
"Ze," mama Rieke dan papa Rangga datang ke kediaman besannya, Zea menghambur dengan penuh derai air mata dan hati hancur. Begini rasanya ditinggal pergi, belum genap satu jam kabar duka itu, dirinya seperti sudah ingin menyusul saja.
"Mami," Zea benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan kehilangan dan rasa kecewanya. Semua rasa sakit bercokol menjadi satu. Raganya bak tak berdaya, separuh nyawanya hilang bersama kabar pahit yang diucapkan ayah mertuanya tadi pagi.
"Ssthhhhh, yang kuat...mami disini." ujar mama Rieke, ucapannya bahkan bergetar, ingin menguatkan sang putri namun ia juga nyatanya tak bisa membendung kesedihan.
"Gimana bisa, si alan..." umpat papa Rangga, kali ini ia benar-benar murka tiada tertara. Entah siapa yang sedang ia hubungi, hanya saja tingkahnya itu seakan ikut sibuk dan gelisah. Diantara suara tangis menyayat hati, Zea.
Clemira yang nyatanya mendengar kabar ini pagi-pagi ikut meluncur menuju kediaman abi Fath bersama yang lain.
"Cancel! Hari ini gue mau, semua kerjaan gue tunda, Mik..." Dewa yang akan berangkat ke pulau Dewata untuk menemui klien pun menunda semua jadwal pekerjaannya, "gue nanti telfon Ganesh, biar dia yang handle semua sementara gue off."
"Astagfirullahaladzim...." berkali-kali Fara berkomat-kamit melafalkan kalimat istighfar dengan mata yang sudah sembab.
"Abang kan belum tau kalo itu jenazah dekgam, kak. Masih ada kemungkinannya iya kan, kak Eyi?" Zahra mengusapi punggung Fara.
"Minum dulu, kak Fara dari tadi belum masuk apapun. Seenggaknya minum..." Eyi menyerahkan secangkir teh chamomile hangat pada Fara, dan membawa cangkir lain untuk Zea.
Rayyan sudah menyusul Al Fath di kesatuan tempat Sagara bernaung demi menerima jenazah yang diduga adalah lettu Sagara.
Zea mengurai pelukannya dan mengusap kasar air mata yang sebenarnya percuma saja, karena air matanya tak mau berhenti mengalir.
"Ze, minum dulu ya..." bujuk Eyi, menyerahkan cangkir teh pada mama Rieke.
Clemira berkali-kali mengirimi pesan chat pada Tama setelah pesan terakhir Tama yang ijin berangkat bersama regunya dengan misi mencari Saga beserta 2 perwira lain.
Please, temuin abang Saga, bang...
Zea kembali menatap nyalang cangkir teh di depannya yang masih mengepulkan asap beraroma wangi.
"Assalamu'alaikum Ze..." ia hanya mampu berbicara lewat sambungan telfon, di dunia ini Al Fath tak takut akan apapun, kecuali satu....melihat tangis kehilangan keluarganya.
"Abi, abi, abang gimana?!"
Al Fath menghela nafasnya, "Ze," lidahnya mendadak kelu tak berasa, seperti sedang tertusuk ribuan jarum dalam sekali gerakan, sulit menerima kenyataan karena faktanya ia pun sudah dipukul rasa sedih.
Zea menunggu Al Fath melanjutkan ucapannya dengan hati berdebar. Jangankan sarapan pagi yang ada di depannya, mendadak apapun tak membuatnya berselera, bahkan tadi malam ia tak sempat tertidur.
Helaan nafas berat terdengar dari sebrang sana, "lapangkan hatimu, nak. Ikhlaskan semuanya...."
"Suamimu Sagara diduga----"
Fara menatap penuh rasa penasaran dan khawatir, puluhan tahun menjadi istri seorang abdi negara, hal inilah yang selalu membuatnya takut.
__ADS_1
"Gimana?" gumam Fara menaruh piring berisi ayam goreng sebagai lauk sarapan mereka pagi ini.
Zea langsung mematung ditempat, bahkan untuk menegakan badannya saja rasanya ia tak mampu, mendadak seluruh tenaga tersedot lubang hitam, raganya bagai tak bertulang, sementara di sana, Al Fath sudah berkata-kata meski terdengar seperti sedang kumur-kumur, jujur saja...Zea tak dapat mencerna apa yang abi Fath katakan, karena saat ini otak dan hatinya sudah remuk redam.
Hanya air mata yang semakin deras mengalir bak air hujan, bukan lagi pandangan yang mengabur kini ia sesenggukan sampai nafasnya tersendat-sendat, semakin lama ia bergumam lirih dan terisak, "abangggggg! Astagfirullah!"
Ponsel pun sampai terjatuh, padahal masih tersambung dengan panggilan abi Fath.
Kalingga dan Fara terkejut bukan main, bahkan para ajudan dan asisten rumah tangga pun sama paniknya.
Jika Fara langsung memeluk Zea yang terduduk di ruang makan, lain halnya dengan Kalingga yang tak begitu mengerti dengan apa yang terjadi.
"Sabar neng, sabar..." usapnya di punggung Zea, sementata dirinya pun sudah terisak, menangis tergugu. Tak akan ada wanita yang lebih merasa kehilangan lebih darinya, sebagai seorang ibu. Putra yang ia kandung selama 9 bulan, ia lahirkan dengan taruhan hidup dan mati, juga putra kebangaannya harus berakhir di medan tempur.
"Hallo, bi..." Kalingga mengambil alih ponsel Zea dan berbicara dengan abinya.
Zea diam dengan tatapan kosong, sementara Fara sibuk kesana-kemari memberi kabar.
Hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti menyiratkan begitu terpukulnya dirinya, "allahu akbar....ngga mungkin, ini ngga mungkin..." gumamnya berulang.
Zea memandang kedua telapak tangannya, rasanya seperti helaian rambut Saga masih terasa di setiap inci telapak tangannya.
Ia membalikan tangan hingga cincin nikahnya bersinar di bawah cahaya lampu, ia menangis tergugu.
Saya terima nikah dan kawinnya Zea Arumi Jamilah..... Gambaran demi gambaran moment manis keduanya terlukis jelas menjadi untaian memory indah saat ini yang justru menyayat hati.
Terlihat jelas di balik rasa ketegaran yang dipaksakan itu, ada sebuah gerakan menalan saliva sulit dari abangnya.
"Gue yakin itu bukan Saga," geleng Rayyan.
"Aamiin." jawab Al Fath. Mereka berlarian diantara deru mesin dan baling-baling helikopter yang belum berhenti.
"Lapor ndan! Jenazah perwira, letnan satu Teuku Bumi Sagara Ananta sudah tiba dan siap diserah terima!" ia menghormat pada komandan operasi penyelamatan ini, komandan batalyon dan komandan resimen. Tak lupa ia juga menghormat tegap pada Al Fath dan Rayyan.
__ADS_1
Sebuah kantong jenazah dikeluarkan membuat Al Fath sedikit tersentak dalam diamnya, bagaimanapun ia adalah seorang ayah.
Rayyan bahkan membuang mukanya ketika melihat itu diturunkan dan dibawa menggunakan brangkar ke dalam ambulance.
"Saya ikut di dalam," ujar Al Fath membuat mereka yang ada disana menoleh tak percaya.
"Siap jendral. Tapi sebaik..." sela danyon Surya.
"Saya ayahnya. Jika benar itu putra saya, kamu berani melarang saya?!!!" bentaknya membuat semua diam. Sampe-sampe mendadak deru mesin dan baling-baling helikopter saja mendadak ikut diam.
"Wey, sabar bang sabar....jangan bikin orang nambah sawan," bisik Rayyan yang justru mengusapi dadha Al Fath, yang justru mendapatkan hadiah sorot mata tajam dari abangnya itu, "oke. Sorry. Ekhem..." Rayyan berdehem dan menegakan kembali badannya, "siap salah,ndan!" jawabnya lantang, rupanya abangnya itu tak bisa diajak selow dikit.
Langkah Al Fath diikuti oleh kedua ajudannya, namun ia langsung menahan keduanya, "kalian berdua ikut adik saya saja pakai mobil di belakang...biarkan saya bersama putra saya." perintahnya yang langsung diiyakan keduanya, "siap, ndan!"
"Ray, bawa mereka di mobil kamu." Al Fath bergegas ikut masuk ke dalam ambulance bersama dua orang lainnya sebagai supir dan di belakang.
"Ya udah...udah...yo masuk yooo anak-anak! Takut bapak jendral ngamuk, lo semua kena hukum!" Rayyan bergegas menuju kendaraannya bersama para ajudan Al Fath.
.
.
.
__ADS_1
.
.