
Ankara menekan tombol rudal dan melesatkan tembakan itu ke arah hutan yang ia yakini adalah sumber dari milisi.
"Brown falcon come in, maaf kapt. Bukankah kita harus menghemat amunisi peluru rudal?" ujar Tama.
"Saya tau. Tapi disana saya yakin adalah sumber dari milisi bersenjata...." yakinnya, ia tak suka dengan teguran Tama, merasa dirinya adalah senior.
Hingga dalam waktu tak terduga, sebuah rudal jarak jauh dilesatkan mereka dan mengarah pada pesawat milik Ankara.
Sontak saja Ankara bermanuver menghindari meskipun rasanya itu sia-sia belaka, karena rudal sudah menargetkan posisinya di udara sejak tadi akibat kelengahannya.
"Kapt!"
Sagara menarik dan memberikan gaya akselerasi di jet tempurnya mencoba menyelamatkan Ankara,
"Semoga sempat!" Sagara melakukan putaran secara vertical dan menembak rudal yang menari-nari di udara mengejar pesawat Ankara hingga lesatan rudal itu sedikit berbelok arah, karena menurut perhitungannya dalam kecepatan sepersekian itu, Ankara tak akan sempat menghindar dan akan hancur berkeping-keping jika ia tidak segera mengggangu haluan rudal.
DUAARRRRR!
Rudal itu meledak di udara terkena tembakan dari Sagara.
"Blue eagle come in, red crown mohon diperhatikan, jangan lengah!"
Ankara mengumpat, "shittt, hampir aja." gumamnya.
Ankara terhenyak jika bukan karena juniornya itu mungkin ia sudah gugur, "red crown come in, te--rima kasih."
Tama melihat ada yang tak beres dengan pesawat milik Sagara, "brown falcon come in, sepertinya ada masalah pada jet tempur milik blue eagle, mohon dicek..."
Sagara merasakan jika badan pesawat terserempet ledakan rudal tadi, layar digital di cockpitnya menunjukan jika mesin mengalami mal fungsi.
"Blue eagle come in, terdapat mal fungsi pada mesin pesawat..."
Al Fath melihat itu dan memerintahkan Sagara untuk melakukan penyelamatan daeurat lewat kursi pelontarnya.
Sagara tau konsekuensinya, ia mulai bersiap membuka sabuk pengaman dan mengencangkan parasut lalu menekan tombol darurat, selagi pesawat miliknya semakin menukik rendah.
"Blue eagle siap meninggalkan jet, dan menunggu penjemputan."
Bagian atas pesawat terbuka mengeluarkan sesosok pilot penerbang di ketinggian kurang lebih 1000 meter. Tama melakukan formasi bersama skadron Delta demi melindungi pendaratan Sagara.
Parasut terkembang, Sagara benar-benar melakukan pendaratan darurat, dan si alnya ia harus mendarat di zona merah, bukan tidak mungkin para musuh itu tau jika seorang perwira memasuki kawasan mereka, maka Saga harus bersiap dengan segala kemungkinan sampai pihak kesatuan melakukan penjemputan.
Sagara mulai melihat pucuk pepohonan dan mendarat di atasnya.
Parasut tergantung di atas pohon, setelah melihat pendaratan yang memungkinkan, Saga melepaskan parasut dari tubuhnya, membuat ia terhempas dan terjatuh di atas tanah.
__ADS_1
Suara gemerisik daun, dan kicauan burung mendadak hilang karena kekacauan yang telah diperbuat manusia, mengusik kehidupan ekosistem hutan.
Sagara segera berpindah posisi, karena sudah pasti mereka akan mengejarnya yang jatuh kesini, ia berlari dari sana secepatnya tanpa menimbulkan suara yang memancing musuh datang.
Clemira memejamkan matanya, berharap jika para penjahat itu tak peka atau justru buta sekalian. Pegangannya sudah mulai terasa sakit di telapak tangan, ia juga sudah dilanda pegal dan kebas.
"Mereka jatuh kesini rupanya...."
"Hey nona, kami tau kamu jatuh kesini...menyerahlah, ini bukan tempat bermain atau mall!" ia mulai turun memperhatikan langkah dan kontur tanah, semakin dekat posisinya dengan Clemira, abi....tolongin Cle, bi.
Zea membekap mulutnya di bawah sana, begitupun Dina, berusaha membuat situasi se-senyap mungkin.
Kaki-kakinya sudah tak kuasa untuk kembali berlari, ia bukan atlit maraton, ia juga bukan prajurit, ditambah sudah seharian ia tak makan dan tak minum, tenaganya terkuras habis.
Mungkin benar yang Ajay katakan, hidup adalah pilihan untuk orang seperti dirinya, yeah..pilihan, mati ditangan penjahat atau mati karena tak bisa survive di hutan.
"Todi masuk!" suara dari walkie talkie menggema.
Todi menghentikan sejenak pencariannya dan meraih benda di pinggangnya, "ya?"
Seorang perwira mendarat jatuh dari pesawatnya, di area dekat ring 3, silahkan cari dan habisi.
Clemira, Zea dan Dina dapat mendengar itu, jika alis Clemira mengernyit, maka Zea beradu pandang dengan Dina disana.
"Siap, bakal sa buat dia seperti hewan buruan!" ujar Todi, hampir melupakan Zea, Clemira dan Dina.
Todi menepuk jidatnya lupa, "ah! Lupa! Ayo cari!" ajaknya kembali menuruni dataran miring itu, mungkin bagi mereka sudah biasa berjalan dan menapaki jalanan terjal seperti ini karena terbiasa hidup di belantara.
Di sisi lain, Sagara memelankan langkah, menghemat energi dan mulai mencari sumber makanan serta air.
Ia berjalan mencari sungai, netranya jatuh tertumbuk pada jam tangan di pergelangan tangannya, "sudah ashar," gumamnya.
Dengan terpaksa ia melakukan ibadah darurat di tempat yang menurutnya aman, Sagara mengeluarkan pisau sangkur dari saku celananya dan mencari dahan pohon yang mengandung air, kemudian memotongnya.
Tetesan demi tetesan air mulai keluar dan ia pergunakan untuk minum dan membasuh wajah bersuci.
Tak ada alas apapun yang digunakan sebagai hamparan sajadah hanya ia taruh helm di atas tempatnya bersujud.
Sudah biasa bagi prajurit sepertinya beribadah dalam kondisi sesulit apapun, ibadah akan tetap nomor wahid.
Sagara memasang wajah waspada, ketika telinganya mendengar sayup-sayup suara orang berteriak. Pistol berada di saku kaki sebelah kanannya, sementara sangkur di sebelah kiri.
Sagara mulai berjalan kembali mencari sumber suara.
Clemira menggigit bibir bawahnya ketika satu tangannya terinjak oleh salah satu penjahat. Mungkin saja kulit jemarinya sudah lecet dan membiru mengingat sepatu yang dipakai adalah sepatu delta. Ia hampir berteriak, air matanya juga sudah menetes demi menahan sakit.
__ADS_1
"Cle," gumaman bibir Dina pada Zea. Zea memejamkan matanya me lenguh berat.
Baru saja Dina dan Zea saling memandang dari atas terdengar suara merosot keras, sreetttt!
"Argh," erang Clemira merosot, membuat para penjahat itu akhirnya tau keberadaannya. Tubuh Clemira terhempas jatuh ke bawah.
Senyuman jahat terlukis jelas di wajah mereka, seiring dengan langkah mereka mendekat seolah sedang mendapatkan hewan buruannya.
"Hahahah!" tawa mereka puas.
"Aww.." Clemira mengaduh bangkit dan mencoba berlari namun panjahat itu telah mendekat, "lo tunggu disini, jangan keluar!" titah Zea pada Dina. Zea langsung keluar dan melayangkan pukulannya pada Todi.
"Lari Cle, lari!" teriaknya ingin berusaha menyelamatkan Clemira dari cengkraman mereka.
"Breng sek! Kalian menyusahkan saja, kurang aj ar!" Todi yang mendapatkan serangan dari Zea, menghempaskan gadis itu, Clemira tak tinggal diam namun penjahat lain ikut menyergapnya, Dina berdecak terpaksa keluar dari tempatnya bermaksud membantu kedua temannya, ia mencari-cari sesuatu untuk dijadikan senjata, "aaaaa!" teriaknya keluar memukulkan batang pohon di kepala salah satunya yang sayangnya ia tak melihat jika itu telah lapuk.
"Dasar anak-anak si alan!"
Todi terpancing amarah dan melepaskan tembakan ke arah Zea.
Dorr!
Zea terhenyak melotot, begitupun Clemira dan Dina.
Sesuatu yang kental nan merah meleleh membuat pakaian yang dipakainya kini berubah merah.
"Zeaaa!"
Syuttt! Dorrr!
Dorr!
Dorr!
Terhitung 4 kali tembakan menggema di pendengaran Clemira dan Dina.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.