
Didorong dengan kondisi mata tertutup sungguh bukanlah hal yang mudah.
"Ih, sabar atuh bapak jangan dorong-dorong, kaya lagi pembagian sembako gratis aja. Pake dorong-dorong. Gelap nih! Ngga keliatan," omel Iyang ketika badannya di dorong-dorong untuk berjalan hendak keluar pesawat. Pundaknya juga ditekan agar terduduk karena tak ada tangga pesawat apalagi busa tebal menyerupai trampolin untuk tempat turun mereka dari atas sini, hanya ada kayu panjang untuk mereka berseluncur turun layaknya drum-drum oli bekas yang baru turun dari truk.
"Aww!" jeritnya seperti perempuan, Zea sampai menyemburkan tawanya bersama Clemira.
"Njirrr gue pengen pipis, gara-gara si Iyang!" ujar Zea mengapit-apit pangkal pa hanya.
"Awww, bapak ih, mau diapain aku!!! Mau dibawa kemana?!" teriaknya lagi histeris persis anak gadis hendak dile cehkan dan itu semakin membuat Zea tergelak, bisa-bisanya terjadi moment kamvrett macam ini padahal mereka sedang disandera.
"Ini macam mana pula! Kau lelaki kan?! Jerit-jerit macam wanita!" bentak salah satunya kesal terhadap Iyang.
"Kau hanya disuruh duduk dan meluncur ke bawah!" titahnya lagi.
"Meluncur?" gumam anak-anak itu memikirkan kata meluncur dalam sanubari dan otak kecil mereka. Iyang hanya terbayang meluncur seperti yang tadi para pembajak itu lakukan pada orangtua. Sontak mereka terdiam, jika ini ajalnya mereka tak akan cukup ikhlas, sudah pasti matinya bakalan gentayangin para pembajak itu.
Satu persatu para remaja itu meluncur dari atas pesawat menuju bawah termasuk Zea, dapat ia rasakan sapuan hawa sejuk nan dingin dari belantara di kulitnya, begitupun pijakan kaki yang sesekali terantuk batu dan dataran tak rata, bahkan Iyang sampai terjatuh-jatuh karena tak dapat menahan keseimbangan tubuh ketika berjalan menyusuri belantara.
Suara binatang bertrakea menghiasi pendengaran, "ini dimana?" gumam Zea. Hingga lama berjalan, kini pijakan kakinya tak lagi terasa terjal.
"Mon, situasi aman?" tanya seorang lainnya.
"Aman! Serdadu itu seperti nyamuk yang kena tepok! Langsung kocar-kacir!" bangganya.
Clemira mendumel menghardik dengan bahasa Mana ado kebanggaan opa Gau meski pelan, "Ja pake sedikit tu ontak kal bacirita neh, tu prajurit tak bo doh macam dia orang. Da piara di amna lei ngan pe letup itu?" Clemira mendengus menghina, "nga logong."
(Pakai sedikit otak kalo bercerita, prajurit-prajurit itu tak bo doh macam kamu. Di pelihara dimana otak bo dohmu itu? Dasar kutu beras.)
Zea yang berada di depannya terkekeh kecil mendengar umpatan-umpatan kasar Clemira, jika sedang marah gadis itu akan mengeluarkan kata-kata sakti dari tanah kelahiran keluarga ibunya dengan level kecepatan dewa dan intonasi sewot, netizen ngebul mode on.
Langkah kaki sudah terdengar gemerisik itu artinya pijakan alas kaki tak lagi menyentuh tanah lembab dan dedaunan, ditambah pendengaran yang sedikit menggema membuat Zea menyadari satu hal, mereka memasuki sebuah ruangan.
"Duduk diam-diam disini! Anggaplah hotelmu!" teriak Tius kemudian sejurus kemudian terdengar suara pintu ditutup dan hening. Zea merasakan penutup wajahnya dibuka seseorang dan cahaya mulai menyentuh retina matanya, ia menghambur ke pelukan Clemira yang berada di dekatnya.
"Ze!"
Ada sekitar 8 orang termasuk Zea disini dan jika Zea telisik secara kasat mata, mereka semua adalah anak remaja dan anak-anak Desta X.
"Dina."
Mereka berpelukan satu sama lain di dalam sebuah ruangan kotor berdindingkan triplek tanpa cat apalagi furniture bagus. Jangankan ranjang, kursi pun tak ada.
"Kita dimana?!"
"Pingin pulang..."
"Apa kita bakalan mati?"
Rengek mereka, seketika riuh ketakutan ditambah isakan mulai terdengar bergema.
"Suthhh! Engga-engga! Kita ngga akan mati, percaya deh! Militer dan pihak kepolisian pasti lagi berupaya nyari kita, ditambah kan disini ada Zea, anak menteri, pasti mereka akan mempercepat pencarian!" Clemira mencoba menenangkan teman-temannya, "ya kan, Ze?" kini ia beralih menatap Zea yang masih mencerna sekitar, begitu banyak pertanyaan yang kini melayang-layang di otak Zea, *tentang dimana mereka berada? Bagaimana cara mereka pulang? Apakah akan ada kesempatan mereka selamat dari sini*? Hanya satu yang Zea tau pasti, alasan kini mereka diculik adalah karena dirinya, karena ayahnya.
__ADS_1
"Ya kan, Ze?" tanya Clemira sekali lagi, Zea hanya mengulas senyuman getir, "iya."
"Sekarang kita semua tunggu aja dulu."
Dina menghampiri Zea, "Ze, lo ngga apa-apa kan?" tanya nya, Zea menatap Dina dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "seharusnya lo semua ngga ada disini sekarang, Di---kalo bukan karena gue."
Matanya sudah buram dengan linangan air mata, "seharusnya lo semua ngga ngalamin ini, kalo gue ngga kekeh buat ikut ke three lion," lirihnya bergumam, "maafin gue."
"Hey...hey...engga gitu konsepnya, Ze." Dina memeluk Zea dan mengusap punggung kapten tim Desta X itu, entah kenapa sosok tangguh yang dikenalnya itu kini malah serapuh ranjang usang.
Clemira ikut menghampiri, "Ze. Dengerin gue. Ini tuh udah ada yang atur, lo ngga bisa nyalahin diri sendiri...lo jangan kaya gini, kalo lo gini, anak-anak gimana?" tanya Cle.
Zea benar-benar terbebani mental jika sampai ada apapun yang terjadi dengan teman-temannya, "kalo sampe lo semua kenapa-napa, itu salah gue..." jawab Zea menepuk-nepuk dadhanya pelan.
Clemira memeluknya, "abang pasti datang buat kita, buat gue, dan buat lo...abi juga ngga akan tinggal diam, om Rangga, mas Zico, umi Fara sama abi Fath, om gondrong juga...." Clemira mengabsen satu persatu anggota keluarganya yang memiliki pengaruh di negri ini.
Zea mengusap air matanya dan menatap Zea juga Dina dengan mata sembab, "lo bener. Mereka akan datang, tapi jikalau ada kesempatan, kita semua mesti kabur!" kini Zea mendapatkan kembali semangat dan kepercayaan dirinya, mungkin tadi ia shock dengan kondisi ini.
Zea segera mencari tau, kadang ia menempelkan daun telinganya di dinding triplek itu, ia juga mencari celah-celah agar bisa menemukan lubang atau semacamnya.
Lubang disini cukup banyak, hampir di setiap sambungan triplek atau kayu yang tak terlalu rapat, juga langit-langit ruangan.
"Sisth, kumpul. Bikin formasi cheers dong, Yunan ntar lo ceritain kondisi tempat kita sekarang..." pinta Zea merujuk pada celah di atas yang mungkin dibuat sebagai ventilasi udara.
"Oke."
Mereka langsung berkumpul membentuk formasi menara orang, dengan Yunan yang biasa menjadi puncaknya melihat mengendap-endap, awalnya ia langsung menunduk kembali, namun perlahan ia kembali mengintip.
"Ini kaya di hutan Ze," jedanya menyipitkan mata.
"Ada banyak premannya, bersenjata..." ucapnya pelan.
"Di arah jam 2, lagi pada duduk 2 orang. Kayanya hutannya luas Ze, jarak pandang gue ngga nembus, lewatin pohon-pohon."
"Oke." Angguk Zea, "lo turun, kita gantian."
__ADS_1
Kini mereka berganti posisi, Zea naik ke atas puncak menara dengan posisi mengintip mereka ke celah lainnya.
Mata Zea membelalak ketika menemukan satu fakta mengejutkan lainnya.
*Hari ini Zea mengerahkan seluruh do'a milik Zea....tolongin Zea sama temen-temen secepatnya bang Saga*....
"Ada apa, Ze?" tanya Clemira.
"Gue mau turun." Pinta Zea.
"Apa Ze?" tanya Yunan, Zea menggeleng, "cuma ruangan kosong sama preman-preman yang tadi aja, bawa senjata," bohongnya.
"Oh, oke. Sekarang rencananya gimana?" tanya Yunan.
"Istirahat dulu guys," pinta Clemira menemukan hal janggal dari wajah Zea.
"Ada apa?" ia menyentuh tangan Zea sementara yang lain duduk bersama di pojokan bertopang dagu di atas lutut yang ditekuk.
"Apa yang lo liat Ze?" tanya Cle lagi.
"Ini semacam rumah persinggahan anak-anak gadis, gue tebak jika ini adalah transit mereka buat jual cewek..." jawab Zea, ia melewati bagian sesuatu yang mengejutkan lainnya. Sesuatu yang bikin bagian dari dirinya ikut terenyuh ketika melihat beberapa dari preman itu mele cehkan beberapanya.
"Kenapa lo bisa narik kesimpulan kalo mereka bakalan dijual?" tanya Clemira.
"Apa lo liat orang selain kita, Ze?" Cle menggeleng, "maksudnya anak cewek, selain kita?"
Zea mengangguk, "ada sekitar 4 atau 5 di ruangan sebelah. Gue ngga tau apa, yang jelas yang satu dipisah di ruangan terbuka juga...gue langsung tau, karena sejak tadi di pesawat mereka langsung nyebut-nyebut papi...itu artinya mereka sedang memiliki urusan sama papi...."
Zea menjeda penjelasannya dan memilih duduk berbeda dari yang lain, menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan dan rasa bersalah.
.
.
.
.
.
__ADS_1