Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 60


__ADS_3

Zea saling bergenggaman bersama Nathalie, sementara satu tangan lainnya mencengkram ponsel yang sudah mati sambil berlari sejauh mungkin dari situasi kepanikan warga kota Landen, suasana chaos semakin bertambah tegang saat seorang lainnya tanpa terdeteksi membuka jaket yang membalut tubuhnya, dimana ditubuhnya telah dipasangi lilitan bom rakitan.


Zea membelalak dan berusaha menjauh sebisa mungkin. Hanya sepersekian detik, ledakan terjadi begitu cepat meluluh lantahkan kawasan tengah kota itu.


Dduarrrrr!


Genggaman tangan keduanya terlepas, Zea terpental ke lain arah dari Nathalie terkena dorongan angin dan serpihan ledakan.


Sagara bergegas menghubungi keluarga Zea, keluarganya dan langsung melesat pulang. Ia bahkan tak sempat mandi, karena sejak tadi hatinya sudah tak karuan memikirkan Zea disana.



Dengan dibantu oleh Eyi dan Redi, Sagara bisa mere-schedule tiket penerbangannya lebih cepat dari jadwalnya malam, bukan kelas ekonomi melainkan kelas bisnis yang ia ambil. Mudah bagi Sagara untuk melakukan itu dengan akses nama klan Ananta. Katakanlah sekarang ia sedang menggunakan kartu nama Ananta'nya untuk terbang ke England.



"Udah mami bilang Zico, tapi Zea ngga percaya. Hati seorang ibu tuh suka bener!" tangisnya kembali pecah ketika kini di layar televisi telah ditayangkan breaking news dari mancanegara.



"Mami mau susul Zea juga ke England."



"Bu, biar Saga saja. Takutnya penerbangan disana dibatasi, atau urusan diplomat yang agak sulit." Fara menenangkan mama Rieke.



*Telah terjadi aksi penembakan secara brutal di kota Landen, England. Aksi tersebut diduga dilakukan oleh IS IS yang mengakui jika aksi bom bunuh diri setelahnya di dekat gereja dan kampus ternama itu adalah aksi ji had. Karena kedua aksi keji tersebut puluhan orang tewas dan ratusan orang terluka. Pihak KBRI di England telah mengonfirmasi adanya warga negara nusantara termasuk mahasiswa yang menjadi korban aksi itu*.



Papa Rangga melipat kedua tangannya di dadha, "kayanya papi harus pindahin kuliah Ze ke tanah air," ucapnya.



"Tanya dulu anaknya, pi."



...~~~~~~~...


*Nginggggg*....



Zea mengerjap, melihat situasi sekeliling yang terlihat cukup kacau. Yang terdengar di telinganya hanyalah detak jantung dan deru nafas sendiri setelah sebelumnya gendang telinga Zea terasa berdengung keras seperti ikut meledak. Beberapa detik lalu, ia merasa seperto badannya terdorong kuat dan tersayat benda tajam hingga berda rah, belum lagi suara ledakan yang membuat telinganya serasa pecah.



Ia mengucek mata beberapa kali dan menyentuh kepala yang terasa pegal nan panas. Ia tak tau kini sedang berada dimana, karena yang jelas area tempatnya berada nampak luluh lantah dan berantakan, banyak diantara orang-orang tergeletak di jalanan macam dirinya.



Zea menarik dirinya sekuat mungkin dengan tenaga yang ada dan segera mencari tempat berlindung, jaga-jaga jika kejadian super cepat ini belumlah selesai.

__ADS_1



"Nathalie," gumam Zea yang selanjutnya bergetar hebat dan menangis.



Ingatan setahun ke belakang, ketika peristiwa penculikan oleh Ajay cs kembali menyergapnya, trauma yang sempat hilang kembali mengungkung, dan tak bisa lebih menakutkan lagi karena ia hanya sendiri.



Tangannya bergetar hebat, Zea menangis tergugu terkurung oleh ketakutan yang besar, tak ada Sagara disini, tak ada papa Rangga, tak ada pula om Rayyan, abi Fath juga para prajurit negri yang bisa menyelamatkannya, tak ada Clemira atau Dina yang bisa ia ajak bicara atau sekedar memberinya semangat.



Zea benar-benar sendiri di negri orang, "Zea mau pulang..." lirihnya menangis sendirian hingga seseorang berseragam kepolisian dan loreng menghampirinya, bukan Sagara apalagi Rayyan dan Al Fath, melainkan pihak militer negri Three lion yang menyelamatkannya ke tempat aman.



Ponsel Zea mati saat ledakan terjadi, kini ia berada di dalam barak bersama warga yang menjadi korban tragedi teror yang ditujukan untuk pihak pemerintahan dan kepolisian England.



"*Miss, are you oke*?"



Seorang perawat menghampiri Zea dan memeriksanya, tak ada luka serius, hanya luka akibat serpihan bom saja, ia langsung membersihkannya dan memberikan pertolongan pertama.



Zea mengangguk lemah. Matanya mengedar ke sekeliling dimana para serdadu militer dan kepolisian berlalu lalang sibuk menangani para korban dan kawasan bekas ledakan. Ada pula para korban yang berjalan-jalan sekedar mencari anggota keluarga yang terpisah. Belum lagi tim medis yang sibuk mengobati luka para korban.




"Apa ini jawaban-Mu atas do'a yang Zea minta ya Allah?" tanya nya bermonolog mengusap beberapa luka yang telah mendapatkan penanganan medis.



Waktu lalu, Zea sempat melakukan salat istikharah tentang kebimbangannya sehari setelah lamaran Sagara beserta keluarga, rupanya ini jawaban yang Tuhan berikan untuknya.



Sagara beberapa kali menghubungi nomor Zea bahkan saat transit di negri singa putih, namun ponsel Zea masih tak aktif.


Untung saja ia sempat tau dimana Zea tinggal selama di England, dan dimana kampus Zea berada.


"Ze, ck. Angkat!" geramnya mematikan panggilan yang sia-sia saja, Saga memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jaket.


*****


Zea sudah merasa baik-baik saja, ia memutuskan untuk pulang ke kost'an, mengingat luka yang di dapat hanyalah luka ringan.


Mendadak kawasan tempatnya tinggal menjadi tempat mencekam setelah peristiwa terorisme itu, jalanan nampak lengang dan sepi, garis polisi melintang di sepanjang kawasan tkp hingga 1 km.

__ADS_1


Ia berjalan cepat diantara kota England menuju rumah kost dalam rasa ketakutan dan kekhawatiran.


Cukup ramai, ketika Zea sampai di tempat kost, semua penghuni heboh membicarakan peristiwa yang baru saja menggemparkan England itu, bahkan kedatangan Zea membuat mereka tak bisa untuk tak peduli mengingat Zea kuliah disana serta melihat luka-luka yang di dapat Zea.


Zea tersenyum getir menjawab seperlunya, lalu masuk ke dalam kamar. Moment sepersekian detik itu masih tergambar jelas menjadi moment paling menakutkan setelah peristiwa Ajay cs.


Seolah kini suara ledakan serta tembakan itu masih terngiang-ngiang di telinganya, Zea sampai menutup telinganya. Ia kembali menangis ketakutan di negri orang dalam kesendirian.


"Mamiii.....Zea takut!" isaknya meringsek masuk ke dalam selimut.


"Abang, Zea mau pulang!" kembali ia terisak tenggelam dalam selimut, sampai-sampai ia tertidur disana karena lelah.


Dorr..


Dorr...


Dorr...


Zea tergelonjak kaget membeliak, "astagfirullah."


"Zee..." bahkan suara ketukan pintu kamarnya terdengar seperti suara serbuan tembakan peluru di telinga Zea.


Ia menyembulkan kepala dari dalam selimut waspada dan menoleh ke arah pintu.


Pintu masih terdengar diketuk dari luar meyakinkan Zea, bahwa ibu kost lah yang melakukan itu, "Zee..."


"Yaa!" Zea beranjak turun dari kasurnya dan berjalan menuju luar kamar.


Ceklek.


"Ze,"


Zea meledakan tangisnya, "abang!" ia menghambur memeluk seseorang yang baru saja tiba.


"Oke. Saya tinggal..." ucap si ibu kost meninggalkan Sagara dan Zea.


Sagara sesegera mungkin memesan taxi dan mencari alamat kost Zea setibanya di England.


"Alhamdulillah," ucap Saga kini bisa berucap lega, ia mendorong Zea untuk masuk ke dalam kamar kost Zea.


Pelukan Zea begitu erat memeluk Sagara, "ini beneran abang, kan?" tangisnya terisak.


"Bawa Zea pulang, bang!" raungnya.


"Zea ngga mau balik lagi kesini."


"Zea mau kuliah di tanah air aja."


"Zea bingung mau minta tolong siapa disini!"


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2