
Saga menolehkan kepalanya ke belakang ketika sedang memasak sesuatu di dapur kecil kamar Zea. Hanya koridor kecil ke arah kamar mandi yang dibuat darurat oleh Zea jika ia ingin memasak sesuatu di tengah malam.
Saga hanya ingin memastikan gadis kecilnya itu baik-baik saja di atas sofa kecilnya.
Sejak kejadian tadi pagi sampai sudah larut begini hampir dini hari, Zea belum makan apapun selain dari minum air putih yang diberikan perawat tadi siang, dan tentunya makan hati karena tak ada yang benar-benar peduli.
Semangkuk mie instan dan susu coklat hangat tersaji bersama omelete, buatan Sagara. Maunya sih bikin tumisan atau nasi goreng tapi berhubung di lemari penyimpanan cuma ada telur, mie instan sisa pembekalan waktu lalu jadi Sagara memanfaatkan apa yang ada saja.
Sorot mata Zea nanar menatap Saga, rambut yang terkesan acak-acakan tak ia hiraukan meski Saga akan menyebutnya seperti pasien RSJ, padahal biasanya Zea akan memikirkan penampilan saat bertemu Saga, maka tidak dengan hari ini, ia begitu syok dan terpukul.
"Makan dulu, kata ibu kost....adek belum makan ataupun keluar cari makan dari tadi..." ujarnya.
"Harusnya Zea yang sambut abang, bukan abang yang bikinin Zea makan. Bukan malah abang yang kerja," katanya pelan.
Saga berjongkok di depan Zea, tersenyum simpul, "nanti kamu bakal nyambut abang dan bikinin abang makan, setiap harinya. Spesial buat hari ini, abang dulu yang contohin."
"Cobain dulu," Saga memotong omelete di atas piring dan menyodorkannya ke depan mulut Zea, sedikit demi sedikit mulut itu terbuka untuk melahap omelete buatan Saga dari sendok, tentunya sendok porsi manusia bukan sendok tembok.
"Pinter! Terusin sendiri," ucapnya.
Sagara berdiri dari jongkoknya, "boleh abang..." tunjuknya ke arah kasur kecil nan empuk milik Zea.
Zea mengangguk, "abang pasti cape. Rebahan aja," balasnya mengambil alih makanan yang telah dibuatkan untuk selanjutnya ia buang ke perut. Ia baru ingat jika cacing di perutnya belum ia beri makan pantesan pada berisik lagi ajo jing sambil garuk-garuk kulit lambung pake garpu rumput karena sejak tadi lambungnya terasa perih sampai ke ulu hati.
Saga benar-benar merebahkan dirinya di atas kasur Zea yang begitu empuk demi meregangkan otot-ototnya dan rasa lelah yang mendera, sementara Zea makan apa yanh dibuat Saga. Sebenarnya perut Saga tak kalah laparnya, tapi ia masih bisa tahan itu demi mementingkan Zea, yang ingin ia lakukan sekarang adalah istirahat setelah melakukan perjalanan jauh.
"Cuma punya waktu sampai besok." gumam Saga, mengingat waktu cutinya yang tak banyak.
Zea tak bisa tertidur bahkan waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari waktu Landen. Ia melangkah menuju ranjang dan tersenyum melihat Saga yang terlelap dengan kaki menjuntai ke bawah karena posisi tidur yang melintang.
__ADS_1
Tak ada rasa canggung jika sudah lelah, Saga bisa langsung terlelap dimana saja macam kucing kampung tak seperti dirinya yang mengutamakan kenyamanan, dan tempatnya berbaring.
Zea naik ke atas ranjang dan memilih meringkuk di samping Saga seraya menatap lelaki berwajah tenang itu seperti ketenangan Saga dapat menghipnotis matanya untuk segera pindah ke alam mimpi, ia merasa jauh lebih aman sekarang dan dapat menutup kelopak matanya.
Gerakan sekecil apapun yang dilakukan Zea terasa olehnya, namun Saga membiarkan Zea melakukan itu hingga gadis itu terlelap. Saga membuka matanya setelah memastikan dengkuran halus terdengar dari sampingnya. Ia membalikan badan ke arah Zea yang tertidur berbantalkan tangannya sendiri.
"*Bolehkah abang tarik lagi restu abang, Ze. Abang tak ikhlas melepas kamu kuliah disini. Abang ingin kamu ada dimana abang berada. Menunggu abang pulang bekerja, di rumah sederhana*."
Saga menghubungi Redi dan Eyi kembali setelah Zea bersedia untuk pulang.
"Yakin." Jawab Zea yang memasukan pakaian-pakaian kesayangan dan beberapa barang penting, ajang menjemput ini malah jadi ajang pulang kampung untuk Zea.
"Berasa jadi anak tiri disini, Zea baru sadar kalo seindah-indahnya rumah ngga ada yang lebih nyaman dari rumah sendiri." ocehnya memeriksa dokumen penting dan menghubungi keluarga di rumah tentang niatannya pindah kuliah.
Saga tersenyum ketika Zea sudah mulai bisa bercanda kembali dengan keluarganya via telfon seraya meminta kepindahannya.
"Nusantara gempar ngga ya, kedatangan cewek cantik bang?" tanya nya duduk di samping Saga.
Alis Saga mendadak naik mirip da rah tinggi sang umma yang selalu datang tiba-tiba setelah makan daging kambing, "kamu yakin sehat, dek?"
Zea menepuk bahu Sagara, "serius ih! Dunia militer siap ngga sih kedatangan ibu persit kece begini? Jarang-jarang kan ya ibu persit muda, cantik, kece, cerdik, dan kalem kaya Zea?!" dengan narsisnya ia berkata. Sepertinya Sagara harus khawatir jika nanti psikotest yang dijalani Zea tak akan lolos mengingat sifat gila gadisnya itu.
"Bener ngga bang? Rata-rata tentara nikah pas udah tua kaya kapten Ankara yang ngga laku-laku, dapetin ceweknya juga yang dewasa-dewasa..." belum apa-apa Zea sudah mengajaknya berghibah, sungguh calon istri prajurit berpotensi, potensi bikin masalah nantinya.
"So tau. Banyak juga kok dapetin daun muda, yang nikahnya usia pas juga banyak." Jawabnya.
__ADS_1
Kuat-kuat, Saga!
"Abang yakin ngga mau jalan-jalan dulu keliling England, ketemu ratu dulu, siapa tau mau cipika cipiki sambil selfie? Atau salim takzim, siapa tau ketularan rejekinya," tanya Zea ketika Saga menggeretnya berjalan di bandara.
Ia menggeleng, "mendingan cipika-cipiki sama umi. Salim sama umi, abi, umma, abba biar rejeki lancar." Jawab Sagara, ia harus kuat-kuat nahan iman biar ngga nyelotip mulut gadisnya itu dengan mantra vampir china biar diem, pasalnya kalo sampe prajurit England denger ratunya dighibahin auto dibui disini dan gagal pulang.
"Eh jangan deh bang. Takut nanti abang ikut-ikutan bau balsem." gumamnya pelan.
"Abang harus cepat pulang, dek. Ngga bisa lama-lama ninggalin tugas, lagian kamu juga ada jadwal ketemu komandan dan staf kantor, jangan lupa pake baju sopan..." ucapnya memasuki minimarket untuk membeli pengganjal perut, bukan kanebo atau pembalut, melainkan roti dan sebangsa cemilan.
Penerbangan kali ini Zea tak khawatir, Sagara menemaninya. Lelaki itu memberikannya kenyamanan kaya kasur dan rasa aman, mirip pembalut di waktu datang bulan melanda, meskipun tak bisa nahan bocor.
Zea menyerahkan boarding pass ketika masuk ke dalam pesawat, lalu mencari bangkunya dan Sagara.
Ditatapnya kesibukan di luar landasan dari jendela pesawat sesaat setelah duduk, "Zea pengen coba naik pesawat Suk....yang dulu pernah abang tunjukin ke Ze, bisa ngga sih bang?"
Saga terlihat berpikir dan menimbang-nimbang, "ngga bisa sembarangan. Mesti ijin dulu, karena itu bukan mainan."
"Ya Zea juga tau bang. Siapa juga yang bilang itu lego." decaknya memutar bola mata.
Saga melirik gemas dan mendengus pada Zea, insyaAllah. Abang ngga janji.
Pandangan keduanga langsung teralihkan ketika para pramugari masuk dan mengambil tempatnya demi menginformasikan beberapa tindakan keamanan.
.
.
.
.
.
__ADS_1