
Zea membawa mobil kabriolet miliknya, moncong depannya bertemu dengan kap depan mobil yang pernah ia temui ketika ia membelokan mobil untuk parkir di tempat seperti biasa.
"Mobil siapa itu, yank?" tanya Biani digelengi Rio.
"Sorry, gue mau parkir dulu..." Biani cukup terkejut ketika melihat si pengemudi yang membuka kap atas mobilnya.
Ia dibuat bungkam, beberapa hari lalu sejak kejadian pertengkarannya dan Zea, gadis itu lantas mencari tau siapa Zea, dan fakta mengatakan hal yang pahit untuknya, jika wanita yang kemarin ia pandang rendah dan debat itu anak menteri juga menantu jendral.
Awalnya Biani tak percaya dan menganggap sumber yang ia tanya hanya mengada-ada, mana ada anak menteri pake motor butut! Tapi hari ini, semua keraguan seolah ditepis dan tersapu ombak.
Zea turun dari mobilnya setelah menaikan kembali kap mobil, ia tak peduli dengan wajah-wajah terkejut di dalam mobil, bahkan ia hampir lupa dengan kejadian waktu lalu saat Biani dengan sengaknya merendahkan Zea.
Akan ia anggap itu ucapan selamat datang dari senior, ia berjalan santai melewati mobil Rio begitu saja tanpa memandang penghuni di dalamnya yang tertutup kaca mobil.
"Apa sekarang kamu percaya, Bi?" tanya Rio.
Biani menelan saliva sulit dan menatap lurus dengan nyalang, "bo do amat. Aku ngga peduli, siapa dia!" kilahnya yang sebenarnya hatinya mulai menciut takut, ia hanya berharap Zea lupa dengan kejadian waktu lalu bahkan lupa wajahnya.
"Umi dimana?" Zea berdiri di depan mobilnya, menunggu sang ibu mertua tepat di depan gerbang markas besar pasukan khusus.
Dipandangnya bangunan besar, gedung kantor bercat hijau di depannya penyegaran! Biasanya ia akan memandang warna biru.
Tak lama setelah Zea memasukan ponselnya ibu mertuanya berjalan bersama seorang ajudan, Zea cukup kecewa saat abi mertua memerintahkan ajudan mengikuti keduanya pergi, tapi mau bagaimana lagi wajahnya dan wajah ibu mertua tak cukup meyakinkan jika mereka akan baik-baik saja di luar sana berduaan.
"Lama nunggu, neng?"
Zea menggeleng, "engga, baru sampe. Yuk, mi...pertama ke salon dulu, gimana?" tanya Zea diangguki Fara.
"Tadaaa! Putra umi yang gantengnya kebangetan ngasih ini!" Zea menunjukan kartu debit berwarna hitam.
Fara terkekeh renyah, "baiknya anak umi sama istri." keduanya berangkulan hendak masuk ke dalam mobil.
"Maaf bu, bapak bilang untuk menjaga keselamatan, biar saya yang bawa mobil," lettu Handa menahan langkah Zea dengan memotong langkahnya.
"Han, mantu saya itu bisa nyetir...tenang aja, kamu tidur aja di belakang," jawab Fara, digelengi Handa, "siap salah bu! Tapi maaf, dengan......"
"Tidak mengurangi rasa hormat..." Zea dan Fara meniru ucapan yang seringkali Handa ucapkan jika mau mendebat sang atasan, secara bersamaan. Handa sampai menunduk sesaat dibuatnya, persis-persis mengheningkan cipta.
"Gimana, Ze?"tanya Fara, untuk perintah sang suami, ia tak mau disebut sebagai istri durhaka takut kena azab tiba-tiba bibirnya mencong ke kiri dan kakinya lumpuh.
"Perintah abi mutlak, ya mi?" diangguki istri jendral ini.
"Emmhhh...ya udah deh," Zea menyerahkan kuncinya pada ajudan uminya itu.
__ADS_1
Handa dapat tersenyum lega sekarang, jujur saja ketika pagi tadi ia mendapat mandat menjaga kedua wanita magic keluarga sang jendral, rasanya itu ia ingin pensiun dini saja.
Dibawanya mobil milik Zea yang melesat kencang ketika ia menginjak pedal gas, belum lagi suaranya yang halus bak kulit Raisa, menembus jalanan ibukota, mengantarkan si empunya menuju mall ternama di kota.
Berjalan bak anak gadis yang baru mekar, keduanya menyusuri selasar pertokoan sambil sesekali terhenti untuk melihat-lihat. Hanya melihat-lihat sesuatu yang menurut mereka bagus namun tidak dibutuhkan. Termasuk liatin abg yang lagi pacaran.
"Dulu tuh umi sama abinya Saga ngga pacaran, tiba-tiba dilamar pas umi lagi dagang panci..." ujarnya memancing tawa Zea, "umi lapar ngga? Mau ngemil streetfood ala-ala anak korea?"
"Boleh!" angguk Fara, kedua wanita yang kembali muda ini diekori Handa di belakangnya, meskipun ia tak berpakaian loreng, namun tetap saja sikapnya yang bak bodyguard begitu bikin beberapa pasang mata menatapnya aneh.
"Om Handa, mau om? Taiyaki?" tawar Zea ketika mereka kini berada di deretan foodcourt.
Fara bahkan melotot dibuatnya, kemudian tertawa, "yang bener aja neng, masa mau beli ta\*i?"
Handa melipat bibirnya kencang-kencang, jangan sampai ia meledakan tawanya, "hahahaha!" Zea tertawa, "bukan ta\*i yang itu umi ih!"
"Taiyaki, semacam pancake isi kacang merah atau coklat yang bentuknya ikan." Jelas Zea.
"Umi kebanyakan makan ulet sagu, jadi begini..." ralat Zea. Ia lantas memesan 3 dan juga makanan streetfood lainnya. Pokoknya mertua indahnya itu tak boleh sampai ketinggalan jaman.
Handa membawa serta paper bag berisi cemilan yang dibeli Zea dan Fara untuk orang rumah. Namun tak membuat keduanya lantas menyegerakan pulang.
"Mi, mau coba kesana!" tunjuk Zea menarik wanita paruh baya itu ke arah station games, ia juga mengeluarkan kartu miliknya yang sudah terisi saldo.
"Ini nih beberapanya pernah dikirim ke timur sama abba sama umma nya Saga," jawab Fara masuk ke dalam wahana permainan disamping Zea yang memeluk lengannya.
Handa melenguh nafasnya berat, persis jagain bocah, padahal ia sedang menjaga ibu jendral, kok ya mainannya itu loh!
Ibu masuk wahana permainan pak, sedang main....trampolin.
Lapornya pada Al Fath.
"Astagfirullah!" lirih Al Fath membuat beberapa perwira yang sedang berada di sekitarnya langsung menoleh, "siap, ada apa ndan?"
Sadar akan keterkejutannya yang menghebohkan, Al Fath berdehem seraya menggeleng, "engga apa-apa."
Handa mengusap wajahnya kasar, memang benar kata orang kalo manusia menuju senja itu, kelakuannya kembali pada masa anak-anaknya, atau mungkin saja masa kecil ibu jendralnya itu kurang bahagia.
__ADS_1
"Mi, Zea mau ini!" tunjuknya pada mesin dance.
"Boleh! Boleh! Nanti umi, umi!" antusiasnya, Handa kembali mengekori ibu jendralnya mencoba semua wahana permainan.
Jelas, Zea mendapatkan banyak tiket dari lubang vouchernya, wong ia kapten dance! Bahkan gerakan tariannya itu mengundang decak kagum dan tatapan pujian dari sekitarnya.
"Ayo mi! Ayo!" seru Zea berjingkrak-jingkrak menyemangati ibu mertuanya menari, Handa sampai melongo dibuatnya. Devinisi tua-tua keladi mungkin begini!
Kemudian Zea dan Fara bermain tembak-tembakan, saking serunya kedua wanita ini sampai tergelak bersama.
"Masa istri jendral ngga bisa nembak, kebangetan! Pensiun dini aja kalo ngga bisa, dagang bihun gulung di prapatan mampang!" Fara meniup senjata mainan yang dipegangnya ketika score di layarnya merupakan score tertinggi, Zea bertepuk tangan, "umi hebat!!!!" ia berjongkok mengambil tiket yang keluar.
Sementara di samping mereka sepasang remaja dengan pakaian seragam SMA tengah bertengkar sayang membuat Zea iri dan sejenak merindukan Saga.
"Aku dong, coba liat nih ya! Atlit NBA beraksi! Meidina Sastro Asmoro," si gadis melempar bola basket yang kemudian satunya masuk lalu satunya melenceng dari arah ring, si pemuda tertawa, "atlit NBA konon! Yang scorenya lebih tinggi dapet sun ya?!"
Si gadis mendorong keras bahu pemuda, "maunya kamu itu mah!"
"Otak kamu yang ngeres! Sun...sundae maksudnya!" kekehnya.
Zea terkekeh melihatnya, "bisa ae biji korek." gumam Zea.
"Ga! Mey, balik sekarang?!" sepasang remaja lainnya yang bertautan tangan memanggil mereka.
"Mau makan dulu engga?" si pemuda merapikan rambut gadis berambut panjang yang memakai bando dan membawanya ke belakang telinganya, "iya lah, Lapar pak ketossss!" rengeknya manja.
Kini Fara yang menatap keduanya gemas, "umi tuh suka gemes kalo liat yang kaya gitu, berasa pengen digituin sama abi. Percaya ngga, kalo umi ngodein ngerengek gitu...abinya Saga bilang apa coba?"
"Apa mi?" tanya Zea.
"Kamu kegatelan? Mau digarukin?" Fara berkata menggerutu seraya merotasi bola matanya, Zea menyemburkan tawanya. Sementara Handa sungguh tak ingin mendengar kedua wanita ini tengah mengghibahi atasannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.