
Clemira mengikuti Zea, debgan kepala yang masih tenggelam, suara Zea masih lirih terdengar, "mereka adalah kartel sindikat perdagangan man usia, Cle. Kasus yang sedang viral...."
Clemira mengangguk paham, "mereka bajak pesawat, dengan dalih minta tebusan cuma buat pengalihan doang...cuma biar negri ngga tau kalo ini kerjaan mereka yang lagi ultimatum papi buat close kasusnya yang cuma akan jadi catatan kelam kementrian hukum dan ***" Zea mendongak dengan lelehan air mata.
"Gue rasa ada sesuatu yang begitu berharga, sampe mereka lakuin ini...jika gue tarik fakta, kasus ini akan membuka bisnis-bisnis mereka yang lain, dan yang gue denger jaringan mereka tuh udah internasional, kalo kasus ini sampe berlanjut, itu artinya pihak aparat bakalan menemukan benang yang saling bertautan, bekerja sama dengan negara lain dan bikin mereka jadi musuh internasional di beberapa negara. Kartel obat terlarang, perdagangan man usia, lo denger tadi mereka bilang apa?" tanya Zea pada Cle.
Clemira menggeleng,
"Mereka bakal kirim Iyang ke Vieth, gue rasa yang lain dipisahkan bareng Iyang. Kalo Iyang ngga mungkin buat jadi pekerja s eks, itu artinya mereka....." lanjut Zea.
Clemira bergumam melanjutkan, "jadi pekerja ilegal,"
Zea mengangguk, akhirnya Clemira paham.
"Pekerja ilegal, perjualan organ tu buh, pekerja s eks, perdagangan obat terlarang, dan terakhir kalo gue liat mereka semua bawa senjata, itu artinya mereka punya chanel ke orang militer or semacamnya, tidak menutup kemungkinan mereka adalah...." Zea menaikan alisnya.
"Penyelundup senjata ilegal," jawab Clemira, kembali diangguki Zea, "lo tau kenapa selama ini mereka aman-aman aja? Karena papi gue pernah ngobrol sama mas Zico, satu persatu pejabat negri mulai terendus pihak aparat memiliki rekening gendut yang tidak sesuai pendapatan, dan beberapa dari mereka sudah memakai rompi orange, dicekal tak boleh keluar negara..." jelas Zea, "itu artinya mereka kebal hukum."
"Gue paham sekarang, Ze." Zea kembali menunduk teringat mamanya, "gue juga paham sekarang, Cle. Kenapa mami sama papi jodohin gue sama kapten Ankara buru-buru, karena pengen gue aman."
Clemira mendongak, "seriusan?! Lo dijodohin sama kapten Murka...eh sorry, Ankara?" Clemira meralat ucapannya. Zea mendengus geli, "ngga apa-apa."
Dengan anggukan mantap Zea menatap ujung sepatunya yang kotor, "iya. Mungkin kalo gue selamet dari sini....gue akan terima perjodohan itu, gue mau jadi anak penurut, ngga mau bandel lagi, ngga mau bantah lagi...terakhir gue bandel terus bantah ucapan mami, gue berakhir disini."
"Gue yakin biyang, bu Wangi, pa Doni, tante Maysa, mereka udah selamat...yang jadi pikiran gue," tatapnya lekat-lekat pada Clemira, gadis itu nampak lusuh dan lelah sama sepertinya, "sekarang keselamatan kalian..."
Clemira menggeleng, "bukan kalian, tapi kita...kita semua, termasuk lo. Terus perasaan lo sama abang Saga gimana, Ze?" Clemira tau ini bukan waktu yang tepat membicarakan hal ini, namun tidak ada salahnya daripada mereka hanya diam-diam saja, mau nyamain tugu?!
Zea menggeleng, "ngga tau. Mungkin dikubur aja kali ya, mumpung belum berlarut-larut." Zea terkekeh sumbang.
"Lo tau kalo nikah sama prajurit itu mesti dampingin dia kemanapun? Terus impian kita buat kuliah di LN gimana kalo lo nikah cepet-cepet?"
Zea kembali menggeleng karena ketidakpastian, sejujurnya ia pun tak tau, "kalo gue selamet, Cle. Kalo engga..." senyumnya miring.
Zea melepaskan gelang emas putih miliknya dari pergelangan indahnya, lalu menunjukan itu ke arah Clemira, "gue janji, bakal berusaha keluarin lo dari sini, gue yakin om Ray pasti akan secepatnya temuin lo. Gue titip ini sama lo ya, kalo nanti lo selamat duluan....bilang sama mami, gue sayaaaaang banget sama dia." Tiba-tiba air mata tak tertahankan lagi untuk tak langsung meluncur dengan derasnya. Clemira menjewer Zea hingga gadis itu mengaduh, "heh peak! Lo tuh kalo ngomong jangan ngaco! Kita bakalan selamat sama-sama, ngga ada kata gue atau lo, tapi kita!" tegas Clemira tak suka jika Zea selalu berkata lo.
Al Fath dan Fara telah tiba di Jakarta naik penerbangan dengan pesawat militer tentunya. Akhirnya si emak satu ini bisa pula menghirup udara kota Jakarta lagi setelah sekian lama jadi bestienya kasuari.
"Ohekkk ohekkk! Ibukota kok sepolusi ini ya sekarang, atau Fara yang udah terlalu tua buat ibukota ya bang?!" keluhnya terbatuk-batu, "Eri, air coba!" pinta Fara.
__ADS_1
"Air apa bu?" tanya Eri ajudan barunya.
"Air comberan! Ya air minum lah, masa iya air mata!" sewotnya, Eri bertanya di waktu yang salah, saat istri panglima ini tengah tersiksa dengan rasa sesak dan gatal di tenggorokan.
"Wajib adaptasi lagi dek, kemungkinan besar abang nanti pindah tugas lagi di ibukota," ujar Al Fath.
"Ah yang bener?! Kok sekarang ada rasa ngga rela balik ya?! Udah betah jadi warga timur!" akui Fara. Mereka hanya berdua berteman ajudan, Kalingga tak ikut berhubung masih sekolah.
Perjalanan dari timur langsung disambut hangat korps. Pasukan khusus di ibukota. Namun Al Fath tak mau menunda waktu dan pekerjaannya hanya untuk sekedar karokean bareng, disaat keponakannya tengah memperjuangkan hidup nan jauh disana.
"Dek, kalo adek mau ketemu sama bu Fani dan yang lain ditemani Eri ya, abang langsung ke kantor..."
Fara mengangguk paham, "iya bang. Jangan biarin cimoy nunggu abi Fath'nya kelamaan."
"Anak kita gimana bang?"
"Saga sudah besar, kita sudah kasih kabar kalo sudah sampai ibukota. Dia juga mungkin sedang sibuk tugas," jawab Al Fath diangguki Fara.
Al Fath bergegas masuk ruang rapat, bertemu dengan para petinggi dari beberapa angkatan militer termasuk komandan Surya.
"Panglima dari timur, anggota korps. Pasukan khusus anti teror, si mata garuda."
__ADS_1
Perkenalan yang cukup singkat, namun semua sudah tau siapa Al Fath, ia menyalami satu persatu penghuni ruangan.
"Langsung saja ke inti masalah," balas Al Fath, ada Regan disana bersama Dilar dan Gentra.
Mereka menjelaskan semua yang terjadi secara terperinci termasuk kondisi dan medan yang dihadapi. Di tahun-tahun akhir masa jabatan, Al Fath disuguhkan dengan masalah ini yang melibatkan serta keponakan tersayangnya. Namun tak ada kata keluarga terucap dari mulut profesional Al Fath, karena semua sandera adalah prioritas utama.
Strategi dan perencanaan sudah dibuat, meski ia tak ikut terjun langsung mengingat kemampuan, kelincahannya tak seperti dulu lagi. Ia yakin bisa mengandalkan para penggantinya yang pasti jauh lebih baik.
"Panglima, maaf...ada yang ingin bertemu," angguknya sopan. Al Fath menoleh, "ya?"
Papa Rangga dengan pakaian yang terlihat belum berganti sejak tadi pagi langsung menyambangi markas pasukan khusus demi bertemu dengan sang panglima perencana strategi penyelamatan para sandera di kasus ini.
"Bapak menteri?" tanya Al Fath. Papa Rangga mengangguk hormat kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, "maaf mengganggu waktunya jendral,"
Al Fath menggeleng, "sebelumnya saya ikut berduka atas teelibatnya putri bapak sebagai korban penyanderaan," jawab Al Fath, udara sejuk dari AC kantor sedikit bisa meredam hawa panas di mata papa Rangga.
"Ah, iya. Terimakasih, atas nama saya pribadi dan keluarga sangat amat menggantungkan harapan akan kelancaran proses penyelamatan ini, jendral. Putri saya, para sandera yang kini berada di tangan mereka...tidak memiliki salah apapun, mereka tidak tau apapun dan harus terlibat ke dalam pusara kasus ini. Saya tau---jika kejadian ini adalah peringatan keras untuk saya," akui papa Rangga, membuat kernyitan di dahi Al Fath semakin terlihat jelas.
Panglima 2 anak ini mengulas senyuman tipis, "bukan peringatan untuk bapak saja. Tapi kita semua," jawab Al Fath, "kalau bapak bersedia, sudi kiranya bapak menikmati secangkir kopi dengan saya?" tawar Al Fath.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.