
Pupil mata indahnya jatuh pada sejumlah angka di kalender yang terlihat terbalik. Bukan mama Rieke yang kerajinan nempelin tuh kalender secara terbalik mirip di wana wisata upside down, tapi dirinya lah yang kurang kerjaan baringan di sofa dengan posisi kepala yang menjuntai kaya minta ditebas, sampai-sampai surai indah setengah blonde itu berserakan di karpet permadani minta di vacum oleh bibi sampe botak, atau kalo bisa vacum bareng otaknya sekalian, biar hilang absurdnya.
Rumah berasa sepi ketika mas Zico memilih berbulan madu ke Jonggol. Ngga jauh memang, sekedar menghindar dari makhluk bernama adik kurang akhlak yang mengganggu malam pertamanya bersama sang istri.
Begini jika Zea di rumah, jangankan Zico, para kecoa dan tikus saja pada angkat koper dari rumah karena tingkah usilnya.
"Besok gue udah mesti balik ke Lánden. Cuma cuti bentar, huffttt!" Zea mele nguh berat. Matanya memutar seperti sedang menghitung sesuatu, namun yang jelas bukan lagi ngitung angka to gel buat dipasang di bandar.
"Ktp, kk, surat ijin ortu, surat Koramil setempat. Kok ribet sih kaya mau kawin sama anak raja, nomor sepatu, ukuran be-ha perlu ngga kira-kira.." gumamnya, tak menyangka menikahi prajurit akan seribet saat ia berurusan dengan guru BK di SMA, bikin mumet.
Ia juga mendaratkan pandangannya pada jarum jam, dimana angka sudah menunjukan waktu hampir magrib, "ini abang kenapa ngaret ya? Apa jam segini macetnya berkali-kali lipat?" gumamnya bertanya, mungkin saja macetnya menuju magrib selain kontribusi dari klan manusia yang keluar kantor, klan manusia serigala dan klan dedemit pun mulai keluar rumah dan kost'annya karena ini jam ngantor mereka.
Zea sudah sangat suntuk menunggu Sagara, sampe sempet tiduran di sofa sejak sore tadi. Jika di England sana ia terlampau sibuk, saat cuti ini ia benar-benar istirahat total macam orang sakit.
Suara mesin motor masuk ke dalam carport rumahnya, namun tak sampai terdengar oleh Zea yang berada di ruang tengah, apalagi ia masih larut dalam serial anak yang ditontonnya menjelang magrib.
"Up innnn.... Ip in.....nak main layangan!"
"Oh senang je. Mesti ke Padang...jom!"
Zea tertawa tergelak, padahal bibi yang sempat melirik dan menonton sekilas diam saja justru mengerutkan dahinya saat melihat Zea yang tertawa toh adegan di tv tak ada yang lucu.
"Ah, menyesatkan nih sarannya! Masa main layangan aja mesti ke Padang! Jauh amat, ketimbang maen layangan mesti beli tiket pesawat ke pulau S.." gumamnya.
Bibi memilih melongokan kepalanya ke arah pintu masuk, ketimbang melihat anak majikannya yang mulai gila, takut terbawa gila juga.
"Ada tamu," gumam bibi berjalan semakin jauh.
Dibukanya pintu rumah menampilkan pemandangan menyejukan mata sampe-sampe ia kelilipan bubuk pesonanya, loreng bukan sembarang loreng, loreng bukan harimau benggala, tapi lorengnya prajurit negri, "assalamu'alaikum. Bi, Zea nya ada? Ibu, bapak?" tanya Saga.
"Bapak sama ibu masih di luar, mas. Kalo non Zea ada di ruang tengah, masuk dulu mas..." angguk wanita paruh baya ini, ia cukup tau siapa Saga karena beberapa kali pernah datang kesini.
Suara tawa Zea cukup terdengar renyah di pendengaran Sagara dan semakin nyaring ketika ia semakin memangkas jarak masuk ke dalam mengikuti asisten rumah tangga rumah keluarga Rewarangga, hingga hatinya menghangat melihat sosok gadis cantik yang duduk bersila di depan televisi sambil mendekap bantal sofa dan cemilan.
__ADS_1
Maka pemandangan menyenangkan seperti inilah yang akan ia temui nantinya ketika pulang bekerja, melihat Zea yang menunggunya sambil nonton tv sepaket baju rumahan.
Tangannya terulur mendekatkan sensor remote ke arah televisi demi memindahkan channel televisi ketika tayangan di depannya hanya berisi iklan, sampai tak sengaja ia melihat seseorang yang sejak tadi berdiri memperhatikannya, "abang...kirain ngga ada. Sejak kapan disitu, dari tadi juga ditungguinnya!" ketus Zea beranjak dari duduknya.
Seulas senyum dilemparkannya pada Zea, "maaf telat. Barusan anter Izan beli sesuatu dulu," jawabnya duduk, "sepi. Pada kemana?"
Zea meraup rambutnya dan mengikatnya jadi satu, "emang biasanya juga kaya gini, bang. Kenapa? Takut timbul fitnah ya? Fitnah ah! Lapor pak rt, kalo abang udah macem-macem disini," ujarnya tertawa renyah digelengi Sagara, "lapor aja, bagus langsung dinikahin. Ngga usah ribet ngurus ini itu, diurusin sama yang grebek." Balas Sagara.
Sejenak gadis itu terdiam mengilhami perkataan Sagara yang menyesatkan, "abang kadang-kadang pinter! Tapi kalo ternyata Zea laporinnya bukan kasus pele cehan, tapi kasus maling hati aku gimana?!" tawanya melangkahkan kaki ke ke belakang, "bi! Bikinin minum!" baru saja ia berteriak, bibi sudah datang dengan secangkir teh manis.
"Tau non. Dari tadi masnya datang, tapi non Zea sibuk nonton..." jawab bibi tersenyum, Zea nyengir.
"Makasih bibiiii!" serunya tersenyum lebar.
"Abang duduk aja dulu, ngaso...minum dulu. Mau makan juga boleh, ntar Ze ambilin. Zea mau ambil dulu syarat-syarat yang udah disiapin," ujarnya.
"Udah siap emangnya? Cepet juga."
Zea mengangguk sambil berjalan menjauh, "Iya. Disiapin om Dirwan, asistennya papi!" teriak Zea. Saga tersenyum miring, the power of money, Zea terbiasa diurus orang, apakah nanti ia akan mampu mengurus apa-apa sendiri setelah ia menjadi istrinya? Karena kehidupannya nanti akan berbanding terbalik dengan kehidupannya sekarang.
Satu bundel map persyaratan pernikahan milik Zea sudah dikantongi Sagara, dan siap ia serahkan ke kesatuan besok.
"Terus, Zea harus bolak-balik tanah air-England dong?" tanya nya duduk di sebrang Saga, belum berani mepet mepet kaya di angkot, takut nyetrum! Bahaya! Bisa gosong nanti di ceburin ke gotnya neraka.
Saga mengangguk, "ambil cuti agak lama, karena nanti kamu harus ke kesatuan buat ikutin tes dulu, pasto bolak-balik tuh!" Saga menyeruput teh manis yang rasanya kaya teh manis, iyalah! Masa teh manis rasa kopi, lalu menjeda ucapannya, membuat Zea harus menunggu lanjutan dari ucapannya itu.
"Daripada harus bolak-balik tanah air-England, jadi mendingan disini aja dulu sampe kelar."
"Kelar persyaratan? Atau kelar nikah?" tanya Zea.
"Kelar malam pertama." celetuk Saga yang sontak dihadiahi pukulan kecil bertubi-tubi dari Zea, "abang mah ih! Otak por no!" tawanya renyah dengan hati berdebar dan wajah memerah, padahal pelakunya saja berwajah datar.
"Coba tolong di tiitt kan itu pak. Kata tak seno nohnya, Zea masih belum genap 20 tahun loh!" mendadak obrolan itu membuat hawa jadi panas.
__ADS_1
Saga menyunggingkan senyuman, "Tiit."
"Telat!!!" sewotnya.
"Ze, mesti balik dulu ke England besok bang karena cuti Ze abis, udah gitu dosen matkul sastra Ibrani udah nunggu Zea setor tugas dari kemaren...." keluhnya.
"Emangnya langsung acc gituh pas abang kasihin persyaratan ke kantor?"
"Iya langsung diproses lah, kamunya mesti ke kantor buat tes..."
Zea mele nguh lelah, "oke. Gini aja, Ze balik dulu England buat ketemu dosen. Minta tenggat waktu buat setor, biar nanti Ze bisa kerjain tugas disini sambil siapin nikahan sama ikutin serangkaian tes psikopat...." tawanya.
"Tes kewarganegaraan, tes psikotest bukan psikopat."
"Iya maksudnya itu. Terus Zea setor tugasnya lewat email deh, gimana? Briliant kan?!" alisnya naik turun ke arah Sagara.
"Abang antar kamu ke England ya?"
"Oh, engga-engga. Abang kan dinas. Tenang aja Zea udah gede, udah punya ktp kok, jadi abang ngga usah khawatir."
Siapa pula yang tak khawatir melihat Zea mesti bolak-balik tanah air--England kaya lagi jalan dari Tebet ke Sarinah, bukan hanya karena perjalanannya saja yang jauh. Melainkan khawatir karena kesehatannya, belum lagi kesibukannya yang menggunung.
Saga mengangguk dengan le nguhan berat, ia melirik jam di dinding, "abang ikut magrib disini. Habis itu kita pergi jalan jajan..." Saga bukan sedang menawari, namun memberikan mandatnya pada Zea, ia tak mau melewatkan waktu berharganya bersama Zea, sebelum gadis itu akan pergi kembali ke tempatnya menimba ilmu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.