Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 59


__ADS_3

Zea memaksakan senyumannya selebar mungkin pagi ini karena kehadiran Fara memberikannya kekuatan baru.


"Kalo Saga ada kasih kabar diangkat, neng." ia merangkum wajah di balik balutan jaket tebal dan topinya.


"Iya umi." Angguknya, Fara sengaja bangun subuh-subuh dan meminta ikut mengantarkan Zea ke bandara ketika gadis itu sengaja datang ke rumah dinasnya yang baru di ibukota dan pamit untuk kembali menimba ilmu.


"Nanti biar dijemput, kalo abangmu ngga bisa...biar dijemput om Edi sama Kalingga," ujar Fara, digelengi Zea, gadis itu melirik Saga yang berada di samping belakang ibunya, "abang janji mau jemput Zea, ya bang?"


"Iya." Awalnya Saga ingin mengajukan cuti agar bisa mengantarkan Zea ke England, tapi ia sadar jika kesatuan bukanlah perusahaan milik umma atau abba yang bisa seenaknya bikin ijin dadakan kaya bolu ketan. Jangankan ijin untuk hal yang tak terlalu penting, libur lebaran saja jika memang ada masalah negara genting nan darurat ia yang notabenenya seorang abdi negara harus selalu siap sedia bertugas. Dan Zea mengerti akan hal itu.


Fara tersenyum getir, "maafin anak umi ya. Yang memilih abdi negara menjadi profesinya," Zea sontak menggeleng kencang, "engga umi. Jangan bilang gitu, abdi negara itu kerjaan yang keren, ngga semua orang bisa, ngga semua orang rela dan ikhlas, Zea salut sama abang, sama abi Fath, sama om Rayyan apalagi sama istri prajuritnya." Jawab Zea. Fara begitu paham dengan jalan pikiran Zea, karena dulu ia pun pernah berpikiran begitu.


Mama Rieke merangkul Fara dan Zea, "makasih juga untuk Sagara dan keluarga, sudah mau menerima Zea apa adanya, dengan segala kekurangan Zea."


Fara menepuk-nepuk pipi gadis yang sebentar lagi akan menjadi menantu pertamanya itu dengan lembut.


Mama Rieke mengusap surai Zea yang kini bertambah panjang sejak terakhir ia belai, "kenapa ya, kali ini mami tuh kaya berat gitu lepasin kamu, apa karena masih kangen ya?"


Zea merotasi bola matanya, "lebay. Biasanya juga kan gini. Udah setaun loh Zea pergi, giliran Zea datang kemaren malah ditabok mami!" gerutunya memancing tawa sepasang ibu dan anak ini.


"Jangan bandel, nduk. Ngga usah lah itu ikut-ikutan yang ngga bener!" Zea mengangguk terkekeh, "iya. Nanti mah dibenerin makenya, yang kemaren agak jingjet ya natonya, nanti Zea suruh lurusan dikit sama tulang tengkuk bikin tattonya!" alisnya naik turun dan langsung dihadiahi geplakan keras di punggungnya dari mama Rieke, PLAK!


"Aww!" gadis itu terjengkat namun tertawa renyah.


Suara announcer bergema memanggil para penumpang untuk bersiap masuk.


Setiap detiknya begitu membuat hati berdenyut, Saga menghampiri, "maaf abang ngga bisa anter sampe depan pintu kost'an."


Zea menggeleng, "abang bilang jadi istri prajurit itu harus mandiri. Ngga boleh mengandalkan suaminya." Tangannya mengepal dan menonjok dadha kanan Saga pelan.


"Di dadha kiri abang bro ada ibu pertiwi, di dadha kanan abang ada Zea." katanya, "ingetin Zea, buat beliin abang pore strip , buat kita maskeran bareng!"


Saga hanya menggelengkan kepalanya geli, hal sedetail itu sudah Zea perhatikan padahal mereka belum sah.


"Baik-baik disana, nanti abang jemput."


"Iya. Kasih kabar, nanti Zea jemput abang di LHR Britania Raya." Jawabnya, "Zea pergi dulu bang bro!" senyumnya dengan helaan berat membuang semua rasa sedihnya. Kedua bahunya naik dan turun melepas semua rasa berat yang menggelantungi hati dan melangkah menjauh, melepas rangkumannya dari kerah baju Saga, menyimpan wajah tampan nan kalem itu dalam memory otaknya.


Sagara mengunci pintu mess sepetaknya dengan satu tangan yang sibuk menggenggam map persyaratan pernikahannya dengan Zea.



Trekkk ! Tanda jika kunci telah terpasang dan memutar. Sebelum benar-benar pergi ke kantor, ia membuka dan memeriksa kembali semua yang telah disiapkan dalam map itu, hingga matanya sedikit menyipit dengan ulasan senyum tipis ketika lembaran yang ia buka menampakan foto Zea dengan kemeja putihnya.



Sejurus kemudian Saga mendengus kesal, "pasti lagi tidur." Beberapa kali Sagara mencoba menghubungi nomor Zea, namun rasanya sulit sekali menghubungi Zea disana, selain dari kesibukan pastinya karena perbedaan waktu juga yang membuat keduanya selalu bentrok.



"Ga!" Luki menghampiri temannya itu tanpa membuka sepatu dan menginjak teras mess Saga dengan melompat melewati tembok penghalang antara messnya dan mess Saga.



"Wah, an jinnk lah lo ngga bilang-bilang. Tau-tau udah mau merit aja! Kapan pacarannya, siapa orangnya, lo dijodohin apa gimana?!" cecar Luki, melihat Saga memegang satu bundel map Luki tak bisa untuk tak penasaran. Ia memanjangkan lehernya ke arah map itu, "apaan itu?"



"Persyaratan kawin." Jawab Saga melangkah ke bawah teras dan duduk di undakan teras rumah, ia membuka sampul map yang menampilkan data diri Zea.



"Persyaratan calon bini?" tanya Luki ikut duduk diangguki Sagara, "bukan ngga mau ngomong. Gue cuma ngga mau diumbar kalo belum pasti."



Luki cukup terkejut dan menajamkan penglihatannya melihat foto yang terpampang disana beserta data diri Zea.



"Anjriiitt! Ini!" tunjuknya pada foto Zea. Sagara mengangguk, "Zea Arumi."



"Gilak! Jadi mas bro?! Congrats deh! Ngga nyangka gue, dulu aja, lo so-so'an nolak....sekarang ngajak merit euy!" Luki menepuk pundak Saga, lelaki itu mengangguk membenarkan kebo dohannya dulu.



Izan baru saja keluar dari pintu rumahnya, netranya jatuh pada kedua temannya yang anteng duduk di teras Saga, "lagi pada ngapain? Nyarap bareng? Ngga ajak-ajak."

__ADS_1



Luki menoleh, "Zan! Sini, lo mau liat calon bini Saga, ngga?"



Izan mempercepat putaran kuncinya di pintu dan segera bergabung saking penasarannya, "mana?! Jahat nih orang Ki, minta di kirim ke PM, ngga bilang-bilang punya pacar...tau-tau merit." keluhannya sama dengan keluhan Luki.



Sama halnya Luki, Izan cukup terkejut dengan kenyataan di depannya, "ini si...anak menteri itu, Ga? Ah gilak, beneran lo calon mantu menteri?"



Izan mendorong pundak Luki, "udah move on belum lo, bini Saga nih sekarang!" tawanya puas.



"Ck. Gue mah cuma seneng doang, cantik. Ya engga sampe kesitu, Zan." jawabnya.



"Kapan diserahin ke kantor mas bro? Kayanya akhir-akhir ini musim orang kawin. Emak gue di rumah juga ngeluh duit bulanan abis, buat kondangan tetangga katanya."



Saga mendengus geli, "hari ini."



"Seriusan? Wah, asli ini mah dadakan!" Luki menggelengkan kepalanya.



"Naik pangkat langsung naik pelaminan..." angguk Izan, ia kembali memperhatikan data diri Zea, "ini ngga salah bro, doi di Landen?" telunjuknya mengarah pada status Zea sambil meneliti tiap katanya, ia tak bo doh untuk mengetahui jika England bukanlah bagian dari nusantara.



"Wah sadisss, LDR?" tanya Luki tak percaya.




Ada decakan kagum dari kedua temannya itu, tak mungkin juga seorang anak menteri sekolah sembarangan, "mantap."



"Lo yakin LDR, Ga?" tanya Izan. Sagara menatap rekannya itu, diantara mereka Izan memang lebih tua dibandingkan Luki dan Saga.



"Yakin."



Sudah beberapa hari sejak Sagara menyerahkan pengajuan pernikahannya dengan Zea. Danyon Surya cukup terkejut saat mengetahui rumor yang beredar jika calon istri perwira muda yang tengah cemerlang karirnya itu adalah mantan calon putranya dulu, Zea, putri dari sang kawan menteri Rewarangga.


"Rangga---Rangga, dulu anakmu tolak putraku. Sekarang malah mau nikah dengan perwira muda dengan jabatan di bawah Anka," thesahnya tak habis pikir dengan keputusan Rewarangga yang selalu berbeda jalan pikiran dengan orang lain. Seolah otaknya itu tak tercipta untuk gila harta dan jabatan.


****


"Abang jemput kamu besok, jadi malam ini abang berangkat, ambil penerbangan ke negri singa putih..."


Zea mengangguk paham, mengedip manja pada Saga. Lelaki itu mengabarinya sesaat setelah memberikan pengajuan pernikahan mereka ke kantor kesatuan, membuat Zea segera mengambil tindakan mengajukan cuti kembali pada pihak kampus dan berkoordinasi dengan dosen-dosen di kelas.


"Cakep banget calon suami Ze, masya Allah!" gelengnya kagum, meskipun Saga sudah melepaskan baret miliknya dan menaruh itu di samping piring makan.


Saga menyunggingkan senyumannya, "denger ngga?"


"Iya abang, Ze denger kok. Zea baru keluar kampus, mau keluar bentar sambil nunggu matkul berikutnya..." Ucapnya ke arah layar ponsel, dimana wajah Saga tergambar jelas sedang berada di kantin asrama.


Zea tertawa tergelak melihat layar ponselnya tidak hanya dihiasi wajah Saga, di samping, bahkan di belakang Saga, Izan dan Luki melambai ria dan menggoda Zea dengan tingkah konyol mereka.


"Hay Ze," sapa keduanya.


"Hay bang! Lagi pada makan?" Zea bervideo call sambil berjalan di koridor kampus, dengan lattar para teman bule dan obrolan mereka yang tentu saja tak Izan dan Luki mengerti.


"Makan siang kesorean, Ze."

__ADS_1


"Ze! Come on!" ajak Natalie.


"Ya, Ha!" angguknya, "I'm coming Nat."


"Widiiww, bule itu Ze. Kenalin abang sama bule, Ze!" pinta Luki.


"Bule--bule, kaya yang bener bahasa inggris aja, ntar kalo ngobrol lo kemana doi kemana!" timp Izan seraya makan sambil mendorong kepala Luki.


"Adek sudah makan?" tanya Saga yang sontak membuat Izan tersedak nasi dan bumbu balado telur.


Uhukk-uhukkk!


Luki meledakan tawanya, "adek njirrr! Hahay!"


Zea tertawa, "temen-temen abang keselek tuh, kasih air combe ran!"


Kini layar ponsel Saga memperlihatkan jika Zea sudah keluar dari gedung kampus dan bertegur sapa dengan Natalie juga teman lainnya.


"Alamakkk, cantiknya tuh bule. Ze kenalin abang Ze!" seru Luki digelengi Izan, "abang aja, Ze...abang!" ia menunjukan telunjuknya heboh sampai beberapa prajurit yang berada disana melihat mereka dengan tatapan keheranan melihat keduanya heboh.


Saga menepis keduanya, "lo berdua, ck!"


Zea tertawa disana, "Nat, say hay to my sweetheart!" Zea menampakan layar ponselnya ke arah Natalie yang antusias melihat calon suami sang teman.


"Hay..." Natalie malah tertawa, bukan karena melihat wajah Saga tapi ia dikejutkan dengan kedua wajah yang terpampang berdesakan mengapit Saga.


"Astagfirullahaladzim!" Zea tertawa dengan kelakuan keduanya.


"Awas ah! Zea mau ngobrol sama calon papahnya anak-anak!" usir Zea.


"Ya udah, gitu aja dek. Abang terusin dulu makan, kamu udah makan?" Tanya Saga menyingkirkan kedua pengacau.


"Udah, tadi Ze sarapan sereal sama susu. Ini mau ke minimarket beli bahan makanan buat nanti nyambut abang, oh iya...Zea juga mau ke toko buku, cari dulu buku buat tugas makalah..." tunjuknya ke arah deretan pertokoan di sebrang jalan, kebetulan sekali letak universitas Zea berada di tengah kota memudahkan akses kemanapun.


Ketika arah layar ponsel diarahkan Zea ke arah jalanan, mata Saga menyipit melihat pemandangan disana.


Dooor!


Dorrr!


Bukan hanya Zea atau warga yang Landen saja yang terkejut dan menjerit berhamburan namun Saga pun sama terhenyaknya.


"Dek, ada apa itu?"


"What's wrong?"


"What happens?!"


Tiba-tiba orang-orang disana berlarian tak tentu arah, dengan seorang pria paruh baya yang awalnya melakukan penabrakan keluar dari mobilnya dan menodongkan senjata api laras panjang dan menembakannya secara sembarang ke arah para warga terkhusus para polisi sembari mengancam pihak kepolisian kota, jika ia akan meledakan satu tempat disana.


Dorr!


Dorr...dorr!


Aaaaaaa!


Suasana ramai namun tenang berubah menjadi chaos.


Zea berlari tak tentu arah bersama Natalie.


"Dek!"


"Zea!"


Tut...tuut!


...No Signal...


"Eh kenapa, Ga?" Luki menghentikan kunyahannya dan ikut tak enak hati.


"Si al!" Saga beranjak meninggalkan piring nasinya sambil berlari.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2