
Setelah banyak sekali drama penyanderaan, ledakan, tembak-tembakan dan terorisme yang dialami, Zea yakin satu hal sekarang, ia memang tercipta untuk menjadi seorang istri prajurit, atau justru seharusnya jadi istri superman saja sekalian.
Sejak kedatangannya ke tanah air, Zea tak mau banyak bicara masalah aksi teror isme di negri three lion, ia hanya ingin menutup lembaran lama yang udah robek-robek dan menyongsong hari baru yang ia yakini secerah bohlam 15 watt. Ia juga ngga perlu cipika cipiki pada dosen di bekas kampusnya sana cuma untuk pamitan, cukup say thanks and see you next time, karena hampir sebagian dosennya lelaki tua.
Natalie, terakhir ia dengar kabarnya Natalie menderita luka bakar cukup serius dan ditangani oleh keluarganya. Beberapa kali Zea sempat menelfon dan berbicara dengan Natalie yang penampakannya mirip mumi di jaman Mesir kuno, dibalut perban sana-sini. Tinggal dibalsemin, terus masuk sarkofagus.
Rasa lelah dan kesibukan belakangan ini, membuat jatah istirahat Zea berkurang. Dan pulang ke tanah air menjadi ajang balas dendamnya untuk beristirahat dengan tenang, bukan mengubur dalam-dalam cita-cita dan impiannya, Zea hanya mengikhlaskan jalan yang diberikan Tuhan untuknya, sekuat apapun ia mempertahankan namun jika takdir Tuhan tidak memihak, maka sekuat itu pula Tuhan menjauhkan Zea dari apa yang menjadi ambisinya.
Suara alarm sampai tak terdengar di telinga Zea saking lelap dan nyamannya ia, entah kuping Zea kesumpelan kotoran seabrek-abrek yang dibersiinnya pun mesti pake linggis, pokoknya tidur kali ini benar-benar nikmat.
"Ze, Zea!" kembali suara sang mama lah yang menjadi alarm alaminya.
"Bukannya hari ini tuh kamu mau ke kantor administrasi kesatuan militer?" mama Rieke membuka tirai kamar hingga cahaya mentari yang awalnya mengintip malu-malu kini menunjukan kuasanya dengan sinar yang begitu terang, "kamu ngga subuh?! Astagfirullah! Bangunnn!"
*Kebettthhhh*!
Dalam sekali gerakan dengan memakai tenaga dalam, mama Rieke menarik selimut Zea, membuat ulat di dalamnya menggeliat, "mami ih...aduh silau ih!" keluhnya, "jam berapa sih, kok subuhnya bumi pertiwi jadi sesilau ini sih?" ocehnya, padahal mata Zea belum sepenuhnya terbuka.
"Subuh katanya," gumam mama Rieke berdecak, "apa sekarang subuh kamu udah robah? Jadi jam 7?" tanya mama Rieke, seketika kelopak mata yang masih terasa lengket karena campuran belek plus maskara. Kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul terpaksa ia tarik dan sedot agar kembali ke dalam raganya.
"Argghhh ciloko!" Zea langsung melompat turun dari ranjang, "mami ih! Kenapa ngga bangunin dari tadi sih!" ia kelimpungan mencari handuk, mendadak ia amnesia dimana menyimpan benda pengering satu itu.
Mama Rieke hanya bisa mendengus, "hem. Terus dari tadi alarm kamu jerit-jerit sampe serak apa gunanya? Emang udah dasarnya aja kuping kamu yang kaya polisi tidur! Besok-besok alarmnya tempelin di kuping, biar denger!" omelnya.
"Mau gimana jadi istri prajurit, bangunnya siang begini?" tambahnya lagi, merasa kurang puas kalo belom abis sampe dasar. Zea hanya bisa mendengar sambil sibuk bersiap-siap di dalam kamar mandi, "mandi ngga ya, mandi ngga?" gumamnya menghitung jari yang sudah pasti jawabannya akan ganjil, "mandi, engga, mandi, engga, mandi...."
Ia mencium keteknya sendiri, " kanan ngga asem, kiri asem dikit." Ia mele nguh frsutasi, "mandi 10 detik deh!"
Ia berlari dengan rambut kering, yap! Ia tidak keramas, ngga papa yang penting masih wangi, ngga bau apek bantal. Hanya bagian depan, Zea sengaja melilitkan poninya dengan roll'an, ia juga membekal alat make upnya di dalam tas biar nanti touch up di mobil saja.
Berlari kesana dan kemari mencari sepatu, sampai-sampai Kinanti tertawa melihat adik iparnya yang super hectic itu.
"Nah kan! Nah kan! Kalo udah kaya gini heboh sendiri!" omel mama lagi di meja makan, ketika Zea berlarian mencari sesuatu.
"Sepatu aduh sepatu!" ia menepuk-nepuk jidatnya sendiri, kali aja bisa sepinter Einstein abis ini.
__ADS_1
Zico melahap nasi uduk miliknya dan tertawa, seolah pemandangan ini begitu sayang ia lewatkan, senang rasanya bisa melihat kembali adik kesayangan kerepotan dan dimarahi mama.
"Noh, cita-citanya nikah muda. Tapi otak udah pelupa gitu."
"Berisik! Manten lawas ngga usah ikut komentar ya!" balasnya rusuh menyampirkan tas dan sebelah tangan lainnya menenteng sepatu.
"Saga ngga jemput, nduk?" tanya papa, "gimana sih Saga, masa calon istri disuruh pergi sendirian...mbok ya sewain onta arab kek gituh," ujar papa.
Dan Kinanti benar-benar menyemburkan nasinya meski tak sampai muncrat-muncrat.
"Papi ih," tegur mama langsung memberikan air minum pada menantunya, "minum nduk."
"Abang nugas pi, ada latihan gabungan sama prajurit Fir'aun. Katanya sih pagi ini baru balik, kayanya abang juga nunggu di sana."
Kinanti kembali tertawa, lama-lama tinggal disini ia bisa terbawa gila oleh mertua dan adik iparnya.
"Oh." Bibirnya melengkung ke bawah tanda memaklumi.
Zea menggeleng, "Ze, bawa mobil sendiri."
"Hah? Ngga--ngga...dianter pak Cokro aja!"
Beberapa kali Saga menghubungi Zea, ia baru saja sampai di pangkalan selepas latihan gabungan untuk sebuah acara kenegaraan.
*Mau abang jemput*?
*Dek, dimana*?
°°°°
Zea menepuk-nepuk bedak di pipi, lalu sedikit membubuhkan blush on dan eyeliner, hanya sedikit saja biar ngga dikata abis ditonjok, "pak, jangan terlalu ngebut dulu. Ze lagi pake eyeliner." ucapnya menyipitkan mata demi memusatkan fokus pada liukan kuas di atas bulu matanya.
*Sretthhh*-----
__ADS_1
"Ck! Ahhh, pak Cokro ih!" sewotnya ketika goresan hitam eyeliner justru membuat ekor panjang karena pak Cokro menginjak rem terlalu dalam, ingin rasanya ia menjambak rambut yang hampir seluruhnya memutih itu hingga rontok, namun Zea sadar ia tak mungkin melakukan itu pada supir kesayangan keluarganya. Alhasil ia manyun dan menepuk kursi samping.
"Eh, nuwun sewu non. Maaf!"
Saking sibuk memikirkan penampilan, notifikasi di ponsel pun sampai tak terdengar olehnya, "euhh, untung ngga nyolok mata..." keluhnya merengut.
Ia berdecak kesekian kalinya melihat jalanan begitu penuh dengan kendaraan, benar! Ini ibukota yang setiap harinya, setiap waktu selalu macet.
"Aduh, ini gimana macet gini!" rengeknya, "auto digantung abang sama satuan militer! Gagal kawin deh!" dumelnya. Sejak tadi mulut pak Cokro sudah pegal karena menahan kedutan di bibir.
"Non itu..."
"Udah deh pak. Zea tau, emang lah ibukota macet tiap waktu...salah Zea emang yang telat bangun!"
"Coba deh di depan bapak belok kiri, kalo ngga salah ada jalan alternatif buat ke pangkalan militer tempat abang..." tunjuk Zea ke arah jalan depan yang sontak diangguki pak Cokro, yo wes lah! Jangan nanti nyalahin orang lain saja kalo sampe malu sendiri.
Mobil akhirnya bisa keluar dari kemacetan dan melesat meski tak secepat flash menuju pangkalan.
"Yesss akhirnya nyampe juga!" serunya senang, tangannya langsung sibuk meraih tas dan turun, "bapak langsung pulang aja. Nanti Zea dianter pulang sama abang!"
"Eh non, itu...."
Namun Zea sudah terlanjur keluar dan berlari masuk.
"Roll'annya...." lanjut pak Cokro, ia menggeleng dan terkekeh melihat ke arah menjauhnya Zea, lantas pandangannya jatuh ke arah rear vision yang menunjukan sepatu Zea.
"Ya ampun, non...itu sepatunya ketinggalan..." kembali ia terlambat memberitahu Zea yang telah berlari memakai sendal jepit.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.