Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 56


__ADS_3

Kembali suara menjerit dikeluarkan sound, entah mungkin microphone itu terlalu gugup ngadepin cewek cantik, jadinya salting.


"Aduh, sorry. Terlalu deket bro!" ucap Zea di microphone, pinter! Pinter ngeles. Clemira sudah tergelak dibuatnya, entah sahabatnya itu sejenis makhluk apa, hanya saja ketika Zea mengambil alih dunia kok rasanya bumi tuh kaya panggung stand up comedy.


"Mas, kasih nada c ya, c--calangheyo!" ia membuat finger love pada pemain keyboard yang tertawa mesam mesem dikasih love oleh gadis cantik. Eyi tertawa kencang melihatnya, sudah lama ia tak mendengar gombalan receh Zea, memang Zea itu seperti lampu led warna warni, bikin terang, hangat nan ceria, kalo ada gadis itu dunia berasa lagi berdzikir, pada nyebut asma Allah sama kelakuannya.


"Cieeeee!"


"Canda mas, saya udah punya calon papahnya anak-anak!" kekeh Zea, Sagara menggeleng geli melihatnya, berasa digombalin namun tidak terang-terangan.


"Oke deh ngga usah lama-lama. Langsung aja..." Zea memutar langkahnya ke arah pemain keyboard untuk merequest lagu disana.


Saga hanya melihat gestur dan air muka sang keyboardist yang terlihat mengerutkan dahi sampai kisut mirip jemuran kering banget. Bahkan ia tertawa geli namun langsung memberikan tanda oke ketika Zea mengangguk-angguk macam kakak tua.


"Nah, kan. Pasti nih anak yang aneh-aneh. Pasti deh!" ujar mama Rieke.


Awalnya alunan keyboard mengambil nada lagu pop barat membuat mereka bertepuk tangan dan bersuitan, namun semakin kesini telinga para penikmat musik merasa tak asing dengan nada yang mengarah pada lagu nasional.


"......tanah airku, tanah tumpah da rahku...disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku....."


Fara melongo dibuatnya, acara mantenan seketika berubah jadi upacara pengibaran bendera. Sagara tertawa menutup mulutnya dengan kepalan tangan lalu berdehem.


"Saravvv njirrr!" Russel bahkan sampai terbatuk-batuk saat sedang minum. Kinanti memegang perutnya karena kelakuan adik iparnya itu. Bukan karena suaranya, melainkan pilihan lagu yang cerdas, tak ada cengkok ataupun nada sulit di dalam lagu kebangsaan, pake nada lempeng mirip jalan tol aja cocok, pilihan Zea merupakan pilihan cerdas untuk menutupi kekurangannya. Tak ada pula yang boleh menertawakan atau mencibir lagu nasional.


Al Fath saja sampai mengulum bibirnya karena kelakuan Zea, Fara dibuat syok lahir batin olehnya, ia kira suara Zea secantik wajahnya.


Fara melemparkan tatapan tak percayanya pada Saga yang tertawa.


"Katanya mau gabung buat duet, mi?" tanya Kalingga ikut tertawa, ia tau kelakuan ibunya yang tak bisa jauh dari microphone dan lagu dangdut itu, kalo ada mic dan sound begitu bawaannya pengen bawain lagu bang haji satu album.


"Ah ngapain, tiap senin juga kedengeran sampe kamar mandi." Jawab Fara.


Ryu dan Panji terkekeh, "calon kakak ipar kayanya sebelas dua belas sama umi Fara."


Zahra yang kepalanua hampir meledak sedikit bisa terhibur oleh tingkah Zea, meskipun ia yakin kondisi keluarga Ananta akan lebih meriah lagi pusingnya dengan kehadiran Zea, "kamu yakin dekgam?" tanya nya menyenggol Sagara, Saga mengangguk menjawab pertanyaan ma cut, di usia yang sudah hampir seperempat abad Zahra tetap memanggilnya dekgam, menandakan jika cinta pertama keluarga Ananta adalah pada dirinya, "insyaAllah."


"Yakinlah. Itu udah satu jenis gitu sama keluarga kita..." bukan Saga yang menjawab tapi Dewa.


"Daun muda, bro!" tepuk Dewa di pundak keponakannya.


"Kita, kamu?" tanya Zahra sangsi.


Ternyata, semalam sebelum mereka dipusingkan dengan ulah Russel, Sagara berbicara pada keluarganya untuk meminta restu meminang seseorang dan inilah alasan kenapa mereka semua ikut pada hari ini di acara Zico, adalah untuk mengutarakan niatan baik cucu pertama Ananta itu.



"Gimana dengan kuliah kamu, nak?" tanya Al Fath, mereka duduk melingkar di satu meja bundar meski bukan sedang mengadakan konferensi.



Pertanyaan itu membuat tatapan para orangtua dewasa jatuh pada Zea, seolah melucuti, termasuk Fara, "apa ngga apa-apa, neng? Putranya umi, mau kamu?" ia memperjelas pertanyaan Al Fath barusan.


__ADS_1


Zea justru melemparkan pandangan pada papa dan mamanya seolah meminta pendapat lalu berakhir pada Al Fath, "om. Zea mau nanya, apa seorang istri prajurit boleh kuliah di luar negeri?"



Zahra dan Eyi yang semula mencondongkan badan karena penasaran dengan jawaban Zea kini menegakan badannya yang mendadak pegal tak karuan, "alamat jadi jab lay dong dekgam, kak.." bisik Zahra diangguki Eyi.



"Zea mau meneruskan kuliah strata 1 nya di kampus yang sekarang, bi. Sayang uang semester yang sudah masuk, belum lagi jika pindah harus beradaptasi kembali. Saga ngga apa-apa, insyaAllah kalau untuk masalah pendidikan. Saga bisa kesana satu bulan sekali, atau Zea yang pulang ke tanah air jika cuti," Ucap Saga mendukung dari samping Zea. Gadis itu mengangguk lega, maksud hatinya tersampaikan lewat Sagara.



"Why not?" balas Rayyan dengan entengnya dan mengambil batangan rokok, seandainya jika dibalik posisinya sudah pasti ia tak akan mau dan tak akan siap.



"Yakin nduk?" tanya papa kembali menegaskan, bukan perkara mudah berada dalam ikatan pernikahan yang terhalang jarak.



"Ze, mami ngga tau apa bedanya kuliah di luar dan dalam negri, selain dari rasa bangga di depan temen-temen arisan mami kalo mami berhasil kuliahin kamu di LN. Karena mami bukan orang pintar, sekolah pun cuma sampai SMA terus ikut kursus sana-sini, beruntung ketemu papi kamu terus buka usaha yang alhamdulillah bisa dikatakan berhasil," jeda mama Rieke, ia perlu mengarahkan putrinya, jujurly ia merasa tak enak hati dengan keluarga Sagara atas kekeras kepalaan Zea.



Ditatapnya semua yang ada disini termasuk Zico yang masih duduk melingkar di satu meja restoran hotel selepas acara resepsi berakhir, kecuali para adik Saga yang sudah terlebih dahulu pulang.



"Dulu, waktu mami sama papi jodohin kamu sama Anka, kamu menolak." ungkit mama Rieke.




"Mami..." Alis Zea mengerut.



"Diem! Mami mau ngomong dulu." potongnya tegas.



"Anka? Anka saha?" tanya Fara berbisik pada Al Fath, suaminya malah menggeleng dan hanya berbisik, "tukang kerak telor."



Plak! Fara terkikik menepuk pundak suaminya, "ngga mungkin!" Al Fath terkekeh dan kembali ke mode seriusnya.



"Sekarang, apa kamu yakin terima lamaran lettu Sagara, putra dari jendral Al Fath dan bu Fara? Jangan mau tapi kamunya egois, jangan mau tapi maunya dingertiin doang?" tanya mama lagi mendadak galak.


__ADS_1


"Ya..... yakin." angguk Zea.



"Kalau yakin, kamu tau kewajiban seorang istri itu apa?" tanya mami kembali, "mami memang belum pernah nyicip jadi mahasiswi, nduk. Tapi untuk tau kalau ridho Allah ada dimana ridho suami berada, dan melayani segala kebutuhan suami kapanpun dan dimanapun ia berada itu adalah kewajiban seorang istri, tidak perlu kuliah."



Demi apapun, ucapan mami Rieke seolah menjadi tamparan untuk Zea, sejauh manapun mereka berkarir, tetap saja muara pahala seorang istri adalah dimana suaminya berada dan ia layani sepenuh hati.



Fara mengulas senyuman hangat seorang ibu lalu beranjak mendekatkan kursinya dengan Zea, "ngga apa-apa. Kalo kamu masih bingung memilih antara kewajiban atau pendidikan, mungkin nanti kalau sudah menikah bisa dirasa-rasa dulu, kalo kangen sama suami set wushhh! Suruh Sagara terbang kaya Iron man jemput kamu..." angguknya yakin sambil mengelusi punggung Zea lembut, ia paham betul apa yang dirasakan Zea karena sudah merasakan asam manisnya kehidupan rumah tangga dengan seorang serdadu, ada kalanya mereka terpisah jarak dan waktu untuk beberapa lama.



Zea melebarkan senyuman dan melesak ke pelukan Fara, "makasih bu."



"Bukan ibu. Ibu mah kesannya kaya orang tua banget! Umi aja," balasnya.



"Jadi?!" Rayyan menggosokan kedua telapak tangannya, "kapan kita bisa datang lamaran secara resmi?"



Zea menatap Sagara yang melemparkan senyuman tipis padanya juga.



Dua perwira berjalan diantara keramaian mall, "lo nyari apa, Ga?" tanya nya, Sagara menggeleng hanya melihat-lihat saja deretan dan lipatan pakaian yang terpajang di rak sebuah toko khusus pakaian pria yang tak membuatnya tertarik sama sekali.


"Lo ngga mau beli cawet juga, Ga? Sekali-kali prajurit juga nyicip belanja baju di mall, walaupun cuma ko lor begini!" tunjuk Izan membentangkan dala man hasil pilihannya. Jangankan dala man, baju Saga pun memiliki brand ternama, namun Sagara tak pernah memamerkan itu.


"Ngga. Masih ada di mess." jawabnya singkat.


"Lo cuma mau beli itu doang?" tanya Saga diangguki Izan, Sagara menghela nafasnya lelah, "cuma beli caweett 3 biji doang mesti kesini?" tanya nya tak percaya. Oh ayolah, ia sampai bela-belain telat bertemu Zea cuma buat nganter beli dala man 3 biji ke mall? Pasar kaget juga banyak! Bahkan keduanya masih memakai pakaian loreng, pantas saja si pramuniaga mengu lum bibirnya geli.


Izan tertawa menepuk punggung Saga, "sambil cuci mata bro, kali aja nemu yang bening! Lagian si Luki diajakin malah maen ps sama bang Indra!"


Sagara melirik jam di tangannya, "lo balik ke mess sendiri, gue mau ke rumah calon istri."


Seketika Izan membeliak, "lo mau merit, Ga? Seriusan?!" tanya nya menyambar paper bag yang berisi barang miliknya dari kasir dan mengejar Sagara yang telah keluar dari toko.


"Ah jangan becanda! Sama siapa, kok gue sedih lo merit, Ga! Apa gue ngerasa kehilangan ya...."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2