingkaran tangannya, ia pun segera menghabiskan sarapannya dengan cepat.
"Kak aku pergi dulu ya, bye!".
Shenna sudah menunggu Daniel di depan rumah, tak lama kemudian muncul Daniel dari balik pintu.
"Kau sudah lama ?". ucap Daniel.
"Ah tidak, aku baru saja".
"Ayo masuk!". Titah Daniel membuka pintu.
Tanpa menunggu lama mereka keluar dari halaman rumah menuju tempat-tempat yang akan mereka kunjungi satu persatu.
Hal yang belum pernah shenna lakukan adalah pergi dengan laki-laki yang mau mengajaknya ke taman hiburan, toko buku, dan tempat ramai lainnya yang banyak di kunjungi oleh pasangan muda-mudi lainnya, hal sederhana yang membuat shenna sangat senang.
Selama ini ia selalu di suguhkan dengan tempat-tempat mewah seperti restoran bintang lima demi menarik hatinya, hadiah-hadiah mahal dari para fans beratnya. Tapi, dengan Daniel hanya makan ketoprak di pinggir jalan saja shenna sangat senang, minum es campur, makan telor gulung dan makanan-makanan yang menurut shenna sangat nikmat di lidahnya.
Shenna seperti anak kecil yang baru boleh di izinkan main oleh orangtuanya, ia berjalan kesana kesini begitu riang. Daniel pun mengikuti setiap langkah shenna dengan senang.
"Daniel duduk di situ yukk!." Ajak shenna yang di anggukan Daniel.
"Ini minumlah, kau sedari tadi tidak ada capeknya ya ?". Daniel menyodorkan minuman dingin yang ia beli.
"Hehe aku sangat senang. Terimakasih ya sudah mau mengajakku jalan-jalan". Ujar Shenna tersenyum puas seraya menerima minuman dari tangan Daniel.
"Kau sampai berkeringat". Daniel mengusap keringat shenna dengan tissue.
"Hehe sini biar aku saja". Shenna merebut tissue nya.
"Kau mau kemana lagi sekarang ? masih ada waktu 2 jam." Daniel melihat jam di tangannya.
"Sudah cukup, hari ini sudah banyak tempat yang kita kunjungi. Besok kau harus bekerja, aku tidak mau tuan Dyoza memarahi mu karna kau terlambat".
"Kau tenang saja, mungkin aku hanya di hukum hehe".
"Kau ini, sudah kita duduk saja di sini. Aku juga sedikit lelah. Lagi pula masih ada waktu lain untuk kau mengajakku jalan-jalan, benar kan ?".
"Kau mau aku ajak jalan-jalan lagi?." Daniel begitu antusias.
__ADS_1
"Memangnya kau tidak mau mengajakku jalan-jalan lagi ya ?". Ucap shenna memanyunkan bibirnya.
"Ah tentu saja kita akan jalan-jalan lagi kapanpun kau mau".
"Kau memang teman terbaik". Shenna menepuk pundak Daniel dengan senang.
Akhirnya mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol di sebuah taman yang banyak pengunjung. mereka tertawa bersama, saling bercerita tentang diri mereka masing-masing.
"Shenna apa aku boleh bertanya sesuatu padamu ?". Melihat raut wajah Daniel yang begitu serius, shenna pun mengangguk sambil tersenyum ragu.
"Apa kau dan kakak pernah mempunyai hubungan spesial sebelumnya?". Daniel memastikan apa yang ia dengar di kantor itu benar adanya.
Mendengar pertanyaan Daniel shenna pun terdiam dan mengangguk pelan. Lalu jawaban shenna mengalir begitu saja, dengan setia Daniel mendengarkan nya.
"Jadi kau bekerja untuk mantan kekasih yang sangat kau benci ?".
"Sebenarnya aku tidak terlalu ahli untuk membenci orang lain, sebenarnya aku ingin sekali membenci Dyoza tapi entahlah aku juga bingung dengan diriku sendiri."
"Seandainya aku bisa membenci mungkin banyak sekali hal yang aku benci, takdir salah satunya. Tapi, aku tidak mau menjadi seorang pembenci dalam hal apapun." Shenna tersenyum getir.
"Percayalah shenna, kakak akan menyesal." Daniel mengusap punggung shenna dengan lembut. "Lalu kau dengan kak Arkan ?".
"Sudahlah lagi pula itu sudah lama sekali. aku sudah berdamai dengan masa laluku. Ayo pulang, kalau terlambat pulang Kepala pelayan akan menegurku". Shenna tidak menjawab tentang pertanyaan mengenai Arkan, shenna lebih memilih menyudahi obrolan itu.
"Baiklah, ayo!". Dengan berat hati Daniel mengiyakan ucapan shenna.
--
Tiba dirumah...
"Daniel terimakasih yaa kamu sudah menepati janji". Ucap shenna sebelum keluar dari mobil.
"Kau senang ?".
"Tentu, aku sangat senang". Shenna kegirangan.
"Baiklah, aku akan sering mengajakmu jalan-jalan, lain kali kita ketempat yang lebih seru". Seru Daniel.
"Ahhh benarkah, baiklah aku akan menunggu waktunya tiba. Aku duluan ya, bye Daniel selamat istirahat". Shenna pun keluar dari mobil.
Daniel mengangguk dan tersenyum, ia sangat senang bisa mengajak shenna.
Shenna berjalan tanpa melihat sekitar nya, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang memperhatikan nya dari lantai atas. Sosok itu tidak lain adalah Dyoza, ia menarik nafas beratnya melihat shenna yang baru pulang.
Tidak lama Daniel masuk menuju kamarnya sambil memainkan kunci mobil yang ia pegang, tidak ketinggalan siulan dari mulutnya menggambarkan betapa senang dirinya hari ini.
"Anak laknat ini". Batin Dyoza dengan tatapan kesal melihat adik sepupunya itu.
Dyoza masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan berkecamuk, entahlah apa yang harus ia lakukan sekarang. Sepertinya ia sudah mati langkah.
"Apa shenna mau ya melayani ku lagi ?". Ucapnya mengusap dagu. "Ah aku yakin dia tidak mau, semua memang salah ku yang terlalu bodoh". Ucapnya kesal.
Dyoza sedang berfikir, sepertinya ia harus melakukan sesuatu agar shenna bisa ke kamarnya sekarang. Seperti mendapatkan sebuah hadiah besar Dyoza kembali tersenyum cerah. Ini satu-satunya cara mendekati shenna lagi.
Ia mengambil ponsel nya dan mengirim pesan pada bibi kesayangannya itu. Setelah selesai mengirim pesan ia pun ke ruang kerjanya, menurunkan semua buku-buku yang sudah tertata rapih.
20 menit kemudian....
Tok tok tok...
"Masuk". Titah Dyoza.
"Permisi Tuan". Shenna masuk dan menutup kembali pintunya.
"Ah kau sudah datang, cepat bantu aku." Titahnya tanpa basa-basi.
"Baik". Shenna pun duduk dan merapikan buku-buku yang berserakan. "Buku-buku ini mau di apakan ?". Tanyanya tanpa melihat Dyoza.
"Rapikan saja dan letakkan sesuai tempatnya".
Shenna pun mengangguk tanpa bertanya lagi.
"Padahal aku sangat lelah, bahkan hari libur ku masih harus bekerja. Kalau bukan kepala pelayan yang menyuruh ku membantu nya aku pun malas sekali. Aaaahhh badan ku pegal semua".
Butuh waktu 30 menit untuk merapikan buku-buku itu, shenna duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya.
"Ahhh nyaman sekali". Gumam shenna seraya memijat punggung nya yang terasa kaku.
__ADS_1
"Kau lelah ?". Ucap Dyoza.
"Lumayan". Jawab shenna masih sibuk memijat.
"Sebentar ya, minumlah dulu dan istirahat sebentar disini". Dyoza meninggalkan shenna setelah shenna mengangguk.
Dyoza masuk kembali membawa krim untuk menghilangkan pegal-pegal dan menyerahkan nya pada shenna.
"Apa ini ?". Ucapnya memperhatikan benda yang ia terima dari tangan Dyoza.
"Itu krim pereda pegal, pakailah! tidurmu akan nyenyak setelah memakai nya dan besok saat bangun tubuhmu akan lebih bugar."
Shenna mengangguk membaca tulisan di krim itu. "Eh tunggu, kenapa dia jadi perhatian begitu. Apa dia salah makan ?".
"Kenapa kau melihat ku seperti itu ?". dyoza terlihat bingung.
"Hehe tidak, aku hanya mau bilang terimakasih". Ucap shenna asal.
Dyoza tersenyum kaku dan mengangguk. Ia seperti salah tingkah.
Shenna kembali meminum air yang di berikan Dyoza padanya, Dyoza pun duduk tepat di samping shenna dan memakan cemilannya.
"Sepertinya kau sangat senang hari ini". Ucapnya tanpa menoleh pada shenna.
"Tentu, aku sudah lama tidak mencari udara segar. Adik sepupu mu itu orangnya sangat menyenangkan." Ya, saat Dyoza menawarkan pertemanan pada shenna kini mereka sedikit lebih santai saat berbicara.
Dyoza mengangguk.
"Shenna apa kau tidak mau menjadi pelayan ku lagi ?". Ucap Dyoza tanpa basa-basi.
"Apa maksudnya, bukankah aku sudah menjadi pelayan dirumah mu ?". Jawab shenna heran.
"Bukan itu, maksud ku menjadi pelayan yang melayani ku". Dyoza menatap shenna.
"Hmmmm aku sungguh tidak sanggup dengan jam kerja yang kau berikan padaku". Ucapnya menarik nafas panjang.
"Tidak, aku akan menormalkan jam kerja mu seperti dulu". Jelas Dyoza dengan semangat.
"Tapi aku sudah nyaman melayani adik sepupu mu itu, dia sangat lucu dan menggemaskan". Ucap shenna tidak sadar.
"Iyaa sedangkan aku menyebalkan begitu kan maksud mu ?". Ucap Dyoza malas
"Eh bukan begitu maksud ku, kenapa kau sensitif sekali seperti kulit bayi". Shenna gelapan.
Dyoza terdiam membisu membuat shenna jadi bingung harus bagaimana. Shenna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa dia jadi begini ?".
"Kau benar-benar tersinggung ya ?". Tanya shenna hati-hati.
"Tidak! aku hanya berfikir kesalahan aku yang lalu terlintas begitu saja di pikiran ku". Ucapnya lirih.
"Kesalahan apa ?".
"Kesalahan ku padamu yang dulu ?". Ucap Dyoza menatap shenna.
"Kenapa jadi membahas itu ? bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas tentang itu lagi ?".
"Entahlah!". Membuang pandangannya ke sembarang arah
"Dulu kita masih sangat muda, masih memiliki sifat labil yang sangat tinggi. Jadi, sudah lah jangan membuat itu menjadi larut dalam pikiran mu itu Dyoza". Shenna menepuk pundak Dyoza memberikan ketenangan.
Dyoza menatap shenna lagi dan tatapannya Sangat dalam.
"Kita kan sudah sepakat untuk berteman, aku akan menjadi pendengar setia mu jika kau butuh itu". Shenna tersenyum tulus.
"Teman ?".
Dyoza mengangguk pelan dan menggenggam kedua tangan shenna.
"Terimakasih shenna".
Shenna pun mengangguk.
--
--
__ADS_1
--
Bersambung